Jika Papa Hidup Lebih Lama

Jika papa hidup lebih lama, ia akan merasakan menemukan teman-teman kerjanya yang entah ada di mana… Melalui sebuah halaman pencari orang terbaik di dunia…

Waktu itu, zaman aku masih SMA… Mungkin tahun 2003… Sekali waktu Papa ingin menemukan mantan boss-nya yang bernama Mike Kendellen. Saat itu aku hanya bisa mencarinya melalui yahoo mail. Berbagai kombinasi konvensional, dicoba… Tidak berhasil…

Beberapa waktu yang lalu, melalui halaman satu dan lainnya, akhirnya sampailah aku di beranda orang yang dicari papa bertahun-tahun yang lalu.

Pa… Lewat halaman ini papa hanya perlu mengetuknya… Mike akan segera membukakan pintu.

Sayangnya papa nggak sempet.. Tapi nggak apa-apa juga sih. Mungkin ini cuma perasaan sendu yang tak perlu. Mungkin bagi papa sekarang, hal seperti itu tak perlu disesalkan…

Mungkin yang disesalkan papa adalah: kenapa anak perempuannya bersendu-sendu hanya untuk hal sepele seperti ini.

Jawabku:

Papa.. Aku anya sedang ingin menulis cerita. Tentang kamu, Pa.

Harmoni, 22 Februari 2011.

A daughter of Bartholomeus Haryanto…

Life is Like a Reality Show Named True Beauty

I read 1 Peter 1:6-9. And this is what I thought.

Life is like reality show I watched in cable TV: True Beauty. We are (actually) sent by God to this world for being the best creature He expect.

But the reality is: In our dialy life, we are chasing for power, wealth, self glory, lover & super kids.

One day, after we are eliminated from the game, we realized that we’re wrong in choosing our ‘life dedication’

Tentang Iman

Beriman adalah seni bertaruh. Membela sesuatu yang dianggap benar dengan resiko besar.
Orang yang memilih tidak percaya, tidak menaruh taruhannya di sana. Ia pun tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan apapun sebagai hadiahnya.

Harmoni.
Jumat, 14 Jan 2011; 00:59

Film Finding Nemo dan Binatang Peliharaan

Sudah lama saya ingin post tulisan dengan tema ini. Dan kali ini, film Finding Nemo menjadi pemantik yang ringan namun berhasil membuat saya menulis. Hahaha. Thanks, cutie (baca: Marlin, Nemo, and friends) !!

Marlin dan Nemo (perhatikan sirip Nemo kecil sebelah)

Pembaca: Hey, aureliaclaresta! Buat apa sih, nulis tentang film lawas tahun 2003. Ini tahun 2011, masa nulis tentang film yang udah lewat 8 tahun?

Yangnulisblog: Yeee… suka-suka dongg… Lagian ini bukan tulisan tentang review film itu. Ini tentang apa yang aureliaclaresta pikirkan di antara waktu menonton film itu.

*yang ngobrol diusir

Okay, saya mau tanya:

apakah memelihara binatang adalah perbuatan mulia?

menurut saya, untuk binatang-binatang tua, cacat, dan hampir punah (terancam eksistensinya di habitat asli) jawabannya adalah: YA. Tapi untuk semua binatang di luar kategori itu, jawabannya adalah TIDAK.

Walaupun mereka ‘hanya’ binatang. Makhluk yang hidupnya seolah cuma untuk: makan, kawin & beranak pinak, menunjukkan kekuasaan, dan berkelahi. Mereka layak hidup dengan bebas sesuai dengan kodratnya masing-masing. Jika ia adalah burung yang bersayap, maka selayaknya ia hidup di udara, terbang dengan sayap yang dimilikinya, mencari makanan, membangun sarangnya, bersiul-siul gembira di alam.

Rasa-rasanya dahulu kala, saya pernah membaca majalah entahapa, dan di bagian profil orang terkenalnya ada beberapa kalimat yang kurang lebih seperti ini

X adalah penyayang binatang sejak kecil. Sekarang di halaman belakangnya, beliau memiliki elang, bla bla bla….

Mengenai siapa si X dan hewan apa saja yang dipeliharanya itu tidak penting. Yang mau saya garis bawahi adalah: apakah benar si X adalah penyayang binatang jika ia mengurung binatang-binatang tersebut di rumahnya?

