Photo Session @ Bosscha

Di sini saya cuma mau pamer foto. Hahaha… Biar pada mupeng…. *padahal nggak ada yang pengen juga, GR*. Kadang kala, terlalu cepat datang ke suatu tempat itu berkah bin anugrah. Gara-gara kecepetan datang di Bosscha, saya malah menemukan bahwa daerah observatorium ini indah untuk digunakan berfoto-foto. Intinya, fokuslah pada pemandangan alam dan kemampuan alam menciptakan foto-foto ini, jangan fokus pada ‘model’nya, yah.

Kebanyakan orang hanya berfoto di sekitar teropong Zeiss (diberi nama sesuai dengan lensanya yang buatan Carl-Zeiss). Tapi justru foto-foto yang saya pajang ini nggak satupun mencuri pesona si teropong yang sering dikenal dengan nama Bosscha itu.

Sebagai informasi aja. Teropong yang paling terkenal di observatorium Bosscha bernama Zeiss. Bosscha sendiri adalah nama dari areanya. Area observasi bintang. Bosscha adalah nama dari tuan tanah yang memiliki tempat itu. Beliau dulu adalah pemilik perkebunan teh yang kaya di sana.

Di bawah ini adalah foto saya di bawah pohon bougenville yang sudah besar sekali. Bunganya yang rontok memberikan kesempatan untuk menciptakan setting foto yang bagus. Sekali lagi yang bagus adalah tempatnya ya. Saya nggak mau komen soal modelnya. :P

Pancaran matahari saat itu juga membantu menciptakan foto dengan efek cahaya yang dramatis seperti foto di bawah ini. Kalau mupeng, segera ke sana deh. Sekedar numpang foto-foto aja. Menurut saya sih, fotonya sedikit mirip dengan foto-foto di luar negri :)

Sekilas Siem Reap

Walaupun bandaranya Siem Reap memang sueepi, ternyata kotanya banyak turisnya. Saya menghabiskan 3 kali waktu makan malam di Siem Reap. Ketiganya di restoran yang berbeda, namun ada 2 kesamaan dari 2 restoran terakhir. Apa itu? Restorannya beesarrr dan selalu ada pertunjukan Apsara dance.

Saya mendengar gosip dari si tour guide, para penari Apsara dibayar sangat sedikit, yaitu US$ 1 per kali tampil. Heeh? Serius? Hmmm, jadi penasaran, berapa bayarannya penari yang tiap malam tampil di Candi Prambanan.

 

Kembali ke restoran. Restoran Kamboja di Siem Reap tidak mencerminkan makanan lokalnya. Atau memang karena disesuaikan dengan makanan yang sudah umum dimakan oleh turis Asia dan Barat pada umumnya. Makanan di restoran pada umumnya chinese food dan sedikit campuran makanan dari Vietnam. Di restoran yang menyediakan buffet/all you can eat, ada juga spaghetti, goreng-gorengan, dimsum, sate, salad, dan makanan yang umum orang Indonesia makan. Kelak di Phnom Penh juga sama saja variasi makanan buffet-nya. Tapi hati-hati buat yang muslim, banyak daging babi beredar sebagai makanan di sana. Hehehe.

Sekedar informasi, restoran yang saya kunjungi di Siem Reap adalah: Tropical Restaurant (jalan masuknya melewati kampung dikit), Amazon Angkor Restaurant, dan Koulen II Restaurant. 

Laba-laba goreng

Sebelum berangkat ke Kamboja, saya sudah sempet browsing dulu tentang snack khas Kamboja yang mungkin bisa saya bawa pulang sebagai oleh-oleh. Apa jawaban Google? Ditampilkanlah berbagai serangga goreng kering nan kemripik. Hiiii… Nggak ada yang tertarik waktu saya tawari oleh-oleh itu *muka jahil*.

Oh ya, mengingat pendidikan bahasa orang Siem Reap tidak merata bagusnya, ada yang lucu dengan neon box yang dipasang di daerah Night Market.

