Ngomongin Busway

Banyak cerita seputar angkutan umum bus TransJakarta. Selama stay di Jakarta, saya selalu mengandalkan TransJakarta untuk wira-wiri ke sana-ke mari. Syukurlah sampai sekarang saya masih memanggilnya dengan nama aslinya, TransJakarta. Saya belum berhasil tercemar dengan penggunaan nama ‘busway’ ala orang Jakarte.

Di suatu malam, perjalanan pulang ke kos teman di Dukuh Atas, saya tak tahan untuk tidak tersenyum ketika seorang bapak tua mengangkat telepon-seluler-tahun-jebotnya dan mengatakan pada lawan bicaranya “gua lagi di biswai”. Ya ampun, how come namanya bisa berubah begitu? Busway masih oke, lah ya. Biswai? Sejenis pawai atau tetangganya Hawaii? Sungguh menyesal saya tidak bisa menahan senyum nggak sopan saya. Maafkan saya, Pak… Saya ‘sok kota’ dan ‘sok terpelajar’ (agak menyesal).

Kembali dengan kebiasaan orang-orang menyebutnya busway. Temen-temen Jogja saya yang sudah jadi orang Jakarta (kerja dan mulai menetap di Jakarta) juga sudah memanggilnya busway. Memang melawan arus itu nggak mudah. Lagian, ngapain juga ngelawan arus. Toh semua orang juga ngerti, apa itu busway.

Trus, kenapa saya masih terus bilang “TransJakarta” kalo ada yang nanya “nanti mau ke sana naik apa?”? Simple. Karena kendaraan itu nggak pantes disebut busway. Anak TK ato SD juga tau kalau bus way itu kalau diartikan ke bahasa Indonesia, artinya jalan bus. Penulisannya pun dipisah: bus (spasi) way, dan bukan busway. :) Kenapa saya seolah ngotot? Ya karena menurut saya ini adalah bukti kekonsistenan. Mengapa saya harus benar dalam memilih kata interesting dan interested, kalau saya sudah salah menyebut bus dengan bus way?

Hey hey hey, saya nggak berdiri menantang sekian juta manusia Jakarta, yang nyebut bus TransJakarta sebagai busway ya…. Saya hanya menjelaskan, kenapa saya berperilaku beda. That’s all… Saya nggak niat nyolot dengan tulisan ini. Saya pendamai. Ga suka cari ribut. Ribut itu adalah kegiatan yang nggak menghasilkan keuntungan dan cuma menyerap habis ketenangan hati (yg mahal harganya).

Saya rasa, masyarakat juga nggak salah kalo menyebut si bus sebagai busway. Kenapa? Karena dari penyedia jasa sendiri seolah menamai diri busway. Terlihat di ruas jalan bus TransJakarta, plang hijau bertuliskan ‘jalur khusus busway’. Ada plang merah bergaris putih (tanda dilarang masuk/dilarang lewat) dengan tambahan kata-kata ‘kecuali busway’. Terdengar rekaman suara wanita di dalan bus, ‘terima kasih, sudah menggunakan jasa bus TransJakarta, busway’. Heleh-heleh…. Ya pantes aja semua orang jadi manggil si bus sebagai busway.

Saya mikirnya sih gini, Jakarta kan banyak bule-nya ya. Cerita tentang busway ini mungkin juga jadi oleh-oleh buat semua kerabat, teman, sodara di negara asal. Bahwa di Indonesia (maksudnya Jakarta, tapi sapatau nama Indonesia yg dibawa-bawa) bus way adalah nama kendaraan :)

Kejadian ini lucu, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang paling populer di Jakarta (dan Indonesia). Anak muda gaul, kaum eksmud, sosialita-nya bahkan lebih bagus dalam menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. So fluent… Mereka seringkali mengerti istilah Inggrisnya, tapi susah untuk menemukan kosa kata Indonesianya. :) Pertanyaannya: “Bagaimana mereka bisa salah pakai begitu ya?,” mungkin begitu kira-kira pikir para bule itu.

