AureliaClaresta’s Weblog

Entries tagged as ‘Yogyakarta’

Wisata @ Jogja [1]: Membuat Keramik, Tatah Ukir, Batik dan Kulit

Desember 1, 2009 · 1 Komentar

Sebagai warga Indonesia yang memiliki nasionalisme [halah... PPKn banget---sekarang PKn] dan warga Jogja yang berniat mendukung pariwisata dan industri kreatif di sini, maka….. jreng jreng jreng. Mulai skarang, aku akan posting tentang wisata-wisata alternatif yang bisa dilakukan di Jogja. Bosen ke Kaliurang, Mirota Batik, dan Malioboro??

Kali ini pengen belajar bikin keramik???

Hub: Candra di 0857 3951 6973

Di bawah ini, bisa diliat info mengenai tarif kelas yang ditawarkan… Enjoy Jogja! Jogja bukan hanya cuma Malioboro…. :)

brosur

Kategori: Uncategorized
Ditandai: , , , , ,

Kampus di malam hari (monolog Aurelia)

Oktober 29, 2009 · & Komentar

Dan aku di sini. Masih bermimpi tentang perpustakaan itu, di mana aku masih bisa belajar dan bekerja di sana sampai malam hari. Perpustakaan yang hanya pernah aku dengar kabarnya dari cerita dosenku di suatu pagi. Konon katanya perpustakaan itu buka 24 jam….

Oh, andaikan saja kampusku memiliki perpustakaan seperti itu. Atau setidaknya membuka hall, lobby, selasarnya 24 jam untuk mahasiswa yang masih mau menekuri artikel, tugas, atau laptopnya. Mungkin aku saat ini masih berada di sana. Di kampusku…

Aku bertanya-tanya, apakah pejabat fakultasku juga pernah mengalami kampus yang terbuka 24 jam untuk mahasiswanya belajar ketika mereka mengambil gelar master dan doktoral di luar negri sana? Jika pernah, pernahkah mereka berterima kasih untuk kebijakan yang dibuat oleh kampus mereka yang konon sudah maju dalam konsep tersebut? Mengapa ya, mereka belum membuatkannya untuk aku dan teman-temanku di sini…

Oh bulan, oh bintang… Tolong katakan pada mereka yang mungkin sudah terlelap, bahwa aku bermimpi memiliki kampus yang tidak akan mengusirku untuk belajar atau bekerja di sana. Entah sudah berapa kali aku di’usir’ satpam secara halus untuk melanjutkan pekerjaanku di rumah, atau esok harinya. Ketika itu terjadi, haruskah aku menjelaskan panjang lebar ke satpam untuk menjelaskan suatu hal yang sangat penting untuk belajar dan bekerja? MOOD!

Ketika mood itu masih ada, tolong, jangan padamkan apinya… Please…. Jangan usir aku pulang, Pak Satpam… Aku masih mau di kampus untuk belajar dan bekerja. Apa yang kau khawatirkan dengan keberadaanku di kampus sampai larut malam? Bahkan ibuku yang begitu mengenalku tak mengkhawatirkanku (karena ia tahu bahwa aku di kampus untuk apa).

Pak Satpam… kau bisa pantau aku dengan CCTV yang menyiarkan siaran langsung itu ke ruangmu. I’m not doing anything bad, there. Hey, come on. No reason to force me to go home. I need the athmosphere to study, to work… Why i can’t stay there as long as i need it? I’m neither a criminal nor a vandals. I just can’t find better place to study and work better than my campus can provide… I also can’t afford cozy cafe for working. My bedroom only persuade me to get sleep early and I don’t have other room to work… Can’t I stay there? On my own campus?

Fiuh fiuh fiuh…. i’m talking alone here… Anybody hear me???

*Aurelia Claresta Utomo adalah mahasiswi smester 9 yang sedang berupaya menyelesaikan skripsinya di Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM, Yogyakarta

Kategori: opini · tulisan ringan
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Makan @ Jogja [11]: Amboja Resto

Oktober 10, 2009 · & Komentar

15. Amboja Herb Garden Resto [Jl. Kaliurang km.18,7]

Tanggal 2 Agustus 2009 yll, untuk pertama kalinya saya mencoba makan di Amboja Resto yang sudah direkomendasikan seorang tante dan seorang teman nggosip. Dan sekarang saya ingin melakukan hal yang sama, yaitu melanjutkan word of mouth ini.

Resto ini patut anda singgahi kalau anda ke Jogja. Ini adalah resto yang cocok untuk dikunjungi kalau anda sedang refreshing atau berlibur di Jogja. Tempat ini cocok untuk anda yang mau mengajak tamu dari luar kota untuk mencicipi salah satu ‘rasa’ Jogja. Tempat ini memiliki nuansa santai yang mendukung rasa nyaman bagi pengunjung.

Semua menu di sini menggunakan produk lokal yang mereka tanam sendiri di sekitar resto. Cocok buat para pendukung penggunaan produk lokal dan vegetarian.

Rasa makannya tidak bisa dibilang luar biasa, tapi enak kok. Saya mau sekali untuk kembali makan di sini. Ada yang mau ajak saya???

