Pintar dan Sukses ala Indonesia

Saat ‘menggelandang’ di stasiun Sudirman tadi malam, saya menonton Kick Andy. Episode yang disponsori Djarum ini diberi judul Demi Prestasi Sang Buah Hati. Talkshow-nya menyorot tentang dukungan orang tua untuk anaknya yang ingin menjadi atlet.

Sebagai orang Indonesia, kita sama-sama tahu. Menjadi atlet bukanlah cita-cita yang lazim.

Cita-cita yang lazim itu jadi dokter, engineer, CEO, manajer, akuntan, guru/dosen, ahli IT, dan PNS.

Jadi penyanyi rock, pesulap, penari, seniman, olahragawan, ahli sastra daerah, ahli sejarah bukan hal yang membanggakan bagi sebagian besar orang tua di Indonesia. Mungkin tidak hanya di Indonesia. Film 3 Idiots memberitahu orang Indonesia, bahwa di India itu pun terjadi. Di Amerika pun setahu saya, ada profesi-profesi yang dianggap lebih tinggi dan terhormat daripada profesi lainnya (misalnya lawyer & wealth/finance manager)

Setelah Herman menonton 3 Idiots (dan saya baru nonton 1 part di Youtube). Dia beberapa kali membawa topik ini ke dalam pembicaraan kami. Maka, bergulirlah pembicaraan tentang hal ini. Tentang menjadi diri sendiri. Tentang mengejar jati diri. Mengejar passion hidup. Tentang ‘aku mau jadi apa’.

Sama seperti pendukung gerakan go green yang terus mendengung-dengungkan supaya orang mulai bergerak aktif mengubah gaya hidupnya kembali mencintai alam. Sama seperti Rene Suhardono yang terus mendengungkan agar orang menyadari bahwa orang perlu menemukan passion hidup dan mengejarnya sampai mati. Sama seperti Yoris Sebastian yang memiliki keyakinan happynomics dan meyakinkan pemuda-pemuda untuk bekerja dengan happy. Saya dengan post ini ingin menyambung semangat ini. Mengangkat tema ini supaya semakin banyak orang diteguhkan, bahwa orang pintar adalah orang yang mengenal dirinya dan memilih jalan yang sesuai dengan bakat dan kesenangannya.

Tuhan menciptakan manusia begitu beragam. Orang memiliki hobi yang berbeda-beda, bakat yang berbeda-beda. Untuk apa? Untuk menciptakan dunia yang utuh dengan segala bagian-bagiannya. Manusia hanyalah satu bagian dari sekian milyar* komponen alam. Seorang manusia juga hanya memegang 1 bagian dari tugas semua manusia. Mengapa harus menjadi pintar dan sukses dengan ukuran yang bukan dibuat untuk anda?

Di Indonesia, orang yang disebut pintar itu terbatas pada yang jago eksak (exact science).

Kalau di tingkat sekolah menengah atas (SMA), yang pintar adalah yang masuk ke kelas IPA. Anak IPS konotasinya adalah buangan, apalagi kelas Bahasa. Hal itu membuat orang Indonesia secara tidak sadar, menempatkan kemampuan eksak sebagai indikator dari predikat PINTAR. Saya ingin bertanya, apakah hal itu fair? Anak yang pintar menari seperti Brandon ‘Indonesia Mencari Bakat (IMB), andaikan dia ngitungnya lemot, terus dia nggak boleh dibilang sebagai anak pintar? Joe Sandy dari acara pencarian magician berbakat, The Master dibilang pintar karena dia jago menghitung. Perhatikan hal ini. Kata pintar menjadi identik dengan kemampuan menghitung dan logika. Betapa miskinnya kata itu.

Brandon IMB

Fakultas Kedokteran dan Teknik juga merupakan yang favorit di Indonesia. Mengapa? Karena pride. Orang pintar akan berebut masuk ke fakultas-fakultas tersebut. Berhasil masuk dan lulus dengan predikat cum laude dari fakultas itu, orang tua dijamin akan bangga. Kebanggan orang tua (yang tidak moderat) menjadi begitu terbatas. Mengapa nggak bisa bangga kalau anaknya jago balap motor seperti Doni Tata dan jago nge-rock seperti Ahmad Dhani?

Setahu saya, semua org ingin menjadi pribadi yang unik. Tapi anehnya, mereka ingin dinilai pintar dengan parameter yang sama: jago logika, jago ngitung. Juga mau diukur kesuksesannya dengan indikator yang sama: kesuksesan finansial.