Syukurlah di Jogja, namanya masih TransJogja. Karena ga pernah ada plang dan semprotan cat di aspal yang menuliskan ‘busway’. Good job Jogja…. Hehehe :)

Makan @ Jogja [16]: Sentana Bistro

Saya sudah pernah menulis sedikit tentang menu di Sentana Bistro. Weekend minggu lalu saya datang ke Sentana Bistro untuk yang ketiga kalinya (if i’m not mistaken) dan mencoba berbagai makanan yang dibayari boss besar saya: my mom.

gyu soyu ramen - sentana bistro

Kami memesan 3 menu ramen: chicken ramen, sentana ramen, dan gyu soyu ramen. Kesimpulannya adalah: chicken ramen yang saya puji-puji di kedatangan lalu kini dikalahkan sama Gyu Soyu Ramen (harga sekitar Rp24.000).

unagi sushi - sentana bistro

Menu lain yang menggembirakan saya adalah Unagi Sushi (sekitar Rp44.000) untuk 3 potong sushi seperti di gambar. I like it :) Untuk salmon teriyaki-nya, lumayan oke, cuma sedikit (terlalu) manis…

Makan @ Jogja [15]: Hikari Ramen

Karena rekomendasi orang tak dikenal di salah satu grup makanan jogja di Facebook, saya akhirnya mendatangi Hikari Ramen di jalan Wakhid Hasyim (Nologaten ke utara terus sampe nembus Ring Road Utara) sekitar dua minggu yang lalu.

Saya datang ke sana dalam kondisi nggak prepare untuk nulis blog. Jadinya nggak bawa kamera. Begitu masuk, ragu setengah mati. Karena tempatnya agak parah. Low budget business terlihat dari interior-nya. Atas saran mbak waitress, saya memesan Gyu Soyu Ramen (Rp14.500). Yang masak adalah seorang lelaki yang wajahnya sedikit oriental, dan berpakaian lumayan gaul. Sayangnya, dia mungkin ngerasa kegantengan untuk sekedar mengucapkan ‘selamat menikmati’ dan sedikit tersenyum sewaktu mengantarkan si ramen ke meja saya. Saya makan ramen sambil nonton TV di sana. Lumayan lah, datang sendirian, ruangan nggak ada suasana, tapi nggak memble…

Gyu Soyu Ramen yang saya makan di Hikari Ramen ini sangat nggak mengecewakan :) . Recommended, guys! Best value ramen i ever had in Jogjakarta.

Peringatan aja, Hikari Ramen nggak cocok buat mereka yang: menyukai seni makan dengan suasana yang perfect, orang kaya yang nggak biasa makan di warteg, orang yang lanjut usia, orang yang dateng bawa temen sekampung (kapasitas kedai ramen ini terbatas), dan orang yang benci parkirin mobilnya di jalan sempit.

Saya belum coba Nikkou Ramen… Next time deh

Kulit Telur

Di rumah saya, kira-kira ada sekarung limbah kulit telur. Untuk produksi puding dan berbagai olahan makanan lain, digunakan banyak telur di sini. In case ada pembaca blog yang membutuhkannya untuk kerajinan dsb, bisa hubungi ibu Maria di 0274-7191008.

Kami berusaha sebisa mungkin tidak membuang sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah Piyungan yang konon akan penuh di tahun 2012.

Kalau ada yang bisa membantu kami menjadikan limbah ini berguna. Alangkah bahagianya :)

Makan @ Jogja [15]: Mie Ceker Bandung

20. Mie Ceker Bandung [jl. Wolter Monginsidi, perempatan SD Tumbuh, ke barat]

suasana malam hari yang romantis

Setidaknya saya sudah bolak-balik makan menu yang sama di sini 6 kali. Pertama kalinya ketika menraktir teman di hari ultah saya di tahun 2009. Itu artinya, dalam waktu 8 bulan, saya sudah melakukan repurchasing atau pembelian ulang sebanyak minimal 5 kali. Dalam bisnis, salah satu tanda konsumen puas adalah ketika mereka melakukan pembelian ulang.

