Mengambil Waktu Untuk Bertumbuh

Standar

Nampaknya cukup banyak orang tahu bahwa saya adalah orang yang suka tidur larut malam/hampir subuh dan bangun (agak) siang. Di satu sisi, ada kelemahan atas gaya tidur saya ini. Komentar yang muncul adalah “gila, jam 3 pagi masih ngetweet aja”, “jam segini belum tidur?”, atau “dia mah kalong, kalo malam bangun kalo siang tidur”.

Tapi… hal yang tidak pernah ditanyakan orang adalah mengapa saya memilih untuk hidup seperti ini. Dalam percakapan sehari-hari, hal ini tidak asyik untuk dibahas serius, lagipula siapa yang peduli? Orang juga nggak mau tahu. Kalau mau tahu pasti mereka sudah bertanya.

Hal yang utama adalah, bahwa saya memerlukan keheningan dari segala keramaian. Malam, adalah saat di mana semua orang memutuskan untuk tidur, maka saya mendapatkan waktu itu, waktu hening, di mana pikiran saya bisa lebih jernih dan saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri.

Di air yang tenanglah segalanya menjadi lebih jelas.

Saya sungguh menikmati saat-saat saya bisa berkomunikasi dengan diri sendiri. Saya bisa berpikir, beropini, dan berefleksi.

Hal ini membuat saya merasa bertumbuh.

Mungkin hal ini tidak sehat bagi tubuh, tapi jiwa yang sakit akan lebih menyakitkan daripada badan yang masuk angin.🙂

Selain waktu untuk memikirkan kesalahan yang saya perbuat hari itu, hal-hal baik yang terjadi, hal-hal tak terjawab dalam hidup, konsep-konsep, dan idealisme, malam hari adalah waktu yang sangat kondusif untuk bekerja.

Ada orang yang heran ketika mengetahui saya sudah duduk di depan komputer sepanjang hari namun masih rela melanjutkannya sampai larut malam. Saya akui, perhatian saya mudah teralihkan. Pada malam yang lebih tenang, konsentrasi saya lebih penuh, dan saya bisa bekerja lebih efektif. Entahlah bagaimana ilmu psikologi menjelaskan hal ini, tapi inilah yang terjadi pada saya.

Alasan berikutnya adalah suhu dan intensitas cahaya. Saya suka pagi, tapi saya tidak suka siang. Saya lebih suka jika siang hari terjadi mendung dan matahari tidak terlalu terik. Sebagai orang yang lahir dan tinggal di negara tropis, saya kurang menyukai matahari yang terik. Suhu yang (terlalu) hangat dan sinar matahari yang terik membuat badan dan mata cepat lelah, sangat mudah menjadi ngantuk di siang hari.

Selain di malam hari, waktu yang memungkinkan untuk terjadinya self-talk adalah saat melakukan pekerjaan yang membutuhkan sedikit pikiran dan konsentrasi, seperti mencuci, memasak, atau berkendara.

Apa yang terjadi jika tidak sempat mengambil waktu untuk bertumbuh? Saya pernah mengalaminya di saat-saat sibuk. Rasanya hidup kurang bermakna, pribadi tidak bertumbuh, waktu berlalu begitu saja, dan saya tak sempat mengingat-ingat hal-hal yang patut dikenang. Hidup menjadi kurang hidup.

Maka dalam keheningan malam, saya menulis ini. Selamat menyempatkan diri untuk bertumbuh di akhir pekan ini. Damai bagi hatimu!

Sumber gambar: 3.bp.blogspot.com

2 responses »

  1. Saya juga menyukai malam. Apalagi mencacahnya dalam keheningan sembari mata memelototi layar komputer. Ketika semua senyap, sepertinya saya mendengar lirih irama kehidupan. Tapi, belakangan, saya melelehkan diri lebih awal dalam selimut. Maklum, pekerjaan hari berikutnya juga membutuhkan mata yang bersinar-sinar. Hidup kalong!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s