(Aurelia Claresta - 14 September 2010 10:17 – bus Trans Jakarta, halte Bank Indonesia)

Kenapa orang tua bisa bangga kalau anaknya jadi dokter yang lulus cum laude yang tidak bahagia karena lebih suka mengutak-atik komponen elektronik? Bukankan ini adalah sesuatu yang salah?

Tokoh Keenan dalam buku Perahu Kertas-nya Dewi ‘Dee’ Lestari adalah contoh dari anak yang bisa dapat nilai terbaik di Fakultas Ekonomi namun jiwanya hidup di kegiatan melukis. Memang Keenan adalah tokoh fiksi. Namun, saya yakin, tidak sedikit Keenan-Keenan lain di Indonesia, yang tidak bisa memilih jalan hidupnya, tapi dipilihkan orang tuanya. Orang tua seperti itu adalah pembunuh. Pembunuh ‘semangat hidup’ dari diri anaknya. Tapi biasanya mereka merasa melakukan hal itu demi kebaikan si anak. Demi kesuksesannya. Sekali lagi, SUKSES diukur dengan hal yang tidak tepat: kemapanan secara finansial.

Seniman miskin saya rasa akan lebih bahagia daripada direktur kaya yang terkungkung pekerjaan di kantor padahal jiwanya ada di tempat lain. Toh “manusia tidak hanya hidup dari roti saja”, kan? Seringkali ada masa dimana makanan bagi jiwa itu lebih penting daripada makanan bagi tubuh.

Kesuksesan hidup seseorang bukan ditentukan seberapa banyak uang yang ia dapat, seberapa tinggi jabatannya, seberapa famous kenalan-kenalan dan rekan kerjanya. Kesuksesan hidup menurut saya, terjadi ketika orang itu berhasil menunjukkan karyanya, yang terjadi karena ia begitu mencintai dan memperjuangkan apa yang ia kerjakan. Kecintaan dan perjuangan itu akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Penemuan-penemuan luar biasa di abad ini, lahir dari orang-orang yang mencintai apa yang ia lakukan (baca: kerjakan).

Nugie

Mia Thermopolis, tokoh dalam serial The Princess Diaries di masa remajanya akhirnya menemukan dirinya sebenarnya memiliki bakat, yaitu bakat menulis. Awalnya dia merasa dirinya biasa-biasa saja dan tidak berbakat. Semua orang pintar dengan caranya sendiri-sendiri. Dan semua orang bisa sukses jika ia mengikuti Lentera Jiwanya.

Sebagai penutup, bagi yang belum pernah, saya ingin anda melihat video klip Lentera Jiwa dari Nugie (saran saya, nontonnya full screen aja).

Kalau masih kurang, ini saya punya link video 1 lagi.

catatan: *sebenarnya penggunaan kata milyar ini tidak tepat, cuma kalau saya pake istilah kuadriliun dan kuantiliun nanti yang baca mabok.

Supernova Petir

Saya akui, saya terlambat enam tahun dalam membaca novel ini. Saya bahkan lebih dulu membaca Perahu Kertas daripada si Petir ini.

Menurut saya, Petir ini jayus, aneh, dan konyol. Semua karena si tokoh utamanya memang ditakdirkan berperilaku seperti itu; Elektra Wijaya. Saya tetap lebih suka Supernova buku pertama: Putri Ksatria dan Bintang Jatuh. Sedangkan Akar saya rasa juga aneh dan mistis. Hahaha. Susah kumengerti.

Anyway… walaupun novelnya demikian, ini adalah petikan quote yang saya mau bagikan.

Orang yang menukar jiwanya sama duitlah yang bikin duit punya nyawa (Toni/Mpret – hlm.122)

Pekerjaanmu kelak hanya penyambung nafkah, sebesar apapun kamu mencintainya, jangan takut untuk meninggalkan semua itu bila saatnya datang. Jangan ragu. Dirimu lebih besar dari yang kamu tahu (Ibu Sati – hlm.107)

Janji pada diri kamu sendiri. Janji pada orang lain adalah janji yang paling mudah dilalaikan (Ibu Sati – hlm.106)

Besok pagi, bayangin, lu bangun dan satu dunia sepakat kalo uang itu nggak ada. Bisa? Pasti bisa. Uang bisa hilang dalam sedetik. Tapi coba lu bayangain, lu dan dunia sepakat kalo rasa bahagia itu nggak ada… cinta itu nggak ada… bisa? (Toni/Mpret – hlm.123)

