AureliaClaresta’s Weblog

Makan @ Jogja [13]: Pizza

Januari 23, 2010 · & Komentar

Mau makan pizza di Jogja? Kota ini punya beberapa alternatif. Pizza Hut sudah masuk ke Jogja sudah agak lama. Gerainya ada 3, yaitu di Malioboro Mall, Jl. Sudirman [Tugu Jogja], dan yang terbaru di Ambarukmo Plaza. Paparons juga sudah ada sini, yaitu di Jl. Sangaji.

17. Nanamia Pizzeria [Jl. Moses Gatotkaca B.13 Gejayan] [pesan lewat telp: 0274-556494]

Ada namanya Nanamia Pizzeria yang posisinya dekat dengan kampus Sanata Dharma Mrican. Mottonya “Traditional Pizza for Modern People”. Gerainya kecil, namun suasananya asyik. Hampir selalu ramai dan hampir selalu ada foreigner di sana. Pizza yang di sini jenisnya adalah pizza klasik yang tipis dan topping-nya fresh. Fresh di sini maksudnya, semua bahan topping yg ditaburkan cenderung masih mentah. Rasanya cenderung sesuai dengan rasa asli topping-nya. Tidak banyak bumbu tambahan. Rasanya cenderung tidak tajam. Rasa enaknya muncul dari lemak pada lumeran keju Mozarella.

saya baru sadar, saya sudah sering ke sana tapi nggak punya foto waktu di sana. Ini foto diambil oleh orang luar, saya pinjam saja

foto minjem dari tempat lain

Jam bukanya, mulai dari jam 13.00. Tutupnya kira-kira sekitar jam 21.00 atau 22.00. Kapasitas ruangan ini kira-kira hanya untuk 34 orang. Pada kunjungan saya yang ke-8 di sana, tanggal 20 Januari 2010, pukul 20.00an malam, seluruh seat penuh, dengan komposisi jenis konsumen: 9 pasang couple, 2 keluarga kecil, 2 peers (bareng temen2). Musik di sini selalu impor, jadi nuansanya agak-agak Eropa dikit (ditunjang dengan adanya beberapa bule di sana). Belom pernah ke sini? Kudu dateng dan coba ya!

Ada beberapa referensi tentang tempat ini, ada yang positif dan ada juga yang cenderung agak negatif. Biar imbang gitu loh, infonya. :)

18. Rumah Pizza [Selokan Mataram, barat Outlet Biru]

Saya baru 3 kali datang ke tempat ini. Terakhir kali bersama Luluk Nastiti, tanggal 12 Agustus 2009. Justru di tempat ini saya punya dokumentasi foto yang agak lumayan. Secara singkat begini isi referensi saya:

Rumah Pizza tampak luar

Rumah Pizza tampak luar

Pizza di sini rotinya enak, toppingnya lumayan, secara keseluruhan pizzanya recommended. Calzone-nya juga recommended. Rasanya masuk hitungan. Hanya saja tempatnya yang nggak oke. Nggak cozy. Toilet sangat buruk, wastafel nggak ada. Pelayanan nggak mantep. Kasir agak jutek. Parkir mobil susah, karena di pinggir selokan. Sangat cocok untuk take away (belum ada delivery service) tapi segera dimakan pizzanya. Nggak disarankan untuk makan di tempat, kecuali nggak butuh suasana & kenyamanan makan. Harga oke. Pilihan minuman terbatas.

Egg Cheese & Smoked Beef Calzone

Ibu saya yang suka pizza karena rotinya, lebih menjagokan tempat ini daripada Nanamia. Mengapa? Karena rotinya lebih tebal (ala Pizza Hut) dan rasa toppingnya lebih familiar (mirip dengan Pizza Hut). Pemiliknya memang mantan pegawai Pizza Hut. Tapi kalau saya, saya lebih menjagokan Musee Pizza di bawah ini.

