Menyikapi Ahmadiyah

Standar

Saat kasus Ahmadiyah menyeruak akhir-akhir ini, saya berpikir, bagaimana seharusnya saya menyikapi masalah tersebut. Memang sih, saya nggak ada urusannya dengan mereka. Mereka nggak merugikan saya. Saya juga nggak ada urusan dengan mereka selama ini. Hm, tapi saya merasa perlu untuk menentukan sikap.

Saya pun menimbang, dulu Yesus, yang kini diakui sebagai Tuhan oleh umat Katolik, juga dianggap sesat kan? Dihukum salib dengan dakwaan ‘berdosa’, karena mengaku sebagai Anak Allah. Kini, Katolik sah menjadi sebuah agama. Apa bedanya dengan ‘siapapun dia di Ahmadiyah’ yang mengaku sebagai nabi. Siapapun boleh memercayainya, saya rasa.

Pertimbangan kedua saya: bukankah di UUD 1945 tertulis, orang boleh berhak memiliki agama atau menjadi anggota aliran kepercayaan sesuai dengan pilihannya? Kok orang mau mempercayai aliran Ahmadiyah dilarang ya?

Nah, menurut saya, karena Ahmadiyah itu sekilas tampak seperti Islam, itu yang bermasalah. Banyak orang Islam yang masuk ke Ahmadiyah (sadar/tak sadar bahwa Ahmadiyah berbeda dengan Islam). Makanya ada yang marah. Oleh karena itu, menurut saya, baiknya Ahmadiyah itu jangan dipaksakan untuk dibubarkan. Diakui saja sebagai suatu sekte atau aliran kepercayaan.

Saya sebenarnya agak bingung juga, siapa sih yang boleh mengatakan kelompok lain sesat atau tidak. Hmmm [mikir mode on]. Daripada adanya tindak kekerasan dan cenderung membawa ‘kerusuhan’, apa tidak sebaiknya Ahmadiyah itu dibiarkan saja, hanya saja diberi label “Ahmadiyah tidak sama dengan Islam” atau “Ahmadiyah bukan Islam”. Yang penting masyarakat tahu bahwa Ahmadiyah itu berbeda dengan Islam. Islam adalah agama. Ahmadiyah? Nggak tahu deh, apa.

Begitu lebih baikkah? Sementara ini menurut saya begitu. Salahkah pendapat saya?

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

12 responses »

  1. auri…

    aku seneng sekali kamu punya perhatian terhadap ahmadiyah. aku di sini bahkan menjadi salah satu tim advokasi ahmadiyah. kami tergabung dalam aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKKBB). ada LBH Jakarta, KONTRAS, YJP, KBR 68H, ANBTI, dll. Aku kebagian urusan medianya.

    Hmmm, menentukan sikap soal Ahmadiyah sebenarnya sama seperti kalau kita melihat di kristen itu soal denominasi itu loh. banyak gereja2 baru, dsb bahkan sampai ada gereja setan.

    Bagiku, ada pr besar dalam diri umat islam sendiri dlm melihat perbedaan. tapi ketika hal itu sudah merusak, mengancam, mengintimidasi, sampai jatuh korban, itu bukan sekadar urusn umat islam, itu sudah urusan kemanusiaan, dan kita wajib terlibat di dalamnya. pasalnya, kita hidup bersama dalam satu negara yang bernama Indonesia. di mana, kita bukan negara agama. ada konstitusi yang jelas menkamin kebebasan bergama dan berkeyakinan.

    untuk itu, sebagai orang katolik pun hendaknya kita berani membela ahmadiyah, karena dengan membela ahmadiyah berarti juga menjaga Pancasila dan UUD 1945. Membiarkan ahmadiyah menjadi korban itu berarti pula kita siap memasuki zaman jahiliyah, di mana mereka adalah pelaku2 kekerasan yang mengancam dan merusak siapa saja yang berbeda dengan mereka. bukan sebuah ketidakmungkinan jika suatu saat agama lain juga akan diserang…. hmmm itu sih Ri…

    mana tulisanmu soal presiden?

    • Saya sangat sependapat dengan cara yang di sampaikan bahwa Ahmadiyah harus berlebel sendiri, sangat sependapat. Namun yang jadi PERMASALAHAN adalah, dimana Kolompok mereka berani memproklamirkan diri sebagai ISLAM, padahal dalam ajaran Islam jelas disebutkan tentang kenabian, artinya ; Ahmadiyah telah melakukan pengjinaan/penodaan agama, lantas apa di diamkan saja, yo gak toch… mestine yo di hukum,apa hukum nya.???? (Nah ini yang gak pernah jelas di bawah pemerintahan sekarang) yang pada akhirnya konflik horizontal itu terjadi, llah wong kita aja sebagai manusia biasa jika di hina/di cemarkan marahnya setinggi mahameru, lah kock Agama yang kita junjung di hina kita diam saja , hayo ??? gak bisa khan ???? jadi sejauh mereka mendirikan sekte/aliran sendiri tanpa membawa2 ISLAM yang monggo mawon, tapi perlu di ketahui, dalam ISLAM, seseorang yang sudah pernah masuk ISLAM dan menjadi MUSLIM lantas di keluar dari ISLAM, artinya adalah MURTAD… jika mengacu pada HUKUM Syariat ISLAM maka harus di BUNUH…., jadi kita tidak membubarkan keyakinan,karena keyakinan adalah masalah hati, tapi yang kita bubarkan adalah FAHAM/LEMBAGA nya karena mengatas namakan ISLAM, kalo pake nama lain/agama lain ya terserah ajah….selanjutnya silahkan di renungkan….

