Tentang Iman

Standar

Beriman adalah seni bertaruh. Membela sesuatu yang dianggap benar dengan resiko besar.
Orang yang memilih tidak percaya, tidak menaruh taruhannya di sana. Ia pun tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan apapun sebagai hadiahnya.

Harmoni.
Jumat, 14 Jan 2011; 00:59

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

6 responses »

  1. Aku setuju ma pendapatmu Re, beriman itu seperti halnya bertaruh (atau dalam kata lain berjudi). Nah, tapi menurutku bagi sebagian besar orang tidak seperti itu halnya. Orang yang sudah menyadari beriman itu sama seperti berjudi bisa menghormati orang lain yang tidak mau berjudi.
    Menurutku sekarang orang ‘beriman’ itu karena:
    1. Dia lahir di keluarga dengan iman itu, diajari beriman seperti itu dari kecil dan tidak diberi kesempatan mengenal iman lain dengan mendalam, seringkali muncul karena ‘xenofobia’ (ketakutan terhadap hal asing) yang ditanamkan dalam pelajaran berimannya
    2. Ketakutan terhadap ancaman gagal beriman, hal ini sama dengan ‘stick,’ pasti dimiliki agama yang masih bertahan
    3. Hasrat mendapatkan imbalan yang ditawarkan dalam agama, hal ini sama dengan ‘carrot,’ pasti dimiliki juga oleh agama yang masih bertahan
    4. Beriman memang karena menyadari kurang lebihnya berbagai keimanan yang ada, menghormati orang lain, dan berusaha hidup sesadar-sadarnya

    Hmm, aku sendiri belum pernah melakukan atau melihat hasil survei alasan orang beriman, tapi menurutku nomor 1 sampai 4 itu urut dari paling banyak ke paling sedikit. Oh ya, tentu masih ada kemungkinan alasan lain, dan alasan pribadi bisa lebih dari satu itu.

    • Hmm..no 1-3 klo menurutku bukan iman tp kepercayaan buta yg sangat behavioristik Chris..
      Kalau orang dikondisikan dengan lingkungan (no 1), hukuman (no 2), dan hadiah (no 3), ak rasa dia bukan beriman tapi (terpaksa) percaya karena dikondisikan oleh faktor2 tersebut…
      tapi memang kebanyakan orang merasa ber’iman’ karena alasan2 tersebut ak setuju.

      Menurutku sendiri ada alasan ke-5 untuk menambahi 4 alasan sebelumnya: ia tahu dari mana ia berasal dan mencari jalan kembali ke tempat asalnya. Ia tahu bukan karena diajarkan. Dan orang semacam ini langka. Mereka yg sering disebut indigo atau crystal.

      Oya, utk pendapat Re sendiri, ak sangat setuju. Itu adalah pertaruhan tiada akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s