Mengurung binatang adalah perilaku orang yang tidak menyayangi binatang. Mereka tidak memperlakukan binatang sebagai teman, tapi sebagai ‘peliharaan’. Serendah itu. P.E.L.I.H.A.R.A.A.N

Saya ingin memberikan efek peyorasi pada kata itu. Peliharaan. Kata itu tak pernah berkonotasi positif menurut saya.

Kembali ke peliharaan. Ya, menurut saya, memelihara hewan -apalagi hewan yang di habitat aslinya memiliki ruang yang sangat luas- masuk ke dalam kategori dosa terselubung. Dosa akibat ketamakan. Keserakahan. Manusia ingin memiliki apapun yang ia suka. Ketika ia menyukai hewan tertentu, maka ia bawa hewan itu ke rumahnya, dibuatkan kandang dan diberi makan.

Hewan itu sendiri terkungkung dan stress. Walau ia masih makan, masih minum, dan masih bisa ‘goyang dombret’ dengan lawan jenisnya, tapi… hidupnya terpasung.

Berita tentang orang yang dipasung beberapa tahun lalu pernah “in” di televisi. Entah karena dianggap sakit jiwa, entah karena hal lain: saya tidak setuju orang dipasung. Pun saya tidak setuju binatang dikandangkan atau dipelihara di ruang yang terlalu sempit.

Sekali lagi: orang yang mengurung binatang di kandang/sangkar/apapunnamanya bukanlah penyayang binatang.

Sekian… (gaya orang menutup pidato, menunduk hormat dengan anggun)

Pintar dan Sukses ala Indonesia

Saat ‘menggelandang’ di stasiun Sudirman tadi malam, saya menonton Kick Andy. Episode yang disponsori Djarum ini diberi judul Demi Prestasi Sang Buah Hati. Talkshow-nya menyorot tentang dukungan orang tua untuk anaknya yang ingin menjadi atlet.

Sebagai orang Indonesia, kita sama-sama tahu. Menjadi atlet bukanlah cita-cita yang lazim.

Cita-cita yang lazim itu jadi dokter, engineer, CEO, manajer, akuntan, guru/dosen, ahli IT, dan PNS.

Jadi penyanyi rock, pesulap, penari, seniman, olahragawan, ahli sastra daerah, ahli sejarah bukan hal yang membanggakan bagi sebagian besar orang tua di Indonesia. Mungkin tidak hanya di Indonesia. Film 3 Idiots memberitahu orang Indonesia, bahwa di India itu pun terjadi. Di Amerika pun setahu saya, ada profesi-profesi yang dianggap lebih tinggi dan terhormat daripada profesi lainnya (misalnya lawyer & wealth/finance manager)

Setelah Herman menonton 3 Idiots (dan saya baru nonton 1 part di Youtube). Dia beberapa kali membawa topik ini ke dalam pembicaraan kami. Maka, bergulirlah pembicaraan tentang hal ini. Tentang menjadi diri sendiri. Tentang mengejar jati diri. Mengejar passion hidup. Tentang ‘aku mau jadi apa’.

Sama seperti pendukung gerakan go green yang terus mendengung-dengungkan supaya orang mulai bergerak aktif mengubah gaya hidupnya kembali mencintai alam. Sama seperti Rene Suhardono yang terus mendengungkan agar orang menyadari bahwa orang perlu menemukan passion hidup dan mengejarnya sampai mati. Sama seperti Yoris Sebastian yang memiliki keyakinan happynomics dan meyakinkan pemuda-pemuda untuk bekerja dengan happy. Saya dengan post ini ingin menyambung semangat ini. Mengangkat tema ini supaya semakin banyak orang diteguhkan, bahwa orang pintar adalah orang yang mengenal dirinya dan memilih jalan yang sesuai dengan bakat dan kesenangannya.

Tuhan menciptakan manusia begitu beragam. Orang memiliki hobi yang berbeda-beda, bakat yang berbeda-beda. Untuk apa? Untuk menciptakan dunia yang utuh dengan segala bagian-bagiannya. Manusia hanyalah satu bagian dari sekian milyar* komponen alam. Seorang manusia juga hanya memegang 1 bagian dari tugas semua manusia. Mengapa harus menjadi pintar dan sukses dengan ukuran yang bukan dibuat untuk anda?

Di Indonesia, orang yang disebut pintar itu terbatas pada yang jago eksak (exact science).