Oh ya, ini daftar menu yg kami pesan waktu itu:

jamur asam manis 17.500

Nila Sc plawangan 26.000

kailan sc tiram 15.000

nasi putih 3.000

nasi hitam 5.000 [nice try]

singkong thailand 11.000 [not recommended.no more]

teh kayu manis 6.000

juice amboja 12.000

marquisa juice 12.000 [like it]

es jeruk 7.500

Kategori: kuliner
Ditandai: , , , , , , ,

Ngintip Galeria Mall Jogja

Februari 18, 2009 · & Komentar

img_0112Hari minggu (8 Feb 2009) saya ‘main’ ke Galeria mall bersama mama dan Austin. Sambil jalan-jalan, saya melihat sebuah fenomena.

Ceileee… istilahnya fenomena segala

Lihat foto yang diambil Austin ini. Apa yang anda pikirkan? Melihat beberapa kali orang-orang di Galeria duduk ndlongsor di lantai, atau menggunakan bangku dengan cara seperti ini, membuat saya ‘tergelitik’.

Hei… bangku itu dibuat dan dipasang di sana buat orang yang kelelahan dan butuh duduk. Bukan untuk dipakai sebagai meja untuk laptop

Ya kan?! Benar kan?! Maksud saya… pihak Galeria bisa melihat hal ini sebagai teguran non-verbal. They need something to lay their laptop, sir….

Kategori: bisnis · tulisan ringan
Ditandai: , , , ,

Belajar dari Bali

Januari 30, 2009 · & Komentar

Pulang dari Pulau Bali, bawa oleh-oleh apa? Maaf ya, nggak ada buah tangan untuk dibagikan. Maklum, yang ke Bali ini budgetnya mepet, itu pun hasil belas kasihan orang (dikasih). Hu hu hu…. Masih mahasiswa, jadinya, masih bokek.

Makanya, tak nulis aja. Biar jadi pengganti oleh-oleh buat kerabat, teman, dan handai taulan. Oops, salah… maksudnya oleh-oleh buat pembaca setia blog ini. Hahahaha…

Pantai Dreamland

Pantai Dreamland sebelum dibangun gedung-gedung dan toko-toko

Lima hari di Bali adalah masa yang sangat menyenangkan. Saya tekankan, SANGAT menyenangkan. Really… Bahkan untuk orang yang tinggal di kota wisata juga, seperti saya. Saya memberikan acungan jempol untuk pemerintah di sana. Toleransi di sana benar-benar besar. Budaya dilestarikan, salah satunya dengan menyeragamkan bentuk pagar menjadi bentuk candi bentar. Para pemandu wisata juga diharuskan menggunakan baju adat.

Bali adalah kota budaya yang hidup, bisa dilihat dari kepercayaan mereka akan persembahan sesaji, pemotongan gigi, upacara ngaben, dll. Hidup mereka sangat berdekatan dengan alam. Tak heran, lanskap di sana tertata apik.

Senang sekali rasanya melihat perempuan-perempuan Bali mengenakan kebaya yang ngepas di badan sambil membawa banten di atas kepalanya. Di tempat lain, mudah ditemukan perempuan yang meletakkan sesaji serta dupa dan memercikkan air pada sesaji tersebut.Hal itu ditambah dengan pemandangan kontras, turis asing (yang sering kita sebut bule) yang bermain air laut dan meluncur di atas ombak. Melihat hal-hal itu, membuat saya merasa, Bali memang tempat yang indah, dan sungguh pulau dewata.

Aurelia di Tanah Lot, Bali

Aurelia di Tanah Lot, Bali

Kasarannya, setelah melihat Bali, saya akan bilang Jogja nggak ada apa-apanya. Sungguh. Mulai dari budaya, bangunan, pantai, butik, furniture, barang kesenian. Jogja masih nol kecil… Ayo nih, siapa sih pemimpin Jogja? Kembangkan Kasongan. Kembangkan Malioboro. Berdayakan pengerajin. Adakan sentra keranjinan yang lebih menarik untuk didatangi (melebihi Pasar Seni Gabusan). Adakan tari-tarian di keraton. Adakan lomba-lomba tari tradisional yang lebih besar-besaran. Adakan lomba ndalang, dsb. Jangan sampai kesenian yang menarik, tidak terekspose. Sia-sia…. Oh iya, satu hal dari Jogja yang lebih baik daripada Bali, yaitu keramahan pramuniaganya. Di Bali, sudah beberapa kali saya diberi jawaban ketus dari para penjual. Ada juga pengalaman di-nyolotin sama bencong. Sial….

Kembali ke Bali. Salah satu hal yang disayangkan dari Bali adalah, Pantai Kuta (pantai yang paling dekat dengan pusat keramaian dan hiburan) yang banyak sekali sampahnya. Semoga pantai Dreamland yang pasirnya putih dan indah itu, tidak bernasib sama dengan Kuta (dalam hal sampah). Sungguh budaya membuang sampah yang buruk.

Pita (teman yang selama 2 malam terakhir jadi rekan setempat tidur) mengajak untuk kumpul di Bali, 1 tahun lagi, dengan membawa sangu alias bekal yang lebih banyak, supaya lebih bisa banyak belanja dan bersenang-senang di sana. Okay… Nabung dehhh…. :) Itung-itung membantu bergeraknya perekonomian (ya dengan konsumsi.. hahaha).

Kategori: new experience · opini · tulisan ringan
Ditandai: , , , , , , , , , ,