Saya membawa teman-teman terbaik saya ke tempat ini untuk makan dan ngobrol. Mie ayam adalah menu yang nggak ngebosenin bagi saya. Kalau untuk menu steak, saya bisa cukup puas makan setahun sekali atau dua kali, mie ayam bisa saya santap seminggu sekali kalau lagi doyan.

Saya pernah bilang bahwa Yamie Manis Bandung 59 adalah favorit saya. itu benar. Tapi untuk kesempatan yang berbeda, yamie manis di Mie Ceker Bandung ini lebih cocok. Kesempatan yang seperti apa? Kesempatan makan bersama pasangan, keluarga, dan tamu luar kota. Itu semua karena tempat ini memiliki manajemen yang lebih baik, pilihan menu lebih banyak, tempat lebih bersih, pelayan lebih terlatih, suasana malam yang romantis, dan juga ada 8 kamar (menyatu dengan Monginsidi Guest House) untuk tamu luar kota.

Sekalian info tambahan buat pembaca blog yang ingin sekalian cari penginapan oke, guest house ini memiliki 3 jenis kamar dengan rate Rp275.000 (3 kamar), Rp340.000 (4 kamar), dan Rp380.000 (1 kamar). Belum termasuk pajak dan layanan 15%.

Oh iya, harga mie di sini berkisar antara 10 – 15 ribu (berdasarkan ingatan saya saja). Harga jus rata-rata 9 ribuan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah malam hari karena suasananya lebih hidup dengan lampu2 berwarna hangat. Bukanya dari jam 10 pagi – 10 malam. Ada 48 seat, yang terbagi indoor dan outdoor (dengan meja-meja berpayung).

Selamat mencoba!

Makan @ Jogja [14]: Ramen

Teman-teman saya dari FEB UGM sudah ada 3 orang + 1 orang investor yang memiliki kedai ramen. They are Saiqa, Putro & Galih Baskoro (Hotaru & Hotaru Ramen) and Genny Mirzana Nugraha (Nikkou Ramen). Aku salut dengan keberanian mereka untuk membuka bisnis sendiri dan membuka lapangan pekerjaan buat orang lain.

Seperti yang saya sudah tulis di post terdahulu, saya sudah mencoba ramen di Sakura (Babarsari), Sapporo Ramen (Jakal km10,9), dan Hotaru (Godean). Intinya saya sempat gemar dengan ramen setelah makan miso ramen di Sakura. Sayangnya, rasa miso ramen di kunjungan saya berikutnya, berubah. Saya pun berkesimpulan wah, ramen kok rasanya terlalu hambar ya. Kayanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya lebih suka dengan mie ayam :)

miso ramen di Sentana Bistro -gambar dari blog orang-

Setelah post tersebut dibuat saya mencoba makan ramen di Ramen (Jakal, depan Superindo) dan Sentana Bistro (Jakal, deket Hoka-Hoka Bento). Ramen di Ramen hampir sama dengan ramen lain yang pernah saya makan. Nggak favorit. Tapi kemarin siang saya makan di Sentana Bistro. Stamina ramen yang saya pesan, rasanya biasa saja. Tapi chicken ramen yang dipesan adik bungsu saya, secara mengejutkan RASANYA ENAK! Harganya Rp24.000.

Saya baru 2 kali datang ke Sentana Bistro, tapi saya bisa memuji tempat ini karena beberapa hal, antara lain karena harganya sesuai dengan layanan yang didapat. Untuk setiap pengunjung yang datang akan langsung disuguhi handuk dingin, 1 cup ocha, dan 1 porsi kecil potato salad. Mashed potato-nya seperti dipadukan dengan acar timun dan wortel. Nice! Suasanya dan interiornya cocok dengan harganya. Sebelumnya di Sentana Bistro saya pernah memesan tobiko (telur ikan terbang) sushi dan tempura sayuran (Rp15.000). Sushinya kurang oke, tempuranya lumayan banyak dan mengenyangkan!

Try Sentana Bistro!

