Photo Session @ Bosscha

Di sini saya cuma mau pamer foto. Hahaha… Biar pada mupeng…. *padahal nggak ada yang pengen juga, GR*. Kadang kala, terlalu cepat datang ke suatu tempat itu berkah bin anugrah. Gara-gara kecepetan datang di Bosscha, saya malah menemukan bahwa daerah observatorium ini indah untuk digunakan berfoto-foto. Intinya, fokuslah pada pemandangan alam dan kemampuan alam menciptakan foto-foto ini, jangan fokus pada ‘model’nya, yah.

Kebanyakan orang hanya berfoto di sekitar teropong Zeiss (diberi nama sesuai dengan lensanya yang buatan Carl-Zeiss). Tapi justru foto-foto yang saya pajang ini nggak satupun mencuri pesona si teropong yang sering dikenal dengan nama Bosscha itu.

Sebagai informasi aja. Teropong yang paling terkenal di observatorium Bosscha bernama Zeiss. Bosscha sendiri adalah nama dari areanya. Area observasi bintang. Bosscha adalah nama dari tuan tanah yang memiliki tempat itu. Beliau dulu adalah pemilik perkebunan teh yang kaya di sana.

Di bawah ini adalah foto saya di bawah pohon bougenville yang sudah besar sekali. Bunganya yang rontok memberikan kesempatan untuk menciptakan setting foto yang bagus. Sekali lagi yang bagus adalah tempatnya ya. Saya nggak mau komen soal modelnya. :P

Pancaran matahari saat itu juga membantu menciptakan foto dengan efek cahaya yang dramatis seperti foto di bawah ini. Kalau mupeng, segera ke sana deh. Sekedar numpang foto-foto aja. Menurut saya sih, fotonya sedikit mirip dengan foto-foto di luar negri :)

Makan @ Bandung [1]: Warung Laos

Yang paling menarik dari sebuah perjalanan, adalah kadang kita tidak tahu akan menemukan apa di perjalanan. Di tengah kebingungan klasik ‘mau makan apa’ di daerah Ciwalk, saya dan Herman masuk ke dalam sebuah warung makan yang nampaknya asik, namanya Warung Laos. Alamat pastinya adalah Jl. Prof Eyckman No.2. Nampak agak kuno, banyak elemen kayu, tapi tidak melompong. Beberapa orang telah duduk santai di sana. Hujan rintik-rintik mempercepat pengambilan keputusan. Kami mau makan siang di situ saja.

Salah satu pemiliknya adalah Darwis Triyadi

Awalnya dengan melihat papan nama si warung, asumsinya yang dijual adalah ayam-tahu-tempe bacem. Itu adalah asosiasi terdekat dari nama Warung Laos. Begitu masuk, ternyata ini adalah pizzeria. (-_-”) pemilihan nama yang aneh.

Masuk dan memilih tempat duduk di lantai atas. Harapannya bisa melihat pemandangan jalan Cihampelas yang sempit namun ramai dari atas. Apa daya, ternyata posisi strategis sudah diduduki tamu lain. Maka, akhirnya cuma bisa melipir. Nasib.

Yang kami pesan adalah potato skin & sausage serta pizza. Sayang sekali pizzanya nggak ke-foto.

Kedua menunya oke. Penyajian minumannya pun menarik, walaupun cangkirnya belepotan. Belum puas? Take away saja. Kemasannya adalah anyaman bambu yang biasa buat bungkus moci. Heheh. Lucu. Seperti yang saya bilang tadi, Darwis Triyadi adalah salah satu pemiliknya (pengakuan karyawan di sana loh, ya), nggak heran ada hasil karya beliau di dinding Warung Laos.

