‘Mimpi’ tentang Solar Cell

Standar

solar farm

Sepanjang perjalanan menuju kampus hari ini, yang ada di kepala ini hanya tentang penghematan energi. Dan yang sudah banyak kukhayalkan adalah menggunakan matahari yang berlimpah untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Dari kecil saya memiliki perhatian pada lingkungan yang lebih baik. Saya masih ingat, karena membaca Bobo, saya terinspirasi untuk menjadi ilmuwan yang membuat alat untuk mengolah air ‘kotor’ menjadi bersih sehingga layak diminum. Saya membayangkan di tiap rumah ada alat yang bisa membuat air bekas cucian, air bekas mandi, dan air buangan lainnya dapat menjadi bersih lagi.

Sekarang, ketika harga minyak dunia sudah mencapai US$120 per barel, dan ditaksir pada 2010 harganya mencapai US$200, maka kepala saya ini penuh dengan angan-angan agar atap-atap mall, atap kampus, bahkan atap rumah pribadi bisa diganti dengan panel-panel surya tersebut. Ini menjadikan gedung-gedung besar yang memakan banyak listrik merasa bertanggung jawab untuk menyediakan listriknya dari energi alternatif. Lebih mudah mengatur yang besar-besar daripada yang kecil-kecil (rumah tangga), misalnya, dengan kartu pintar BBM. Itu sih menurut saya. Mungkin saja salah kalau dari sudut pandang lain.

Dari majalah tempo edisi ‘Luka Ahmadiyah’, saya membaca bahwa di Jerman ada kampung solar cell. Jadi, atap-atapnya adalah solar cell. Saya juga teringat, bahwa di beberapa bagian dunia ini (mungkin Amerika), ada ladang panel surya. Mengenai ladang solar cell, saya sih nggak tahu ya, apa bagus apa nggak, karena kan tanah yang luas itu harusnya bisa dipakai buat nanem bahan pangan ya? Kan bahan pangan juga kurang. Tapi nggak tau juga sih, keadaan sebenarnya gimana.

Tapi sekali lagi, panel surya itu mahal. Yang punya kuasa, yang punya uang yang bisa memutuskan, apakah panel surya bisa diterapkan di gedung-gedung besar, di mall-mall, di universitas, dan di perkantoran. Saya sih, nggak punya apapun yang bisa merealisasikan hal itu.🙂

Oya, saya jadi teringat baru saja membaca mengenai rumah termahal milik Mukesh Ambani, orang India. Menurut saya, akan lebih bijak kalau orang yang punya uang berlimpah itu, melakukan sesuatu untuk perbaikan lingkungan. Termasuk mengenai penyediaan energi alternatif, apapun itu alatnya/sumber energinya. Uang memang punya kuasa🙂 Oleh karena itu yang punya uang haruslah menjadi lebih bijak dalam mengelola uangnya. Misalnya untuk mengentaskan kemiskinan, membangun bangsa, meningkatkan pendidikan, menyediakan pembangkit listrik tenaga ‘energi alternatif’. Huff… kalo nunggu pemerintah Indonesia yang notabene belum bisa dibilang sebagai pemerintahan yang kebanyakan duit, ya jalannya lambat. Harus ada yang membantu! Siapa? Hehehe…. tau sendiri kan, jawabannya.

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

7 responses »

  1. Ah, sebenernya ga mahal kok kalo bisa mengimplementasikan solar sel… Cuma, apakah orang kita sudah bisa benar2 membeli atau mengalokasikan dana untuk pembuatan solar sel tersebut tanpa ada mark up dan permainan? Yang ke dua, apakah juga orang2 kita sudah bisa dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi dan tingkat kesadaran yang tinggi untuk melakukan perawatan dan menjalankan solar sel system dengan baik. Perlu diketahui, negara kita adalah negara yang paling strategis bila bisa menjalankan sistim ini… Saya juga setuju kok… Melihat harga bahan bakar fosil yang semakin melambung tinggi dan krisis energi, solar sel bisa menjadi salah satu alternatif jawaban…. Hidup solar sel!!!