19. Musee Pizza [Jl. Perumnas Congdong Sari C1, daerah Selatan UPN]

Semalam saya datang ke sini untuk pertama kalinya. Tempat ini bukanya sudah agak lama. Tapi sama dengan Rumah Pizza, tempat ini nggak pernah ramai. Saya senang makan di sini tadi malam. Tempat ini memberikan best value untuk saya sebagai consumer.

suasana Musee Pizza di waktu malam

Saya menyukai Musee Pizza karena beberapa hal: tempat ini lebih baik interior design-nya dibandingkan dengan Rumah Pizza. Dan lebih besar & leluasa daripada Nanamia meskipun nggak ada musik Italianya dan pelayannya juga nggak oke-oke banget. Harga di sini lebih murah daripada Nanamia. Ada pizza ukuran personalnya yang harganya cuma Rp10-12 ribu. Tapi nggak ada pizza ukuran large. Maksimal ukurannya medium. Wow! Suasana dapet, harga oke. Konsumen senang, hahaha. Kekurangannya terletak pada pilihan pizza yang kalah banyak dibanding kedua tempat di atas. Tapi variasinya boleh juga. Mungkin karena sepi, stock fresh fruitnya nggak banyak (atau malah nggak pernah ada lagi). Parkir mudah, rasa topping-nya oke. Kalau Rumah Pizza menang di rotinya, Musee Pizza menang di toppingnya (roti pizzanya agak kurang gosong, kurang mantep). Saya nggak terlalu cocok dengan pizza tradisional ala Nanamia.

Yang saya pesan di sini adalah:

  • Bolognaise Pizza Medium (bisa untuk ber-2 atau ber-3 kalo sedang diet rendah kalori) – Rp22.500 [recommended]
  • Beef Bruchetta (4 pieces) – Rp7.200 [recommended]
  • Orange juice – Rp4.500

lihat bagian rotinya yg kayanya kurang mateng dikiiit... kurang gosong.

Harga di atas adalah harga nett yang saya bayar setelah dipotong diskon 10% (discount all the time). Huahahaha… senang deh. Ayo dong, pada ke sini, biar bisnisnya bisa terus berjalan… Sehingga bisnisnya nggak mati. Jadi, saya tetep bisa makan pizza enak dan murah. Hahahaha

Hmm, demikianlah ulasan tentang pizza-pizzaan…. Sebetulnya masih ada Mozzarello di Galeria Mall. Tapi waktu itu saya baru datang sekali dan makan Deluxe Beef Spaghetti-nya saja. Entahlah dengan pizza-nya. Rasa spaghetti-nya biasa aja sih. Rata-rata :)

→ 7 CommentsKategori: bisnis · kuliner
Ditandai: , , , , , , , , , , , , ,

Lagu Untuk Mama

Januari 9, 2010 · & Komentar

Malam ini, tiba-tiba teringat lagu ini, lagu yg dulu sering muncul kudengar dari kotak ajaib bernama televisi. Penyanyinya Kenny. Entahlah, Kenny sekarang kok nggak nyanyi lagi, ya.

Ini lagu buat mama…. Mama Maria Veronica Johari… dan buat semua ibu yang pada mereka kuberi penghormatan atas dedikasinya. Baca liriknya, dengarkan musiknya…..

(*)

Apa yang kuberikan untuk mama

Untuk mama tersayang

Tak kumiliki sesuatu berharga

Untuk mama tercinta

Reff:

Hanya ini kunyanyikan

Senandung dari hatiku untuk mama

Hanya sebuah lagu sederhana

Lagu cintaku untuk mama

Back to (*), Reff

Walau tak dapat slalu kuungkapkan

Rata cintaku ‘tuk mama

Namun dengarlah hatiku berkata

Namun kusayang padamu mama

Oh…

Reff 2x

Lagu cintaku untuk mama…..

Download Lagu Untuk Mama

→ 5 CommentsKategori: tulisan ringan
Ditandai: , , , , ,

Makan @ Jogja [12]: Gama Candi Resto

Desember 13, 2009 · & Komentar

16. Gama Candi Resto [Jl. Mangkubumi, seberang stasiun Tugu]

Tanggal 12 Desember 2009, saya kedatangan tamu yang ‘hobi’ nraktir mahasiswa ra mutu [baca: ra lulus2] seperti saya. Niat awalnya mau ke pantai Depok, untuk makan ikan. Namun teriknya matahari, absennya rombongan awan menuju arah selatan, dan suhu yang diperkirakan sekitar 33 derajad celcius, membatalkan niat tersebut. Pendek cerita, kami akhirnya makan di Gama Candi Resto.

Bandeng Kropok nan lezat. ditambah sambel jeruk, mantap.