Naahh… cobain ya, kalau belum pernah mampir… Kasih rekomendasi kalo ada menu lain yang enak! :)

Di Usia 24 Tahun

Gregetan juga nge-post tulisan yang kejadiannya nggak up-to-date. Ya, maksud saya yaa.. tulisan tentang perjalanan ke Kamboja itu. Apa boleh buat. Memang harus ditulis sebagai komitmen saya untuk menuliskan sejarah hidup saya sendiri. Ya, masa orang lain yang akan menuliskannya. Emangnya saya siapa? Hehe.

Kemarin adalah peringatan ulang tahun saya yang ke-24. Hanya ada beberapa orang yang mengucapkan selamat ulang tahun, dan itu nampaknya tanpa bantuan Facebook, sehingga jumlah ucapan yang diterima sangat ringkas (saya menyembunyikan tanggal ulang tahun saya dari siapapun di Facebook). Terus terang, saya senang dengan hal itu. :) Why? Karena yang mengucapkan adalah orang-orang tertentu saja, yang dengan caranya sendiri, entah reminder dari mana, mencatat tanggal kelahiran saya. Terima kasih yaa… *tersipu-sipu*.

Hanya ada 2 orang yang menanyakan 1 hal paling wajib dalam hari ulang tahun. Pertanyaannya adalah ”Apa harapanmu?”

Jawabanku adalah, aku ingin memiliki Social Business. Entah cepat entah lambat. Itu yang saya pikirkan tentang hidup saya ke depannya. Saya tidak dapat memikirkan hal lain yang lebih baik dan melegakan daripada bekerja untuk tujuan sosial dalam hidup saya.

Untuk itu saya  sedang membaca bukunya Muhammad Yunus yang berjudul Building Social Business. Semoga bisa cepet selesai, jangan sampai terlantar bertahun-tahun seperti sebagian buku-buku lainnya.

Saya tidak meniup lilin ulang tahun kemarin. Tapi saya rasa, harapan ini terdengar oleh jiwa saya, oleh alam, oleh Tuhan… Semoga bisa terwujud. Karena inilah tujuan hidup saya, seperti doa setiap orang tua untuk anaknya: berguna bagi nusa dan bangsa.

Sekilas Siem Reap

Walaupun bandaranya Siem Reap memang sueepi, ternyata kotanya banyak turisnya. Saya menghabiskan 3 kali waktu makan malam di Siem Reap. Ketiganya di restoran yang berbeda, namun ada 2 kesamaan dari 2 restoran terakhir. Apa itu? Restorannya beesarrr dan selalu ada pertunjukan Apsara dance.

Saya mendengar gosip dari si tour guide, para penari Apsara dibayar sangat sedikit, yaitu US$ 1 per kali tampil. Heeh? Serius? Hmmm, jadi penasaran, berapa bayarannya penari yang tiap malam tampil di Candi Prambanan.

 

Kembali ke restoran. Restoran Kamboja di Siem Reap tidak mencerminkan makanan lokalnya. Atau memang karena disesuaikan dengan makanan yang sudah umum dimakan oleh turis Asia dan Barat pada umumnya. Makanan di restoran pada umumnya chinese food dan sedikit campuran makanan dari Vietnam. Di restoran yang menyediakan buffet/all you can eat, ada juga spaghetti, goreng-gorengan, dimsum, sate, salad, dan makanan yang umum orang Indonesia makan. Kelak di Phnom Penh juga sama saja variasi makanan buffet-nya. Tapi hati-hati buat yang muslim, banyak daging babi beredar sebagai makanan di sana. Hehehe.

Sekedar informasi, restoran yang saya kunjungi di Siem Reap adalah: Tropical Restaurant (jalan masuknya melewati kampung dikit), Amazon Angkor Restaurant, dan Koulen II Restaurant. 

Laba-laba goreng

Sebelum berangkat ke Kamboja, saya sudah sempet browsing dulu tentang snack khas Kamboja yang mungkin bisa saya bawa pulang sebagai oleh-oleh. Apa jawaban Google? Ditampilkanlah berbagai serangga goreng kering nan kemripik. Hiiii… Nggak ada yang tertarik waktu saya tawari oleh-oleh itu *muka jahil*.