Kalau di tingkat sekolah menengah atas (SMA), yang pintar adalah yang masuk ke kelas IPA. Anak IPS konotasinya adalah buangan, apalagi kelas Bahasa. Hal itu membuat orang Indonesia secara tidak sadar, menempatkan kemampuan eksak sebagai indikator dari predikat PINTAR. Saya ingin bertanya, apakah hal itu fair? Anak yang pintar menari seperti Brandon ‘Indonesia Mencari Bakat (IMB), andaikan dia ngitungnya lemot, terus dia nggak boleh dibilang sebagai anak pintar? Joe Sandy dari acara pencarian magician berbakat, The Master dibilang pintar karena dia jago menghitung. Perhatikan hal ini. Kata pintar menjadi identik dengan kemampuan menghitung dan logika. Betapa miskinnya kata itu.

Brandon IMB

Fakultas Kedokteran dan Teknik juga merupakan yang favorit di Indonesia. Mengapa? Karena pride. Orang pintar akan berebut masuk ke fakultas-fakultas tersebut. Berhasil masuk dan lulus dengan predikat cum laude dari fakultas itu, orang tua dijamin akan bangga. Kebanggan orang tua (yang tidak moderat) menjadi begitu terbatas. Mengapa nggak bisa bangga kalau anaknya jago balap motor seperti Doni Tata dan jago nge-rock seperti Ahmad Dhani?

Setahu saya, semua org ingin menjadi pribadi yang unik. Tapi anehnya, mereka ingin dinilai pintar dengan parameter yang sama: jago logika, jago ngitung. Juga mau diukur kesuksesannya dengan indikator yang sama: kesuksesan finansial.

(Aurelia Claresta - 14 September 2010 10:17 – bus Trans Jakarta, halte Bank Indonesia)

Kenapa orang tua bisa bangga kalau anaknya jadi dokter yang lulus cum laude yang tidak bahagia karena lebih suka mengutak-atik komponen elektronik? Bukankan ini adalah sesuatu yang salah?

Tokoh Keenan dalam buku Perahu Kertas-nya Dewi ‘Dee’ Lestari adalah contoh dari anak yang bisa dapat nilai terbaik di Fakultas Ekonomi namun jiwanya hidup di kegiatan melukis. Memang Keenan adalah tokoh fiksi. Namun, saya yakin, tidak sedikit Keenan-Keenan lain di Indonesia, yang tidak bisa memilih jalan hidupnya, tapi dipilihkan orang tuanya. Orang tua seperti itu adalah pembunuh. Pembunuh ‘semangat hidup’ dari diri anaknya. Tapi biasanya mereka merasa melakukan hal itu demi kebaikan si anak. Demi kesuksesannya. Sekali lagi, SUKSES diukur dengan hal yang tidak tepat: kemapanan secara finansial.

Seniman miskin saya rasa akan lebih bahagia daripada direktur kaya yang terkungkung pekerjaan di kantor padahal jiwanya ada di tempat lain. Toh “manusia tidak hanya hidup dari roti saja”, kan? Seringkali ada masa dimana makanan bagi jiwa itu lebih penting daripada makanan bagi tubuh.

Kesuksesan hidup seseorang bukan ditentukan seberapa banyak uang yang ia dapat, seberapa tinggi jabatannya, seberapa famous kenalan-kenalan dan rekan kerjanya. Kesuksesan hidup menurut saya, terjadi ketika orang itu berhasil menunjukkan karyanya, yang terjadi karena ia begitu mencintai dan memperjuangkan apa yang ia kerjakan. Kecintaan dan perjuangan itu akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Penemuan-penemuan luar biasa di abad ini, lahir dari orang-orang yang mencintai apa yang ia lakukan (baca: kerjakan).

Nugie

Mia Thermopolis, tokoh dalam serial The Princess Diaries di masa remajanya akhirnya menemukan dirinya sebenarnya memiliki bakat, yaitu bakat menulis. Awalnya dia merasa dirinya biasa-biasa saja dan tidak berbakat. Semua orang pintar dengan caranya sendiri-sendiri. Dan semua orang bisa sukses jika ia mengikuti Lentera Jiwanya.

Sebagai penutup, bagi yang belum pernah, saya ingin anda melihat video klip Lentera Jiwa dari Nugie (saran saya, nontonnya full screen aja).

