Mimpiku Tadi Pagi

Standar

Jadi caritanya tadi pagi aku bangun jam 4an gitu karena mau belajar Ekonometri buat ujian jam 9.40. Nah, trus aku mengambil posisi telungkup di atas matras di ruang TV (yang nantinya kusesali karena itu adalah posisi yang salah) dan membaca catatan ekonometriku. Nah, intinya aku masih ngantuk dan tertidur. Nah, ini adalah mimpi yang cukup panjang.. Emang ini yang mau kuceritakan. Begini ceritanya…

Aku dan Audris (adikku yang berumur 16 tahun) ceritanya baru pulang ke rumah setelah seharian pergi. Nah, sampai di pintu rumah yang notabene kaca, aku liat Austin (adikku yang kecil) mau keluar rumah. Aku nanya sama dia “mau ke mana?”. “Les renang” jawabnya. Nah, di pun aku antar dengan berjalan kaki (ingat ya, settingnya malam dengan lampu-lampu berwarna jingga, cantik deh).

Di perjalanan Austin minta dibeliin kue. Emang kebiasaan dia untuk langsung minta dibelikan, kalau dia mau sesuatu. Karena uang di saku belakangku cuma tinggal beberapa lembar ribuan kumal, maka aku pun nggak mau mbeliin. Aku bilang, “nggak ada duit”. Kami pun terus berjalan sampai ke hotel. Sampai di hotel, lagi-lagi Austin minta dibeliin kue yang di buat ama chef. Aku bilang, nggak ada uang. Karena harga kuenya, satunya 700 (model kuenya kaya putu ayu), maka Austin dengan begonya ngeluarin uang Rp2.000 miliknya dan bilang mau beli 3. Ya jelas kurang dong, duitnya. Kurang Rp100. Aku pun ngotot nggak mau nambahin kekurangannya, jadinya ya dia beli 2 buah aja.

07.jpg

Tiba-tiba aja di situ ada banyak tamu berdatangan. Ternyata ada pernikahan. Pernikahan keluargaku. Siapa? Postur pengantinnya kecil. Alias kaya orang masih SMP gitu. Ga keliatan mukanya, tapi intinya adiknya Cik Lilin (Cik Lilin adalah sepupuku dari pihak ayahku. Nah, padahal bajuku ya bukan baju pesta, wong baru pulang dari bepergian seharian. Tapi ya aku ikut aja pestanya.

Setelah pesta, kami mau pergi makan ke sebuah rumah makan, di perjalanan (ceritanya lagi di Bintaro, padahal viewnya bukan Bintaro sama sekali, lebih mirip sama Jakarta) sambil jalan naik mobil, aku jadi kaya guide gitu buat Widy (yang ga kenal daerah itu). Widy ini cowokku. Aku nunjukkin gedung-gedung di kiri kanan. Trus ada yang lucu, masa ada salon / bridal yang miliknya Lia Eden. Nama salonnya ya Lia Eden juga.. Hihihi… Aneh

Sampai di tempat, anehnya kami pun bukannya langsung duduk makan tapi mencar. Aku juga jalan-jalan dulu (sendirian). Aku rasanya familiaaar banget ama tempat itu. Agak eksotik, kaya rumah makan tahun 1980-an. Juga suram gitu deh. Nah, aku masuk ke bagian dapurnya, naik ke lantai dua, di sana ada Papa. Papa diem aja di situ. Nah aku kan heran, ngapain juga dia di situ, wong di situ bukan tempat makan. Di lantai dua itu, warna tegelnya familiar banget deh, tapi aku ga bisa inget, di mana aku pernah liat itu sebelumnya. Di dekat situ ada pintu, perasaanku, dulu di situ los, nggak ada pintu. Ternyata pintunya itu dibuat karena lonceng / patung kepala Buddha yang tadinya di situ runtuh (mungkin karena tua).

23107200.jpg

Selanjutnya aku turun dan makan, tempat makannya kaya rumah makan yang suram dan 1980an gitu deh. Suram.. Tua… Di tempat makan itu, orang yang kuinget ada adalah adiknya mama, namanya oom Ogan.

Setelah makan, aku ke dapur, entah kenapa aku kok ngerasa familiar banget sama pemilik tempat makan itu. Ceritanya tempat makan itu enak deh. Nah, aku pun disuruh nyicipin, aku nyicipin timun. Timunnya ada lubangnya. Di dalam timun itu dimasukkan cabe rawit ijo yang udah diacar. Karena nggak kuat makan cabe rawit, aku pun buangin cabenya. Waktu kumakan, kok rasanya asem. Trus, aku pun ngomong sama si pemilik itu (cowo, nggak muda, tapi kayanya masih single gitu) kalau timunnya nggak enak. “Masa sih?” katanya. Nah, dia pun pergi ke ruang persiapan makanan, aku ngikutin aja. Ada sesuatu yang mistis di ruang itu. Tua, angker. Sebelum memulai apapun, dia pun memberi hormat dulu pada meja persembahan (ala film Cina gitu). Nah, kemudian dia menuju ke makanan-makanan itu. Bukannya nyicipin, eh dia malah ngeracik makanan untuk disajikan.

Apa yang dia lakukan selanjutnya yang mengejutkan. Di meja racik, dia mengangkat seekor bebek yang masi utuh, tapi warna kulitnya adalah warna kulit bebek goreng (kuning). Dia ucapkan mantra, bebek itu hidup lagi, dengan kondisi tidak berbulu lagi. Kulitnya persis warna kulit bebek yang beneran sudah digoreng. Bebeknya berdiri lagi. Nah, kemudian si cowok itu mengangkat parangnya dan berteriak “Koh Gento….” dan menebas leher si bebek. Bebeknya pun akhirnya mati berlumuran darah. Bebeknya siap disajikan, itulah resep rahasia makanan di situ. Serem amat ya…

Aku kok ngerasa cerita ini jadi ga seru ya? Padahal aku merasa mimpi tadi tuh seru banget lho. Dan aku bisa memastikan bahwa mimpi itu berwarna. Hehehehe. Mantap dah. Viewnya ga ada di duniaku sehari-hari. Entah gimana bisa gitu. Mana mimpinya bisa panjang lagi… Salah satu mimpi yang takkan kulupakan. Makanya itu kutulis.

About aureliaclaresta

Female. Ex consumer researcher & lecturer’s assistant. Learning business by running small business. Sometimes become a nocturnal. Love JokPin's poems, dress, Dee’s & Ayu Utami’s books, photography, make up, and learning new things. Lived in Tg Pinang, Kutoarjo, Serpong, BSD, & Jakarta. Now stay in Jogja with mom, 2 brothers, and some employees. See her tweets @aureliaclaresta

3 responses »

  1. eh, tambahan, setelah mimpi itu, aku terbangun oleh mimpi lain. yaitu ibuku dan aku nangkap ular. posisi ibuku ada di sebelah kanan ular, aku di depan ularnya. ularnya berhasil dipegang ibuku dan oleh ibuku, leher ular itu dipotong pakai parang. eh… kepalanya yang tertebas meluncur ke arahku dan menggigit leher depanku [bagian jakun cowo]… dan aku keracunan…
    duh, langsung terbangun deh… serem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s