Sebagai sedikit informasi, saya adalah orang yang tertarik dengan dunia perkaosan [red: baca yang pelan, kalo kecepetan, bisa salah baca jadi 'aksi kriminal']. Nah, baru-baru ini, tepatnya tanggal 22 Januari 2009, saya ke Joger di Bali. Dan kemarin [2 Februari 2009] saya ke Dagadu.
It was my first time came to Bali. Itu juga pertama kalinya saya datang ke Joger dong! Ramenya…. minta ampun! [suara: ampun..... ampun....] Lepas dari keramaian di sana, saya mau komentarin tentang kaosnya Joger. Kaos Joger ukurannya besar! Untuk ukuran badan saya, saya harus beli yang untuk anak-anak, ukuran XL. Otomatis, tulisannya itu ga cocok donk! Tulisannya ya buat anak-anak! Huks… Mana tulisannya pada ‘ga waras’ semua. Ga ada yang cocok buat saya! Gambarnya juga cuma gitu-gitu aja. Tipikalnya Joger.
Sayang sekali…. Kaos Joger nggak menarik untuk saya. Komentar yang sama juga muncul dari beberapa orang teman saya, lho! Wah…. tapi memang Joger luar biasa. Walau kaosnya kaya gitu, yang masuk ke tokonya itu luar biasa banyak. Mungkin karena saya datang bersamaan dengan rombongan wisatawan lain. Jadinya, sangat padat. Sehingga kenyamanan berbelanja berkurang. Hanya saja, ketika melihat moment seperti itu, di mana kaos-kaosnya jadi tidak menarik lagi, saya mulai mengkhawatirkan sustainability-nya. Pak Joger harus segera bertindak! Kapasitas toko dan barang yang tersedia tidak dapat melayani demand yang ada. Ayo, Pak Joger! Berbenah!!!
Ngobrolin Joger sudah selesai, sekarang giliran Dagadu.
Saya datang ke Dagadu semalam untuk mencari sebuah kaos yang akan saya kirimkan ke Kazakhstan. Sayangnya, nggak terlalu mudah juga mencari kaos yang bisa saya berikan pada orang luar negri. Tipikal kaos Dagadu adalah plesetan. Agak ‘gimanaa’ gitu, kalau kasi kaos yang plesetan. Pengennya dapet kaos yang desainnya menarik, kelihatan khas Jogja, tapi pakai bahasa Inggris. Hahaha, makanya ga gampang.
Awalnya, sebelum pergi ke Dagadu, saya berharap menemui kaos versi kota-kota lain, seperti Batur Raden, Kasongan, dll yang berada di bawah label Hiruk Pikuk [sister brand Dagadu]. Sayang, sekarang Hiruk Pikuk yang dijual di Jogja, hanya yang tulisannya Jogja. Kata gardep [pramuniaga Dagadu disebut gardep, singakatan dari garda depan] yang tulisan kota lain ya tersedianya di kotanya masing-masing. Komentar saya atas koleksi Hiruk Pikuk, bad! Kurang menarik, dan koleksinya hanya sedikit. Harus banyak design baru ditambahkan.
Kunjungan saya yang terakhir ke Dagadu, agak mengecewakan. Nampaknya manajemen sedang sibuk dengan ekspansinya melalui Omus, Hiruk Pikuk, dll, sehingga pergiliran desainnya agak lambat. Key chain-nya juga belum banyak pilihan. Saya mencari key chain yang agak eksklusif, minimal dari akrilik, atau bahan logam. Sayang, nggak ada yang oke. Dagadu harus melihat kekurangan ini, untuk digarap.
Ayo…. Dagadu… Joger, aku mendukung kalian. Teruslah maju!!!
Oiya, sebagai penutup, sedikit saja, kita ngomongin kaos Jangkrik yang saya temui di kompleks GWK [Garuda Wisnu Kencana] dan Bandara Ngurah Rai. Koleksinya lumayan. Agak surprise juga dengan koleksinya yang menggunakan karikatur Beni dan Mice. Juga tersedia kaos oleh-oleh yang harganya Rp 200 – 300 ribu. Mungkin karena untuk mengganti ongkos beli ijin penggunaan karikatur secara eksklusif. Jangkrik cukup oke juga!!! Makin maju, ya!!!
Pinjam gambar dari sini, sini, dan sini