Saya membacanya pada sebuah cerpen karangan Dee yang berjudul Sikat Gigi. Sudah lama saya tidak mendengar orang-orang di sekeliling saya mengucapkan kata itu. Sehingga kali ini, ketika saya membaca tulisan itu, Obat Merah menjadi suatu kata yang terdengar agak asing, namun juga membuat rindu.
Saya tak pernah lupa, bahwa Obat Merah adalah penyembuh luka-luka luar saya ketika saya adalah seorang bocah. Bocah yang nggak bisa diam dan suka lari sana lari sini, sehingga tak luput dari lecet-lecet karena jatuh atau tergores benda tajam/keras.
Ketika saya membaca kata itu, Obat Merah. Saya kemudia tersadar, sudah lama saya tidak pernah menemui barang itu. Dulu, waktu kecil, saya lebih mengenal Obat Merah daripada Betadine. Obat Merah saya kenal waktu saya ada di Tanjung Pinang, kota kelahiran saya, nun di pesisir sana, dekat Batam. Saya tidak ingat pasti, sejak kapan ibu saya mengganti obat pengering luka itu dengan si kuning-cokelat bernama Betadine.
Obat Merah… Kalau saya diberi waktu 1 hari untuk mencari Obat Merah, di kota Jogja ini, apa saya bisa mendapatkannya, ya? Harganya pasti murahm tidak mungkin mencapai Rp20.000 sekalipun. Tapi, di mana saya bisa menemukan Obat Merah di kota persinggahan ini? Di swalayan sekelas Indomaret, pasti tidak ada. Apotik? Masa ada sih?
Seperti tiba-tiba kangen dengan teman lama, saya pun kangen dengan Obat Merah. Perasaan itu muncul, perasaan sentimental yang bisa membuat saya dikatai gila oleh orang yang rasional seperti Tio, tokoh dalam cerpen Dee yang berjudul Sikat Gigi.
Dari kemaren sebenernya udah gatel pengen nulis, tapi lagi nggak banyak waktu luang… Nah, hari ini juga, jari ini gatel. Bosen liat WP nggak diisi isi… Nah, iseng-iseng, browsing dah…. Eh, ketemu sama RECTOVERSO.