Pertemuan pertama kuliah Psikologi Dasar. Seorang lelaki dari arah belakang (saya memang duduk di barisan paling depan) bertanya… “Apa bedanya psikolog dengan psikiater, Bu?” Waduh…. Ini dia… Saya juga lupa, kapan saya mengetahui perbedaan kedua profesi itu (maksudnya untuk mengira-ira, apa saya pantes ngetawain dia, atau sebenernya ini wajar aja).
Tentu psikolog dengan psikiater berbeda. Karena saya tidak kuliah baik di fakultas psikologi maupun kedokteran, ya saya hanya mengingat perbedaannya begini:
Psikolog itu basic-nya psikologi. Jadi, lebih melayani curhat, konsultasi masalah, dsb. Nah, kalau psikiater itu aslinya dokter. Jadi, psikiater bisa memberikan obat penenang anti depressan dan sebagainya, sedangkan psikolog tidak.
Saya jadi ingat satu hal lagi. Tentang etika dan etiket. Kadang-kadang saya geli juga kalau menemukan orang menggunakan satu kata yang tidak tepat. Karena kata etika lebih populer, kadang-kadang orang menggunakannya untuk mengatakan sesuatu yang harusnya disebut etiket. Nah, tentang etika dan etiket ini saya ingat betul. Saya mengetahuinya sekitar kelas 3 SMA.
Gampangnya, etiket itu hubungannya sama sopan santun, tata krama. Kalau pas tidak ada orang lain, nggak masalah kok, mau makan sambil angkat kaki, mau ngupil saat makan. Sedangkan etika berhubungan dengan sesuatu yang hubungannya vertikal (pada Tuhan). Jadi mau ada orang yang lihat atau tidak, sesuatu yang salah tetap tidak seharusnya dilakukan.
Ya… demikianlah