Musim Duren

Standar

Jogja lagi musim duren. Di depan UNY, di jalan Affandi (gejayan), banyak mobil pick-up yang dipenuhi buah berbau tajam ini. Buah yang satu ini disukai semua orang di rumah termasuk 2 mbak, kecuali SAYA.

Baunya bagi saya tidak mengganggu. Rasanya yang dimasukkan ke produk es krim pun saya suka. Hanya saja saya jijik dengan bentuknya. BENYEK….

Disuruh makan? Ogah!! Kecuali ada reward-nya. Hahaha…. Misalnya di acara “Tantangan”, “Fear Factor” ato “Me vs Mom” boleh juga dicoba…. Saya yakin, makan duren yang tidak saya suka itu tidak akan bikin saya muntah. Seperti babat yang tidak kusukai itu, kuakui rasanya enak. Cuma mbayangin lemaknya, aduhai…. Langsung nggak selera.

Memang yang namanya PERSEPSI itu mempengaruhi sikap kita akan sesuatu

Oh iya, di berbagai tempat, ada lho larangan membawa durian, karena baunya yang sangat tajam. Hahaha….

Hmm… ngomong-ngomong soal duren, jadi inget sama Julia Perez dengan lagunya Belah Duren yang agak-agak gimanaaa gitu😛

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

7 responses »

  1. Duren… ummm… suka suka nggak… suka kalo lagi pengen … ga suka kalo udah kebanyakan…. hahahaha….. tapi kapok makan duren yang terakhir…. kbanyakan turus pusing pusing… kolesterolku naik kali ya… khu khu khu khu…. (jangan di tiru.. makan secukupnya sahja)

  2. Duren…..? Wah…..suuuuuka sekale…..Cobalah dulu…jangan mikirin mbayangin mBENYEKnya.
    Apalagi durian kampung yang warnanya kuning….dagingnya tebal dan bijinya kecil…..wow….enak sekali…. Mirip durian monthong, tapi yang ini asli Indonesia. Di Aceh yang jenis ini banyak sekali, mungkin satu rumpun dengan durian Bangkok….Bisa jadi, konon dahulu sebelum zaman es mencair yang mana daratan Aceh masih menyatu dengan Thailand. Bisa dibuktikan lagi, durian asli Bangkok yang dijual di floating market Bangkok malah tidak seperti durian Bangkok yang dijual di Carefour…..gedhe-gedhe banget.

  3. 24 Februari.
    Saya diajak makan durian pada pesta ulang tahun teman. Padahal sumpah bin Sumprit, saya gak doyan. JAngankan mbayangin Benyek2-an, nyium baunya aja udah eneg! Pokoke gak!

    Hanya saja, demi menghormati teman saya itu. Yang sudah jadi PAstor, datang jauh2 dari Yogya hanya untuk merayakan ulangtahun di rumah temannya yang sableng ini (saya tahu motivnya adalah agar dapat merayakan ultah gratis dan bebaas pajak!).

    Akhirnya hanya dengan makan dua biji (saya bingung membahasakannya) durian… saya terkapar seharian. Jadilah si-teman itu malah pergi jalan berdua dengan pacar saya. Sialaaaan, betapa saya benci durian.
    Pokoke nggak lagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s