Kalau masih kurang, ini saya punya link video 1 lagi.

catatan: *sebenarnya penggunaan kata milyar ini tidak tepat, cuma kalau saya pake istilah kuadriliun dan kuantiliun nanti yang baca mabok.

Apa yang (Tak) Boleh Ditanyakan

Saya tidak kenal siapa itu @vipertongue. Tapi saya suka dengan quote-nya yang saya baca di Twitter.

If annoyed by your relatives’ nosey questions, just remember to not do the same when you become their age.

Hari gini, jaman Twitter meraja, semua orang bisa terkenal karena kata-kata-seratus-empat-puluh-karakternya. Syaratnya gampang-gampang susah. Bikin banyak orang meyakini kalimat itu sebagai kalimat ampuh, sehingga mereka dengan sukarela me-retweet-nya.

But.. heyyy…. I’m not gonna talking about Twitter here. Saya mau membahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang sangat biasa terdengar di sekitar kita, dan sangat mudah kita tirukan, padahal sangat menyebalkan bagi yang mendengarkan.

Bisa tebak, pertanyaan apa itu? Yak, Tuan.. Anda benar sekali (penulis mulai berimajinasi sendiri, bisa membaca benak pembacanya),

Skripsinya sampai mana? Kapan lulus?

dan tentu saja, jawaban si tuan imajiner ini sudah sepaket dengan lanjutan reseh yang serupa, seperti

Loh, kamu masi di kampus aja? Sana, cepetan lulus, cari kerja.

Itu adalah variasi jenis pertanyaan yang membuat banyak mahasiswa tertohok-tohok dan banyak pisau-pisau imajiner nancep di mana-mana. Membuat si (calon) mahasiswa abadi berdarah-darah seperti aktor-aktor di film Darah Garuda yang saya tonton minggu lalu.

Variasi pertanyaan itu di masa-masa selanjutnya bunyinya nggak akan jauh-jauh dari

Kapan kawin? Kapan mau punya baby? Kapan nambah adik?

Begitu ‘lucu’nya pertanyaan-pertanyaan ini, sampai ada lebih dari satu iklan yang menggunakan pertanyaan segala jaman itu. Iklan apa itu? Seingat saya, ada iklan rokok “Mei…Maybe..” dan iklan KB.

Adrian Darmono

Indonesia memang istimewa. Orang-orangnya merasa bebas lepas untuk menanyakan hal-hal ‘nyebelin’ semacam itu tanpa merasa bersalah. Makanya saya setuju banget dengan apa yang ditulis @vipertongue di tweet-nya. Actually namanya Adrian Darmono. Sebut nama, biar kelihatan lebih manusiawi. Kalo viper tongue kan kesannya makhluk sejenis Voldemort yang separoh uler gitu. Out of topic. Lanjuuut.

Walaupun sampai hari ini, tweet itu cuma di-retweet oleh 38 orang (termasuk saya)… Menurut saya, apa yang dia bilang itu patut diingat-ingat sepanjang jaman. Kalo menurut kamu, pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan reseh, nggak berprikemanusiaan, dan melanggar privasi. Please, rememberDon’t ask the same question, after you pass that question. Kalo udah lulus, ya nggak usah nanya-nanya sok tengil ke adik angkatan

Skripsinya udah sampai bab brapa?

*bersambung*

Mengapa Tanganku Terlalu Kecil?

Saya yakin sekali. Hampir semua orang memiliki cita-cita mulia untuk melengkapi hidupnya. Membuat hidup yang terbatas ruang dan waktu ini menjadi berarti, kalaupun pasti akan berakhir.

Salah satu cita-citaku adalah menjadi orang yang berguna untuk bumi ini. Entah untuk manusianya atau untuk alamnya. Memenuhi cita-cita itu adalah tujuan saya dalam hidup ini.

Saya ingin melakukan hal yang besar. Hal yang signifikan. Hal yang luar biasa untuk membuat bumi lebih baik daripada hari kelahiran saya. Kemudian, hari demi hari saya mulai memimpikan memiliki banyak hal agar dapat melakukan hal yang besar tersebut.

I’m dreamt of being rich, and donating my money for the poor, for the mother earth, for anything good.

Lalu suatu saat saya tersentak ketika ada pertanyaan iseng yang melintas di kepala saya… kalo saya nggak pernah kaya, gimana? Apakah itu berarti, saya nggak akan pernah berbagi dengan orang lain?

