Mengapa Tanganku Terlalu Kecil?

Standar

Saya yakin sekali. Hampir semua orang memiliki cita-cita mulia untuk melengkapi hidupnya. Membuat hidup yang terbatas ruang dan waktu ini menjadi berarti, kalaupun pasti akan berakhir.

Salah satu cita-citaku adalah menjadi orang yang berguna untuk bumi ini. Entah untuk manusianya atau untuk alamnya. Memenuhi cita-cita itu adalah tujuan saya dalam hidup ini.

Saya ingin melakukan hal yang besar. Hal yang signifikan. Hal yang luar biasa untuk membuat bumi lebih baik daripada hari kelahiran saya. Kemudian, hari demi hari saya mulai memimpikan memiliki banyak hal agar dapat melakukan hal yang besar tersebut.

I’m dreamt of being rich, and donating my money for the poor, for the mother earth, for anything good.

Lalu suatu saat saya tersentak ketika ada pertanyaan iseng yang melintas di kepala saya… kalo saya nggak pernah kaya, gimana? Apakah itu berarti, saya nggak akan pernah berbagi dengan orang lain?

Pernah bertanya-tanya nggak, apakah Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berdoa seperti ini:

Mengapa tanganku terlalu kecil, Tuhan? Aku punya impian besar dengan misi besar. Dan aku tak bisa melakukannya dengan tanganku yang kecil ini.

Menurutmu, orang bijak satu itu akan mengeluarkan kata-kata seperti itu? Saya tak pernah mendapati kutipan semacam itu keluar dari mulut Ibu Teresa. Pun tertulis dari goresan pulpennya. Mengapa kita begitu sering menjumpai orang-orang yang merasa masih terlalu miskin untuk berbagi dan punya terlalu sedikit waktu untuk orang lain -bahkan untuk diri sendiri-. Tak sekali saya menjumpai orang yang mengatakan:

Seandainya satu hari ada lebih dari 24 jam. So little time, so many things to do.

Menurut saya, yang dilakukan orang semacam Ibu Teresa dari Kalkuta adalah hanya melakukan apa yang bisa ia perjuangkan hari per hari. Tanpa target muluk-muluk, tanpa mimpi yang terlalu besar, tanpa keinginan untuk menjadi orang besar atas hal besar yang beliau lakukan.

Ia pasti setuju, bahwa setiap orang memiliki ‘tangan’ dan waktu yang cukup untuk menggoreskan tanda kehadirannya di dunia ini. Setiap orang punya uang, makanan, pakaian, kasih yang cukup untuk dibagi-bagikan saat ada yang membutuhkan. Semua orang bisa berbagi tanpa harus berkelimpahan terlebih dahulu. Masalahnya bukan pada seberapa yang lebih, namun seberapa yang ingin kita bagikan.

Merasa berkelebihan itu sifatnya subjektif. Ketika punya 1, orang akan bilang ia akan punya kelebihan jika punya 5. Ketika sudah memiliki 5, akankah dia menganggap dirinya sudah berkelebihan. Bisa jadi tidak. Saat kamu merasa berkelebihan mungkin tak akan pernah datang.

Jadi, masih menanti saat berkelebihan?

3 responses »

  1. Dengan harapan yang kuat, muncul kepercayaan, dan dari rasa percaya muncul antusiasme, kesabaran. Suatu sikap mental yang mengubah manusia biasa menjadi manusia smart. Tetapi impian akan menjadi sesuatu yang mengerikan bila orang yang memilikinya menjadi ENGGAN dan MALAS untuk bekerja dan mengharapkan solusi jatuh dari langit.

    Jika hanya dengan mengharap dan positive thinking kita dapat memiliki seuatu, tentunya tidak akan ada anak-anak kelaparan lagi di Afrika, tidak ada lagi kemiskinan di Indonesia, tidak ada lagi pengangguran yang setiap tahun bertambah, dan bahkan tidak ada lagi pendatang baru dari daerah yang mengadu nasib ke kota-kota besar. Cukup duduk dirumah maka apa yang Anda inginkan akan jatuh dari langit.

    Sebagai catatan kecil kilas balik pribadi bahwa “selama kita memberitahukan diri kita bahwa kita hidup sukses dan berkelimpahan, maka kita akan gagal untuk mengambil tindakan karena sebenarnya tersirat rasa kemalasan didalam diri orang-orang yang merasa dirinya sukses dan berkelimpahan”

    Semoga impian/harapan menjadi tenaga pendorong dalam mencapai kesuksesan sehingga keindahan Mimpi menjadi Masa Depan yang nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s