Pemandangan Gunung dan Billboard

Standar

Sekitar satu atau satu setengah tahun yang lalu, saya membaca skripsi Paramitha Suandi, kakak angkatan saya di Manajemen UGM. Skripsinya mencari tahu apakah orang yang tiap hari jalur hilir mudiknya utara-selatan, memiliki keinginan untuk adanya daerah-daerah bebas billboard karena area tersebut memiliki view ke arah gunung.

Waktu saya membaca tentang ide skripsinya itu, saya tidak pernah terpikir sama sekali tentang billboard zoning. Bahkan saya pun baru tahu bahwa di luar negri ada hal semacam itu (ndeso gitu deh). Harusnya, setelah saya membaca tentang itu, awareness saya mengenai isu itu bertambah kan. Harusnya saya jadi lebih kritis dan menyetujui (dalam sikap) adanya billboard zoning tersebut. Toh, ternyata, tidak juga. Waktu membaca saya hanya berpikir “wah, ada ya kaya ginian di luar negri. oke juga idenya”. Dan semua berhenti sampai situ saja. Setiap kali saya melewati perempatan Condong Catur – Ring Road Utara, saya beberapa kali teringat akan hal itu, zona bebas billboard.

Hari Rabu, tanggal 31 Maret 2010 adalah hari yang spesial menurut saya. Hari itu saya senang karena Merapi terlihat sangat jelas ketika saya melewati jalan Affandi (Gejayan). Ah… benar-benar bersih pemandangannya. Tidak ada kabut. Saya langsung berpikir “turis yang datang ke Jogja hari ini sangat beruntung bisa melihat keindahan ini”. Kenapa saya berpikir demikian? Karena beberapa tahun yang lalu saya pernah menemani seorang turis dari Perancis untuk jalan di Jogja selama 2 hari. Saat itu, Merapi terlihat mengeluarkan awan panas, namun kabut membuat pemandangan Merapi kurang jelas. Saya saat itu merasa kecewa karena tidak bisa ‘pamer’ keindahan Merapi.

Ketika melihat Merapi dalam kondisi bebas kabut seperti itu, saya benar-benar merasa senang ketika di jalan. Wow… Efeknya agak luar biasa menurut saya. Dalam hati saya juga berpikir “tinggal di Jogja memang benar-benar menyenangkan. Di Jakarta mana bisa dapat pemandangan kaya gini”. Hahaha, sekali lagi saya ‘narsis’ dengan kota ini. Sebenernya saya juga tahu, Jakarta pun punya daya tarik lain dibanding Jogja. Nggak usah terlalu fanatik lah dengan kota ini. Hehehe.

Ketika saya saya berhenti di perempatan Condong Catur – Ring Road Utara, saya langsung mengeluarkan kamera dan merasa perlu untuk mengabadikan pemandangan Merapi hari itu. Saya pas kedapatan lampu merah, dan bisa mengambil posisi terdepan dari antrian lampu merah itu. Apa yang bisa saya dapatkan? Hanya foto ini.

12:54 WIB

Saya kemudian merasa, perempatan ini perlu dibebaskan dari billboard, kabel telepon, kabel listris, dan hal-hal lain yang mengganggu pemandangan Merapi. Ini aset Sleman untuk mendapatkan kepuasan wisatawan yang lebih tinggi. Pak Bupati… tolong dong, aspirasi rakyat ini didengarkan. Terima kasih, Pak.

14 responses »

    • oleh karena itu, ada yang namanya billboard zoning. ditentukan, dimana boleh dipasang, di mana nggak boleh. sama seperti mobil nggak bisa parkir di sepanjang jalan Malioboro, tapi kan di jalan Perwakilan, jalan Dagen, bisa.🙂 kalau kabel listrik bisa diakali dengan dibuat ‘tempatnya’ di bawah tanah.🙂

  1. setuju bgt sma billboard zoning!ga sembarangan kyk gitu, mending ada isinya. kan banyak tuh billboard gede2 cuma kosong. pd ga mampu bayar kali ya hehe. klo kabel untuk saat ini kyknya negara kta blm mampu pake yg underground semua. tpi kan bisa dirapiin yg di jalan2.:D

  2. Mungkin ini salah satu dampak otonomi di satu sisi dan ego sektoral d sisi lain, menggenjot PAD dari billboard tp tidak memperhatikan sektor lain (pariwisata) dengan adanya billboard yg cukup mengganggu view..

  3. Semangat pagi! Aku senang baca tulisanmu ini Re, baru tahu juga tentang ‘billboard zoning’ ini. Tempat yang ramai kayak perempatan jalan itu strategis banget untuk lihat pemandangan Merapi (waktu berhenti pas lampu merah), tapi juga strategis banget untuk pasang iklan. Kabel listrik di bawah tanah baru aku sadar pas lewat di jalan Sudirman, hehe. Mungkin memang mahal sekali ongkosnya ya? Tapi mungkin bisa dihitung jangka panjang untuk bikin saluran baru, bareng sama jalur kabel telpon dan mungkin serat optik baru. Hehe.

    • aku rasa, ada perempatan-perempatan lain yang ‘nggak punya pemandangan’.
      perempatan condong catur harusnya di-eksklusif-kan, bole dong… hehehe

      oh iya, sudirman udah bawah tanah ya, kabel2nya…
      tinggal tunggu waktu… jogja sebentar lg akan ada bupati baru. hehehe.

  4. Wahhh…., you’re definately correct rel..!!! Sy malah tak punya ide untuk itu.., SETUJU.. ayo disampaikan ke PEMDA ne….!!

  5. wah auri… lama ya tak ketemu… nanti kalo ke Jogja lagi pasti aku kabari kamu… bagiku kamu unik… ketika banyak orang menyerbu Jakarta, kamu justru menepi ke Jogja,,, dan ternyata pilihanmu benar… kamu sangat berkembang di sana… tulisanmu renyah… menarik dan sangat inspiratif!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s