Cantik itu Luka

Standar

cantik

Ada yang pernah baca buku karangan Eka Kurniawan yang judulnya CANTIK ITU LUKA? Buku itu cukup menarik bagi saya🙂

Saya membacanya sewaktu SMA. Dipinjami Berto (Sastra Jerman UI – angktn 2004). Kejadian kemarin malam mengingatkan saya akan frasa ini. Cantik itu luka. Cantik itu banyak didamba perempuan. Tapi, cantik juga bisa membawa luka. Luka bagi orang yang memiliki wajah cantik itu. Juga orang-orang di dekat si cantik itu.

Semalam, pukul 19.00 s/d 23.00, saya mengalami kejadian spiritual yang benar-benar aneh. Sari, pembantu di rumah, yang usianya baru 13 tahun lebih, ‘dikerjain’ orang. Ngerti dong, maksudnya?!

Waktu pukul 18.00 saya hampiri ia di kamar atas, dia tidur. Whatt??? Masih tidur? Perasaan, waktu kami makan jam 13.00 dia sudah tidur. Tidak turun untuk makan. Masa jam 18.00 belum bangun juga?! Aneh! Ada apa nih?

Saya pun naik ke atas, ke kamar dia. Saya panggil dengan suara biasa, dia tidak bangun. Kamarnya gelap, lampu tidak dinyalakan. Jendela kamar dibuka begitu saja. Saya nyalakan lampu & saya raba dahinya. Tidak ‘anget’ kok!

Saya turun lagi ke bawah. Tak berapa lama. Mama merasa, sudah saatnya dia harus dibangunkan. Austin (adik bungsuku) pun disuruh nanya, Sari kenapa.

Austin turun dengan jawaban. “Mbak Sari sakit lagi pinggangnya. Nggak bisa bangun”. Apa? Dia kena santet lagi? Terakhir dia ‘sakit pinggang’ adalah waktu dia disantet sama anak SMA yang merasa pacarnya direbut Sari. Dulu itu dia sampai nangis-nangis. Pinggang belakang kirinya sakit sekali. Dia tidak bisa bangun dari posisi tidur.

Si cewek yang nyantet itu, kata orang warung, tinggal di dekat Instiper. Instiper memang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Cuma 200-300 meter. Warung sayur tempat pertemuan cewek itu dan Sari hanya berjarak 100m dari rumah. Biasanya tiap hari Sari ke sana untuk membeli bahan masakan. Di sanalah mereka bertemu. Dulu waktu pertama kali Sari disantet, cewek itu sudah menunjukkan alasannya. Dia berkata. “Dasar, cewek murahan! Tukang rebut cowok orang! Udah berapa cowok yang kamu rebut dari ceweknya?” disambung dengan ancaman “Mati Kamu!”

Kejadian itu sekitar bulan Januari. Eh, sekarang dia kena lagi. Kemarin pagi Sari bertemu lagi dengan ‘si mbak’ itu. Tapi mbak itu tidak berkata apa-apa. Hanya wajahnya saja yang menunjukkan ketidaksukaan. Sari pun pulang ke rumah, masak-masak bersama saya, mama, dan mbak Wika. Tapi dia tidak bilang ke kami, kalau dia ketemu lagi dengan ‘mbak santet’ itu. Ketika dia tidur pukul 12.00, kami hanya mengira dia kurang tidur & merasa lelah. Jadi, tidak kami acuhkan.

