Mengurangi Kepadatan Lalu Lintas

Standar

Kepadatan lalu lintas adalah salah satu hal topik pembicaraan yang paling populer dibicarakan masyarakat kota besar di Indonesia karena selalu menjadi masalah yang belum terselesaikan (terutama di Jakarta). Korbannya adalah para pemakai jalan, kecuali bagi mereka yang berada dalam pengawalan polisi dan mendapatkan jalan yg sudah ‘disediakan’.

 

Ilustrasi: 3.bp.blogspot.com

Tentu yang menggunakan kendaraan lebih besar (baca: mobil) akan terjebak di jalanan lebih lama (saat kondisi macet). Pengendara motor mungkin bisa lebih cepat sampai di tujuan (jika jalurnya sama) karena bisa salip sana sini ketika ada celah yang cukup.

Bagaimana cara mengurangi jumlah kendaraan yang melewati suatu jalan? Salah satu cara yang efektif dan telah diterapkan di Stockholm pada 2006 adalah dengan mengenakan ‘denda’ bagi kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut. Mirip dengan biaya tol, tapi ini tanpa servis apa pun. Hasilnya, kendaraan yang lewat berkurang 20%. Nampak sedikit? Tunggu dulu, ternyata hasilnya cukup signifikan bagi jalan tersebut.

Hal serupa juga dilakukan oleh Universitas Gajah Mada sejak tahun 2010, yaitu mengenakan ‘denda’ bagi kendaraan tak bersticker yang masuk ke kawasan UGM. Dulunya jalan di UGM adalah jalur alternatif untuk menghindari kemacetan di Jl. Affandi (Gejayan), Jl. Colombo, daerah sekitar pom bensin Sagan serta Mirota Kampus. Kini, dengan ‘denda’ sebesar seribu dua ribu rupiah saja, tidak ada yang mau bayar untuk sekedar numpang lewat di UGM.

Melihat 2 contoh yang nyata-nyata berhasil, saya rasa ini adalah salah satu solusi yang bisa diterapkan di kota-kota yang ingin mengurangi kepadatan lalu lintasnya di jam-jam tertentu. Tentu ada cara-cara lain yang membuat hal ini bisa lebih efektif, seperti meningkatkan daya tampung, kenyamanan, keamanan dan jangkauan transportasi publik. Selain itu bisa dengan penerapan giliran lewat bagi kendaraan melalui sistem pengenalan nomor kendaraan. Regulasi harga kendaraan (terutama roda 4) , bahan bakar, dan pajak juga akan membantu penekanan laju pertumbuhan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi.

Keadaan kemacetan di kota besar Indonesia saat ini adalah pembiaran dari pemerintah yang berada dalam situasi ‘sulit’ untuk memutuskan menghambat penjualan kendaraan bermotor. Tak dapat dipungkiri, industri dan jasa otomotif memiliki peranannya yang signifikan perekonomian negara. Pemerintah terlalu takut bertindak. Mungkin suatu hari ketika terpaksa melakukan regulasi, baru akan diterapkan.

Penjelasan lebih lengkap mengenai pengurangan kemacetan di Stockholm bisa ditonton di video TED berikut ini. Jonas Eliasson menyampaikan juga mengenai sedikit eksperimen dan penelitian yang dilakukan sehubungan dengan penerapan ‘denda’ lalu lintas pada tahun 2007 untuk melihat dampaknya. Cukup menarik untuk disimak. Selamat menonton!

2 responses »

  1. Hmm, aku belum nonton videonya. Tapi yang aku tau dari iklan di video TED yang lain, sistem yang diterapkan di Stockholm itu Electronic Road Pricing kan ya? Beda sama denda langsung kayak di UGM itu.
    Untuk bisa kasih tarif elektronik, kita harus pasang sistem pengenalan plat nomor kendaraan dan pemotongan rekening bank secara otomatis. Sistem ini butuh kamera, aplikasi, dan server yang disiapkan khusus. Prasyarat sistem ini bisa jalan adalah setiap mobil yang ada harus jelas pemiliknya dan nomor rekeningnya.
    Kalau di UGM denda langsung mungkin masih bisa jalan tanpa buat macet panjang, tapi kalau di Jakarta kita tentu nggak bisa pakai denda langsung. Silakan saja semua orang lewat jalan ini, dengan konsekuensi rekening mereka akan langsung terpotong sebesar Rp xxx sekali lewat.
    Gimana gimana, tebakanku bener apa salah Re?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s