Nunggu sempurna, gak bakal nulis-nulis

Standar

Yah, itu yg terlintas di otak gue waktu mau memutuskan, posting atau enggak….. [ilustrasi: metikin kelopak bunga sambil ngomong sendiri… posting… enggak…. posting… enggak]

Anyway, ketauan banget lah, kalo gue sebenernya nggak ngerti apa yang mau gue tulis. Inti cerita belom aja. Cuma, bosen aja blognya kosongan. Ga update-update. Hey………. liat ngga, udah dua kali gue nulis kata ulang yang lisan banget, nggak baku sama sekali, sehingga gue juga nggak ngerti, nulisnya harus dikasi strip (cth: nulis nulis atau nulis-nulis, update-update atau update update). Tapi daripada gue tunda lagi postingnya, gue putuskan untuk ngasih strip, karena memang kata ulang. Hahaha

Hei, tiba-tiba aja gue pengen nulis tentang dosen gue yang namanya Suwardjono dan kalau dia menyingkat namanya, it would be SWD. Dosen ini ngajar Akuntansi Pengantar 1 dan 2. (tentunya dia ada kelas lain seperti di Msi, kelas Doktoral, dll) Gue ambil dua kelas tersebut di smester 1 dan 2. Gue suka sama dosen kaya dia. Kenapa? Jangan pernah salah mikir kalo dia itu GANTENG… dan gue suka dia karena dia GANTENG. Hahaha. Tapi dia lebih keren dari sekedar ganteng. Dia JENIUS. Hahaha… Dia sangat kritis. Selain sangat mendalami Akuntansi, dia juga mendalami Bahasa Indonesia. Hahaha. Dosen Bahasa Indonesia gue dari Fakultas Ilmu Budaya juga ngacungi jempol buat dia. Hebat nggak tuh. Dosen Hukum Bisnis juga bilang begitu…. Waaaa, dia (SWD) terkenal hebat nggak hanya di fakultasnya.

Sejak gue masuk FEB UGM tahun 2005, dia udah sering mengritik banyak kata-kata dan penerjemahan yang salah (setidaknya menurut dia). Dan itu sudah berlangsung lama (kekritisannya). Nah, sekitar 1 atau 2 smester terakhir ini gue liat dia mulai merapikan artike-artikelnya dan dijadikan seri. Ada puluhan artikel, secara berkala, dia akan fotokopi artikel tersebut satu per satu, ditaruh di dalam box di depan kantornya dan siapapun boleh ambil gratis.

Terakhir kali gue terlibat percakapan dengannya beberapa minggu lalu. Waktu itu pintu kantornya tertutup dan lampu di ruangan tidak tampak menyala. Gue baru keluar dari ruangan kantor teman di seberang gang kantornya. Sambil nunggu temen itu keluar kantor (untuk makan siang) dan mengunci kantornya, gue ngeliat-liat papan artikel di depan kantornya. Gue baca-baca dan berhenti di satu judul artikelnya mengenai uang. Trus, gue mulai komentar soal artikel itu. Mengapa? Karena beberapa hari sebelumnya, gue ada di dalam pembicaraan mengenai bilyun dengan temen gue.

Bilyun? Apa itu bilyun? Tau nggak? [setting cerita berganti ke pembicaraan gue dengan temen gue ttg bilyun] Saat itu kita lagi mbicarain pemerintah atau politik dan keuangan (seputar itu lah). Temen itu mengucapkan kata bilyun. Gue mikir, bilyun? trilyun maksud loe? Ternyata maksudnya dia adalah seribu triliun, jadi dia nggak salah ngomong, emang mau ngomong bilyun. Samar-samar ingatan gue memang membenarkan, kalau gue juga pernah membaca mengenai bilyun. Entah di suatu novel beberapa tahun silam, atau yah, di koran kali ya.

[setting cerita kembali ke kondisi gue di depan kantor SWD] Entah karena apa, atau mungkin karena suara percakapan gue dan temen gue yang sedang keluar kantor, Pak SWD keluar dari kantornya. Gue jelas kaget. Dia langsung bertanya, tadi bicara apa (rupanya dia mendengarkan) kok ada milyar-milyar. Gue nanya, apakah bilyun adalah seribu trilyun? Singkat cerita, dia agak menyayangkan kalau anak akuntansi (dia kira, aku anak manajemen) tidak mengetahui berapa itu seribu triyun. menurut beliau, itu penting (kalau tidak bisa disebut sangat penting). Kemudian dia menyuruh kami menunggunya yang pergi ke fotokopi artikel tersebut untuk memberikan kopiannya kepada kami. Rasanya apa??? Rasanya dag dig dug dhueerrr… Bused dah. Dia ngomong dari tadi itu nggak pake senyum, oyy. Hahaha. Ampunnn…

Nah, saran beliau untuk indonesia itu menggunakan kata kuadriliun dan kuantiliun untuk angka 1.000 trilyun dan sejuta trilyun. Fiuhhhh……

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

4 responses »

  1. Ada milyun, bilyun, trilyun, kuadrilyun, lalu apa? Cinquilyun? Hahaha…

    Dalam bahasa Indonesia million diterjemahkan juta, tapi billion direduksi menjadi milyar, baru kemudian trillion langsung lompat lagi jadi trilyun.

    Menurutku kita seharusnya ikut bahasa yang umum di dunia aja lho, biar ndak bingung. Bagaimana? ‘Juta’ kita panggil milyun, ‘milyar’ kita panggil bilyun, trilyun tetap, selanjutnya aku setuju usul Pak SWD, kuadrilyun. Apa uang di Indonesia sampai lebih besar dari itu? Kalau iya, setelah ‘quad’ ada ‘penta’ atau ‘cinque’ yang bisa dipakai. Usulan yang sulit dilakukan karena bahasa sudah jadi budaya, haha.

  2. Ping-balik: Pintar dan Sukses ala Indonesia « AureliaClaresta’s Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s