Ini kunjungan saya yang pertama ke Gama Candi, dan kedua untuk si teman yang baik hati dan rajin menabung itu. Dari kunjungan yang baru sekali ini, saya sudah bisa bilang bahwa Gama Candi Resto adalah salah satu aset kota Jogja. Recommended!!! Teman saya memesan dan saya manut. Menu yang dipilih adalah:

  • Bandeng Tambak Kropok [recommended] – Rp35.000
  • Kerang Dara Goreng
  • Ca Brokoli [recommended]

Nah, karena saya tidak membayar bill-nya, maka saya hanya bisa mengambil data harga dari sumber sekunder. Saya perkirakan, untuk makan satu orang di tempat ini siapkanlah minimal Rp50.000 per orang. Oh ya, Bandeng Tambak Kropok-nya itu jempol banget. Enakk!!! Nggak bo’ong. Rasanya mantap, tanpa duri pula… Sip. Brokolinya dimasak dengan baik, sehingga warnanya masih hijau bagus, namun matang. Chef-nya kukasi dua jempol deh. Kerangnya, ehm… cenderung biasa saja.

Waah, jadi pengen nyoba menu lainnya, kalo ada yg mau nraktir (berharap ditraktir ibu). Tempat ini, kapasitasnya lumayan besar (perkiraan sekitar 100-150 orang). Ada tempat yang outdoor, ada yang indoor. Desain tempatnya bagus. Menyenangkan!

Bawa tamu ke sini, pasti tidak mengecewakan. Datang bersama keluarga adalah yang paling tepat.

Sebagai info saja, tadi yang masuk ke situ adalah orang-orang bermobil yang well-dressed. Hanya saya dan teman saya yang masuk kaya anak kesasar. Pakai sendal jepit dan kaos oblong. Hahaha. Yang disayangkan cuma satu, tadi AC menunjukkan angka 16 derajad celcius, tapi saya merasa suhu di dalam ruangan itu sekitar 29 derajad celcius. Jogja is sooo hottt!!! Hahahaha

Gama Candi, rocks!!!!

→ 8 CommentsKategori: kuliner · marketing
Ditandai: , , , , , , , , ,

Menjadi Malaikat

Desember 9, 2009 · & Komentar

Ini adalah tulisan yang saya tulis per 8 November 2008, yang artinya sudah setahun lebih yang lalu (dan notabene saya belum menjadi jomblo). Baru saja saya baca lagi, dan walaupun agak ekstrim, kontroversial dan berat sebelah, ada maksud tersendiri untuk menulisnya demikian. Tiap tulisan tentu punya tujuan. Bagi yang tidak setuju, maupun setuju, silahkan berkomentar :)

Menjalin relationship dengan seseorang kadang (mungkin selalu) membuat hubungan antar 2 orang itu menjadi lebih buruk. Semakin dekat kita dengan seseorang. Kita seolah-olah memiliki dirinya. Memiliki hidupnya. Boleh protes atas hal-hal yang tidak pas menurut pandangan kita. Dianggap wajar ketika melarangnya untuk berteman dekat dengan lawan jenis. Bisa mengeluh tanpa segan. Bisa cemberut padanya ketika memang tidak suka. Bisa menjadikannya sebagai korban semprotan ketika kesal dengan orang/hal lain. Dan semua itu akan terus terakumulasi. Akumulasi hal-hal itu pasti akan membuat hubungan itu terasa seperti kendaraan yang sedang menuju ke neraka.

Oleh karena itu menurut saya, ada baiknya kalau kita tidak usah memiliki status pacaran apalagi menikah. Hubungan seperti itu hanya seperti racun dalam darah. Terutama karena ada bawaan hal-hal di atas, dalam setiap hubungan. Perilaku tersebut selalu dilakukan dalam ketidaksadaran ketika berhadapan dengan pasangan. Hal-hal itu yang menjadi racun dalam hubungan.

Hubungan dekat lain juga sama sebenarnya. Yaitu, hubungan keluarga. pandangan orang pada umumnya, wajar jika orang tua memarahi anaknya untuk suatu kebaikan. Wajar jika orang tua melarang anaknya memilih musik sebagai jalur untuk menghidupi diri, padahal anaknya menganggap dalam musiklah dia benar-benar merasa ‘hidup’. Pikiran seperti itu sama saja, racun. Hal-hal seperti itu seringkali membawa hubungan yang parah dalam hidup keluarga. Anak merasa kecewa karena tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Orang tua juga kecewa, anak yang dibesarkan dengan makan ati & uang yang tak sedikit, ternyata tidak bisa memenuhi harapan orang tua.