Oh ya, mengingat pendidikan bahasa orang Siem Reap tidak merata bagusnya, ada yang lucu dengan neon box yang dipasang di daerah Night Market.

 

Di sana pijat itu bener-bener murah. Yang di Night Market, bisa pijat dengan mulai dari US$ 2 plus tip untuk 15 menit. Tapi, kualitas sentra-sentra pijat di Siem Reap tidak semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa rekan kantor merasa pijatannya nggak bertenaga, ada yang jadi sakit-sakit badannya. [bersambung]

Muka Indocina

Ketika di Kamboja, saya mulai ngitung, berapa kali saya diajak ngomong pakai bahasa setempat. Sampai akhirnya saya berhenti berhitung, Capek ah. Rekan kerja saya, Hong, orang Vietnam setuju kalau kalau saya mukanya mirip orang Vietnam. Hehe. Beginilah nasib bermuka Indocina. Separo Indonesia, separo Cina (ngarang bangett). Muka indocina yang saya maksud adalah bermuka asia, tidak terlalu sipit, tapi tidak terlalu putih juga.

Petugas hotelnya tegang banget

Nah, dalam rangka ingin berfoto dengan orang Kamboja, saya meminta Putra memotretkan saya dengan petugas hotel yang menggunakan jas. Kelak saya harus mempertanggungjawabkan foto ini kepadaaaa… Bukan pacar saya. Bukaan.. Yang nanya malah teman-teman kantor yang mendapati foto ini ada di folder saya (maklum, acara kantor, jadi semua foto di-copy dan disebar).

Dalam rangka pengen foto dengan ‘saudara’ yang lain, saya minta foto bareng rekan seperusahaan yang berasal dari Vietnam. Hehehe. Mirip nggak? (ini beneran nanya, nggak maksa mirip, kok).

di kompleks candi Angkor Wat yang lain

Sehubungan dengan muka saya yang indocina, di night market Siem Reap, pasar yang menjual berbagai oleh-oleh, saya hampir dikelabui oleh seorang gadis muda berusia 16 tahun. Bahasa inggrisnya bagus sekali, bahkan saya sempat merasa bahasa inggrisnya lebih bagus dari saya. Dengan caranya yang manis dan lihai, ia mengatakan memberikan harga yang murah kepada saya karena saya nampak seperti orang lokal. Untung kemudian ada pembeli lain yang sibuk tanya ini itu. Akhirnya saya berhasil kabur dari tempat itu karena diberitahu teman saya bahwa harga untuk barang yang saya taksir itu harusnya jauh lebih murah.

Dengan muka ini, oleh seorang supir taksi, saya tidak dipercaya saat bilang rumah saya di Yogyakarta. Kemudian ia menebak saya ini orang Bandung. Haa? Sunda?? (_ _!)

Mau tau saya orang mana? Baca post yang ini :)

Perjalanan ke Siem Reap

Dari Singapura, kami terbang ke Siem Reap. Detik-detik menjelang mendarat, pemandangan yang terlihat adalah dataran rendah dengan tanah berwarna kemerahan dan sedikit pepohonan, tidak tampak hutan (kumpulan warna hijau yang merata dan luas). Pramugari mengumumkan suhu di luar adalah 39°C. Whattt? Waktu itu Jakarta 37°C aja, twitter udah ketumpahan sumpah serapah. Sampai dikatain ada yang lupa nutup pintu neraka segala. Ini lebih panas 2°C. Untungnya orang Siem Reap nampaknya belum cukup akrab dengan twitter.

Bener aja. Begitu keluar pesawat. Terik dan panasnya minta ampunn. Setelah berfoto-foto di plang nama airport di pinggir landasan, saya begegas mengejar yang lain. Kami harus mengisi form visa on arrival. Bayarnya USD 25 per orang.