Buku: Your Job Is Not Your Career

Buku ini adalah buku yang membuat saya tidak meneruskan seleksi lewat TPA dan Tes Bahasa Inggris (TOEFL Test) untuk beasiswa MM UGM. Awalnya agak sayang mengeluarkan Rp72 ribu untuk sepaket buku (mengingat si pembeli adalah orang yang belum bisa men-generate money sendiri), tapi setelah membaca, harga itu adalah harga yang murah untuk saran yang begitu berharga untuk hidup saya :)

Buku ini saya beli dan baca 1 bulan lebih yang lalu. Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Rene Suhardono karena telah membuat buku ini. Saya sangat gembira, ada buku Indonesia yang bagus seperti ini. I really love my nation. Buku ini menarik untuk dibawa ke kassa dan dibawa pulang karena judulnya yang catchy. Sampulnya yang clean dan simple.

I do believe, cover is important to make a book successful. (Aurelia Claresta Utomo)

Cover yang bagus menunjukkan bahwa buku itu digarap serius. Tidak hanya hal besar yang dipikirkan, tapi sampai ke hal kecilnya sekalipun. Namun, hal yang paling esensial dari sebuah buku tentunya adalah isinya. Makanya ada kutipan yang (sangat) terkenal: Don’t judge the book from its cover. Bisa jadi, cover bagus, isinya jelek. That’s also right.

Buku ini layout dan ilustrasinya ‘aku suka banget’. Sangat ringan untuk dibaca, mudah dimengerti, hal simple bisa diulas dengan teknik-teknik tertentu sehingga tetap menarik dan tidak terasa terlalu ringan. Bagi saya, itu menunjukkan tingkat intelegensi dan taste yang baik dari si penulis.

Rene mengatakan bahwa hidup orang seringkali terbawa arus sehingga begitu dangkal. Menjalani hidupnya tanpa kekritisan. Salah satu kekritisan yang perlu adalah kekritisan untuk menentukan: dalam hidup yang cuma sekali, apakah kamu sudah bekerja sesuai dengan passion-mu?

Bisakah anda menjawab: apa passion-mu?

Rene menulis buku ini untuk menolong orang lain agar jangan sampai orang tidak bahagia dengan pekerjaannya namun tak kunjung mencari pekerjaan baru karena: terikat oleh jumlah gaji, terikat oleh jabatan tinggi, terikat oleh kenikmatan fasilitas kantor, dsb. Setiap orang harusnya menemukan kebahagiaan atau kepenuhan hidup dalam pekerjaannya. Kebanggaan atas hal-hal lain seperti: posisi, gelar, gaji, fasilitas, dll adalah semu.

Passion – It is (NOT) what you’re good at. It is what you enjoy the most (Rene Suhardono Canoneo)

Passion adalah energi. Ketika kita memilih pekerjaan yang menjadi passion kita, maka kita nggak pernah ingin menunda pekerjaan kita, karena kita menyukainya. Get it? Jadi, apa kamu sudah bekerja sesuai dengan passion-mu? Kamu suka dengan apa yang kamu kerjakan sekarang?

Ini buku yang bagus, kalau tidak bisa dibilang sangat bagus (menurut saya: sangat bagus). Nggak perlu banyak kata lagi untuk merekomendasikan buku ini. Just read it as soon as possible! Sooner is better.

Ngomongin Busway

Banyak cerita seputar angkutan umum bus TransJakarta. Selama stay di Jakarta, saya selalu mengandalkan TransJakarta untuk wira-wiri ke sana-ke mari. Syukurlah sampai sekarang saya masih memanggilnya dengan nama aslinya, TransJakarta. Saya belum berhasil tercemar dengan penggunaan nama ‘busway’ ala orang Jakarte.

Di suatu malam, perjalanan pulang ke kos teman di Dukuh Atas, saya tak tahan untuk tidak tersenyum ketika seorang bapak tua mengangkat telepon-seluler-tahun-jebotnya dan mengatakan pada lawan bicaranya “gua lagi di biswai”. Ya ampun, how come namanya bisa berubah begitu? Busway masih oke, lah ya. Biswai? Sejenis pawai atau tetangganya Hawaii? Sungguh menyesal saya tidak bisa menahan senyum nggak sopan saya. Maafkan saya, Pak… Saya ‘sok kota’ dan ‘sok terpelajar’ (agak menyesal).

Kembali dengan kebiasaan orang-orang menyebutnya busway. Temen-temen Jogja saya yang sudah jadi orang Jakarta (kerja dan mulai menetap di Jakarta) juga sudah memanggilnya busway. Memang melawan arus itu nggak mudah. Lagian, ngapain juga ngelawan arus. Toh semua orang juga ngerti, apa itu busway.