Saya berkesimpulan. Jika kamu seorang pacar, atau seorang suami/istri, jangan terlalu mencampuri hidup pasanganmu. Biarkan dia memilih apa yang dia suka, apakah berkarir, atau di rumah. Apakah dia mau mencintai orang lain selain dirimu, atau tidak. Jika tidak suka dengan kebiasaan buruknya, cukup ingatkan, dan tidak usah marah-marah. Jika dia tidak mau berubah, ya sudah. Selanjutnya adalah pilihan anda, masih mau bersama dia atau tidak.

Hal lain dari alur yang sama. Loyalitas dan kesetiaan adalah hal yang membingungkan. Dan mungkin juga adalah hal yang berpamrih. Seperti sebaris lirik lagu, “aku setia, kalau kau pun setia”. Kesetiaan adalah hal yang tidak murni juga dalam hubungan. Kesetiaan mengandung perjanjian tak tertulis mengenai suatu pertukaran. Begitukah seharusnya sebuah kesetiaan? Tampaknya tidak. Setahu saya, kesetiaan harusnya tidak berpamrih. Saya mengambil contoh dari Tuhan yang saya percayai ada. Allah itu setia. Allah setia pada kita, memberi kita rahmat hari per hari, walaupun kita adalah koruptor kelas kakap, penganiaya hati orang, dsb. Allah setia, dan apakah kesetiaannya berpamrih? Jadi, bagaimana kita bisa mengatakan, aku akan setia pada pasanganku, dan aku juga berharap dia setia padaku. Ketika dia tidak setia, maka kesetiaanku juga akan berakhir. Bagaimana kita harus bersikap?

Kembali ke bagaimana kita harusnya bersikap kepada pasangan. Saya rasa, orang yang pernah jatuh cinta dan cintanya berbalas, bisa memahami penjelasan saya berikut. Bagaimana saat seseorang mulai jatuh cinta pada orang lain? Dia akan terus terbayang-bayang akan orang tersebut. Mengingat-ingat betapa manisnya dia, dan bertapa mengagumkannya apa yang dia lakukan, sehingga ia ingin selalu ada di dekat malaikat itu, karena dengan bersamanya ia bahagia. Kemudian ketika mereka bertemu, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Pujian tak segan-segan dilontarkan pada si dia. Hal-hal manis juga dilakukan untuk membuat dia senang. Masing-masing akan menampilkan dirinya seindah mungkin. Itulah mengapa setiap orang merasa sangat bahagia ketika jatuh cinta.

Selanjutnya, ketika mereka akhirnya sepakat untuk menjadi sepasang kekasih-atau-suami/istri, muncullah hal-hal yang tidak mereka inginkan. Pasangan itu berubah dari sosok malaikat, menjadi sosok setan. Suka marah-marah, selalu ingin diperhatikan, hanya memikirkan diri sendiri, tidak mau memahami perasaan pasangannya, dan sederet hal-hal serupa. Maka hubungan mereka pun menjadi tidak berarti lagi. Kebersamaan mereka tidak seperti tujuan awal mereka berikrar.

Cerita yang buruk itu bisa tampak lebih buruk lagi ketika datanglah sesosok malaikat lain yang siap memberi air pada hati yang kering. Orang umum menyebutnya selingkuh. Sebenarnya itu kan, masalahnya, pada orang yang berselingkuh (kecuali mereka yang memang tidak menganggap serius suatu hubungan-mereka sering disebut playboy/playgirl).

Masyarakat pasti akan menyalahkan orang yang berselingkuh, dan bersimpati pada orang yang ditinggal berselingkuh oleh pasangannya. Padahal, perselingkuhan itu, mungkin awalnya adalah karena orang yang ditinggal berselingkuh ini, tidak lagi mampu menjadi malaikat dalam hidup pasangannya.

Oleh karena itu, yang terpenting, jagalah hubungan anda dengan semua orang yang anda kasihi. Dan jadilah malaikat dalam hidup mereka. Ketika anda sudah bukan malaikat lagi dalam hidupnya. Maka dapat dipastikan, orang itu akan merindu hadirnya malaikat lain dalam hidupnya.

→ 17 CommentsKategori: opini
Ditandai: , , , , , ,

Wisata @ Jogja [1]: Membuat Keramik, Tatah Ukir, Batik dan Kulit

Desember 1, 2009 · & Komentar

Sebagai warga Indonesia yang memiliki nasionalisme [halah... PPKn banget---sekarang PKn] dan warga Jogja yang berniat mendukung pariwisata dan industri kreatif di sini, maka….. jreng jreng jreng. Mulai skarang, aku akan posting tentang wisata-wisata alternatif yang bisa dilakukan di Jogja. Bosen ke Kaliurang, Mirota Batik, dan Malioboro??