Wisata @ Jogja [2]: Pantai-Pantai Berpasir Kuning

Saya baru saja pulang dari liburan singkat ke pantai-pantai Gunung Kidul. Pertama kali diajak ke sana (Pantai Sadranan) sama temen-temen Manajemen UGM 2005 waktu libur Waisak 28 Mei 2010 kemarin. Selanjutnya, jadi ‘ngebet’ nawarin keluarga untuk liburan ke sana.

bukit ber-villa di pantai Sadranan

Seneng banget ketika liat pantai berpasir kuning di Jogja…. Seperti melihat surga (perasaan di 30 detik pertama). Apalagi pantai yang saya kunjungi pertama kali tsb adalah pantai yang masih alami (virgin) alias tidak ada pedagang dan terlalu banyak orang di sana. Kenapa saya lebay begitu? Karena selama ini di Jogja ngeliatnya cuma pantai Parangtritis dan pantai Depok. Pasir abu-abu tua menuju hitam, banyak andong dan kotoran kuda, pantai kurang bersih karena pendatang ninggalin sampah, pantainya banyak pengunjungnya (rame), pedagang banyak, pantai curam, ombak besar (sehingga nggak berani main air).

Adik saya yang kecil baru lulus SD, dan hari Selasa (15/6)  ini dia libur. Maka, kemarin kami merencanakan berangkat ke pantai Sadranan. Walaupun saya tidak tahu jalan, namun karena PD yg tinggi, saya yakin aja bakal nemu dengan modal nanya-nanya dan sedikit ingatan akan jalan ke sana (sebelumnya baru 1 kali ke Sadranan, dan 1 kali kondangan di Tepus).

Kami ber-4 berangkat agak terlambat dari rencana karena packing-nya dilakukan sebelum berangkat. Harusnya mau berangkat (ket: rumah kami di daerah Maguwoharjo, Depok, Sleman)  jam 13.30 karena jam 15.30 adalah waktu yang pas untuk sampai di sana (matahari sudah tidak terlalu terik). Kami berangkat pukul 14.15 dan masih mampir di Mister Burger untuk kepentingan perut dan mulut. Berbekal keterangan dari pak Zulkarnain, pemilik guest house yang akan kami incar, saya berpedoman pada nama pantai Sundak yang lebih terkenal dari pantai Sadranan. Kalau ketemu plang petunjuk jalan, intinya ambil yang ke Sundak.

Setelah memilih jalan yang ke arah Sundak (kiri) dan bukan ke arah Baron (lurus), saya merasa, ini adalah jalan yang belum pernah saya lewati. Waktu ke Sadranan sebelumnya, nampaknya bukan lewat jalan yang ini. Walau agak-agak cemas, saya hanya mencoba memperbaiki keadaan dengan agak ngebut supaya nggak kesorean ketika sampai di pantai. Singkat cerita, pantai Sadranan akhirnya ketemu dengan patokan villa di atas bukit yang sempat saya incar untuk diinapi, namun hasil browsing di internet mengatakan harga semalam di villa tersebut adalah 4 juta rupiah. Ih waaww.

Horeee… akhirnya pantai Sadranannya ketemu juga. Mantap! Memang benar, pantai Sadranan terletak sekitar 500 meter di barat Sundak. Kami sampai di sana sekitar pukul 16.30.

tanaman di villa bukit pantai Sadranan

Agak kecewa sedikit karena langit agak berawan, kurang bersih (kurang biru) dan air laut sedang surut. Karang-karang yang ditumbuhi rumput laut jadi kelihatan. Main air jadi agak susah. Tapi pasir pantai di sana tetep sipp… Kuning, bersih, dan (syukurlah) masih tetap belum ada pedagang. Adik-adik langsung bermain berdua, saya ‘ngebet’ pengen ke villa di atas bukit karang. Mama juga setuju untuk naik ke sana. Singkatnya kami sampai di atas dan ternyata pemandangan dari atas kurang oke karena pemandangan pantai Krakal yang agak rame orang dan udah ada bangunannya. Tidak seindah yang dibayangkan. Villa-nya juga seolah nggak ada yang jagain (at least semacam receptionist gitu). Tapi tanaman di sana terlihat sangat terawat. Ada 2 pondokan dan 1 buah ruang berdinding kaca yang mirip restoran/meeting room. Semuanya terkunci, dan entah di mana pelayannya.