Bandara ini cukup baru dan bersih. Kecil dan bernuansa sedikit etnik, seperti Bali. Saya sempet tertarik dengan lantainya yang sistem pasangnya ala puzzle. Kaya yang banyak dipakai di TK atau playgroup, tapi bahannya memang bahan lantai yang lebih keras.

Setelah rombongan anak-anak berbaju biru muda yang mau lanjut ke Phnom Penh menghilang ke bagian keberangkatan, terminal kedatangan benar-benar sepi. Hanya tinggal kami saja. Heh?! Sepi amaat?

Kami dijemput oleh bis dan tour guide. Perjalanan menuju hotel diisi dengan mengamati penduduk lokal yang bersepeda di bawah teriknya matahari sore. Mengingatkan akan Vietnam di awal tahun 1990-an. Kendaraan juga berjalan di kanan, setir mobil di kiri. Jalanan lebar, licin, dan bersih. Kota ini memang dirawat karena pariwisata menjadi sumber penghidupan mereka. [bersambung]

Jalan-jalan itu Belajar yang Mengasyikkan

Anak-anak jenius mungkin mudah dalam membayangkan hal-hal yang ditulis di buku dan mengingatnya. Nggak berlaku buat saya. Bagi saya, belajar itu paling ‘nyangkut’ kalo dilihat sendiri dan konkret. Apakah ini bisa dibilang saya tipe pembelajar kinestetik? Entahlah, belum di-tes, tapi sementara saya beranggapan seperti itu. Saya pembelajar kinestetik.

Dalam rangka pergi ke acara annual retreat perusahaan, seisi kantor yang statusnya sudah pegawai tetap, rame-rame berangkat ke Siem Reap, Kamboja 16 Mei 2011 yll. Rutenya melewati Singapura dulu, baru ke Siem Reap.

Uhuy, hello Singapore! Lamo tak jumpo! (norak dotkom). Di Singapura cuma ada waktu untuk ‘main’ 1 jam. Alhasil, cuma dipakai untuk keliling-keliling airport. Kualitasnya jauh banget sama SHIA (Soekarno Hatta International Airport).

Kalau punya Singapura dikasih nilai 9,5, Indonesia dikasih nilai 6,5.

Banyak outlet duty free, di mana barang tidak dikenai pajak, fungsinya supaya turis tertarik untuk belanja. Hal yang mengagumkan adalah di dalam ruangannya, semua anggrek di sana asli. Iri deh, kok bisa sih? Kok ga nemu yang gituan di Indonesia, sih?

Hal lain yang bikin mupeng adalah, lansianya masih pada kerja. Aaaa… kerennn. Lansia itu seneng loh, punya kerjaan. Yah, walau kerjaannya simpel seperti lap meja di Burger King atau ngumpulin trolly dengan ‘scooter berjalan’. Mereka pasti merasa hidup mereka lebih berarti ketika masih bisa berguna di hari tua.

Trus juga ada fasilitas toilet yang khusus buat ibu yang bawa anak kecil. Ke toilet bisa tetep jagain bayinya. Aman deh. Kenapa di Indonesia belum pernah liat, yah? Apa karena asumsinya bawa bayi ke mall pasti bawa baby sitter-nya?

Hal yang bikin mupeng adalah toko yang bener-bener pamer abis. Pameran cokelat. Pulang-pulang ke Indonesia, saya yang biasanya nggak pernah mikirin M&M chocolate, akhirnya jadi impulsive. Hedeeeh. Mataaa.. mataa… [bersambung]

Akhirnya Sampai Ke Kamboja

Siapa sangka, saya bisa mengunjungi Kamboja di tahun 2011 ini? Saya aja nggak nyangka! Ngarep? Nggak sama sekali. Nggak bersyukur? Siapa bilang? Ya bersyukur donggg. Hehehe

Seumur-umur saya cuma pernah pergi ke luar negri itu ke Singapura dan Vietnam. Itu juga ketika masih kecil. Usia di bawah 9 tahun. Jadi, sudah lama sekali saya nggak ke luar negri.

