Genggaman yang Baru

Senin yang lalu (7 Mei 2012), smartphone saya hilang. Tentu ada yang mengambilnya sewaktu saya lengah. Mungkin hilangnya di toko mainan depan sekitar pukul 15.00. Saya menyadarinya agak terlambat. Kehilangan kali ini membuat agak panik karena smartphone saya terkoneksi dengan akun Yahoo Mail, Gmail, Twitter, Foursquare, YM, dan Whatsapp. Kalau orangnya iseng. Bisa repot saya. Facebook kebetulan baru ter-uninstall karena gagal install new version.

Saya cukup beruntung karena sebelum 2 jam, saya sudah sadar, dan saya ubah semua password akun tersebut. Agak ngeri juga baca konsekuensi smartphone hilang di blog ini. Nomor telepon semua ada di google, jadinya nggak perlu repot minta-minta lagi. Foto sampai dengan akhir Oktober 2011 sudah ada back-up. Yang disayangkan paling data rincian pemasuan, pengeluaran saya di salah satu aplikasi, dan catatan2 penting di memo HP tersebut.

Saya ikhlaskan saja si Galaxy Mini itu hilang… Usianya baru 1 tahun 2 bulan. Tapi memang saya sudah berniat mencari yang lebih besar internal memory-nya dan saya mendapatkan apa yang saya mau.

Smartphone pengganti si Galaxy Mini harus memiliki kriteria ini:

1. Android (Blackberry itu mahal tapi fiturnya minim dan bulanannya mehel, iPhone segala2nya mahal)

2. Ukuran layar sebesar Galaxy mini atau lebih besar (yang lebih kecil kaya Galaxy Y bikin typo melulu)

3. Internal storage lebih besar (karena si Mini pernah penuh melulu internal storage-nya)

4. RAM lebih besar (karena si Mini pernah lemot)

Dan saya dapatkan semua itu di Samsung Galaxy Y Duos melalui proses yang SANGAT KEBETULAN hari Jumat (11 Mei 2012) lalu di Erafone Ambarukmo Plaza dengan cicilan 0%. Please… kali ini jangan ilang lagi. Si Duos ini masih NYICIL!! *pasang gantungan HP*

Photo Session @ Bosscha

Di sini saya cuma mau pamer foto. Hahaha… Biar pada mupeng…. *padahal nggak ada yang pengen juga, GR*. Kadang kala, terlalu cepat datang ke suatu tempat itu berkah bin anugrah. Gara-gara kecepetan datang di Bosscha, saya malah menemukan bahwa daerah observatorium ini indah untuk digunakan berfoto-foto. Intinya, fokuslah pada pemandangan alam dan kemampuan alam menciptakan foto-foto ini, jangan fokus pada ‘model’nya, yah.

Kebanyakan orang hanya berfoto di sekitar teropong Zeiss (diberi nama sesuai dengan lensanya yang buatan Carl-Zeiss). Tapi justru foto-foto yang saya pajang ini nggak satupun mencuri pesona si teropong yang sering dikenal dengan nama Bosscha itu.

Sebagai informasi aja. Teropong yang paling terkenal di observatorium Bosscha bernama Zeiss. Bosscha sendiri adalah nama dari areanya. Area observasi bintang. Bosscha adalah nama dari tuan tanah yang memiliki tempat itu. Beliau dulu adalah pemilik perkebunan teh yang kaya di sana.

Di bawah ini adalah foto saya di bawah pohon bougenville yang sudah besar sekali. Bunganya yang rontok memberikan kesempatan untuk menciptakan setting foto yang bagus. Sekali lagi yang bagus adalah tempatnya ya. Saya nggak mau komen soal modelnya. :P

Pancaran matahari saat itu juga membantu menciptakan foto dengan efek cahaya yang dramatis seperti foto di bawah ini. Kalau mupeng, segera ke sana deh. Sekedar numpang foto-foto aja. Menurut saya sih, fotonya sedikit mirip dengan foto-foto di luar negri :)

Di Usia 24 Tahun

Gregetan juga nge-post tulisan yang kejadiannya nggak up-to-date. Ya, maksud saya yaa.. tulisan tentang perjalanan ke Kamboja itu. Apa boleh buat. Memang harus ditulis sebagai komitmen saya untuk menuliskan sejarah hidup saya sendiri. Ya, masa orang lain yang akan menuliskannya. Emangnya saya siapa? Hehe.