 

Di sana pijat itu bener-bener murah. Yang di Night Market, bisa pijat dengan mulai dari US$ 2 plus tip untuk 15 menit. Tapi, kualitas sentra-sentra pijat di Siem Reap tidak semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa rekan kantor merasa pijatannya nggak bertenaga, ada yang jadi sakit-sakit badannya. [bersambung]

Muka Indocina

Ketika di Kamboja, saya mulai ngitung, berapa kali saya diajak ngomong pakai bahasa setempat. Sampai akhirnya saya berhenti berhitung, Capek ah. Rekan kerja saya, Hong, orang Vietnam setuju kalau kalau saya mukanya mirip orang Vietnam. Hehe. Beginilah nasib bermuka Indocina. Separo Indonesia, separo Cina (ngarang bangett). Muka indocina yang saya maksud adalah bermuka asia, tidak terlalu sipit, tapi tidak terlalu putih juga.

Petugas hotelnya tegang banget

Nah, dalam rangka ingin berfoto dengan orang Kamboja, saya meminta Putra memotretkan saya dengan petugas hotel yang menggunakan jas. Kelak saya harus mempertanggungjawabkan foto ini kepadaaaa… Bukan pacar saya. Bukaan.. Yang nanya malah teman-teman kantor yang mendapati foto ini ada di folder saya (maklum, acara kantor, jadi semua foto di-copy dan disebar).

Dalam rangka pengen foto dengan ‘saudara’ yang lain, saya minta foto bareng rekan seperusahaan yang berasal dari Vietnam. Hehehe. Mirip nggak? (ini beneran nanya, nggak maksa mirip, kok).

di kompleks candi Angkor Wat yang lain

Sehubungan dengan muka saya yang indocina, di night market Siem Reap, pasar yang menjual berbagai oleh-oleh, saya hampir dikelabui oleh seorang gadis muda berusia 16 tahun. Bahasa inggrisnya bagus sekali, bahkan saya sempat merasa bahasa inggrisnya lebih bagus dari saya. Dengan caranya yang manis dan lihai, ia mengatakan memberikan harga yang murah kepada saya karena saya nampak seperti orang lokal. Untung kemudian ada pembeli lain yang sibuk tanya ini itu. Akhirnya saya berhasil kabur dari tempat itu karena diberitahu teman saya bahwa harga untuk barang yang saya taksir itu harusnya jauh lebih murah.

Dengan muka ini, oleh seorang supir taksi, saya tidak dipercaya saat bilang rumah saya di Yogyakarta. Kemudian ia menebak saya ini orang Bandung. Haa? Sunda?? (_ _!)

Mau tau saya orang mana? Baca post yang ini :)

Perjalanan ke Siem Reap

Dari Singapura, kami terbang ke Siem Reap. Detik-detik menjelang mendarat, pemandangan yang terlihat adalah dataran rendah dengan tanah berwarna kemerahan dan sedikit pepohonan, tidak tampak hutan (kumpulan warna hijau yang merata dan luas). Pramugari mengumumkan suhu di luar adalah 39°C. Whattt? Waktu itu Jakarta 37°C aja, twitter udah ketumpahan sumpah serapah. Sampai dikatain ada yang lupa nutup pintu neraka segala. Ini lebih panas 2°C. Untungnya orang Siem Reap nampaknya belum cukup akrab dengan twitter.

Bener aja. Begitu keluar pesawat. Terik dan panasnya minta ampunn. Setelah berfoto-foto di plang nama airport di pinggir landasan, saya begegas mengejar yang lain. Kami harus mengisi form visa on arrival. Bayarnya USD 25 per orang.

Bandara ini cukup baru dan bersih. Kecil dan bernuansa sedikit etnik, seperti Bali. Saya sempet tertarik dengan lantainya yang sistem pasangnya ala puzzle. Kaya yang banyak dipakai di TK atau playgroup, tapi bahannya memang bahan lantai yang lebih keras.

Setelah rombongan anak-anak berbaju biru muda yang mau lanjut ke Phnom Penh menghilang ke bagian keberangkatan, terminal kedatangan benar-benar sepi. Hanya tinggal kami saja. Heh?! Sepi amaat?

Kami dijemput oleh bis dan tour guide. Perjalanan menuju hotel diisi dengan mengamati penduduk lokal yang bersepeda di bawah teriknya matahari sore. Mengingatkan akan Vietnam di awal tahun 1990-an. Kendaraan juga berjalan di kanan, setir mobil di kiri. Jalanan lebar, licin, dan bersih. Kota ini memang dirawat karena pariwisata menjadi sumber penghidupan mereka. [bersambung]

Jalan-jalan itu Belajar yang Mengasyikkan

Anak-anak jenius mungkin mudah dalam membayangkan hal-hal yang ditulis di buku dan mengingatnya. Nggak berlaku buat saya. Bagi saya, belajar itu paling ‘nyangkut’ kalo dilihat sendiri dan konkret. Apakah ini bisa dibilang saya tipe pembelajar kinestetik? Entahlah, belum di-tes, tapi sementara saya beranggapan seperti itu. Saya pembelajar kinestetik.

