Bisnis yang Tidak Feasible di Jogja

Standar

Saya punya beberapa orang teman yang doyan banget ngomongin soal ide bisnis. Saya juga punya lebih banyak lagi saudara, teman & kenalan yang ngakunya pengen punya bisnis kelak. Untuk kalian semua, saya mau nulis tentang bisnis di Jogja dan kecenderungan feasibility-nya.

Siapa sih nih yang nulis?

Mungkin ada yang nanya juga. Supaya pembaca agak percaya sama apa yang saya tulis, saya tuliskan dulu latar belakang saya sebagai penulis. Saya lulusan Cum Laude dari Manajemen UGM pada tahun 2010. Kerja sebagai consumer researcher & consultant di MNC asal Singapore di Jakarta selama 1.5 tahun. Saat ini berwirausaha & mengelola toko mainan di Jogja. Ibu saya wirausahawati di bidang kuliner, memiliki sebuah warung makan ayam bakar di dekat Ambarrukmo Plaza Jogja. Oom saya punya warung makan prasmanan & ayam bakar & akan merintis 1 warung makan baru (juga di Jogja). Jika dilihat kembali ke belakang, saya sudah mulai jualan sejak kelas 2 atau 3 SD, jualan keripik bawang & belalang (lucu banget kalau diinget2).

Singkat kata, nggak penting juga saya panjangin ceritanya latar belakang saya. Intinya saya sedikit tertarik untuk mengetahui dunia bisnis dan ini pendapat & analisa saya tentang feasibility bisnis (kecil & “kecil”) di Jogja.

1. Laundry

Sepupu saya ada yang jadi pengusaha laundry. Dari ceritanya, saya bisa bayangkan bisnis ini untungnya tipis & saingannya sangat banyak di Jogja. Tarif umum yang berlaku juga keterlaluan murahnya, Rp2.000/kg (bahkan saya pernah menemukan yang Rp1.900/kg). Dengan tarif Rp2.000/kg, untuk dapat omset Rp100.000 per hari, maka harus nyuci PLUS NYETRIKA 50 kg pakaian. Ini kerjaan berat,  tapi hasilnya minim.

bg_laundry_care

Jika “tidak untung”, MENGAPA PELAKU BISNIS LAUNDRY MASIH BANYAK?

Kemungkinan 1. karena bisnis ini hanya merupakan sampingan dari ibu rumah tangga yang rumahnya dekat dengan pemukiman dan kos-kosan. Jika tidak perlu membayar sewa tempat, bisa dikerjakan anggota keluarga sendiri, maka masih ada margin yang bisa jadi uang saku ibu rumah tangga ini.

Kemungkinan 2. karena ada pemilik kos yang melihat bahwa bisnis laundry dapat dengan mudah dilekatkan pada bisnis kos-kosan. Mbak pengurus kos bisa sekalian dikaryakan dan digaji dari hasil laundry.

Mandiri1Photo courtesy: http://sakajogja.blogspot.com

Kemungkinan 3. karena ada juga mahasiswa yang sudah mulai merintis berwirausaha dengan modal kecil. Laundry adalah salah satu bisnis dengan modal yang relatif kecil (modal mulai dari 10-15 juta) dan hanya butuh 1-2 tenaga kerja dan outlet yang kecil untuk menerima cucian (pencucian bisa dilakukan di tempat lain yang biaya sewanya rendah / bahkan “gratis”). Ada kemungkinan pelaku bisnis laundry ini adalah mahasiswa yang tidak membutuhkan pemasukan tetap/besar sehingga bisnis dengan return rendah seperti ini bisa hidup terus alih-alih ditutup karena kurang menghasilkan.

TAPI ada juga waralaba laundry yang berhasil survive tuh. Ada Melia dan Simply Fresh yang sudah terkenal sampai kota-kota lain. Bahkan di Jogja juga ada laundry Aqualis yang mengambil target market yang premium dan berlokasi di jalan Laksda Adisucipto (jalan Solo) yg harga sewanya sudah pasti mahal. Jika bisa mengambil margin yang relatif baik, maka tak heran bisnis laundry juga bisa berkembang luas, apalagi jika diberlakukan sistem waralaba/franchise. Dengan sistem waralaba, maka pemilik modal yang tertarik berinvestasi akan membuat bisnis itu cepat berkembang atas satu brand.

MELIA-LAUNDRY-HARI-INI

Photo courtesy: http://www.majalahfranchise.com

Jika dilihat dari sumber ini, Simply Fresh memiliki 220 outlet per Oktober 2012. Disebutkan omsetnya mencapai Rp5M per bulan. Dengan hitungan kasar, omset mencapai Rp22,7 juta per bulan atauRp757.500 per hari. Bagaimana hayoo untuk mencapai omset segitu? Jika bisa mencapai omset itu, bisa dibilang Anda ‘sudah menyamai’ Simply Fresh (dalam hal perolehan omset, lainnya belum tentu).

Central_Office_Simply_Fresh_Laundry_Yogyakarta

Photo courtesy: http://id.wikipedia.org

Jika dilihat dari penawaran waralaba-nya, modal yang ditanamkan u/ waralaba Simply Fresh tidak lagi kecil, sudah masuk menengah (menurut saya). Minimal investasinya sebesar Rp109 juta. Angka ini masuk akal untuk sebuah waralaba karena kapasitas laundry-nya cenderung besar, namun resikonya juga lebih besar daripada mendirikan laundry kecil.

Saya adalah orang yang nggak percaya dengan waralaba bisnis (terlalu) kecil. Bisnis yang ukuran dan kapasitasnya (terlalu) kecil cenderung kurang sustainable dan marginnya juga “cenderung” kecil. Jika sistemnya adalah waralaba (yang notabene adalah bagi hasil antara franchisor/management dan pemilik modal), maka profit yang dibagi akan terlalu kecil juga.

(bersambung di post selanjutnya… saya akan bahas bisnis yang lain)

note: karena ubek-ubek websitenya Simply Fresh, jadi tahu bahwa website ini kurang pengawasan. Bahasa Inggrisnya kacau banget, man! Malu ga sih, punya bisnis besar tapi perwakilannya nggak terlihat profesional😐

2 responses »

  1. Terusin Re, terusin… Seru baca tulisanmu!
    Besok edisi apa? Aku titip artikel ya, kamu harus bahas bisnis makanan fermentasi.
    Hahaha… aku ga mau tau gimana caramu cari sumbernya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s