Mempersiapkan KKN (Kuliah Kerja Nyata)

Judulnya nggak asik banget ya? Hahaha. Intinya sih tulisan ini mau dipersembahkan buat adik-adik yang akan menghadapi KKN. Oh ya, sebelum panjang cerita ke mana-mana. Mending saya kasi tau dulu bahwa saya adalah alumnus dari Fak. Ekonomika & Bisnis, UGM. Pada Juli-Agustus 2008 KKN di Kecamatan Pajangan, Bantul.

Jujur ya… Beberapa semester sebelum boleh menjalani KKN, saya adalah orang yang sangat ngebet mau KKN. Ada keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat menolong masyarakat dengan kemampuan saya; berbagi ilmu, dsb. Ketika sudah direkrut oleh teman untuk masuk ke tim KKN, yang dirasakan adalah agak hopeless…. Masalahnya adalah kepentok budget. Kegiatan pencarian dana tidak (begitu) sukses, sehingga program-program pun nggak bisa idealis. Tidak bisa jadi seperti sinterklas yang bagi-bagi hadiah karena kami hanya bergantung pada uang pribadi yang direlakan serta berbagai produk sponsor yang bisa diberikan gratis.

Ketika KKN sudah hampir selesai, saya sadar bahwa performance kami nggak begitu baik. Apa yang sudah kami lakukan, kurang nge-gong. Ada beberapa program yang gagal seperti program pelatihan pembuatan limbah serbuk batok kelapa menjadi briket arang. Ada program yang nggak tuntas, yaitu mengenai pembuatan kompos, namun belum sampai berhasil membuat mereka untuk benar-benar merasakan betapa berguna dan murahnya kompos (baca: mereka masih menggunakan pupuk urea yang mahal). Segala sesuatu yang disediakan alam adalah ‘mudah’ dan ‘mudah’ adanya. Manusia hanya harus jeli dalam melihat, bagaimana menyiasati hal itu. Adaprogram yang nggak kesampaian, yaitu program pengenalan pembuatan instalasi biogas. Ahhh…. sedihnya. Ada perasaan sedikit sia-sia, berada di sana.

Walaupun kami sudah membantu untuk perancangan dan pembuatan jembatan yang berguna bagi masyarakat, walau kami sudah berhasil cukup akrab dan diterima oleh masyarakat (bahkan sampai sekarang masih ada orang dari dusun KKN yang masih mengirim SMS tanda keakraban), dan masih banyak walau-walau lainnya. Saya merasa ada yang kurang dan butuh ‘tetap dibayar’ suatu hari.

Memang tidak bisa mengharapkan keberhasilan tanpa persiapan. Saya merasa ada yang kurang dalam persiapan kami dulu dalam menghadapi KKN.

Yang terpenting untuk mempersiapkan program KKN adalah: memiliki kejelian dalam melihat kebutuhan masyarakat (desa) yang mereka sendiri tidak sadari.

Kecuali kamu adalah anak orang kaya yang royal dan mau  menyumbang angka Rupiah 7 digit untuk program-program berguna yang membutuhkan biaya tak sedikit, kamu harus benar-benar jeli. Tidak semua orang punya bakat atau pengalaman yang mengajarkannya untuk menjadi jeli dalam melihat peluang. Kita hanya akan mampu membuat program KKN yang bagus dan impactful kalau kita tahu, program apa yang bisa kita buat bagi mereka, mereka butuhkan, akan meningkatkan taraf kehidupan mereka, namun hanya memerlukan sedikit biaya.

memahami kebutuhan tiap-tiap daerah tidak mudah. Semua harus dimulai dengan penerimaan masyarakat yang baik. Kita butuh keterbukaan mereka sehingga kita bisa berdialog dengan informal. Dari pembicaraan sehari-hari itulah kita bisa menangkap masalah apa yang mereka hadapi, baik yang terucapkan dari bibir mereka, maupun yang mereka tidak sadari. Pembicaraan formal cenderung tidak efektif untuk identifikasi masalah. Kejelian dan kepekaan dibutuhkan untuk melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang benar, sehingga bisa membuat solusi yang tepat pula untuk mereka.

Saya beri contoh saja deh. Seringkali mahasiswa itu pinter, IP tinggi, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang simple sekalipun.