  2. Hi re!mw sharing aja, di jrmn emang udah banyak yg pake solar cell. apartemenku yg dulu aja temboknya setengahnya pake solar panel. kapan ya indo bisa kyk gitu? padahal matahari disini bersinar lebih lama daripada disana

  3. hiks…..
    makin miris….
    siapa ya, yang mau menggerakkan penggunaan solar cell?
    pemerintah….. aku berharap pada kalian😦
    thanks ya buat aryo & paris yg udah memberi komentar?

  4. Hm.. tadinya pengen taw soal mimpi solar cell kek gimana… tapi ikut nyambung ajah deh ya KK..^_^

    klo aku si ya.. punya mimpi solar cell gak cuman jadi atap rumah, dinding ato secondary skin bangunan gitu.. apalagi sampe nutupin pohon.. kan kasian..

    think globally!!
    nyambung ke gerakan green movement yang lagi ngeboom nih ya??!! gimana caranya menanam tekhnologi PV yang ‘keren’ ini ke kultur jaringan tanaman..

    ANYONE HAD AN IDEA??

    jadi, maksudnya kita masukin jaringan sel di vegetasi tertentu ama siliconnya PV getho..
    bisa gak ya.. (skarang sih belom non.. kan judulnya mimpi..)

    nah klo udah gitu kan tumbuhan berfungsi macem2 tuw.. bisa bwat hasil panen, jaringan ladang PV (solarcell) juga bisa terbangun, klo malem di kasih lampul LED skalian tuh.. byar hutan jadi terang benderang.. kek rumah bangsa ‘night elf’ gitu.. byar arsitek arsitek di nagri sebrang bengong ma po’on po’on di Indonesia

    nah klo udah gitu kan gembar gembor ‘GREEN BUILDING design’ gak cuman di sorakin ma CAPITALISt…

    emangnya yang bisa Ijo cuman Picoro?? LHAH??

    ya githu deh.. klo kaka au.. aurelia.. claresta (susah amat namanya) mimpi lagi mimpiin akuw yah.. cantiq si.. haiah..

    KEEP DREAMING.. coz it feels good.. oyyeah..

  5. TAPI PROTES!! kok kata mimpinya dikasih tanda petik sih.. keknya pesimis amat.. gwa kritik ya.. jangan Bla.. bla.. bla… kemudian babibu…

    harusnya kamu itu bisa begini begini jangan malah begitu begitu…

    orang lain aja ambil ini itu dari sini kok kita malah beli dari sono.. INGAT!! “men sana in corpore sano”artinya: klo kita maen ke sana ambil kopornya buat sangu.. gitu.. jangan cuman kagum2 ama negri sebrang.. lha wong mereka cuman numpang ngiklan.. colong aja ilmunya.. emg enak kecopetan.. huh.. yaudah.. malah gwa jadi esmossi nih..

    regards

  6. wuihh……… keren ftonya????
    gimanaya kalau presiden indo mau buwat sollar cell besar-besaran….

    pasti indonesia yang sekarang ini gak bakal seperti ini!!!!

    oya, ada yang tahu gimana cara buat sollar cell?
    dan ada gak yang jual secara online? n harganya sampai berapa jutaan?

    balas di emailku yah…
    cahprogramer_clubaudiomotorsound@yahoo.com
    TERIMA KASIH

    SATRIA PINADITA

  7. Tahun 95 LIPI, berhasil membiak kan suatu bahan polymer. Tahun segini pasti kita mampu sekedar membuat panel sel surya dengan effesiensi 40%, hanya saja tolonglah wahai pemerintah menghargai karya saintist anak bangsa itu…dikembangkan dan diterapkan ke wong2 deso, sehingga sel surya jadi murah meriah dan kita gak terlalu bergantung lagi ama BBM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s