Sendiri di Bali – Petualangan Si Bolang (1)

Standar

Saya berangkat pukul setengah 6 pagi dengan perasaan bungah, akhirnya… BALI aku datangggg…..

Ketika di pesawat, sebelah saya adalah wanita Polandia (di sebelahnya ada cowo bule juga, tapi nggak dibahas). Ini sama-sama kali kedua kami ke Bali. Setelah mendarat, karena berangkat sangat pagi, saya mulai agak lapar. Roti Boy menjadi pilihan saya yang pertama. Satu hal yang langsung menjadi perhatian saya adalah pramuniaganya yang tidak berusaha tersenyum dan tidak mengucapkan silahkan maupun terima kasih. Saya terbiasa dengan keramahan pramuniaga di Jogja dan Jakarta, ini jadi permulaan yang kurang baik untuk citra Bali.

Saya datang sendiri dari Jogja, 3 orang lain akan menyusul nanti sore dari Jakarta. Karena santai, saya pun ingin melihat-lihat situasi bandara dulu dan motret suasananya. Kinda go with the flow. Saya suka dengan suasana bandara di Bali, pemandangan destinasi wisata itu selalu memberi harapan akan kesejukan hati.

2013-02-02 09.01.12

Kesalahan saya yang pertama adalah mau aja dirayu sama sopir taksi. Saya tau banget, menerima tawaran sopir taksi di bandara itu bukan pilihan yang tepat bagi yang mau berhemat. Pendek kata, ternyata sopir taksi Xenia yg pintar merayu ini berhasil mendapatkan penumpang dengan upah Rp50.000 untuk mengantarkan sampai rental motor di sekitar Discovery Mall, Kuta. Kelak, saya akan menyesal dan mengetahui bahwa cara yang lebih hemat (tanpa perlu jalan kaki sampai Kuta) adalah dengan jalan kaki ke luar bandara dan nyetop taksi di luar sana, paling biayanya hanya Rp15-20.000.

2013-02-02 09.17.55

Baru 5-10 menit berkendara, saya sudah diturunkan di rental motor dekat Discovery Mall. Saya sih pernah baca rental motor di Bali itu  Rp30.000, tapi karena orang di antrian depan saya mendapatkan harga Rp65.000 untuk Vario, saya jadi takut nawar terlalu rendah. Saya menyewa Mio dengan modifikasi kait belanjaan dari besi yang dilas kasar seharga Rp50.000. Ternyata si Mio ini bensinnya udah tipis banget, isi deh Rp5.000 dengan bensin ecer botolan dekat gereja St. Fransiskus Xaverius. Tujuan saya adalah GWK, lalu saya mau menghabiskan sunset di Dreamland. Itu rencana saya.

Ketololan nomor satu dan dua di pagi itu adalah saya ternyata tidak membawa kacamata hitam (yang saya bela-belain beli sehari sebelumnya) dan tidak membawa kamera. BRAVO!!!! Dengan dukungan helm yang nggak ada kacanya, saya pun kudu beli kacamata hitam di perjalanan, saya pilih yang bingkainya berwarna putih dan kacanya sangat gelap. Terbukti, untuk menghadapi sinar matahari yang terik, warna semi gelap, apalagi cuma warna pink/ungu itu nggak fungsi! Paling bener adalah pakai kacamata yang sangat gelap. Harga? saya tawar menjadi Rp30.000. Itu harga yang pantas lah, kesian kalau lebih rendah lagi, saya tau kisaran marginnya seberapa.

motor sewaan lagi parkir ketika saya mampir ke ATM

Di perjalanan yang mulai berkelok, saya minta bantuan Google Map untuk menunjukkan arah. Daaan… walaupun sudah pakai Google Map, saya salah belok. Hal ini wajar, karena ketika mencapai persimpangan, penunjuk arah depan di Google Map agak linglung, suka muter-muter sendiri. Salah belok pertama, adalah ketika memilih belokan ke arah Jimbaran. Sadar telah salah (karena jalannya mengecil), saya kembali ke persimpangan. Kali ini saya pilih arah yang paling ramai, arah menanjak (tengah).

Entah sejak darimana salahnya, intinya saya sampai di jalan yang semakin sepi, dan semakin menanjak. Saya keluar jalur lagi dari arahan Google Maps. Kadung sampai di tempat yang sepi, saya ikuti aja motor-motor bule yang bawa papan seluncur, pasti pantai! Jeleknya saya adalah saya nggak bisa ngejar motor-motor ngebut bule surfer. Jalan makin sepi dan semakin menjanjikan akan pantai yang sepi tapi penuh bule. Waaaaah, ini SERU. Saya nggak pernah lihat orang surfing dengan ombak tinggi seperti di film-film.

mumpung nyasar, foto-foto aja….

Jalan makin nggak jelas, pokoknya saya ngikutin motor bule-bule aja. Itu aja! Pendek kata, saya khawatir bensin saya nggak cukup, untunglah ada malaikat lagi isi bensin juga. Hahaha, bule maksud saya. Setelah berkali-kali ketinggalan motor bule yang super ngebut, saya ngikutin motor anak-anak cewek SD yang lagi naik motor. Eh, ternyata mereka masuk ke pekarangan rumah sendiri. Atas bantuan informasi dari malaikat lainnya (kali ini orang yg lagi menyusun bata untuk pagar), saya disuruh mencari pantai Niko dengan cara mengikuti jalan lurus.

2013-02-02 11.10.29

sungguh offroad

Jalan-jalan di daerah ini kelihatan baru diaspal. Di pinggir aspal banyak berserak batuan kapur berwarna putih, batuan lokal sana. Setelah melalui jalan offroad, saya sampai di daerah Nusa Dua. Hah?? Nusa Dua?? Jauh bener ya… Nggak heran sih. Setelah dua jam berkendara baru sampai sana (udah termasuk waktu nyasar-nyasarnya).

Saya sampai di mana??? tunggu post selanjutnya, ya….😉

Photo courtesy: Aurelia Clarest U

4 responses »

  1. mending full tank aja kalo nyewa motor n juga jgn pake google maps menurutku gak akurat, (kalo pake android) mending makai ndrive, baru akurat walaupun peta jalan kurang lengkap yg penting akurat

    • trims udah mau ninggalin komen buat post saya, ini. iya, waktu itu isi sedikit karena mbolangnya nggak tau seberapa dekat😛 ceritanya sayang kalau nyisain bensin banyak2 di motor sewaan. hahaha… untung ga sampai berhenti motornya kekurangan bensin😛

      ndrive itu GPS untuk mobil itu? yg dijual di mall2? atau app untuk HP android?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s