Kali ini pengen belajar bikin keramik??? Anda bisa datang ke Tirta 9 Craft.

Hub: Candra di 0857 3951 6973

Di bawah ini, bisa diliat info mengenai tarif kelas yang ditawarkan… Enjoy Jogja! Jogja bukan hanya cuma Malioboro…. :)

brosur

→ 5 CommentsKategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , ,

Malaikat untuk Hati

November 3, 2009 · & Komentar

Ia merindukan datangnya malaikat….. di hidupnya
Malaikat yang bisa membuat ia tersenyum dan tertawa
Malaikat yang selalu mencerahkan hatinya
Malaikat yang paling tahu betapa berharganya ia
Dan malaikat yang mau terus bersamanya
Agar ia bahagia
Tidak seperti saat ini

Malaikat itu orang sebut dengan cinta
Maka dengan niat yang teguh, ia hendak mencari cinta
Cinta itu akan ia persembahkan sebagai obat bagi hatinya yang sudah lama menjadi pesakitan

Maka ia mencari cinta dan terus berdoa untuk mendapatkannya
Satu… lima… tujuh puluh… tiga ratus… enam ribu…. Dua puluh ribu….
Ah…. sudah… cukup…
Aku tak sanggup menghitung banyaknya orang yang sama seperti ia
Orang yang sedang mencari cinta
Untuk hati mereka yang telah lama menjadi pesakitan

Timbulrejo, 9 November 2008; 00:40 WIB

→ 3 CommentsKategori: puisi
Ditandai: , , , ,

Rasa Ini – Vierra [ini lagu bikin aku mikir ga selese-selese]

Oktober 31, 2009 · & Komentar

Ini lagu kok kata gantinya membingungkan ya?
Misalnya aku itu cewek. Kau itu cowok. Dia itu cowok.
Kok bisa ya, ada bagian “kau pernah menjadi, menjadi miliknya”
Ha?? iki ceritane, si ‘kau’ dan si ‘dia’ homo to??? hahahaha
Haduuuh… ini lagu enak banget dinyanyiin, tapi kok ya liriknya gak jelas begini??? Huf huf huf……

Rasa Ini
[by Vierra]

ku tak percaya kau ‘da disini
menemaniku di saat dia pergi
sungguh bahagia kau ‘da disini
menghapus semua sakit yang kurasa

*mungkinkah kau merasakan
semua yang ku pasrahkan
kenanglah kasih..

Reff :
ku suka dirinya, mungkin aku sayang
namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
kau pernah menjadi, menjadi miliknya
namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini

na nana nanana nana nanana

back to * , Reff

back to Reff

klik here to download Rasa Ini – Vierra

→ 4 CommentsKategori: tulisan ringan
Ditandai: , , ,

Kampus di malam hari (monolog Aurelia)

Oktober 29, 2009 · & Komentar

Dan aku di sini. Masih bermimpi tentang perpustakaan itu, di mana aku masih bisa belajar dan bekerja di sana sampai malam hari. Perpustakaan yang hanya pernah aku dengar kabarnya dari cerita dosenku di suatu pagi. Konon katanya perpustakaan itu buka 24 jam….

Oh, andaikan saja kampusku memiliki perpustakaan seperti itu. Atau setidaknya membuka hall, lobby, selasarnya 24 jam untuk mahasiswa yang masih mau menekuri artikel, tugas, atau laptopnya. Mungkin aku saat ini masih berada di sana. Di kampusku…

Aku bertanya-tanya, apakah pejabat fakultasku juga pernah mengalami kampus yang terbuka 24 jam untuk mahasiswanya belajar ketika mereka mengambil gelar master dan doktoral di luar negri sana? Jika pernah, pernahkah mereka berterima kasih untuk kebijakan yang dibuat oleh kampus mereka yang konon sudah maju dalam konsep tersebut? Mengapa ya, mereka belum membuatkannya untuk aku dan teman-temanku di sini…

Oh bulan, oh bintang… Tolong katakan pada mereka yang mungkin sudah terlelap, bahwa aku bermimpi memiliki kampus yang tidak akan mengusirku untuk belajar atau bekerja di sana. Entah sudah berapa kali aku di’usir’ satpam secara halus untuk melanjutkan pekerjaanku di rumah, atau esok harinya. Ketika itu terjadi, haruskah aku menjelaskan panjang lebar ke satpam untuk menjelaskan suatu hal yang sangat penting untuk belajar dan bekerja? MOOD!