Trus, kenapa saya masih terus bilang “TransJakarta” kalo ada yang nanya “nanti mau ke sana naik apa?”? Simple. Karena kendaraan itu nggak pantes disebut busway. Anak TK ato SD juga tau kalau bus way itu kalau diartikan ke bahasa Indonesia, artinya jalan bus. Penulisannya pun dipisah: bus (spasi) way, dan bukan busway. :) Kenapa saya seolah ngotot? Ya karena menurut saya ini adalah bukti kekonsistenan. Mengapa saya harus benar dalam memilih kata interesting dan interested, kalau saya sudah salah menyebut bus dengan bus way?

Hey hey hey, saya nggak berdiri menantang sekian juta manusia Jakarta, yang nyebut bus TransJakarta sebagai busway ya…. Saya hanya menjelaskan, kenapa saya berperilaku beda. That’s all… Saya nggak niat nyolot dengan tulisan ini. Saya pendamai. Ga suka cari ribut. Ribut itu adalah kegiatan yang nggak menghasilkan keuntungan dan cuma menyerap habis ketenangan hati (yg mahal harganya).

Saya rasa, masyarakat juga nggak salah kalo menyebut si bus sebagai busway. Kenapa? Karena dari penyedia jasa sendiri seolah menamai diri busway. Terlihat di ruas jalan bus TransJakarta, plang hijau bertuliskan ‘jalur khusus busway’. Ada plang merah bergaris putih (tanda dilarang masuk/dilarang lewat) dengan tambahan kata-kata ‘kecuali busway’. Terdengar rekaman suara wanita di dalan bus, ‘terima kasih, sudah menggunakan jasa bus TransJakarta, busway’. Heleh-heleh…. Ya pantes aja semua orang jadi manggil si bus sebagai busway.

Saya mikirnya sih gini, Jakarta kan banyak bule-nya ya. Cerita tentang busway ini mungkin juga jadi oleh-oleh buat semua kerabat, teman, sodara di negara asal. Bahwa di Indonesia (maksudnya Jakarta, tapi sapatau nama Indonesia yg dibawa-bawa) bus way adalah nama kendaraan :)

Kejadian ini lucu, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang paling populer di Jakarta (dan Indonesia). Anak muda gaul, kaum eksmud, sosialita-nya bahkan lebih bagus dalam menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. So fluent… Mereka seringkali mengerti istilah Inggrisnya, tapi susah untuk menemukan kosa kata Indonesianya. :) Pertanyaannya: “Bagaimana mereka bisa salah pakai begitu ya?,” mungkin begitu kira-kira pikir para bule itu.

Syukurlah di Jogja, namanya masih TransJogja. Karena ga pernah ada plang dan semprotan cat di aspal yang menuliskan ‘busway’. Good job Jogja…. Hehehe :)

17 Agustus, Bendera, dan Upacara

Kemarin siang, dalam perjalanan menuju sebuah rumah di bilangan Kota Gede, saya terhenti oleh lampu lalu lintas. Dua orang pedagang asongan langsung beraksi ketika lampu hijau mati dan lampu merah menyala. Satu hal yang saya perhatikan adalah, barang dagangan mereka. Salah satu dari pedagang itu lewat di samping kiri saya dan membawa bendera-bendera kecil hiasan kaca mobil. Ya ampun, sudah dekat lagi dengan perayaan kemerdekaan Indonesia. Bikin saya berpikir, ini tanggal berapa, sih? Ehm, ya… tanggal 21 Juli. Waktu terasa cepat berlalu. Tahun 2010 sudah masuk ke semester keduanya….

Membicarakan kemerdekaan dan peringatannya. Saya tidak merasa bersalah karena tidak ingat, tahun ini Indonesia sudah berumur berapa ya. Tapi saya lebih merasa bersalah karena saya belum memberikan banyak hal pada Indonesia.

Awal tahun ini saya baru lulus kuliah. Hingga saat ini belum memiliki pekerjaan kantoran (baca: akhirnya saya memutuskan saya ingin bekerja kantoran). Dan saya masih terus geregetan dengan kebelummampuan saya untuk menyumbang suatu hal baik bagi negara ini.

Dua malam yang lalu saya ingat, saya menonton acara televisi Metro 10. Temanya adalah 10 wanita inspirasional Indonesia. Saya tidak sempat duduk lama dan menyaksikan semuanya. Namun, setidaknya saya sempat melihat profil singkat 5 orang wanita tidak terkenal yang sudah berbuat sesuatu untuk negaranya. I wanna be one of them, one day.

