Mempersiapkan KKN (Kuliah Kerja Nyata)
Agustus 18, 2010 10 Komentar
Judulnya nggak asik banget ya? Hahaha. Intinya sih tulisan ini mau dipersembahkan buat adik-adik yang akan menghadapi KKN. Oh ya, sebelum panjang cerita ke mana-mana. Mending saya kasi tau dulu bahwa saya adalah alumnus dari Fak. Ekonomika & Bisnis, UGM. Pada Juli-Agustus 2008 KKN di Kecamatan Pajangan, Bantul.
Jujur ya… Beberapa semester sebelum boleh menjalani KKN, saya adalah orang yang sangat ngebet mau KKN. Ada keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat menolong masyarakat dengan kemampuan saya; berbagi ilmu, dsb. Ketika sudah direkrut oleh teman untuk masuk ke tim KKN, yang dirasakan adalah agak hopeless…. Masalahnya adalah kepentok budget. Kegiatan pencarian dana tidak (begitu) sukses, sehingga program-program pun nggak bisa idealis. Tidak bisa jadi seperti sinterklas yang bagi-bagi hadiah karena kami hanya bergantung pada uang pribadi yang direlakan serta berbagai produk sponsor yang bisa diberikan gratis.
Ketika KKN sudah hampir selesai, saya sadar bahwa performance kami nggak begitu baik. Apa yang sudah kami lakukan, kurang nge-gong. Ada beberapa program yang gagal seperti program pelatihan pembuatan limbah serbuk batok kelapa menjadi briket arang. Ada program yang nggak tuntas, yaitu mengenai pembuatan kompos, namun belum sampai berhasil membuat mereka untuk benar-benar merasakan betapa berguna dan murahnya kompos (baca: mereka masih menggunakan pupuk urea yang mahal). Segala sesuatu yang disediakan alam adalah ‘mudah’ dan ‘mudah’ adanya. Manusia hanya harus jeli dalam melihat, bagaimana menyiasati hal itu. Adaprogram yang nggak kesampaian, yaitu program pengenalan pembuatan instalasi biogas. Ahhh…. sedihnya. Ada perasaan sedikit sia-sia, berada di sana.
Walaupun kami sudah membantu untuk perancangan dan pembuatan jembatan yang berguna bagi masyarakat, walau kami sudah berhasil cukup akrab dan diterima oleh masyarakat (bahkan sampai sekarang masih ada orang dari dusun KKN yang masih mengirim SMS tanda keakraban), dan masih banyak walau-walau lainnya. Saya merasa ada yang kurang dan butuh ‘tetap dibayar’ suatu hari.
Memang tidak bisa mengharapkan keberhasilan tanpa persiapan. Saya merasa ada yang kurang dalam persiapan kami dulu dalam menghadapi KKN.
Yang terpenting untuk mempersiapkan program KKN adalah: memiliki kejelian dalam melihat kebutuhan masyarakat (desa) yang mereka sendiri tidak sadari.
Kecuali kamu adalah anak orang kaya yang royal dan mau menyumbang angka Rupiah 7 digit untuk program-program berguna yang membutuhkan biaya tak sedikit, kamu harus benar-benar jeli. Tidak semua orang punya bakat atau pengalaman yang mengajarkannya untuk menjadi jeli dalam melihat peluang. Kita hanya akan mampu membuat program KKN yang bagus dan impactful kalau kita tahu, program apa yang bisa kita buat bagi mereka, mereka butuhkan, akan meningkatkan taraf kehidupan mereka, namun hanya memerlukan sedikit biaya.
memahami kebutuhan tiap-tiap daerah tidak mudah. Semua harus dimulai dengan penerimaan masyarakat yang baik. Kita butuh keterbukaan mereka sehingga kita bisa berdialog dengan informal. Dari pembicaraan sehari-hari itulah kita bisa menangkap masalah apa yang mereka hadapi, baik yang terucapkan dari bibir mereka, maupun yang mereka tidak sadari. Pembicaraan formal cenderung tidak efektif untuk identifikasi masalah. Kejelian dan kepekaan dibutuhkan untuk melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang benar, sehingga bisa membuat solusi yang tepat pula untuk mereka.
Saya beri contoh saja deh. Seringkali mahasiswa itu pinter, IP tinggi, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang simple sekalipun.
Misalnya: Bu Giyem seorang ibu rumah tangga, istri dari tukang bangunan, ingin menambah penghasilan keluarga dengan menjual makanan. Dia sudah mencoba membuat berbagai makanan, katanya. Dia sudah pernah bikin kacang bawang, keripik bayem, bumbu bubuk yang dikemas, dll. Kemudian dia titip-titipkan di warung dan berbagai kenalan di pasar. Hasil akhirnya sama: nggak laku. Kemudian Bu Giyem nanya sama kamu, gimana ya caranya supaya pemasaran itu sukses. Kamu mau jawab apa?
Mau pake teori marketing yang mana coba? Iklan seperti apa yang bisa dia lakukan?
Kejadian itu benar-benar terjadi pada saya, dan kemudian saya sendiri cuma sampai di tahap interview (nanya2 usaha apa yang sudah dia lakukan), dan langsung merasa: memang dia sudah lakukan semua. Kalau tidak laku, ya gimana ya, mungkin pasarnya memang nggak ada. Bego sekali kan? Fhhh…… Seorang mahasiswi manajemen UGM, tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Bagaimana dia bisa menyelesaikan permasalahan besar?
*bersambung*






