Membakar Kemarahan: Memberi Minyak Pada Api

Standar

Saya ingat sekali, bahwa dulu waktu saya kecil, saya adalah anak yang suka menghidupi kemarahan saya. Menghidupi kemarahan itu sekarang saya ibaratkan bagaikan menambahkan minyak pada api yang berkobar. Apa yang saya lakukan waktu itu?

Setiap orang pasti pernah kesal karena sebab-sebab apapun: dipelakukan tidak adil, tidak diperhatikan, dimarahi, dsb. Pada waktu saya masih kecil, saya merasa emosi saya meluap-luap. Mudah sekali marah. Kekesalan bisa langsung ditransformasi menjadi kemarahan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membiarkan kata-kata ‘tukang kompor yang ada di dalam hati’ memperjelas kekesalan itu dan membuatnya menjadi kemarahan.

Misalnya: saya sakit hati karena dimarah-marahi sama kakak kelas waktu ada LDK (latihan dasar kepemimpinan). dalam hati saya memperbesar kekesalan itu dengan: mengulang-ulang kata-kata yang bikin sakit hati itu, mengingat-ingat secara persis tentang hal yang menyakitkan dari kata-kata itu, mengkritisi kata-kata tajam itu tidak relevan-tidak manusiawi, mengubah kekesalan dari tindakannya ke orangnya, mencari-cari kesalahan orang itu di kehidupan sehari-harinya dan menjadikan itu alasan bahwa orang itu memang ga lebih baik dari saya, dst dst….

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pengalaman yang agak nggak enak (siapapun yg mengetahui apa yg saya alami, pasti menganggapnya itu pengalaman ga oke). Tapi entahlah, kok saya sudah tidak bisa marah ya. Selama proses pendewasaan diri, saya sudah membuang jauh2 kebiasaan ‘memberi minyak pada api’ alias menghidupi kemarahan. Kemarahan itu sangat merugikan diri sendiri. Di saat terakhir saya merasa sangat marah pada seseorang, saya merasa di dalam dada ini panasssss…. Benar-benar seperti ada yg membara di dalam. Sangat-sangat nggak sehat buat tubuh, terutama buat psikis. Oleh karenanya, saya sudah nggak mau lagi menghidupi kemarahan.

Kelemahannya: kemarahan itu bisa dijadikan energi yang bisa digunakan untuk memacu orang melakukan hal apapun. Ketika energi itu digunakan untuk melakukan hal-hal positif, energi itu berguna sekali. Sayang sekali, saya sudah lupa bagaimana caranya menghidupi kemarahan dalam hati saya. Ketika ada momen untuk bisa menangkap energi itu dari kemarahan saya, saya sudah nggak bisa menyimpan energinya, karena sudah susah untuk marah.

Yah, walaupun kehilangan momen itu (momen menyimpan energi kemarahan untuk menjadi sangat bersemangat) yah, nggak papa deh. Saya sangat bersyukur karena sudah nggak mudah marah. Ini adalah modal di sisi lain, yaitu untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Tidak mudah marah menurut saya, menunjukkan kematangan pribadi juga🙂

Sekali lagi saya bilang: saya nggak mau memberi minyak pada api kemarahan saya. Marah itu menguras energi! Habis marah itu, capeknya luar biasa. Lapernya juga😛

One response »

  1. Master Yoda said: ‘I sense fear in you. Remember young Anakin, fear leads to anger, anger leads to hatred, and hatred leads to the dark side’.

    Kesimpulannya, use the way of the force.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s