Kemarin adalah peringatan ulang tahun saya yang ke-24. Hanya ada beberapa orang yang mengucapkan selamat ulang tahun, dan itu nampaknya tanpa bantuan Facebook, sehingga jumlah ucapan yang diterima sangat ringkas (saya menyembunyikan tanggal ulang tahun saya dari siapapun di Facebook). Terus terang, saya senang dengan hal itu. :) Why? Karena yang mengucapkan adalah orang-orang tertentu saja, yang dengan caranya sendiri, entah reminder dari mana, mencatat tanggal kelahiran saya. Terima kasih yaa… *tersipu-sipu*.

Hanya ada 2 orang yang menanyakan 1 hal paling wajib dalam hari ulang tahun. Pertanyaannya adalah ”Apa harapanmu?”

Jawabanku adalah, aku ingin memiliki Social Business. Entah cepat entah lambat. Itu yang saya pikirkan tentang hidup saya ke depannya. Saya tidak dapat memikirkan hal lain yang lebih baik dan melegakan daripada bekerja untuk tujuan sosial dalam hidup saya.

Untuk itu saya  sedang membaca bukunya Muhammad Yunus yang berjudul Building Social Business. Semoga bisa cepet selesai, jangan sampai terlantar bertahun-tahun seperti sebagian buku-buku lainnya.

Saya tidak meniup lilin ulang tahun kemarin. Tapi saya rasa, harapan ini terdengar oleh jiwa saya, oleh alam, oleh Tuhan… Semoga bisa terwujud. Karena inilah tujuan hidup saya, seperti doa setiap orang tua untuk anaknya: berguna bagi nusa dan bangsa.

Dosa Seorang Blogger

Dosa besar seorang blogger itu adalah meninggalkan blog-nya, nggak diurusin, nggak ditulisin. Dosanya kira-kira sama seperti si bang Thoyib yang bikin istrinya nyanyi mellow seantero negri.

Di libur lebaran ini, saya sudah bikin janji sama partner untuk mengisi libur dengan menulis. Apa yang terjadi? Saya lupa bawa netbook. Alhasil saya nggak jadi nulis. Saya membaca doang. Buku yang dibaca adalah bukunya Trinity, The Naked Traveller 2 (hasil minjem dari library kantor). Buku lain yang ingin segera diselesaikan adalah bukunya Erditya Arfah, mantan temen kantornya partner. Judul bukunya adalah Merah Putih di Benua Biru, terbitan Bukune.

Yak, sekarang lagi mikir mau nulis apa ya? Loh, kok bisa nulis, katanya netbook ketinggalan? Iya bisa dooong. Curi pakai saat partner lagi ke toilet. Hehehe.

Cerita Pak Supir Taksi

Aurelia naik taksi. Mengapa Aurelia naik taksi? Alasannya hanya ada tiga… ehm.. empat. Satu, karena sedang hujan agak lebat (atau lebat banget). Dua, karena sedang bawa barang berat (biasanya karena gotong2 peralatan untuk tugas di luar kota). Tiga, karena antrian di Trans Jakarta panjangnya kebangettttan (diprediksikan karena sistem pengaturan alokasi bis yang tidak modern dan tersistem). Empat, karena sudah terlalu terlambat untuk nungguin bus Trans Jakarta, even ga pake ngantri.

Dan seringkali saya naik taksi karena alasan yang ke empat*.

* nggak ada statistiknya juga sih, tapi perasaan sih gitu

Okay, ceritanya adalah, di suatu pagi yang nggak gitu terburu-buru, saya naik taksi. (Lho, nggak terburu-buru kok naik taksi) [Sttt...diem ah.. orang lagi cerita jangan disela. husss....] Sambil make alas bedak, bedak, dkk, saya iseng nanya-nanya aja sama Pak Sopir. Ini namanya tes lempar pancing.