Dalam rangka pergi ke acara annual retreat perusahaan, seisi kantor yang statusnya sudah pegawai tetap, rame-rame berangkat ke Siem Reap, Kamboja 16 Mei 2011 yll. Rutenya melewati Singapura dulu, baru ke Siem Reap.

Uhuy, hello Singapore! Lamo tak jumpo! (norak dotkom). Di Singapura cuma ada waktu untuk ‘main’ 1 jam. Alhasil, cuma dipakai untuk keliling-keliling airport. Kualitasnya jauh banget sama SHIA (Soekarno Hatta International Airport).

Kalau punya Singapura dikasih nilai 9,5, Indonesia dikasih nilai 6,5.

Banyak outlet duty free, di mana barang tidak dikenai pajak, fungsinya supaya turis tertarik untuk belanja. Hal yang mengagumkan adalah di dalam ruangannya, semua anggrek di sana asli. Iri deh, kok bisa sih? Kok ga nemu yang gituan di Indonesia, sih?

Hal lain yang bikin mupeng adalah, lansianya masih pada kerja. Aaaa… kerennn. Lansia itu seneng loh, punya kerjaan. Yah, walau kerjaannya simpel seperti lap meja di Burger King atau ngumpulin trolly dengan ‘scooter berjalan’. Mereka pasti merasa hidup mereka lebih berarti ketika masih bisa berguna di hari tua.

Trus juga ada fasilitas toilet yang khusus buat ibu yang bawa anak kecil. Ke toilet bisa tetep jagain bayinya. Aman deh. Kenapa di Indonesia belum pernah liat, yah? Apa karena asumsinya bawa bayi ke mall pasti bawa baby sitter-nya?

Hal yang bikin mupeng adalah toko yang bener-bener pamer abis. Pameran cokelat. Pulang-pulang ke Indonesia, saya yang biasanya nggak pernah mikirin M&M chocolate, akhirnya jadi impulsive. Hedeeeh. Mataaa.. mataa… [bersambung]

Akhirnya Sampai Ke Kamboja

Siapa sangka, saya bisa mengunjungi Kamboja di tahun 2011 ini? Saya aja nggak nyangka! Ngarep? Nggak sama sekali. Nggak bersyukur? Siapa bilang? Ya bersyukur donggg. Hehehe

Seumur-umur saya cuma pernah pergi ke luar negri itu ke Singapura dan Vietnam. Itu juga ketika masih kecil. Usia di bawah 9 tahun. Jadi, sudah lama sekali saya nggak ke luar negri.

Apa ya, titik singgung antara Kamboja dan hidup saya? Hmm, kayanya cuma 1, deh. Dulu waktu di Vietnam, papa (yang kerja buat UNHCR) pernah mau belajar bahasa Kamboja setelah berhasil berbicara bahasa Vietnam. Yes, my father spoke Vietnamese. Kenapa spoke? Karena doi sekarang udah meninggal.Yes, that’s all! Udah nggak ada lagi.

Saya rasa, umum sih, buat orang Indonesia kalo nggak gitu familiar sama Kamboja.

Orang Indonesia kan deketnya sama Singapura (buat yang menengah atas) dan Malaysia (buat yang jadi tenaga kerja). Maksimal Thailand deh.

Dari awal tahun kelinci di 2011 ini, saya sebenernya nggak pernah baca feng-shui hari baik hari buruk, atau nasib baik nasib buruk. Acara training tahunan perusahaan di Kamboja ini bagi saya, adalah ‘bonus’. Thanks boss! Lebih asyiknya lagi, setelah training 1,5 hari yang diselingi makan prasmanan di restoran-restoran besar, ada acara mengunjungi Angkor Wat. Cihuyy.

mati gaya

Lebih bersyukurnya lagi, khusus untuk yang dari Indonesia, boss-nya ngajak untuk stay sampai weekend di Kamboja. Rencana diatur, dan satu rombongan dari Indonesia mampir ke Phnom Penh, ibukota Kamboja. [bersambung]