Ketika mood itu masih ada, tolong, jangan padamkan apinya… Please…. Jangan usir aku pulang, Pak Satpam… Aku masih mau di kampus untuk belajar dan bekerja. Apa yang kau khawatirkan dengan keberadaanku di kampus sampai larut malam? Bahkan ibuku yang begitu mengenalku tak mengkhawatirkanku (karena ia tahu bahwa aku di kampus untuk apa).

Pak Satpam… kau bisa pantau aku dengan CCTV yang menyiarkan siaran langsung itu ke ruangmu. I’m not doing anything bad, there. Hey, come on. No reason to force me to go home. I need the athmosphere to study, to work… Why i can’t stay there as long as i need it? I’m neither a criminal nor a vandals. I just can’t find better place to study and work better than my campus can provide… I also can’t afford cozy cafe for working. My bedroom only persuade me to get sleep early and I don’t have other room to work… Can’t I stay there? On my own campus?

Fiuh fiuh fiuh…. i’m talking alone here… Anybody hear me???

*Aurelia Claresta Utomo adalah mahasiswi smester 9 yang sedang berupaya menyelesaikan skripsinya di Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM, Yogyakarta

→ 6 CommentsKategori: opini · tulisan ringan
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Makan @ Jogja [11]: Amboja Resto

Oktober 10, 2009 · & Komentar

15. Amboja Herb Garden Resto [Jl. Kaliurang km.18,7]

Tanggal 2 Agustus 2009 yll, untuk pertama kalinya saya mencoba makan di Amboja Resto yang sudah direkomendasikan seorang tante dan seorang teman nggosip. Dan sekarang saya ingin melakukan hal yang sama, yaitu melanjutkan word of mouth ini.

Resto ini patut anda singgahi kalau anda ke Jogja. Ini adalah resto yang cocok untuk dikunjungi kalau anda sedang refreshing atau berlibur di Jogja. Tempat ini cocok untuk anda yang mau mengajak tamu dari luar kota untuk mencicipi salah satu ‘rasa’ Jogja. Tempat ini memiliki nuansa santai yang mendukung rasa nyaman bagi pengunjung.

Semua menu di sini menggunakan produk lokal yang mereka tanam sendiri di sekitar resto. Cocok buat para pendukung penggunaan produk lokal dan vegetarian.

Rasa makannya tidak bisa dibilang luar biasa, tapi enak kok. Saya mau sekali untuk kembali makan di sini. Ada yang mau ajak saya???

Oh ya, ini daftar menu yg kami pesan waktu itu:

jamur asam manis 17.500

Nila Sc plawangan 26.000

kailan sc tiram 15.000

nasi putih 3.000

nasi hitam 5.000 [nice try]

singkong thailand 11.000 [not recommended.no more]

teh kayu manis 6.000

juice amboja 12.000

marquisa juice 12.000 [like it]

es jeruk 7.500

→ 6 CommentsKategori: kuliner
Ditandai: , , , , , , ,

Zigas – Sahabat Jadi Cinta

Oktober 7, 2009 · & Komentar

Karena penulis blog ini lagi stress, maka ia iseng saja mosting lirik lagu yang kebetulan lagi enak di telinganya (yg dekat dengan otaknya yang lagi nggak beres)… Lagu ini dari judulnya mengingatkan akan inti lagunya Jason Mraz yang berjudul Lucky. Tapi memang lagunya Zigas ini nggak bisa ditandingkan dengan lagunya Jason Mraz. Beda… Hahaha Nikmatilah…

Zigas – Sahabat Jadi Cinta

kuhantarkan kau di pelataran
hati yang temaram
matamu juga mata mataku
ada hasrat yang mungkin terlarang

* satu kata yang sulit terucap
hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
perasaanku berubah jadi cinta

reff:
tak bisa hatiku menampikkan cinta
karena cinta tersirat bukan tersurat
meski bibirku terus berkata tidak
mataku trus pancarkan sinarnya

kudapati diri makin tersesat
saat kita bersama
desah nafas yang tak bisa truskan
persahabatan berubah jadi cinta

repeat *
repeat reff

reff2:
apa yang kita kini tengah rasakan
mengapa tak kita coba tuk satukan
mungkin cobaan untuk persahabatan
atau mungkin sebuah takdir Tuhan

repeat reff, reff2
repeat reff, reff2

download Sahabat_Jadi_Cinta_-_Zigas

→ 5 CommentsKategori: tulisan ringan
Ditandai: , ,