Life is not about how rich you are, but about how worthy your contribution for others – Aurelia Claresta U

Saya jadi teringat 6 tahun lalu, saya mewawancarai Vincent Liong yang dulu bagi saya cukup fenomenal karena memiliki forum milis atas namanya waktu dia masih duduk di bangku SMA. Waktu itu dekat dengan momen sumpah pemuda. Saya mewawancarai dia, untuk mengisi rubrik SOSOK pada majalah AGAPE, yang dibuat kelas saya (baca: 3 IPA) untuk perlombaan majalah kelas. Dia mengatakan, upacara-upacara itu nggak perlu lah. Tapi kalau semacam pawai dan karnaval masih oke (saya rasa karena ada nilai budaya dan jadi hiburan masyarakat juga). Tentu maksudnya adalah kita nggak perlu terjebak dalam suatu kesibukan yang hanya sifatnya hanya simbolik. Lebih baik berbuat sesuatu yang mengharumkan nama bangsa, berguna bagi orang banyak, dsb.

Hari Minggu siang yang lalu (18/7) saya sempat menonton tayangan ulang Kick Andy “Tiada yang Tak Mungkin” yang menampilkan Renald Khazali, Azyumardi Azra, dan Yohanes Surya. Tema talkshownya adalah mengenai orang sukses dan bisa bersekolah tinggi karena beasiswa. Dari ketiganya, saya memberikan apresiasi yang tinggi, standing applause kepada Yohanes Surya. Ia adalah orang yang tergerak untuk menjadi pengajar bagi anak-anak Indonesia yang berbakat di bidang fisika. Dan yang membuat saya terharu adalah ketika dia mulai mencari bakat-bakat dari pedalaman Papua. He is someone for Indonesia. He is a legend, for sure. Sangat bersyukur di dunia ini ada orang-orang yang inspiring seperti dia.

Satu catatan saya. Jangan lihat bahwa karena dia memiliki talenta kecerdasan, kemudian dia bisa menjadi seperti itu. Sama sekali bukan. Yohanes Surya juga punya kelemahan. Waktu melamar beasiswa ke jenjang S2 di Amerika, ia harus pintar-pintar mengakali bagaimana menutupi nilai TOEFLnya yang hanya 415. Berkat usaha kerasnya yang tidur hanya 3 jam sehari (pukul 23:00-02:00) ia bisa lulus tes untuk langsung loncat ke program Ph.D (karena beasiswa S2 mensyaratkan ia harus mengajar padahal bahasa Inggrisnya sangat terbatas, maka ia mencari cara agar mendapat beasiswa tanpa harus mengajar). Kembali ke penekanan saya di atas. Yohanes Surya menjadi someone bukan karena kejeniusannya. Tapi, terletak pada kerelaannya berbagi ilmu bagi kepentingan anak-anak Indonesia. Kerelaannya untuk mendedikasikan waktu yang bisa dia nikmati sendiri dengan keluarga. Kerelaan melepas kesempatan tinggal di Amerika dengan green card yang sudah di tangan. Kerelaan untuk tidak menikmati sendiri apa yang dia punya.

Demikianlah hidup yang benar-benar hidup. Demikianlah hidup yang layak untuk dijalani. :)

Saya ingin memberi gambaran atas apa pesan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Ada seorang yang mengikuti upacara bendera pada tanggal 17 Agustus dengan khidmat. Namun begitu upacara selesai, ia kembali kepada hidup sehari-harinya yang membuang sampah sembarangan di jalan (dengan asumsi, nanti ada yang nyapu). Ia tidak pernah mau memberikan jalan bagi pengendara lain yang mau pindah jalur di kemacetan. Ia menempel poster di dinding-dinding ruang publik untuk kepentingan organisasi maupun acara yang diselenggarakannya. Ia terbiasa menunjukkan ia berada di kelas sosial tertentu dan ‘nggak level‘ dengan orang-orang ‘kampungan’. Pun tidak mau memberikan tempat duduknya untuk penumpang kendaraan umum yang lebih pantas duduk. Ah…. lebih baik menjadi kebalikannya. Nggak upacara tapi benar-benar berusaha untuk menciptakan lingkungan dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik, hari ke hari.

Saya juga ingin menyerukan, kalimat yang tidak tiap tahun saya ucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga rakyatmu semakin makmur dan maju kehidupannya.

