3 Kesulitan Utama Membuat Online Shop

Standar

Menjalankan online shop. Terdengar mudah? Bagi saya pribadi, tidak mudah. Saya menginginkannya sejak saya pertama kali menjalankan toys store di Maret 2012. Kapan mulai berhasil menjual dengan rutin? Oktober 2013.

Apa sulitnya merealisasikan online shop?

1. Sibuk melakukan pekerjaan rutin

Pada tahapan merintis bisnis kecil, banyak hal saya tangani sendiri. Semua pekerjaan saya pernah lakukan di toy store kecuali bersih-bersih (mainan, display dan lantai). Mulai dari pemilihan produk baru u/ dijual, pemesan barang kontinyu, pengkodean produk, penentuan harga produk, pelabelan harga, penjualan, pengadaan alat kerja (ATK, display, lampu, software, dll), akuntansi, reporting, subordinate controlling, dan HRM (human resource management). Semua hal kecil itu nampak sepele, tapi tidak bisa saya sepelekan. Penyepelean dapat menyebabkan bisnis mengalami kegagalan.

Ada saat saya begitu rutinnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut hingga saya tidak menyempatkan untuk memulai mendokumentasikan produk dalam bentuk foto untuk dipajang di online shop. Hingga suatu saat saya mendapat permintaan oleh seseorang untuk menjadi reseller (dropship) hingga saya terpaksa untuk melakukannya dan mendelegasikan & menunda beberapa tugas rutin saya.

2. Pelanggan offline store tidak mengakses akun media sosial

Saya sudah memasang akun Facebook dan Twitter dari toy store saya sejak Oktober 2012 di neon box depan outlet. Pemajangan yang demikian memaksa saya untuk meng-update isi dari kedua akun media sosial tersebut dengan foto-foto produk baru. Awalnya saya unggah foto-foto hanya di Facebook, berbulan-bulan tidak ada pembeli (yang signifikan). Setelah ada akun Twitter, saya lalu mengunggah dari Twitter dan di-link dengan akun Facebook. Tetap tidak ada pembeli (yang signifikan). Semakin lama, usaha nampak sia-sia, saya jadi agak kurang bersemangat meng-update kedua media sosial tersebut.

3. Memilih media sosial yang kurang cocok

Saya tidak menggunakan istilah “media sosial yang salah” karena ada kemungkinan media sosial itu cocok bagi satu orang, dan kurang cocok dengan orang yang lain. Hanya masalah efektivitas yang berbeda pada tiap orang. Pendeknya, setelah Facebook dan Twitter tidak berhasil, saya berusaha melongok Kaskus dan Berniaga.com. Kisah saya dan Kaskus berjalan sangat pendek. Saya bahkan tidak berhasil memahami bagaimana posting di Kaskus. Di Berniaga.com saya menemukan bahwa produk di sana mahal-mahal dan saya ragukan berapa banyak yang akses.

Di kemudian hari, saya melihat fenomena online shop di Instagram yang sering sekali spamming di foto selebritis. Reseller saya berhasil menjualnya di sana, maka saya mengikuti. Saya mulai memajang katalog di Instagram. Akhirnya perlahan-lahan online buyer mulai meramaikan online shop saya.

Tips berjualan di Instagram oleh Aurelia Claresta:

Di Instagram banyak sekali foto indah, maka foto katalog barang pun harus terlihat simpel, clean, dan berkualitas baik.

Selain itu, jangan pernah spamming jika Anda sendiri tidak suka spammer. Cari perhatian calon pembeli bisa dengan membuat hashtag yang populer di kalangan online shopper, me-like foto, maupun menaruh comment yang relevan dengan foto tersebut.

Bisa juga dengan menggunggah foto2 produk yang diperagakan model sehingga berkesan pro.

Mengunggah foto testimoni dari pelanggan yang membuktikan Anda benar-benar trusted seller yang menjadi isu besar bagi para online shop. (Walaupun sesungguhnya saya kurang suka mengunggahnya karena mengganggu keindahan postingan foto)

Selamat mencoba🙂

NB: akun toy store saya @storeMJtoys… mostly produknya adalah boneka dan bantal (karena produk itu yang cenderung aman dari kerusakan pengiriman karena tidak ada resiko pecah)

Gambar

2 responses »

  1. udah coba dengan bikin web re? kalo punya web, nanti kamu bisa install satu plugin yang otomatis update ke akun media sosial lainnya setiap kamu update produk di web. jadi kamu gak perlu kerepotan buat mengupdate masing-masing media sosial. masalah kurang cocoknya media sosial juga gak masalah kerena kamu cukup bikin akun terus bakal terus update selama kamu update webmu.

    Kemudian lewat web, konsumenmu tidak terbatas pada pengguna media sosial tertentu bahkan lebih luas lagi karena kalo SEOnya bagus, pembelimu bisa datang dari orang yang melakukan pencarian di google.

    • Website adalah media yang ideal, Saiqa. Sayangnya waktu untuk membuatnya tidak sedikit. Dan aku belum merasa worth-it untuk membuat website yg dikelola pihak pro dengan fee jutaan.

      Selama ini aku post di Instagram, langsung tersambung dengan twitter, dan dari Twitter tersambung dengan Facebook. Somehow, customer 100% datang dari Instagram.

      Mungkin karena berupa repost dari IG, tweet dan post di FB jadi tidak menarik. Pun follower Twitternya masih sangat sedikit.

      Demikian kondisinya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s