Perjalanan ke Siem Reap

Standar

Dari Singapura, kami terbang ke Siem Reap. Detik-detik menjelang mendarat, pemandangan yang terlihat adalah dataran rendah dengan tanah berwarna kemerahan dan sedikit pepohonan, tidak tampak hutan (kumpulan warna hijau yang merata dan luas). Pramugari mengumumkan suhu di luar adalah 39°C. Whattt? Waktu itu Jakarta 37°C aja, twitter udah ketumpahan sumpah serapah. Sampai dikatain ada yang lupa nutup pintu neraka segala. Ini lebih panas 2°C. Untungnya orang Siem Reap nampaknya belum cukup akrab dengan twitter.

Bener aja. Begitu keluar pesawat. Terik dan panasnya minta ampunn. Setelah berfoto-foto di plang nama airport di pinggir landasan, saya begegas mengejar yang lain. Kami harus mengisi form visa on arrival. Bayarnya USD 25 per orang.

Bandara ini cukup baru dan bersih. Kecil dan bernuansa sedikit etnik, seperti Bali. Saya sempet tertarik dengan lantainya yang sistem pasangnya ala puzzle. Kaya yang banyak dipakai di TK atau playgroup, tapi bahannya memang bahan lantai yang lebih keras.

Setelah rombongan anak-anak berbaju biru muda yang mau lanjut ke Phnom Penh menghilang ke bagian keberangkatan, terminal kedatangan benar-benar sepi. Hanya tinggal kami saja. Heh?! Sepi amaat?

Kami dijemput oleh bis dan tour guide. Perjalanan menuju hotel diisi dengan mengamati penduduk lokal yang bersepeda di bawah teriknya matahari sore. Mengingatkan akan Vietnam di awal tahun 1990-an. Kendaraan juga berjalan di kanan, setir mobil di kiri. Jalanan lebar, licin, dan bersih. Kota ini memang dirawat karena pariwisata menjadi sumber penghidupan mereka. [bersambung]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s