Semalam itu, karena orang yang dulu membantu untuk mencabutkan ‘benda asing’ itu dari tubuh Sari, baru saja pulang dari RS, maka kami tidak dapat meminta bantuan doanya. Saya, mama, Widy, dan mbak Wika (mbaknya Widy) naik ke kamar Sari. Melihat dia, dan pasrah. Dia tidak berteriak-teriak seperti dulu waktu disantet pertama kali. Kami pun berdoa Bapa Kami sebanyak 50 kali. Mama menyuruh Sari berdoa juga dengan keyakinannya sebagai seorang muslimah. Sewaktu kami mulai berdoa, eh, dia kok malah tidur. Nah, tidurnya itu tidak tenang, dadanya naik turun, nafasnya tidak stabil. Di akhir akhir, dia menunjukkan hal yang aneh, dia menunjuk2 ke arah salib yang kami pakai dalam doa bersama. Dia sempat menutup telinganya dengan kedua tangannya. Waduh… celaka. Alamat ‘ada yang aneh’ nih. Kami melanjutkan doa Bapa Kamiu menjadi 100 kali. Eh, dia begitu lagi. Kami lanjutkan doanya karena kami masih melihat dia tidak tenang.

Tau apa yang terjadi kemudian? Dia mencoba mencekik lehernya sendiri. Membentur-benturkan kepala ke lantai. Dan berteriak-teriak, benar-benar kesetanan. (Pemakaian kata ‘teriak-teriak kesetanan’ kali ini bukan hanya kiasan). Kata-kata yang dia keluarkan adalah:

“Mati!” “Sari Mati!” “Cewek murahan dia!” “Dia ngerebut pacarku” “Semua suka dia” “Teman-temanku juga suka dia” “Sari harus mati” “Mukanya harus hancur” “Mukanya harus rusak”

Lalu seolah ada ‘yang lain lagi’ juga ngomong:

“Darah!” “Aku haus” “Aku mau minum” “Darah Sari” “Ibu…ibu…ibu…” “Mana ibuku” “Ibu jahat!” “Mana darahku?” “Ibu…” “Aku sayang Sari, tapi aku kasihan sama yang cowoknya direbut Sari”

Kalau kami suruh “Kamu pulang ya!” dia akan teriak “Nggak mau!”

Kalau ditanya, “Siapa yang ngirim kamu?” dia jawab “Bukan urusanmu!”

Sari trance dari jam 19.30 s/d 23.00. Kami semua lelah menghadapinya. Lemes deh! Megangin tangan, kepala, dan kakinya. Akhirnya dengan bantuan pak ronda & pak RT, si arwah bayi yg diaborsi itu keluar, entah kemana. Sari sadar pukul 23.15. Dia merasa tubuhnya sakit dan merasa sudah tidur lama. Sejak kami mulai berdoa, dia bilang ‘entah kenapa dia tertidur & bukan berdoa’. Jelas kan, kalau dia benar-benar kerasukan.

Pusing deh, masalah cowok. Anak SMA. Kok mainannya santet. Buset! Jadi inget sama buku CANTIK ITU LUKA. Sekali lagi saya bersyukur karena saya tidak cantik. (Widy pasti sebel dengan kata-kata terakhir tadi, biar deh)… Hehehe

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

5 responses »

  1. dia kemarin (30/03/08) pas jalan sama temennya, pingsan di tempat jualan siomay. trus waktu sadar, butuh waktu u/ ingatannya pulih. entahlah…. kenapa tuh…

  2. iya di daerah selatan, lagi disukai anak2 SMA tuh mbak. mungkin karena udah ndak punya akal sehat lagi kali ya? ato malah pelampiasannya mereka yang penakut😛

    btw, salam kenal yah..
    saya juga di utara Instiper nih

  3. Hehehehe, ada yang kerasukan segala macam!
    Hebat orang Yogya, di abad 21 dan era BlackBerry, Santet masih jadi pilihan untuk ngerjain orang! Besok2 minta air berkat sama Romo Paroki (buat jaga2 kalo ada aksi pengerjaan lagi). Kalo gak bisa dan kepepet, berkati saja sendiri, tambahin garam (asal jangan pake bawang merah/putih nanti jadi sayur!) dan rumusan doa buatanmu! Ingat mbak, kata-katamu kudus! kalo orang yakin imannya bisa mindahin gunung (walau saya bingung setelah pindah mau ditaruh di mana?).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s