Armadanya Ex*press (nama taksi = bekas ditekan) ada berapa, Pak?

Tentunya yang saya tanya adalah armada yang di Jakarta dan sekitarnya (emang di kota lain ada Taksi Express juga?). Dan jawabannya adalah

Oh, Ex*press mah ada 12.000, neng. Sekarang nambah lagi.

Dalam hati saya: “kamfret! ngapain juga banyak-banyak ni taksi. Menurut pengamatan saya, separo dari mobil-mobil yang ngantri di lampu merah Harmoni itu adalah taksi. Ngerti kan, apa yang memperparah kemacetan Jakarta?! Okay, walaupun di dalam hati boleh terjadi demonstrasi besar-besaran, di luar harus tetep cool. Tetep iseng mau nanya-nanya si tukang taksi. Siapa tahu secara iseng-iseng bisa mengetahui betapa besar potensi bisnis pertaksian Jakarta (halah…..).

Di satu pool ada berapa banyak taksi, Pak?

Si Pak Taksi kemudian menjawab bahwa di sebuah pool ada 300 sampai 500 taksi. Merasa mendapat angin, si Pak Taksi mulai bercerita bahwa perusahaan Taksi Burung Biru (eh, bukan game burung-burungan yg di-tap membelah diri jadi tiga itu, bukan…) itu armadanya lebih sedikit daripada perusahaan taksi ‘Bekas Ditekan’ itu. Lagipula, taksinya si suku Burung Biru itu nggak semuanya keluar dari pool, katanya. Suku Burung Biru konon sedang kekurangan supir.

Entah emang dasarnya si supir taksi demen cerita, atau bagaimana. Yang pasti, berikutnya saya tidak perlu bertanya lagi, dia sudah berkicau sendiri. Berikut adalah kutipan langsung dari cerita pak supir taksi.

“Iya, neng. Blue*Bird mah paling armadanya 11.000. Itu juga nggak semua taksinya keluar. Mereka kekurangan supir. Pada pindah ke Ex*Press. Di Ex*Press kan sistemnya kepemilikan. Kalau udah 5 tahun, mobilnya boleh dibeli. Saya udah beli 2 mobil. Ini yang ke-3, semoga bisa saya beli juga.”

Dan saya pun tinggal nambahin sedikit “oooo..” atau semakin ngomporin si supir yang ternyata emang doyan cerita ini.

“Mobil yang pertama saya jual. Yang kedua ditawar orang Rp75 juta saya nggak kasih neng. Buat istri. Saya dandanin, dicat merah ati. Beughh, cakep bener dah. Abis berapa tuh ya? Lima belas (juta) ada kali. Yang penting istri seneng. Walo mobil bekas teksi** kalau dibagusin kan enak ngeliatnya. ” (** tipikal supir taksi: cara baca = seksi – s + t)

Okay #swt. Ni sopir tukang pamer. Hahaha…. Abis ini dia pamer lagi berapa biaya yang harus dia bayar tiap bulan.

“Tiap hari saya harus nyetor Rp300.000, neng. Itu harus tiap hari. Artikan kan, sebulan saya bayar Rp9.000.000 (dengan nada bangga). Nggak boleh kurang itu, neng.Tiap hari harus bayar.”