Makan @ Jogja [16]: Sentana Bistro

Saya sudah pernah menulis sedikit tentang menu di Sentana Bistro. Weekend minggu lalu saya datang ke Sentana Bistro untuk yang ketiga kalinya (if i’m not mistaken) dan mencoba berbagai makanan yang dibayari boss besar saya: my mom.

gyu soyu ramen - sentana bistro

Kami memesan 3 menu ramen: chicken ramen, sentana ramen, dan gyu soyu ramen. Kesimpulannya adalah: chicken ramen yang saya puji-puji di kedatangan lalu kini dikalahkan sama Gyu Soyu Ramen (harga sekitar Rp24.000).

unagi sushi - sentana bistro

Menu lain yang menggembirakan saya adalah Unagi Sushi (sekitar Rp44.000) untuk 3 potong sushi seperti di gambar. I like it :) Untuk salmon teriyaki-nya, lumayan oke, cuma sedikit (terlalu) manis…

Makan @ Jogja [15]: Hikari Ramen

Karena rekomendasi orang tak dikenal di salah satu grup makanan jogja di Facebook, saya akhirnya mendatangi Hikari Ramen di jalan Wakhid Hasyim (Nologaten ke utara terus sampe nembus Ring Road Utara) sekitar dua minggu yang lalu.

Saya datang ke sana dalam kondisi nggak prepare untuk nulis blog. Jadinya nggak bawa kamera. Begitu masuk, ragu setengah mati. Karena tempatnya agak parah. Low budget business terlihat dari interior-nya. Atas saran mbak waitress, saya memesan Gyu Soyu Ramen (Rp14.500). Yang masak adalah seorang lelaki yang wajahnya sedikit oriental, dan berpakaian lumayan gaul. Sayangnya, dia mungkin ngerasa kegantengan untuk sekedar mengucapkan ‘selamat menikmati’ dan sedikit tersenyum sewaktu mengantarkan si ramen ke meja saya. Saya makan ramen sambil nonton TV di sana. Lumayan lah, datang sendirian, ruangan nggak ada suasana, tapi nggak memble…

Gyu Soyu Ramen yang saya makan di Hikari Ramen ini sangat nggak mengecewakan :) . Recommended, guys! Best value ramen i ever had in Jogjakarta.

Peringatan aja, Hikari Ramen nggak cocok buat mereka yang: menyukai seni makan dengan suasana yang perfect, orang kaya yang nggak biasa makan di warteg, orang yang lanjut usia, orang yang dateng bawa temen sekampung (kapasitas kedai ramen ini terbatas), dan orang yang benci parkirin mobilnya di jalan sempit.

Saya belum coba Nikkou Ramen… Next time deh

Makan @ Jakarta [2]: Sushi Tei

2. Sushi Tei (Plaza Senayan, MKG, dll)

Keluarga saya ada di Jogja. Di Jogja nggak ada sushi oke. Jadi, Jakarta agak identik dengan memenuhi hasrat makan sushi. Hehehe. Maklum ya, wong ndeso.

Melalui official web-nya, saya jadi tahu bahwa Sushi Tei asalnya dari negara tetangga, Singapura. Satu hal yang membuat Sushi Tei menjadi bisnis yang sangat baik adalah karena value-nya yang tinggi di antara restoran sushi dan makanan jepang lainnya. Apa yang menentukan value? Value dihitung dengan cara membagi benefit dengan harga. Semakin tinggi benefit, semakin rendah harga, semakin tinggi value yang didapat oleh para konsumen. Sushi Tei menawarkan sushi dalam porsi yang kecil-kecil, sehingga harganya pun jadi makin terjangkau. Selain itu, Sushi Tei memiliki Kaiten Sushi / kereta sushi. Sushi dengan piring-piring kecil diletakkan di roda berjalan yang mengelilingi open kitchen dan para chef. Pemandangan yang menarik dan menggiurkan.

Saya baru 2 kali makan di sini. Keduanya bersama Herman ^_^. He knows that i love sushi so much. He treated me sushi three times, if i’m not mistaken.

Apa yang menjadi favorit saya di sini?

Saya suka sekali sushi dengan tobiko (telur ikan terbang) yang banyak dan mayonaisse yang bikin sushi terasa maknyus. Oleh karena itu, saya nggak akan absen untuk memesan Kanimayo Tobiko Maki.