NB: Ehemmm…. tau kan, dirgahayu artinya apa? Yak! Dirgahayu artinya berumur panjang  *ngedip sebelah mata

Makan @ Jakarta [2]: Sushi Tei

2. Sushi Tei (Plaza Senayan, MKG, dll)

Keluarga saya ada di Jogja. Di Jogja nggak ada sushi oke. Jadi, Jakarta agak identik dengan memenuhi hasrat makan sushi. Hehehe. Maklum ya, wong ndeso.

Melalui official web-nya, saya jadi tahu bahwa Sushi Tei asalnya dari negara tetangga, Singapura. Satu hal yang membuat Sushi Tei menjadi bisnis yang sangat baik adalah karena value-nya yang tinggi di antara restoran sushi dan makanan jepang lainnya. Apa yang menentukan value? Value dihitung dengan cara membagi benefit dengan harga. Semakin tinggi benefit, semakin rendah harga, semakin tinggi value yang didapat oleh para konsumen. Sushi Tei menawarkan sushi dalam porsi yang kecil-kecil, sehingga harganya pun jadi makin terjangkau. Selain itu, Sushi Tei memiliki Kaiten Sushi / kereta sushi. Sushi dengan piring-piring kecil diletakkan di roda berjalan yang mengelilingi open kitchen dan para chef. Pemandangan yang menarik dan menggiurkan.

Saya baru 2 kali makan di sini. Keduanya bersama Herman ^_^. He knows that i love sushi so much. He treated me sushi three times, if i’m not mistaken.

Apa yang menjadi favorit saya di sini?

Saya suka sekali sushi dengan tobiko (telur ikan terbang) yang banyak dan mayonaisse yang bikin sushi terasa maknyus. Oleh karena itu, saya nggak akan absen untuk memesan Kanimayo Tobiko Maki.

Kanimayo Tobiko Maki

Herman menyukai sushi yang berisi ikan yang dicampur dengan cacahan kacang mede/mete. Namanya Stamina Maki. Saya rasa ini juga pilihan yang bagus. Nice!

Stamina Maki

Selanjutnya, auntie Tien (my auntie from mom) mencoba sushi mentah ter-oke yang pernah saya coba. Selama ini kalau makan sushi mentah suka kecewa. Hambar atau nggak fresh. Namanya Rainbow Roll Set (Rp65.000). Next time harus makan ini lagi :)

Rainbow Roll Set

Ayo makan sayur! Bosen dengan sayur yang itu-itu aja? Mari makan salad di Sushi Tei. Saya mencoba salad ini. Saya tidak ingat namanya. Yang pasti salad ini terdiri dari irisan wortel, selada keriting, dan 2 jenis rumput laut. Yiha!! Nice try!

Salad dengan nama yang rumit

Masih belum kenyang? Salah satu kesukaan saya adalah tuna. Kali ini, sushi yang dibungkus nori dan atasnya penuh dengan tuna. Sluurrrpp.

Saya tidak ingat namanya. Mungkin Tuna Roll?

Dessert yang lumayan. Bikin acara makan makin asyik.

Ice cream with ogura (forget the commercial name)

Chocospoon (Rp20.000)

Makan sushi paling enak beramai-ramai. Karena bisa comot sana comot sini. Cicip banyak jenis sushi yang tidak mungkin dilakukan kalau datang sendirian (baca: 2 atau 3 menu sudah kenyang). Kalau datang ber-4, bisa coba 7-10 menu :) Asyik kan…. Makanya, jangan sendirian datang ke sini. Rugi. Sepi… Kurang asyik…

Semua foto makanan ini diambil dengan kamera Canon Ixus 970IS milik ibu saya. Yang motret siapa? Ya saya, dong. Hehehe.

Belum pernah ke, Sushi Tei? Agendakan sekarang! :) Dijamin happy

Makan @ Jogja [12]: Gama Candi Resto

16. Gama Candi Resto [Jl. Mangkubumi, seberang stasiun Tugu]

Tanggal 12 Desember 2009, saya kedatangan tamu yang ‘hobi’ nraktir mahasiswa ra mutu [baca: ra lulus2] seperti saya. Niat awalnya mau ke pantai Depok, untuk makan ikan. Namun teriknya matahari, absennya rombongan awan menuju arah selatan, dan suhu yang diperkirakan sekitar 33 derajad celcius, membatalkan niat tersebut. Pendek cerita, kami akhirnya makan di Gama Candi Resto.

Bandeng Kropok nan lezat. ditambah sambel jeruk, mantap.