Apa ya, titik singgung antara Kamboja dan hidup saya? Hmm, kayanya cuma 1, deh. Dulu waktu di Vietnam, papa (yang kerja buat UNHCR) pernah mau belajar bahasa Kamboja setelah berhasil berbicara bahasa Vietnam. Yes, my father spoke Vietnamese. Kenapa spoke? Karena doi sekarang udah meninggal.Yes, that’s all! Udah nggak ada lagi.

Saya rasa, umum sih, buat orang Indonesia kalo nggak gitu familiar sama Kamboja.

Orang Indonesia kan deketnya sama Singapura (buat yang menengah atas) dan Malaysia (buat yang jadi tenaga kerja). Maksimal Thailand deh.

Dari awal tahun kelinci di 2011 ini, saya sebenernya nggak pernah baca feng-shui hari baik hari buruk, atau nasib baik nasib buruk. Acara training tahunan perusahaan di Kamboja ini bagi saya, adalah ‘bonus’. Thanks boss! Lebih asyiknya lagi, setelah training 1,5 hari yang diselingi makan prasmanan di restoran-restoran besar, ada acara mengunjungi Angkor Wat. Cihuyy.

mati gaya

Lebih bersyukurnya lagi, khusus untuk yang dari Indonesia, boss-nya ngajak untuk stay sampai weekend di Kamboja. Rencana diatur, dan satu rombongan dari Indonesia mampir ke Phnom Penh, ibukota Kamboja. [bersambung]

Dosa Seorang Blogger

Dosa besar seorang blogger itu adalah meninggalkan blog-nya, nggak diurusin, nggak ditulisin. Dosanya kira-kira sama seperti si bang Thoyib yang bikin istrinya nyanyi mellow seantero negri.

Di libur lebaran ini, saya sudah bikin janji sama partner untuk mengisi libur dengan menulis. Apa yang terjadi? Saya lupa bawa netbook. Alhasil saya nggak jadi nulis. Saya membaca doang. Buku yang dibaca adalah bukunya Trinity, The Naked Traveller 2 (hasil minjem dari library kantor). Buku lain yang ingin segera diselesaikan adalah bukunya Erditya Arfah, mantan temen kantornya partner. Judul bukunya adalah Merah Putih di Benua Biru, terbitan Bukune.

Yak, sekarang lagi mikir mau nulis apa ya? Loh, kok bisa nulis, katanya netbook ketinggalan? Iya bisa dooong. Curi pakai saat partner lagi ke toilet. Hehehe.

Menanti Saat Menjadi ‘Hero’

Saya yakin, tidak sedikit orang yang bawah sadarnya menginginkan kesempatan untuk menjadi ‘hero*’. Tanpa menilik teori apapun, hanya sedikit melihat ke kiri dan kanan, saya bisa mengatakan bahwa, sedikit atau banyak, Anda.. ya.. Anda yang sedang membaca tulisan ini… memiliki keinginan untuk menyelamatkan sesuatu, memperbaiki suatu keadaan, mencerahkan hidup orang. Impian untuk menjadi hero bagi orang lain.

Untuk orang-orang tersebut, ada sebuah video singkat yang mungkin berarti.

Pesan Mark Bezos untuk Anda: Don’t wait. Jangan menunggu hal besar untuk Anda ubah, selamatkan, perbaiki. Setiap hari ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kecil tapi berarti. Jangan hanya ingin melakukan hal besar. Lakukan hal-hal kecil, karena hal-hal besar sangat jarang datang ke hadapan kita.

*saya menggunakankata hero dan bukan pahlawan, karena -sayangnya- kedua kata itu memberikan feel yang berbeda. kata hero akan lebih lekat pada tokoh penyelamat yang keren, dan pahlawan lebih lekat dengan pejuang kemerdekaan jadul

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.