      Wslm,
      Dahana

    • Sejauh Ahmadiyah dengan lebel sendiri memang harus di lindungi berdasarkan konstitusi Pancasila & UUD45 karena kebebsan beragama serta menentukan pendapat di lindungi oleh undang2, tapi kalo Ahmadiyah berani melebelkan ISLAM yang pasti akan jadi Masalah, dan saat ini memang masalah,kenapa, karena Mirza Gulam Ahmad mengaku Muslim tapi tidak mengakui bahkan menghina Nabi Muhammad, itu artinya dia dan pengikutnya MURTAD/SESAT,kalo anda muslim silahkan lihat surat Anisa ayat 89 dan 140 atau anda baca semua surat An nisa, semua tergambar di situ termasuk Ahmadiyah,

      Nah itulah yang menjadi dasar (Pada kacamata kami yang Muslim) kalo pake kacamata sekuler/leberal yang gak terlihat salahnya ahmadiyah itu dan satu lagi apakah Pancasila & UUD45 Lebih tinggi dari Ketentuan/tuntunan Al-Qur’an ?????? (silahkan menjawab jika Anda Muslim dan hanya orang islamlah yang boleh menjawab hal2 ini, karena ini masalah internal ISLAM yang tidak di fahami oleh agama lain).

      Wslm
      Dahana
      0818901001/83901001

  2. “aku seneng sekali kamu punya perhatian terhadap ahmadiyah. aku di sini bahkan menjadi salah satu tim advokasi ahmadiyah”

    “untuk itu, sebagai orang katolik pun hendaknya ((kita)) berani membela ahmadiyah, karena dengan membela ahmadiyah berarti juga menjaga Pancasila dan UUD 1945″

    Jadi anda itu tim advokasi ahmadiyah yang beragama katolik, begitu? (Bingung dengan dua pernyataan diatas). Pantesan Ahmadiyah habis-habisan dibela, ada agama lain yang ikut campur toh…hehehehe ketauan.

    PR besar?Masa menentukan nabi terakhir aja pr besar? bodo apa ya? yang gitu mah udah jelas jawabannya Nabi Muhammad SAW!

    Saya juga pribadi atas nama UUD dan Kebebasan berkeyakinan sangat mendukung adanya aliran dengan nama Saksi Yehua atau pun Sidang Jemaat Kristus. Setujuuu??

    Agama lain tidak akan diserang karena sudah jelas gak ngaku-ngaku islam, nah si Ahmadiyah ini yang jadi masalah DIA NGAKU-NGAKU ISLAM JUGA NIH. PADAHAL KEYAKINANNYA MENYIMPANG. Aku setuju dengan auri dijadikan sekte atau kepercayaan, tapi masalahnya sudah terlanjur basah semua atribut yang dipake ahmadiyah adalah atribut islam bo..susah.

    Kalo memandang permasalahan Ahmadiyah dari pandangan non islam tentu gak bakalan nyambung atau mungkin menggairahkan? tinggal kompor-kompori, panas-panasi, dukung si pembuat onar, sudutkan yang benar, pecahlah islam…hahaha jalan pikiran yang murni…”Murni Picik”

    Kalo memandang dari sudut Islam sudah jelassss gak usah dijelasin kalo emang islam lu bener.

  3. buat donny..
    bolehlah orang berkeyakinan agamanya paling benar karena sudah seharusnya demikian.tp yang menjadi masalah..keyakinan agamanya telah membabi buta dengan menghalalkan kekerasan. semua yang berbeda dianggap sesat dan harus dihancurkan. ingat sesat atau tidak sudah ada hakimnya yaitu Allah sendiri..
    Salam damai.. semoga indonesia tetap bersatu dengan keragaman agama dan keyakinan.

  4. it’s a very sensitive topic to discuss, hanya mereka yang berkepala dingin yg “sebaiknya” terlibat dalam diskusi, karena kalo tidak, pasti akan menyulut emosi dan prasangka terhadap pihak berbeda pendapat. hehe, jadi ceritanya saya tidak berani berkomentar. saya cuman ingin bilang, di dunia ini tidak ada yang mutlak, dan dunia ini tercipta dari kebaikan. ..
    sekilas sentilan dari saya huhehuhe ^^

  5. Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikataknnya: Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah 79)

  6. Aku setuju sama pendapatmu Aurelia. Agama adalah pilihan nuranu yang paling azazi. Seseorang memilih agamanya karena yakin dan merasakan kenyamanan hidup karenanya. Ditilik dari sisi ini, kita bahkan juga harus bisa bertoleransi dengan mereka yang memilih menjadi atheis jika memang pilihan itu membawa kebahagiaan hidup buat mereka penganutnya. Salam!

  7. Ping-balik: Wajibkah menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk dalam beragama? « Salafi Liberal

  8. yang sesat yang ngamuk, yang konyolnya bawa-bawa nama Allah segala, Allah saja yang punya itu agama dan sangat berkuasa gak masalah.

    salam
    Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s