Ini kunjungan saya yang pertama ke Gama Candi, dan kedua untuk si teman yang baik hati dan rajin menabung itu. Dari kunjungan yang baru sekali ini, saya sudah bisa bilang bahwa Gama Candi Resto adalah salah satu aset kota Jogja. Recommended!!! Teman saya memesan dan saya manut. Menu yang dipilih adalah:

  • Bandeng Tambak Kropok [recommended] – Rp35.000
  • Kerang Dara Goreng
  • Ca Brokoli [recommended]

Nah, karena saya tidak membayar bill-nya, maka saya hanya bisa mengambil data harga dari sumber sekunder. Saya perkirakan, untuk makan satu orang di tempat ini siapkanlah minimal Rp50.000 per orang. Oh ya, Bandeng Tambak Kropok-nya itu jempol banget. Enakk!!! Nggak bo’ong. Rasanya mantap, tanpa duri pula… Sip. Brokolinya dimasak dengan baik, sehingga warnanya masih hijau bagus, namun matang. Chef-nya kukasi dua jempol deh. Kerangnya, ehm… cenderung biasa saja.

Waah, jadi pengen nyoba menu lainnya, kalo ada yg mau nraktir (berharap ditraktir ibu). Tempat ini, kapasitasnya lumayan besar (perkiraan sekitar 100-150 orang). Ada tempat yang outdoor, ada yang indoor. Desain tempatnya bagus. Menyenangkan!

Bawa tamu ke sini, pasti tidak mengecewakan. Datang bersama keluarga adalah yang paling tepat.

Sebagai info saja, tadi yang masuk ke situ adalah orang-orang bermobil yang well-dressed. Hanya saya dan teman saya yang masuk kaya anak kesasar. Pakai sendal jepit dan kaos oblong. Hahaha. Yang disayangkan cuma satu, tadi AC menunjukkan angka 16 derajad celcius, tapi saya merasa suhu di dalam ruangan itu sekitar 29 derajad celcius. Jogja is sooo hottt!!! Hahahaha

Gama Candi, rocks!!!!

Gaji PNS Naik???

Saya baru baca berita tentang kenaikan gaji PNS dan TNI/Polri dalam RAPBN 2010. Dengan sejujur-jujurnya saya mengaku senang. Mengapa senang? Toh saya belum bekerja, bukan PNS, apalagi TNI/Polri. Ibu saya juga bukan pegawai pemerintah. Nggak ada hubungannya blas terhadap keuangan pribadi saya. Hahaha.

Mengapa saya senang? Karena dengan adanya kenaikan gaji ini, semoga kinerja para pegawai pemerintah ini menjadi lebih baik. Sebenarnya begini, gaji naik 5% nggak akan sekonyong-konyong meningkatkan kualitas kerja. Tapi, kalau gaji pegawai pemerintah semakin baik, maka akan berdampak pada seberapa baik pemerintah akan mendapatkan pegawai baru dari lulusan-lulusan terbaik negri ini. Lulusan terbaik di universitas saat ini tentunya nggak berharap bisa menjadi PNS kan. Mereka akan berusaha mendapat pekerjaan yang menawarkan gaji setidaknya di atas 2,5-3juta. Ehm, ya sebaiknya sih mendapatkan pekerjaan di perusahaan minyak yang gajinya bisa mencapat 7 jutaan. Angka barusan merupakan angka bagi lulusan S1 saya dan teman-teman di Ekonomi. Bagi mereka yang dari teknik, tentunya bisa mendapatkan belasan juta sebagai gaji pertama di perusahaan minyak.

Jika orang sudah mendapatkan gaji yang cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sebagai masyarakat urban, saya rasa hanya mereka yang serakah yang kemudian masih mau korupsi. Tapi kalau gaji pokok seorang bapak 2 anak misalnya masih berada di angka 1.5 juta, ya wajar lah masih nyari sampingan, ya nilep-nilep dikit lah… bisa dibilang korupsi kecil-kecilan. Oleh sebab itu, gaji tinggi merupakan salah satu hal yang dapat memperbaiki kinerja pemerintah kita. Secara bertahap, HRD di departemen-departemen pemerintah harus memperbaiki sistem remunerasi dan kemudian memilih pegawai-pegawai baru yang bisa bekerja lebih efisian.

Singapura sudah lama terkenal sebagai negara yang membayar pegawai negri dengan gaji setara dengan swasta. Hal ini membuat pemerintah mereka menjadi efisien dan terbilang cukup bersih dari korupsi. Dari sini saya tahu bahwa gaji pegawai negri di Singapura per November 2007 adalah 2.330 dolar Singapura atau kalau dikurs-kan sekitar 16 juta Rupiah per bulannya. Bonus akhir tahunnya sebesar 2.5 kali gaji sebulan. Mantap ya….