Dan pembicaraan masih teruuus sampai saya akhirnya sudah sampai di depan lobi gedung perkantoran dan memberinya uang Rp18.000. (kenapa nggak 20 rebu aja sih? pelit amat) [heh! brisik.. kalo nggak rela, tambahin kek, 2 ribunya]

Saya menutup pintu taksi berwarna putih itu sambil tersenyum dalam hati

Kalau frustasi nggak pernah ngumpul-ngumpul duit, nanti saya nglamar jadi tukang taksi aja, deh. :)

Jika Papa Hidup Lebih Lama

Jika papa hidup lebih lama, ia akan merasakan menemukan teman-teman kerjanya yang entah ada di mana… Melalui sebuah halaman pencari orang terbaik di dunia…

Waktu itu, zaman aku masih SMA… Mungkin tahun 2003… Sekali waktu Papa ingin menemukan mantan boss-nya yang bernama Mike Kendellen. Saat itu aku hanya bisa mencarinya melalui yahoo mail. Berbagai kombinasi konvensional, dicoba… Tidak berhasil…

Beberapa waktu yang lalu, melalui halaman satu dan lainnya, akhirnya sampailah aku di beranda orang yang dicari papa bertahun-tahun yang lalu.

Pa… Lewat halaman ini papa hanya perlu mengetuknya… Mike akan segera membukakan pintu.

Sayangnya papa nggak sempet.. Tapi nggak apa-apa juga sih. Mungkin ini cuma perasaan sendu yang tak perlu. Mungkin bagi papa sekarang, hal seperti itu tak perlu disesalkan…

Mungkin yang disesalkan papa adalah: kenapa anak perempuannya bersendu-sendu hanya untuk hal sepele seperti ini.

Jawabku:

Papa.. Aku anya sedang ingin menulis cerita. Tentang kamu, Pa.

Harmoni, 22 Februari 2011.

A daughter of Bartholomeus Haryanto…

A Happy Weekend

Ini adalah salah satu weekend terbaik saya selama saya berada di Jakarta. I mean. Weekend yang balance untuk jiwa dan raga saya. Here I tell you what I mean.

Pulang kerja di hari Jumat malam, saya main ke kos temen yang ngangeni @ndutz_07. Seperti kebiasaan nginep di kosnya di waktu-waktu sebelumnya: kegiatan kita adalah update cerita selama nggak ketemu beberapa bulan (tepatnya 104 hari-nginep terakhir tgl 28 Agustus 2010 yll). Update pengetahuan masing-masing tentang kabar teman-teman, sebagian (besar) fakta, sebagian (kecil) gossip. Hahaha. (Huss… don’t giggling.. Biasa… kan biasa cewe-cewe). Tertidur entah jam berapa. Mungkin jam 2-an pagi. Udah biasa kaya gitu. Dilanjutkan dengan bangun siang di hari Sabtunya. But, you know, I really happy to do this ‘tradition’ with her…. Really happy…

Sayang sekali, kerjaan masih belum selesai juga, dan di hari Sabtu ini harus kembali ke kantor untuk mengerjakan report penelitian untuk klien. Pukul setengah 4 sore, cabut ke Semanggi untuk makan siang (kurang seneng apa, walo harus kerja, tapi disamperin pacar untuk menikmati hari Sabtu… senangnyaaa). Makan di Hokben, dan kemudian nongkrong di Solaria lantai 10. Masing-masing memesan segelas minuman unusual (biasanya kalo di tempat lain, pesennya paling-paling teh ato jus buah). Chit chat chit chat…. Thennn… belum puas ngobrol, lanjut nemenin pacar pulang ke kosnya.

di Solaria Semanggi Lt.10

 

Di sinilah poin happy berikutnya. Membuka wawasan. To feed my brain with knowledge. Herman menunjukkan video2 TED dan berbagai situs yang bikin dia excited minggu ini. One of them inspired me to write about his opinion. I promise you, I’ll write about that. Apapun halangannya: tugas numpuk, kurang tidur, netbook masih belum connected to internet. Ga akan menghalangi saya nulis soal ‘itu’. Apakah ‘itu’? Nanti… Liat post saya berikutnya.

Sabtu malam dihabiskan dengan ngobrol tentang inspirasi2 dari video dan situs2 itu, dan curcol2 antar pacar. Hahaha.