kamar di guest house Kampoeng Baron

Kami cabut dari Sadranan sekitar pukul 18.00 dan mencari guest house Kampoeng Baron. Sempat salah jalan, tapi akhirnya nemu juga. Tidak jauh dari gerbang retribusi kawasan wisara Baron (di mana saya mendapatkan selebaran waktu pergi ke Sadranan sebelumnya). Kami ambil kamar AC double bed dengan 1 buah extra bed. Tempat ini adalah yang terbaik yang bisa kami temukan dan cocok untuk kami. Sebelumnya sempet depresi melihat harga villa yang 4 juta dan hotel-hotel melati yang harganya 20 ribu-an. Tempat ini recommended! Saran: datanglah ber-ramai-ramai bersama teman, karena saat malam tiba, di sana sepiiii banget. Pokoknya kudu ada tim rame-rame. Kalo cuma ber-2 bareng pasangan, ehm… ehm…. kayanya kurang rame. Hehehe

Pagi tadi, kami akhirnya memilih pantai Sepanjang. Ini juga pantai yang oke! Lagi-lagi karakteristiknya sama dengan pantai Sadranan, yaitu masih alami. Jalan masuk memang belum aspal (sama dengan Sadranan). Tidak ada lahan parkir, tidak ada kamar mandi bilas, tidak ada pedagang. Horeeee!!! Dan pagi ini cuma ada 1 orang duduk mancing di sana. Serasa pantai pribadi!!! Senang!!! Pasir di Sadranan memang lebih halus dan bagus, tapi pantai Sepanjang tak kalah bagusnya karena punya batu-batu karang di sisi timurnya. Kami main air dari jam 05:30-07:00. Itulah waktu terbaik bermain di pantai dan tidak gosong.

Pantai Sepanjang

Well well well…. i’m gonna say, those are my favourites in Gunung Kidul. say sorry to Krakal, Baron, and other beaches… I love virgin beaches.

Audris (my first brother)  said that Tanjung Tinggi in Belitong is much better. But i just can say, these are the best beaches we can find in Jogja….. Love them!!!

Makan @ Jogja [13]: Pizza

Mau makan pizza di Jogja? Kota ini punya beberapa alternatif. Pizza Hut sudah masuk ke Jogja sudah agak lama. Gerainya ada 3, yaitu di Malioboro Mall, Jl. Sudirman [Tugu Jogja], dan yang terbaru di Ambarukmo Plaza. Paparons juga sudah ada sini, yaitu di Jl. Sangaji.

17. Nanamia Pizzeria [Jl. Moses Gatotkaca B.13 Gejayan] [pesan lewat telp: 0274-556494]

Ada namanya Nanamia Pizzeria yang posisinya dekat dengan kampus Sanata Dharma Mrican. Mottonya “Traditional Pizza for Modern People”. Gerainya kecil, namun suasananya asyik. Hampir selalu ramai dan hampir selalu ada foreigner di sana. Pizza yang di sini jenisnya adalah pizza klasik yang tipis dan topping-nya fresh. Fresh di sini maksudnya, semua bahan topping yg ditaburkan cenderung masih mentah. Rasanya cenderung sesuai dengan rasa asli topping-nya. Tidak banyak bumbu tambahan. Rasanya cenderung tidak tajam. Rasa enaknya muncul dari lemak pada lumeran keju Mozarella.

saya baru sadar, saya sudah sering ke sana tapi nggak punya foto waktu di sana. Ini foto diambil oleh orang luar, saya pinjam saja

foto minjem dari tempat lain

Jam bukanya, mulai dari jam 13.00. Tutupnya kira-kira sekitar jam 21.00 atau 22.00. Kapasitas ruangan ini kira-kira hanya untuk 34 orang. Pada kunjungan saya yang ke-8 di sana, tanggal 20 Januari 2010, pukul 20.00an malam, seluruh seat penuh, dengan komposisi jenis konsumen: 9 pasang couple, 2 keluarga kecil, 2 peers (bareng temen2). Musik di sini selalu impor, jadi nuansanya agak-agak Eropa dikit (ditunjang dengan adanya beberapa bule di sana). Belom pernah ke sini? Kudu dateng dan coba ya!