Pernah bertanya-tanya nggak, apakah Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berdoa seperti ini:

Mengapa tanganku terlalu kecil, Tuhan? Aku punya impian besar dengan misi besar. Dan aku tak bisa melakukannya dengan tanganku yang kecil ini.

Menurutmu, orang bijak satu itu akan mengeluarkan kata-kata seperti itu? Saya tak pernah mendapati kutipan semacam itu keluar dari mulut Ibu Teresa. Pun tertulis dari goresan pulpennya. Mengapa kita begitu sering menjumpai orang-orang yang merasa masih terlalu miskin untuk berbagi dan punya terlalu sedikit waktu untuk orang lain -bahkan untuk diri sendiri-. Tak sekali saya menjumpai orang yang mengatakan:

Seandainya satu hari ada lebih dari 24 jam. So little time, so many things to do.

Menurut saya, yang dilakukan orang semacam Ibu Teresa dari Kalkuta adalah hanya melakukan apa yang bisa ia perjuangkan hari per hari. Tanpa target muluk-muluk, tanpa mimpi yang terlalu besar, tanpa keinginan untuk menjadi orang besar atas hal besar yang beliau lakukan.

Ia pasti setuju, bahwa setiap orang memiliki ‘tangan’ dan waktu yang cukup untuk menggoreskan tanda kehadirannya di dunia ini. Setiap orang punya uang, makanan, pakaian, kasih yang cukup untuk dibagi-bagikan saat ada yang membutuhkan. Semua orang bisa berbagi tanpa harus berkelimpahan terlebih dahulu. Masalahnya bukan pada seberapa yang lebih, namun seberapa yang ingin kita bagikan.

Merasa berkelebihan itu sifatnya subjektif. Ketika punya 1, orang akan bilang ia akan punya kelebihan jika punya 5. Ketika sudah memiliki 5, akankah dia menganggap dirinya sudah berkelebihan. Bisa jadi tidak. Saat kamu merasa berkelebihan mungkin tak akan pernah datang.

Jadi, masih menanti saat berkelebihan?

Siapa Yang Terpenting Dalam Organisasi?

Sungguh saya merasa: saya adalah orang yang suka telat mikir. Beberapa pertanyaan yang pernah diajukan orang lain, dan tidak berhasil saya jawab, membuat pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada di memori. Dan ketika sedang senggang, saya keluarkan lagi. Layaknya hewan pemamah biak, saya ‘kunyah-kunyah’ lagi pertanyaan itu. Saya coba pikir-pikir lagi apa jawabannya. Ehm, mungkin sebenernya nggak bisa dibilang telmi juga sih. Mungkin memang pertanyaannya bersifat reflektif. Kalau belum pernah merefleksikannya, ya… bagaimana bisa menjawab?

Salah satu pertanyaan yang masih mengganggu saya adalah pertanyaan pada sebuah tes masuk di sebuah perusahaan. Di sana, ada pertanyaan:

Menurut anda, siapa/departemen/bagian apa yang paling penting dalam sebuah organisasi?

Saat itu, karena saya sudah pernah memikirkan hal ini, saya sudah punya jawaban. Saya menjawab dengan mantap:

Dengan asumsi organisasi yang dimaksud adalah perusahaan pada industri X, maka yang terpenting adalah bagian A.

Ketika maju ke tahap selanjutnya: yaitu tahap interview, jawaban saya itu dilihat oleh sang user dan saya diminta menjelaskan, apa yang saya maksud dengan jawaban saya itu. Maka, saya jelaskanlah bla bla bla bla, sesuai dengan apa yang saya yakini saat itu.

Sepulang dari interview tersebut, rasanya masih ada yang mengganjal. Jawaban saya rasanya benar dan logis… Tapi kok rasanya kurang mantap ya. Kayanya masih ada defect-nya.. Maka saya pun menyimpan pertanyaan itu sebagai salah satu dari pertanyaan most wanted to be answered. Efeknya, pertanyaan itu akan sering muncul di saat-saat bengongdi perjalanan ibukota yang makan waktu.

Akhirnya, setelah melalui berbagai kemacetan ibukota, berbagai waktu senggang di kamar mandi atau beberapa belokan gang bertikus berkecoa, saya menyimpulkan begini:

Yang paling penting dari sebuah organisasi adalah PEMIMPINnya. Pemimpin menentukan visi dari organisasi. Pemimpin adalah penentu, organisasi itu mau dibawa ke mana, akan diisi orang-orang seperti apa, dan mau berada di jalan yang mana. Untuk semua organisasi, pemimpinnya adalah yang terpenting.