Minggu dimulai dengan hal yang sangat buruk: bangun siang. Syukurlah hari Minggu ini juga bukan hari libur yang gagal. Karena setelah bangun, saya berhasil menyelesaikan sedikit kekacauan di kamar kos yang sudah nggak keruan bentuknya. Ketika pacar sampai di kos, udah agak lumayan (baca: ga brani klaim kamar sudah kinclong dan 100% rapi). Sementara saya membereskan catatan pengeluaran saya, Herman mempelajari HP barunya dan berusaha memanfaatkan wifi untuk internetan dengan device-nya itu. Sore cepat datang, saatnya ke gereja.

Pulang gereja, rasanya masih pengen ngobrol2. Akhirnya masuk ke Happy Day Restaurant. Ngobrol2 lagi sambil makan pizza yang enak dan cendol yang nggak mau dipesen lagi (perhatikan kedodolan yg mesen cendol, mo makan pizza kok pasangannya cendol). A great conversation… Dilanjutkan dengan browsing2 ttg Pandji Pragiwaksono yang ternyata adalah seorang rapper.

Herman, I told you: kalo nggak kamu tunjukin langsung di internet, aku nggak akan percaya, orang model Pandji adalah rapper. Hahahaha. Pandji, mengapa kamu adalah rapper yang sangat nggak ada tampang rappernya… Tapi, sekali lagi, browsing2 menghasilkan kekaguman2 lagi atas hal-hal baru yang saya belum ngerti selama ini. Ohh, betapa saya kemudian merasa “gue adalah katak dalam tempurung kura-kura”… hahaha…. intinya: GAK GAOLL…. Fiuhhhh…

Hari libur dengan banyak conversation dan banyak inspirasi. That’s better than walking around the malls, screening pretty shoes and bags, or bargaining till die in Tanah Abang or Glodok. I’m happy for today. Thanks God… This is what I need for my weekend.

Pasangan [Tidak] Serasi

Kalo ndenger frasa ‘pasangan serasi’, apa yang kebayang? Romeo & Juliet? Putri & Pangeran (dari film-film Disney)? Atau malah Tante Widyawati & Alm. Om Sophan Sofian?

Di suatu malam yang agak hujan-hujan basah (ya iya lah, masa hujan tapi kering), saya sedang menunggu bus TransJakarta (uhuy…. saya masih konsisten kan, walo udah 4 bulan di Jakarta, cek ini). Dengan randomnya saya kepikiran tentang cerita-cerita dongeng yang suka seenaknya sendiri. Bikin iri & mupeng pendengar/penonton karena pasangannya udah ganteng & cantik, kaya & baik hati, dicintai semua orang, eh kok ya kisah cintanya mulus untuk selama-lamanya…. Kurang ajar banget yang bikin cerita. Berapa milyar orang yang sakit hati cuma bisa nonton kesempurnaan itu di film-film kartun (dan nggak ngalami sendiri maksudnya).

Dengan kekritisan yang tinggi (huekk), langsung ngeromet dalam hati: ‘kalau bikin cerita, jangan yang biasa, dong, yg unusual napa?’… Tiba-tiba, muncul muka-muka ini di benak saya.

Putri dan kodok

the princess & the frog

Gadis manis dan manusia separuh singa separuh beruang (siluman jadi-jadian?)

 

beauty & the beast

Lalu makhluk ijo gendut dan putri

 

shrek & princess fiona

Pangeran dan putri duyung

 

prince eric & ariel mermaid

Anak cowok yang bisa terbang & peri

 

peterpan & tinkerbell

Cewek cantik dan gorilla

 

King Kong

Manusia dan makhluk luar angkasa

Jake Sully & Neytiri

Mengingat hal itu. Saya jadi mikir, nampaknya para sutradara dan pencipta karakter sudah berusaha mati-matian stress juga untuk menjodoh-jodohkan makhluk tak sejenis. Hahaha…. Dunia nyata memang butuh imajinasi liar untuk melengkapinya…. Yang nyata-nyata aja nggak cukup :)

NB: saya cukup kecewa dengan postingan kali ini. sungguh nggak mutu banget. ini cuma pelampiasan karena si penulis sudah gatel pengen nulis, tapi idenya NOL BESAR…. alhasil, yang baca kasian… mbaca tulisan gak mutu… hahaha….

