Film Finding Nemo dan Binatang Peliharaan

Standar

Sudah lama saya ingin post tulisan dengan tema ini. Dan kali ini, film Finding Nemo menjadi pemantik yang ringan namun berhasil membuat saya menulis. Hahaha. Thanks, cutie (baca: Marlin, Nemo, and friends) !!

Marlin dan Nemo (perhatikan sirip Nemo kecil sebelah)

Pembaca: Hey, aureliaclaresta! Buat apa sih, nulis tentang film lawas tahun 2003. Ini tahun 2011, masa nulis tentang film yang udah lewat 8 tahun?

Yangnulisblog: Yeee… suka-suka dongg… Lagian ini bukan tulisan tentang review film itu. Ini tentang apa yang aureliaclaresta pikirkan di antara waktu menonton film itu.

*yang ngobrol diusir

Okay, saya mau tanya:

apakah memelihara binatang adalah perbuatan mulia?

menurut saya, untuk binatang-binatang tua, cacat, dan hampir punah (terancam eksistensinya di habitat asli) jawabannya adalah: YA. Tapi untuk semua binatang di luar kategori itu, jawabannya adalah TIDAK.

Walaupun mereka ‘hanya’ binatang. Makhluk yang hidupnya seolah cuma untuk: makan, kawin & beranak pinak, menunjukkan kekuasaan, dan berkelahi. Mereka layak hidup dengan bebas sesuai dengan kodratnya masing-masing. Jika ia adalah burung yang bersayap, maka selayaknya ia hidup di udara, terbang dengan sayap yang dimilikinya, mencari makanan, membangun sarangnya, bersiul-siul gembira di alam.

Rasa-rasanya dahulu kala, saya pernah membaca majalah entahapa, dan di bagian profil orang terkenalnya ada beberapa kalimat yang kurang lebih seperti ini

X adalah penyayang binatang sejak kecil. Sekarang di halaman belakangnya, beliau memiliki elang, bla bla bla….

Mengenai siapa si X dan hewan apa saja yang dipeliharanya itu tidak penting. Yang mau saya garis bawahi adalah: apakah benar si X adalah penyayang binatang jika ia mengurung binatang-binatang tersebut di rumahnya?

Mengurung binatang adalah perilaku orang yang tidak menyayangi binatang. Mereka tidak memperlakukan binatang sebagai teman, tapi sebagai ‘peliharaan’. Serendah itu. P.E.L.I.H.A.R.A.A.N

Saya ingin memberikan efek peyorasi pada kata itu. Peliharaan. Kata itu tak pernah berkonotasi positif menurut saya.

Kembali ke peliharaan. Ya, menurut saya, memelihara hewan -apalagi hewan yang di habitat aslinya memiliki ruang yang sangat luas- masuk ke dalam kategori dosa terselubung. Dosa akibat ketamakan. Keserakahan. Manusia ingin memiliki apapun yang ia suka. Ketika ia menyukai hewan tertentu, maka ia bawa hewan itu ke rumahnya, dibuatkan kandang dan diberi makan.

Hewan itu sendiri terkungkung dan stress. Walau ia masih makan, masih minum, dan masih bisa ‘goyang dombret’ dengan lawan jenisnya, tapi… hidupnya terpasung.

Berita tentang orang yang dipasung beberapa tahun lalu pernah “in” di televisi. Entah karena dianggap sakit jiwa, entah karena hal lain: saya tidak setuju orang dipasung. Pun saya tidak setuju binatang dikandangkan atau dipelihara di ruang yang terlalu sempit.

Sekali lagi: orang yang mengurung binatang di kandang/sangkar/apapunnamanya bukanlah penyayang binatang.

Sekian… (gaya orang menutup pidato, menunduk hormat dengan anggun)

4 responses »

  1. Beberapa hari yg lalu aku nonton film ini lagi. Setiap aku nonton film ini pasti aku merasa bersalah dengan ikan2 yg kupelihara di akuariumku. Aku selalu merasa dilema antara rasa berasalah sama perasaan senang melihatt mereka berenang di akuarium. Jalannya tengahnnya aku merawat mereka dengan baik,,walaupun mereka akan jauh lebih baik di alam mereka yg sebenarnya..hahahaha

    aku ga pernah lupa salah satu ikan di akurium di film nemo bilang “aku benci alam palsu”. Beneran ga ya ikan mikir kaya gt pas ada di dalam akuarium?

    • mereka mungkin ga tau ada alam yang lebih asli. tapi mungkin di alam palsu itu mereka ga bisa jadi diri mereka 100%, ga bisa beranakpinak tanpa campur tangan manusia (dipisah etc), ga bisa mencapai ukuran badan maksimum, ga bisa segesit di alam🙂

  2. Hai Re!

    Aku setuju dengan pendapatmu bahwa mengurung dan membatasi hewan itu seharusnya tidak dilakukan. Tapi, seperti biasa, aku mau memberikan sedikit pertimbangan.

    Ada hewan yang sudah berkembang lama sekali dalam evolusi bersama manusia. Kita bisa lihat sifat-sifat hewan yang sudah didomestikasi itu berubah dibanding nenek moyangnya. Contohnya ayam, bebek, sapi, kambing, babi, kucing, anjing, dan lainnya. Nah, untuk hewan-hewan yang sudah umum sebagai ‘ternak’ atau ‘peliharaan’ itu mungkin sedikit berbeda. Aku bilang gitu karena mereka sudah berkembang untuk bareng manusia, yang seringkali tanpa manusia mereka bisa kesulitan hidup. Tentu saja sebaiknya mereka tidak dikurung. Coba pertimbangkan contoh sapi zaman sekarang yang bisa mati kalau tidak dibantu saat melahirkan anaknya.

    Kalau kasus tanaman bisa lebih ekstrim. Jagung itu tidak akan bisa berkembang biak normal tanpa manusia🙂

    • aku masih setuju bahwa kalau pelihara sapi, boleh. tapi dibiarin di area yang cukup luas, bukan di kandang yg sempit, sampe muter badan ngadep utara jadi ngadep selatan aja ga bisa🙂
      hmm, gimana awalnya ada tanaman jagung sebelum manusia bercocok tanam, chris?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s