Ada beberapa referensi tentang tempat ini, ada yang positif dan ada juga yang cenderung agak negatif. Biar imbang gitu loh, infonya. :)

18. Rumah Pizza [Selokan Mataram, barat Outlet Biru]

Saya baru 3 kali datang ke tempat ini. Terakhir kali bersama Luluk Nastiti, tanggal 12 Agustus 2009. Justru di tempat ini saya punya dokumentasi foto yang agak lumayan. Secara singkat begini isi referensi saya:

Rumah Pizza tampak luar

Rumah Pizza tampak luar

Pizza di sini rotinya enak, toppingnya lumayan, secara keseluruhan pizzanya recommended. Calzone-nya juga recommended. Rasanya masuk hitungan. Hanya saja tempatnya yang nggak oke. Nggak cozy. Toilet sangat buruk, wastafel nggak ada. Pelayanan nggak mantep. Kasir agak jutek. Parkir mobil susah, karena di pinggir selokan. Sangat cocok untuk take away (belum ada delivery service) tapi segera dimakan pizzanya. Nggak disarankan untuk makan di tempat, kecuali nggak butuh suasana & kenyamanan makan. Harga oke. Pilihan minuman terbatas.

Egg Cheese & Smoked Beef Calzone

Ibu saya yang suka pizza karena rotinya, lebih menjagokan tempat ini daripada Nanamia. Mengapa? Karena rotinya lebih tebal (ala Pizza Hut) dan rasa toppingnya lebih familiar (mirip dengan Pizza Hut). Pemiliknya memang mantan pegawai Pizza Hut. Tapi kalau saya, saya lebih menjagokan Musee Pizza di bawah ini.

19. Musee Pizza [Jl. Perumnas Congdong Sari C1, daerah Selatan UPN]

Semalam saya datang ke sini untuk pertama kalinya. Tempat ini bukanya sudah agak lama. Tapi sama dengan Rumah Pizza, tempat ini nggak pernah ramai. Saya senang makan di sini tadi malam. Tempat ini memberikan best value untuk saya sebagai consumer.

suasana Musee Pizza di waktu malam

Saya menyukai Musee Pizza karena beberapa hal: tempat ini lebih baik interior design-nya dibandingkan dengan Rumah Pizza. Dan lebih besar & leluasa daripada Nanamia meskipun nggak ada musik Italianya dan pelayannya juga nggak oke-oke banget. Harga di sini lebih murah daripada Nanamia. Ada pizza ukuran personalnya yang harganya cuma Rp10-12 ribu. Tapi nggak ada pizza ukuran large. Maksimal ukurannya medium. Wow! Suasana dapet, harga oke. Konsumen senang, hahaha. Kekurangannya terletak pada pilihan pizza yang kalah banyak dibanding kedua tempat di atas. Tapi variasinya boleh juga. Mungkin karena sepi, stock fresh fruitnya nggak banyak (atau malah nggak pernah ada lagi). Parkir mudah, rasa topping-nya oke. Kalau Rumah Pizza menang di rotinya, Musee Pizza menang di toppingnya (roti pizzanya agak kurang gosong, kurang mantep). Saya nggak terlalu cocok dengan pizza tradisional ala Nanamia.

Yang saya pesan di sini adalah:

  • Bolognaise Pizza Medium (bisa untuk ber-2 atau ber-3 kalo sedang diet rendah kalori) – Rp22.500 [recommended]
  • Beef Bruchetta (4 pieces) – Rp7.200 [recommended]
  • Orange juice – Rp4.500

lihat bagian rotinya yg kayanya kurang mateng dikiiit... kurang gosong.