NB2: saya jadi inget film MALENA, dan jadi pengen nonton THE READER……

#357 – Di balik jendela

Arum mematikan lampu ruangan tengah. Membiarkan ruang itu tanpa cahaya. Supaya ia bisa melihat gedung di sebelah apartemennya dengan lebih jelas. Ia suka melihat jendela-jendela di gedung itu. Nyala lampu-lampunya terlihat dari jendela-jendela besar gedung. Dan ia bisa melihat, apa yang orang lakukan di balik jendela-jendela tak bertirai itu. Restoran temaram yang romantis, ruang-ruang kantor yang masih berpenghuni sampai larut malam, kamar-kamar yang sesekali terlihat penghuninya.

Arum tak pernah menyangka, ia akhirnya bisa juga berada di apartemen itu. Memandang gedung dengan banyak lampu saat langit sudah gelap adalah salah satu impian sebelum tidurnya. Jendela apartemen yang besar itu juga membuatnya bisa melihat lobby yang kerap dilalui mobil dan taksi silih berganti, kolam renang asimetris yang biru bergradasi, cantik sekali. Impian sebelum tidur kadangkala tak mustahil terjadi.

Memandang dari balik jendela. Mungkin orang lain bosan. Mungkin orang lain hanya melakukannya untuk melihat cuaca. Tapi ia tidak. Ia merasa itu adalah kegiatan yang lebih menyenangkan daripada jalan ke mall dan berbelanja. Sesekali ia menatap ke bagian atas dari gedung itu. Di bagian paling atas ada restoran dengan lanskap langit. Beberapa pasangan duduk di sana. Tampak menikmati malam dan cinta itu sendiri. Orang lain mungkin bosan. Tapi Arum tidak.

Kesendirian itu bisa menyenangkan. Mengamati keramaian itu juga menyenangkan. Hanya dengan melihat saja, ia sudah bahagia. Dari balik jendela itu, kehidupan di seberang sana nampak menyenangkan. Dunia serasa begitu damai. Salah kalau orang berkata hanya bisa menikmati kedamaian di bukit-bukit berpinus atau di dekat air terjun.

Arum merasa hidupnya sempurna. Ia bahagia. Ia memutar 1 folder lagu dari notebook-nya. Lagu pertama adalah Fireflies dari Owl City. Lagu sempurna untuk malam yang sempurna. Hanya satu yang kurang. Ia sadari itu ketika ada bayangan Ando melintas di benaknya. Ya, pria itu lagi….

Mempersiapkan KKN (Kuliah Kerja Nyata)

Judulnya nggak asik banget ya? Hahaha. Intinya sih tulisan ini mau dipersembahkan buat adik-adik yang akan menghadapi KKN. Oh ya, sebelum panjang cerita ke mana-mana. Mending saya kasi tau dulu bahwa saya adalah alumnus dari Fak. Ekonomika & Bisnis, UGM. Pada Juli-Agustus 2008 KKN di Kecamatan Pajangan, Bantul.

Jujur ya… Beberapa semester sebelum boleh menjalani KKN, saya adalah orang yang sangat ngebet mau KKN. Ada keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat menolong masyarakat dengan kemampuan saya; berbagi ilmu, dsb. Ketika sudah direkrut oleh teman untuk masuk ke tim KKN, yang dirasakan adalah agak hopeless…. Masalahnya adalah kepentok budget. Kegiatan pencarian dana tidak (begitu) sukses, sehingga program-program pun nggak bisa idealis. Tidak bisa jadi seperti sinterklas yang bagi-bagi hadiah karena kami hanya bergantung pada uang pribadi yang direlakan serta berbagai produk sponsor yang bisa diberikan gratis.