Kanimayo Tobiko Maki

Herman menyukai sushi yang berisi ikan yang dicampur dengan cacahan kacang mede/mete. Namanya Stamina Maki. Saya rasa ini juga pilihan yang bagus. Nice!

Stamina Maki

Selanjutnya, auntie Tien (my auntie from mom) mencoba sushi mentah ter-oke yang pernah saya coba. Selama ini kalau makan sushi mentah suka kecewa. Hambar atau nggak fresh. Namanya Rainbow Roll Set (Rp65.000). Next time harus makan ini lagi :)

Rainbow Roll Set

Ayo makan sayur! Bosen dengan sayur yang itu-itu aja? Mari makan salad di Sushi Tei. Saya mencoba salad ini. Saya tidak ingat namanya. Yang pasti salad ini terdiri dari irisan wortel, selada keriting, dan 2 jenis rumput laut. Yiha!! Nice try!

Salad dengan nama yang rumit

Masih belum kenyang? Salah satu kesukaan saya adalah tuna. Kali ini, sushi yang dibungkus nori dan atasnya penuh dengan tuna. Sluurrrpp.

Saya tidak ingat namanya. Mungkin Tuna Roll?

Dessert yang lumayan. Bikin acara makan makin asyik.

Ice cream with ogura (forget the commercial name)

Chocospoon (Rp20.000)

Makan sushi paling enak beramai-ramai. Karena bisa comot sana comot sini. Cicip banyak jenis sushi yang tidak mungkin dilakukan kalau datang sendirian (baca: 2 atau 3 menu sudah kenyang). Kalau datang ber-4, bisa coba 7-10 menu :) Asyik kan…. Makanya, jangan sendirian datang ke sini. Rugi. Sepi… Kurang asyik…

Semua foto makanan ini diambil dengan kamera Canon Ixus 970IS milik ibu saya. Yang motret siapa? Ya saya, dong. Hehehe.

Belum pernah ke, Sushi Tei? Agendakan sekarang! :) Dijamin happy

Makan @ Jogja [15]: Mie Ceker Bandung

20. Mie Ceker Bandung [jl. Wolter Monginsidi, perempatan SD Tumbuh, ke barat]

suasana malam hari yang romantis

Setidaknya saya sudah bolak-balik makan menu yang sama di sini 6 kali. Pertama kalinya ketika menraktir teman di hari ultah saya di tahun 2009. Itu artinya, dalam waktu 8 bulan, saya sudah melakukan repurchasing atau pembelian ulang sebanyak minimal 5 kali. Dalam bisnis, salah satu tanda konsumen puas adalah ketika mereka melakukan pembelian ulang.

Saya membawa teman-teman terbaik saya ke tempat ini untuk makan dan ngobrol. Mie ayam adalah menu yang nggak ngebosenin bagi saya. Kalau untuk menu steak, saya bisa cukup puas makan setahun sekali atau dua kali, mie ayam bisa saya santap seminggu sekali kalau lagi doyan.

Saya pernah bilang bahwa Yamie Manis Bandung 59 adalah favorit saya. itu benar. Tapi untuk kesempatan yang berbeda, yamie manis di Mie Ceker Bandung ini lebih cocok. Kesempatan yang seperti apa? Kesempatan makan bersama pasangan, keluarga, dan tamu luar kota. Itu semua karena tempat ini memiliki manajemen yang lebih baik, pilihan menu lebih banyak, tempat lebih bersih, pelayan lebih terlatih, suasana malam yang romantis, dan juga ada 8 kamar (menyatu dengan Monginsidi Guest House) untuk tamu luar kota.

Sekalian info tambahan buat pembaca blog yang ingin sekalian cari penginapan oke, guest house ini memiliki 3 jenis kamar dengan rate Rp275.000 (3 kamar), Rp340.000 (4 kamar), dan Rp380.000 (1 kamar). Belum termasuk pajak dan layanan 15%.

Oh iya, harga mie di sini berkisar antara 10 – 15 ribu (berdasarkan ingatan saya saja). Harga jus rata-rata 9 ribuan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah malam hari karena suasananya lebih hidup dengan lampu2 berwarna hangat. Bukanya dari jam 10 pagi – 10 malam. Ada 48 seat, yang terbagi indoor dan outdoor (dengan meja-meja berpayung).

Selamat mencoba!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.