Harga di atas adalah harga nett yang saya bayar setelah dipotong diskon 10% (discount all the time). Huahahaha… senang deh. Ayo dong, pada ke sini, biar bisnisnya bisa terus berjalan… Sehingga bisnisnya nggak mati. Jadi, saya tetep bisa makan pizza enak dan murah. Hahahaha

Hmm, demikianlah ulasan tentang pizza-pizzaan…. Sebetulnya masih ada Mozzarello di Galeria Mall. Tapi waktu itu saya baru datang sekali dan makan Deluxe Beef Spaghetti-nya saja. Entahlah dengan pizza-nya. Rasa spaghetti-nya biasa aja sih. Rata-rata :)

Makan @ Jogja [12]: Gama Candi Resto

16. Gama Candi Resto [Jl. Mangkubumi, seberang stasiun Tugu]

Tanggal 12 Desember 2009, saya kedatangan tamu yang ‘hobi’ nraktir mahasiswa ra mutu [baca: ra lulus2] seperti saya. Niat awalnya mau ke pantai Depok, untuk makan ikan. Namun teriknya matahari, absennya rombongan awan menuju arah selatan, dan suhu yang diperkirakan sekitar 33 derajad celcius, membatalkan niat tersebut. Pendek cerita, kami akhirnya makan di Gama Candi Resto.

Bandeng Kropok nan lezat. ditambah sambel jeruk, mantap.

Ini kunjungan saya yang pertama ke Gama Candi, dan kedua untuk si teman yang baik hati dan rajin menabung itu. Dari kunjungan yang baru sekali ini, saya sudah bisa bilang bahwa Gama Candi Resto adalah salah satu aset kota Jogja. Recommended!!! Teman saya memesan dan saya manut. Menu yang dipilih adalah:

  • Bandeng Tambak Kropok [recommended] – Rp35.000
  • Kerang Dara Goreng
  • Ca Brokoli [recommended]

Nah, karena saya tidak membayar bill-nya, maka saya hanya bisa mengambil data harga dari sumber sekunder. Saya perkirakan, untuk makan satu orang di tempat ini siapkanlah minimal Rp50.000 per orang. Oh ya, Bandeng Tambak Kropok-nya itu jempol banget. Enakk!!! Nggak bo’ong. Rasanya mantap, tanpa duri pula… Sip. Brokolinya dimasak dengan baik, sehingga warnanya masih hijau bagus, namun matang. Chef-nya kukasi dua jempol deh. Kerangnya, ehm… cenderung biasa saja.

Waah, jadi pengen nyoba menu lainnya, kalo ada yg mau nraktir (berharap ditraktir ibu). Tempat ini, kapasitasnya lumayan besar (perkiraan sekitar 100-150 orang). Ada tempat yang outdoor, ada yang indoor. Desain tempatnya bagus. Menyenangkan!

Bawa tamu ke sini, pasti tidak mengecewakan. Datang bersama keluarga adalah yang paling tepat.

Sebagai info saja, tadi yang masuk ke situ adalah orang-orang bermobil yang well-dressed. Hanya saya dan teman saya yang masuk kaya anak kesasar. Pakai sendal jepit dan kaos oblong. Hahaha. Yang disayangkan cuma satu, tadi AC menunjukkan angka 16 derajad celcius, tapi saya merasa suhu di dalam ruangan itu sekitar 29 derajad celcius. Jogja is sooo hottt!!! Hahahaha

Gama Candi, rocks!!!!

Wisata @ Jogja [1]: Membuat Keramik, Tatah Ukir, Batik dan Kulit

Sebagai warga Indonesia yang memiliki nasionalisme [halah... PPKn banget---sekarang PKn] dan warga Jogja yang berniat mendukung pariwisata dan industri kreatif di sini, maka….. jreng jreng jreng. Mulai skarang, aku akan posting tentang wisata-wisata alternatif yang bisa dilakukan di Jogja. Bosen ke Kaliurang, Mirota Batik, dan Malioboro??

Kali ini pengen belajar bikin keramik??? Anda bisa datang ke Tirta 9 Craft.

Hub: Candra di 0857 3951 6973

Di bawah ini, bisa diliat info mengenai tarif kelas yang ditawarkan… Enjoy Jogja! Jogja bukan hanya cuma Malioboro…. :)

brosur

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.