Misalnya: Bu Giyem seorang ibu rumah tangga, istri dari tukang bangunan, ingin menambah penghasilan keluarga dengan menjual makanan. Dia sudah mencoba membuat berbagai makanan, katanya. Dia sudah pernah bikin kacang bawang, keripik bayem, bumbu bubuk yang dikemas, dll. Kemudian dia titip-titipkan di warung dan berbagai kenalan di pasar. Hasil akhirnya sama: nggak laku. Kemudian Bu Giyem nanya sama kamu, gimana ya caranya supaya pemasaran itu sukses. Kamu mau jawab apa?

Mau pake teori marketing yang mana coba? Iklan seperti apa yang bisa dia lakukan?

Kejadian itu benar-benar terjadi pada saya, dan kemudian saya sendiri cuma sampai di tahap interview (nanya2 usaha apa yang sudah dia lakukan), dan langsung merasa: memang dia sudah lakukan semua. Kalau tidak laku, ya gimana ya, mungkin pasarnya memang nggak ada. Bego sekali kan? Fhhh…… Seorang mahasiswi manajemen UGM, tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Bagaimana dia bisa menyelesaikan permasalahan besar?

*bersambung*

Pisang

Kisahnya bermula dari masa KKN… Jadi, pada bulan Juli-Agustus yll, saya sedang mengikuti Kuliah Kerja Nyata, alias KKN di dusun Santan, desa Guwosari, kec Pajangan, kab Bantul, prov DIY. Nah, pada tanggal 17 Agustus 2008 malam. Saya mengikuti acara cerdas cermat yang diadakan pemuda dusun setempat. Ada 4 tim yang mewakili pemuda tiap RT, dan ada 1 tim yg mewakili mahasiswa KKN di perlombaan itu.

Pertanyaannya persis kaya cerdas cermat SD. Hehehe. Wawasan umum, PPKN segala ada… Kocak. Nah, selain itu, ada juga lomba yel-yel, cium bumbu (kencur, kunyit, daun jeruk, dkk). Salah satunya adalah lomba permainan.

Di salah satu soal di sesi permainan, ada pertanyaan, sebutkan macam-macam pisang yang kamu ketahui, saya hitung sampe 10….. dan si juri mulai menghitung. kami pun mendiktekan pada juru tulis kami, nama-nama pisang apa yg kami ketahui. Salah satu jenis pisang yg kuketahui adalah pisang susu. Maka tertulislah nama pisang itu di kertas jawaban kami.

Sampai di meja juri, jawaban kami dibacakan di depan forum, kemudian sampai di bagian PISANG SUSU itu, dia sejenak mengomentari: “wah, saya sampai malu ngomongnya….”. Padahal, pisang susu memang ada lagi. Jangan langsung ngeres donk. Buktinya, foto ini, yg aku ambil di FARMER MARKET, supermarket di Summarecon Mall Serpong…… Teman-teman KKN Santan, saya tidak bo’ong loh!

Peninggalan KKN

kulit kaki pecah-pecah setelah KKN.... hiks

kulit kaki pecah-pecah setelah KKN.... hiks

Setelah KKN…

KKN juga mengubahku….

  • Skarang bareng si Bex (motorku), di jalan ringroad, dia bisa lari sampe 70km/jam, bahkan lebih… Hahaha, kemajuan. Biasanya kan 60km/jam-an udah pwol…
  • Udah biasa nyuci pake tangan dikit2 dan ampir tiap hari
  • Jadi biasa pake sabun mandi batangan
  • Jadi biasa pake celana pendek ke luar rumah
  • Jadi lebih mudah mengatasi malas mandi di saat dingin… dengan cara: masak air [hahaha]
  • Jadi lebih semangat untuk masak-masak dan bikin kue
  • Jadi familiar dengan Office 2007, karena di rumah masih pake Office 2003 sebelumnya
  • Jadi lebih mudah untuk nyapa orang
  • Jadi lebih baik bahasa krama-nya, mantap!
  • Jadi terbiasa makan lele & telur asin [di rumah hampir nggak pernah makan]
  • Jadi tahu lagu mars PKK [cekakakakak]

Yah…. itu lah, kalo yg fisik-fisik, nggak udah dibahas. Kayanya arahnya agak negatif. Biar saja. Hahahaha

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.