Belajar dari Bali

Standar

Pulang dari Pulau Bali, bawa oleh-oleh apa? Maaf ya, nggak ada buah tangan untuk dibagikan. Maklum, yang ke Bali ini budgetnya mepet, itu pun hasil belas kasihan orang (dikasih). Hu hu hu…. Masih mahasiswa, jadinya, masih bokek.

Makanya, tak nulis aja. Biar jadi pengganti oleh-oleh buat kerabat, teman, dan handai taulan. Oops, salah… maksudnya oleh-oleh buat pembaca setia blog ini. Hahahaha…

Pantai Dreamland

Pantai Dreamland sebelum dibangun gedung-gedung dan toko-toko

Lima hari di Bali adalah masa yang sangat menyenangkan. Saya tekankan, SANGAT menyenangkan. Really… Bahkan untuk orang yang tinggal di kota wisata juga, seperti saya. Saya memberikan acungan jempol untuk pemerintah di sana. Toleransi di sana benar-benar besar. Budaya dilestarikan, salah satunya dengan menyeragamkan bentuk pagar menjadi bentuk candi bentar. Para pemandu wisata juga diharuskan menggunakan baju adat.

Bali adalah kota budaya yang hidup, bisa dilihat dari kepercayaan mereka akan persembahan sesaji, pemotongan gigi, upacara ngaben, dll. Hidup mereka sangat berdekatan dengan alam. Tak heran, lanskap di sana tertata apik.

Senang sekali rasanya melihat perempuan-perempuan Bali mengenakan kebaya yang ngepas di badan sambil membawa banten di atas kepalanya. Di tempat lain, mudah ditemukan perempuan yang meletakkan sesaji serta dupa dan memercikkan air pada sesaji tersebut.Hal itu ditambah dengan pemandangan kontras, turis asing (yang sering kita sebut bule) yang bermain air laut dan meluncur di atas ombak. Melihat hal-hal itu, membuat saya merasa, Bali memang tempat yang indah, dan sungguh pulau dewata.

Aurelia di Tanah Lot, Bali

Aurelia di Tanah Lot, Bali

Kasarannya, setelah melihat Bali, saya akan bilang Jogja nggak ada apa-apanya. Sungguh. Mulai dari budaya, bangunan, pantai, butik, furniture, barang kesenian. Jogja masih nol kecil… Ayo nih, siapa sih pemimpin Jogja? Kembangkan Kasongan. Kembangkan Malioboro. Berdayakan pengerajin. Adakan sentra keranjinan yang lebih menarik untuk didatangi (melebihi Pasar Seni Gabusan). Adakan tari-tarian di keraton. Adakan lomba-lomba tari tradisional yang lebih besar-besaran. Adakan lomba ndalang, dsb. Jangan sampai kesenian yang menarik, tidak terekspose. Sia-sia…. Oh iya, satu hal dari Jogja yang lebih baik daripada Bali, yaitu keramahan pramuniaganya. Di Bali, sudah beberapa kali saya diberi jawaban ketus dari para penjual. Ada juga pengalaman di-nyolotin sama bencong. Sial….

Kembali ke Bali. Salah satu hal yang disayangkan dari Bali adalah, Pantai Kuta (pantai yang paling dekat dengan pusat keramaian dan hiburan) yang banyak sekali sampahnya. Semoga pantai Dreamland yang pasirnya putih dan indah itu, tidak bernasib sama dengan Kuta (dalam hal sampah). Sungguh budaya membuang sampah yang buruk.

Pita (teman yang selama 2 malam terakhir jadi rekan setempat tidur) mengajak untuk kumpul di Bali, 1 tahun lagi, dengan membawa sangu alias bekal yang lebih banyak, supaya lebih bisa banyak belanja dan bersenang-senang di sana. Okay… Nabung dehhh….🙂 Itung-itung membantu bergeraknya perekonomian (ya dengan konsumsi.. hahaha).

16 responses »

  1. Waduh Rel, Bali sudah direncanakan dari lama. Rencananya April mau ke sana. Soal rumah, nah itu juga harus tetap dilaksanakan. Untungnya ada Aurel yg mau bantu invest, he….2

  2. @ Pandu
    lha… kan deket tuh ama Gresik… udah tinggal nyebrang… 🙂 kalo ada libur 4 hari… cabut ke sono aja, mas…..

    @Odusnatan
    Wah, saya ini belum cocok jadi investor. Yg diinvest apa, tidak jelas🙂
    hehehehe

  3. hem..
    nice travelling…
    saya aja yg nda p’nah ksn seolah2 b’rada di alam sana dgn bc tulisanmu (mudah2an PENNAS II ksn y, haha.. )..
    eh.. g cuma jogja z yg hrs ditata, kampung aku juga.. Nias.. dsn makin g adem aja dengan tingkah laku para pemboikot mengatasnamakan wisata eh malah hancurin secara perlahan (mudah2an sieh dibenahi, kan anggaran ksn ada dr daerah.. walaupun dikit, huh!..)

    ayo re, invest bt ke Nias juga donk… ntar dibawa ke lagundri/sorakhe n bawomataluo (tmpt lompat batu Nias loh:)..

  4. Ping-balik: Jogja Juga Oke « AureliaClaresta’s Weblog

  5. bali,
    saya tinggal bersama orang2 bali.
    paroki asal saya adalah paroki yang umatnya adalah orang2 bali.
    mereka keturunan orang2 dari palasari.
    kalo ke Bali, jangan lupa mampir ke Palasari
    dengan tradisi Bali-Katoliknya
    dan Gerejanya yang Kuereeen.
    Gaya gotik dengan ornamen Bali.
    Umat yang (pas hari raya) juga pake kemben,
    lengkap dengan Gebogan (persembahan kue dan buah2an yang disusun tinggi).

    kalo mo hemat,
    pas ke bali tinggalnya dikos-kosan aja.
    bayar 150 rb… bisa dipake sebulan.
    kalo tinggalnya cuma seminggu,
    sisa waktu tinggalnya dikasih ke tuna wisma.

    bawa ransel,
    bawa matras,
    obat nyamuk,
    dan pentungan! (gak perlu ding!)
    liburan ala-ala backpacker gitu!

    Lebih merakyat
    hemat
    dan bijak
    cocok untuk cuaca 2009

  6. hoho..
    iya neh, g ke bali.. jogja pun jadilah.. haha… (apalagi gratis euy)
    jadi bisa ngejalanin apa yg ada di tulisanmu “jogja juga oke’.

    yup neh.. mudah2an domi kelak bisa ngasih kontribusi bt my luply island ‘Nias’

    tq re..

  7. hiyah, aku malah lum pernah ke dreamland..dulu pernah diajakin ma anaknya temennya tanteku yg baru kenal sehari, tapi katanya jauuuh,ndak brani d, takut diculik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s