Bill Gates

Betapa pentingnya pemimpin pada perusahaan secara cepat dan mudah (atau secara common sense) dapat dilihat dari besar gajinya. Besar gaji atau bagiannya menunjukkan bahwa ia sangat berpengaruh pada keberhasilan perusahaan tersebut. Namun….. pemimpin tanpa pengikut, bukanlah pemimpin (wong nggak ada yang dipimpin). Saya tidak mengatakan bahwa fungsi-fungsi di bahwa pemimpin itu tidak penting, namun saya sedang menjawab pertanyaan: siapa yang TERPENTING.

Saya kasih contoh aja… orang kalau tinggi badannya 180 cm itu tinggi atau pendek? Secara relatif, bisa dikatakan tinggi kan ya. Kalau Andi tingginya 181 cm, Beni 183 cm, dan Dion 187 cm… Siapa yang tinggi? Semua tinggi dong. Siapa yang TERTINGGI? Dion sudah pasti. Hanya ada 1 jawaban untuk pertanyaan superlatif.

Nah, selain pemimpin, di antara fungsi-fungsi manajemen di dalam perusahaan (ini bahasannya loncat ke perusahaan ya, udah ga sekedar organisasi), mana yang paling penting, hayo?

Tergantung! Perusahaan itu bergerak di bidang apa. Core bisnisnya apa. Perusahaan jasa kuliner (restoran dkk) prioritasnya adalah makanan yang lezat. Apanya yang harus bagus? Pertama-tama kokinya. Pelayan, kasir, designer interior, personalia menjadi yang nomor sekian. Sekali lagi, tidak mengatakan mereka tidak penting. Mereka semuanya harus bagus untuk mendukung perusahaan menjadi benar-benar bagus (excellent) di semua sisi. Tapi yang nomor satu, kokinya harus bagus. Makanan yang lezat adalah hal yang terpenting untuk sebuah bisnis kuliner (rumah makan). Hal ini menjawab keheranan orang-orang akan suatu tempat makan yang luar biasa rame, padahal tempatnya tidak berseni (tidak ada design interior), mungkin parkirnya susah, pelayanannya lama, dsb. Orang masih berharap akan satu hal: makanan yang enak. Itu yang paling penting,

Perusahaan jasa relaksasi (spa dkk) harus memiliki terapist yang bagus. Karena core business-nya di situ. Perusahaan jasa IT harus memiliki tim IT yang canggih. Perusahaan manufaktur harus memiliki bagian operation yang sangat handal dan terpercaya. Perusahaan jasa training harus memiliki orang-orang bagian SDM yang terbaik. Begitu polanya…

Yah….. sekarang pertanyaan itu sudah keluar dari kolam most wanted to be answered question. Any comment, my dear reader?

Mempersiapkan KKN (Kuliah Kerja Nyata)

Judulnya nggak asik banget ya? Hahaha. Intinya sih tulisan ini mau dipersembahkan buat adik-adik yang akan menghadapi KKN. Oh ya, sebelum panjang cerita ke mana-mana. Mending saya kasi tau dulu bahwa saya adalah alumnus dari Fak. Ekonomika & Bisnis, UGM. Pada Juli-Agustus 2008 KKN di Kecamatan Pajangan, Bantul.

Jujur ya… Beberapa semester sebelum boleh menjalani KKN, saya adalah orang yang sangat ngebet mau KKN. Ada keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat menolong masyarakat dengan kemampuan saya; berbagi ilmu, dsb. Ketika sudah direkrut oleh teman untuk masuk ke tim KKN, yang dirasakan adalah agak hopeless…. Masalahnya adalah kepentok budget. Kegiatan pencarian dana tidak (begitu) sukses, sehingga program-program pun nggak bisa idealis. Tidak bisa jadi seperti sinterklas yang bagi-bagi hadiah karena kami hanya bergantung pada uang pribadi yang direlakan serta berbagai produk sponsor yang bisa diberikan gratis.