Ketika KKN sudah hampir selesai, saya sadar bahwa performance kami nggak begitu baik. Apa yang sudah kami lakukan, kurang nge-gong. Ada beberapa program yang gagal seperti program pelatihan pembuatan limbah serbuk batok kelapa menjadi briket arang. Ada program yang nggak tuntas, yaitu mengenai pembuatan kompos, namun belum sampai berhasil membuat mereka untuk benar-benar merasakan betapa berguna dan murahnya kompos (baca: mereka masih menggunakan pupuk urea yang mahal). Segala sesuatu yang disediakan alam adalah ‘mudah’ dan ‘mudah’ adanya. Manusia hanya harus jeli dalam melihat, bagaimana menyiasati hal itu. Adaprogram yang nggak kesampaian, yaitu program pengenalan pembuatan instalasi biogas. Ahhh…. sedihnya. Ada perasaan sedikit sia-sia, berada di sana.

Walaupun kami sudah membantu untuk perancangan dan pembuatan jembatan yang berguna bagi masyarakat, walau kami sudah berhasil cukup akrab dan diterima oleh masyarakat (bahkan sampai sekarang masih ada orang dari dusun KKN yang masih mengirim SMS tanda keakraban), dan masih banyak walau-walau lainnya. Saya merasa ada yang kurang dan butuh ‘tetap dibayar’ suatu hari.

Memang tidak bisa mengharapkan keberhasilan tanpa persiapan. Saya merasa ada yang kurang dalam persiapan kami dulu dalam menghadapi KKN.

Yang terpenting untuk mempersiapkan program KKN adalah: memiliki kejelian dalam melihat kebutuhan masyarakat (desa) yang mereka sendiri tidak sadari.

Kecuali kamu adalah anak orang kaya yang royal dan mau  menyumbang angka Rupiah 7 digit untuk program-program berguna yang membutuhkan biaya tak sedikit, kamu harus benar-benar jeli. Tidak semua orang punya bakat atau pengalaman yang mengajarkannya untuk menjadi jeli dalam melihat peluang. Kita hanya akan mampu membuat program KKN yang bagus dan impactful kalau kita tahu, program apa yang bisa kita buat bagi mereka, mereka butuhkan, akan meningkatkan taraf kehidupan mereka, namun hanya memerlukan sedikit biaya.

memahami kebutuhan tiap-tiap daerah tidak mudah. Semua harus dimulai dengan penerimaan masyarakat yang baik. Kita butuh keterbukaan mereka sehingga kita bisa berdialog dengan informal. Dari pembicaraan sehari-hari itulah kita bisa menangkap masalah apa yang mereka hadapi, baik yang terucapkan dari bibir mereka, maupun yang mereka tidak sadari. Pembicaraan formal cenderung tidak efektif untuk identifikasi masalah. Kejelian dan kepekaan dibutuhkan untuk melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang benar, sehingga bisa membuat solusi yang tepat pula untuk mereka.

Saya beri contoh saja deh. Seringkali mahasiswa itu pinter, IP tinggi, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang simple sekalipun.

Misalnya: Bu Giyem seorang ibu rumah tangga, istri dari tukang bangunan, ingin menambah penghasilan keluarga dengan menjual makanan. Dia sudah mencoba membuat berbagai makanan, katanya. Dia sudah pernah bikin kacang bawang, keripik bayem, bumbu bubuk yang dikemas, dll. Kemudian dia titip-titipkan di warung dan berbagai kenalan di pasar. Hasil akhirnya sama: nggak laku. Kemudian Bu Giyem nanya sama kamu, gimana ya caranya supaya pemasaran itu sukses. Kamu mau jawab apa?

Mau pake teori marketing yang mana coba? Iklan seperti apa yang bisa dia lakukan?

Kejadian itu benar-benar terjadi pada saya, dan kemudian saya sendiri cuma sampai di tahap interview (nanya2 usaha apa yang sudah dia lakukan), dan langsung merasa: memang dia sudah lakukan semua. Kalau tidak laku, ya gimana ya, mungkin pasarnya memang nggak ada. Bego sekali kan? Fhhh…… Seorang mahasiswi manajemen UGM, tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Bagaimana dia bisa menyelesaikan permasalahan besar?

*bersambung*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.