Belajar Matematika

Standar

Ini adalah kejadian malam ini. Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi. Aku ingin beranjak tidur. Namun, belum sempat aku merebahkan badan, tiba-tiba aku mendengar nada suara wanita yang meninggi dari arah ruang makan. Walaupun ini sudah pukul dua pagi, di meja makan masih duduk ibu dan adik bungsuku. Adikku yang besar sudah tertidur agak lama. Ibu masih menemani adik bungsuku untuk mengerjakan PR matematika. Kenapa sampai malam sekali? Karena ketika baru mau berangkat tidur ia teringat bahwa masih ada PR. Maka kemudian ibu dan adikku yang besar menemaninya belajar. Awalnya adikku yang besar yang mengajarinya. Namun setelah adikku yang besar tidur, ibuku melanjutkan menemani dan mengajari adik kecil ini menyelesaikan tugasnya sebagai siswa kelas 6 SD yang baik.

Ketika mendengar nada suara ibu yang meninggi, aku tahu, ibu sudah lelah, ini sudah malam. Maka bergegaslah aku keluar dari kamar dan berinisiatif untuk menggantikan ibu menemani adik bungsuku mengerjakan PR. Ketika aku keluar kamar dan menghampiri meja makan (di rumah ini tidak ada meja belajar, meja makan adalah meja terlebar dan menjadi tempat terbaik untuk mengerjakan PR), ibuku kemudian masuk kamar karena menyadari ia sudah tak sabar dalam mengajari si adik kecil. Maka tinggallah aku dan adik kecil di meja makan, berusaha menaklukan soal-soal matematika itu. Tugasku nampaknya tak akan lama. Hanya ada 4 soal essay yang tersisa.

Itu adalah apa yang nampak secara kasat mata. Suasana sunyi malam membuat pikiranku terbagi. Sambil mengajari adik kecil ini untuk mengerjakan soal-soal perbandingan, aku masih sempat ‘melayang-layang’ memikirkan hal lain. Aku kembali teringat masa laluku. Aku bisa dibilang tergolong anak yang kemampuan akademiknya di atas rata-rata. Ketika duduk di bangku SD, sejak awal rasa-rasanya aku tak sulit untuk mendapatkan peringkat pertama atau kedua di sekolah. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, Agama, PMP, Olah Raga, semua menjadi favoritku.  Entah kenapa, aku toh seingatku tak tekun belajar. Terus terang aku semangat belajar kalau ibuku menemani. Aku ingat satu kejadian saat aku akan ujian PMP (sekarang PKn) atau agama, ibuku mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian aku menjawabnya. Rasanya senang kalau bisa belajar seperti itu. Rasanya benar-benar pintar (hahaha). Akan tetapi ada satu pelajaran yang paling sulit aku taklukkan. Apa itu? Matematika!

Sampai kelas 5 SD, aku masih belum lancar perkalian 1-10. Perkalian 1, 2, 3 kecil, 5, 9, 10 sudah jelas bisa. Namun, perkalian 3 besar, 4, 6, 7, dan 8 belum hafal mati. Masih harus meraba-raba, menambah dan mengurangi secara manual. Maksudnya manual, misalnya 7 x 8, maka aku kalikan 5 x 8, baru ditambah 2 x 8. Mencongak di kelas SD kecil, nilaiku pasti jelek. Seingatku, kadang-kadang pernah minta jawaban dari Dina (teman baikku saat SD di Tg. Pinang) juga. Kemampuan matematikaku di bawah rata-rata kurasa. Sampai lulus SMA, matematika tidak pernah menjadi favoritku. Walaupun pelajaran lain tingkat kesulitannya makin tinggi, matematika tidak pernah menjadi kegemaran Aurelia Claresta Utomo (permusuhanku dengan matematika hanya dikalahkan sama pelajaran kimia yang lebih abstrak dan tak jelas itu). Aku lulus UAN dengan nilai Bahasa Inggris 9,00, Bahasa Indonesia 9,2x dan Matematika 5,xx. Hahaha. Waktu SMA aku sering bolos pelajaran matematika dengan ‘kartu tol’/free pass kegiatan OSIS. Maka aku sampai saat ini tak pernah bisa mengerjakan soal limit dan trigonometri (syukurlah belajar manajemen nggak butuh keduanya).

Dengan basic kelemahan di matematika, aku saat ini sangat bisa mengerti kesulitan adikku yang suka lemot dan no idea dalam menghadapi soal-soal matematika. Aku pernah merasa menjadi orang yang sangat lambat belajar matematika. Aku bersyukur karena dengan kelemahanku, kemudian aku bisa lebih memahami orang lain. Dan kemudian aku teringat kejadian hampir sebulan yang lalu. Aku ujian pendadaran skripsi dan kompre (ujian komprehensif) minat marketing dan SDM. Aku lulus untuk skripsi, namun gagal dalam ujian komprenya. Satu dari tiga dosen itu sangat menyentuh hatiku. Ia mengatakan bahwa ia pun dulu pada kesempatan pertama, gagal untuk ujian kompre, namun berhasil pada ujian kedua. Ia menghiburku dengan mengatakan aku pasti akan sukses di ujian kompreku selanjutnya. Aku sangat terharu. Darinya aku belajar hal yang tak akan kulupakan sepanjang hidupku, bahwa aku tak boleh sekalipun membiarkan begitu saja orang yang merasa dirinya gagal. Seseorang yang tidak bisa menunjukkan nilai yang baik / prestasi yang gemilang belum tentu benar-benar tidak mampu. Mungkin ia hanya kurang banyak berlatih, kurang banyak belajar. Atau kurang didukung oleh orang lain.

Itu yang kulihat dari adik kecilku ini. Adik kecilku ini selalu berada di peringkat bawah kelasnya. Beberapa (tiga atau empat) nilai mata pelajarannya selalu kurang. Terakhir try out, nilai matematikanya 4. Itu jelas artinya dia sangat mungkin tidak lulus ketika UN besok. Namun kulihat, walaupun dia agak lambat belajar, namun kemampuan perkaliannya sudah sangat baik. Aku yakin, dia sebetulnya hanya kurang banyak latihan soal. Sama seperti aku dulu, ia butuh untuk selalu ditemani agar belajar.

Maka aku menambah salah satu targetku di tahun 2010 ini. Membimbing adikku untuk lulus UN dengan nilai matematika yang baik. Tuhan, pakailah aku untuk itu. Amien…

(karena hidup ini, bukan untuk diri sendiri…………..)

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

4 responses »

  1. Re… hiks hiks… Makasih ya untuk tulisanmu. Pas banget waktunya, seakan memang ini nasehat untukku sekarang… Selamat temenin adikmu belajar matematika ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s