Kalau begitu, semua juga pengen kerja di pemerintahan. Pasti rasa nasionalis-nya meningkat pesat. Semua [makin] pengen kerja di pemerintahan. Hohoho

sumber gambar

Mengapa banyak kekerasan di Indonesia?

Mungkin klip ini bisa menjawab sedikit….

Gambar diambil dari sini

Sedikit tentang sinetron Melati untuk Marvel

Tidak sedikit orang Indonesia sendiri yang sebal dengan sinema elektronik (sinetron) Indonesia. Sinetron Indonesia punya cap dan citra yang buruk. Mulai dari sisi cerita yang nggak bermutu karena sistem syutingnya kejar tayang. Kemudian, cerita bisa panjang sekali dan bertele-tele, bisa ratusan episode. Kadang kala, iklan juga memperparah situasi karena durasi iklannya lama sekali, bisa 5 menit. Pun banyak kekerasan yang disuguhkan, misalnya dalam bentuk kata-kata kasar dari tokoh antagonisnya.

Tadi malam, saya dan seorang teman perempuan saling bertukar kelakar mengenai sinetron Melati untuk Marvel. Saya jadi ingat, seorang teman kami berdua pernah meledek teman perempuan ini karena menyukai sinetron Melati untuk Marvel. Kenapa diledek? Karena dari info Facebook, dia menyebutkan acara TV favoritnya adalah Oprah, Bioskop Trans TV, dan Melati untuk Marvel. Tentu ini lucu, karena penyuka Oprah biasanya cenderung tinggi selera tontonannya, lha kok ini malah nonton sinetron.

Karena dibahas itulah, saya jadi lebih memperhatikan sinetron itu. Saya pun bisa menyetujui, bahwa Melati untuk Marvel cukup bisa diacungi jempol dalam kapasitasnya sebagai sinetron, walau masih bisa saya cela dalam beberapa hal.

Mengapa saya puji?

Sinetron biasanya menampilkan tokoh baik dan tokoh jahat. Yang baik sangat baik dan tidak jahat. Yang jahat tidak ada sisi baiknya. Hahaha… Contohnya mungkin seperti dalam kisah Cinderella, atau sinetron Alisa, di mana Nia Ramadani digambarkan sangat licik dan nggak punya sisi positif. Jahaaat melulu. Tapi di Melati untuk Marvel, peran antagonisnya sangat wajar. Ada Dika (Fendy Chow) yang bisa sebal dengan istrinya, namun bisa jadi baik juga. Dika juga digambarkan seperti “nenek sihir ala cowok” cerewet dan suka nyusahin karyawannya (terutama Marvel). Namun di sisi lain, Dika juga sayang sama adikknya (Melati), care dengan istrinya (Aurel). Namun ada sisi-sisi manusiawinya juga, yaitu sempat khilaf karena menghamili mantan pacarnya, Shafa.

Sinetron ini alurnya baik dan sangat natural. Scene-scene-nya sangat masuk akal. Beda dengan sinetron Alisa yang beberapa kali ceritanya nggak masuk akal. Salah satu yang saya ingat adalah ketika Natasha (Nia Ramadani) menuangkan sebotol pemutih pakaian ke ember cucian Alisa. Digambarkan Alisa kemudian terkejut karena air cuciannya kok panas.

Apaaaa??? Panas? Kalau seember cucian diberi pemutih pakaian sebotol, harusnya baunya aja udah kecium dong… Nggak pernah nyuci, ya om sutradara (atau penulis skenario)??? Please deh…..

Kembali ke Melati untuk Marvel. Walau bisa sedikit dipuji, tapi sinetron ini juga masih kurang oke. Karena seperti penyakit sinetron Indonesia lainnya, yaitu melupakan detail. Ada saat ketika Chelsea dan Rezky tidak dapat syuting bersama, tapi harus ada adegan bersama. Gimana caranya? Ya di-shoot sendiri-sendiri. Kesalahannya kelihatan ketika Melati menempelkan jarinya ke bibir Marvel sebagai ganti ciuman. Kukunya beda. Kuku Melati itu hasil kerjaan nail saloon, bermotif strawberry dengan warna merah dan hijau, sedangkan yang tampak di bibir Marvel kukunya merah doang.

Hihihihi… ngikik….

gambar dipinjam dari sini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.