Ketika KKN sudah hampir selesai, saya sadar bahwa performance kami nggak begitu baik. Apa yang sudah kami lakukan, kurang nge-gong. Ada beberapa program yang gagal seperti program pelatihan pembuatan limbah serbuk batok kelapa menjadi briket arang. Ada program yang nggak tuntas, yaitu mengenai pembuatan kompos, namun belum sampai berhasil membuat mereka untuk benar-benar merasakan betapa berguna dan murahnya kompos (baca: mereka masih menggunakan pupuk urea yang mahal). Segala sesuatu yang disediakan alam adalah ‘mudah’ dan ‘mudah’ adanya. Manusia hanya harus jeli dalam melihat, bagaimana menyiasati hal itu. Adaprogram yang nggak kesampaian, yaitu program pengenalan pembuatan instalasi biogas. Ahhh…. sedihnya. Ada perasaan sedikit sia-sia, berada di sana.

Walaupun kami sudah membantu untuk perancangan dan pembuatan jembatan yang berguna bagi masyarakat, walau kami sudah berhasil cukup akrab dan diterima oleh masyarakat (bahkan sampai sekarang masih ada orang dari dusun KKN yang masih mengirim SMS tanda keakraban), dan masih banyak walau-walau lainnya. Saya merasa ada yang kurang dan butuh ‘tetap dibayar’ suatu hari.

Memang tidak bisa mengharapkan keberhasilan tanpa persiapan. Saya merasa ada yang kurang dalam persiapan kami dulu dalam menghadapi KKN.

Yang terpenting untuk mempersiapkan program KKN adalah: memiliki kejelian dalam melihat kebutuhan masyarakat (desa) yang mereka sendiri tidak sadari.

Kecuali kamu adalah anak orang kaya yang royal dan mau  menyumbang angka Rupiah 7 digit untuk program-program berguna yang membutuhkan biaya tak sedikit, kamu harus benar-benar jeli. Tidak semua orang punya bakat atau pengalaman yang mengajarkannya untuk menjadi jeli dalam melihat peluang. Kita hanya akan mampu membuat program KKN yang bagus dan impactful kalau kita tahu, program apa yang bisa kita buat bagi mereka, mereka butuhkan, akan meningkatkan taraf kehidupan mereka, namun hanya memerlukan sedikit biaya.

memahami kebutuhan tiap-tiap daerah tidak mudah. Semua harus dimulai dengan penerimaan masyarakat yang baik. Kita butuh keterbukaan mereka sehingga kita bisa berdialog dengan informal. Dari pembicaraan sehari-hari itulah kita bisa menangkap masalah apa yang mereka hadapi, baik yang terucapkan dari bibir mereka, maupun yang mereka tidak sadari. Pembicaraan formal cenderung tidak efektif untuk identifikasi masalah. Kejelian dan kepekaan dibutuhkan untuk melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang benar, sehingga bisa membuat solusi yang tepat pula untuk mereka.

Saya beri contoh saja deh. Seringkali mahasiswa itu pinter, IP tinggi, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang simple sekalipun.

Misalnya: Bu Giyem seorang ibu rumah tangga, istri dari tukang bangunan, ingin menambah penghasilan keluarga dengan menjual makanan. Dia sudah mencoba membuat berbagai makanan, katanya. Dia sudah pernah bikin kacang bawang, keripik bayem, bumbu bubuk yang dikemas, dll. Kemudian dia titip-titipkan di warung dan berbagai kenalan di pasar. Hasil akhirnya sama: nggak laku. Kemudian Bu Giyem nanya sama kamu, gimana ya caranya supaya pemasaran itu sukses. Kamu mau jawab apa?

Mau pake teori marketing yang mana coba? Iklan seperti apa yang bisa dia lakukan?

Kejadian itu benar-benar terjadi pada saya, dan kemudian saya sendiri cuma sampai di tahap interview (nanya2 usaha apa yang sudah dia lakukan), dan langsung merasa: memang dia sudah lakukan semua. Kalau tidak laku, ya gimana ya, mungkin pasarnya memang nggak ada. Bego sekali kan? Fhhh…… Seorang mahasiswi manajemen UGM, tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Bagaimana dia bisa menyelesaikan permasalahan besar?

*bersambung*

Membakar Kemarahan: Memberi Minyak Pada Api

Saya ingat sekali, bahwa dulu waktu saya kecil, saya adalah anak yang suka menghidupi kemarahan saya. Menghidupi kemarahan itu sekarang saya ibaratkan bagaikan menambahkan minyak pada api yang berkobar. Apa yang saya lakukan waktu itu?

Setiap orang pasti pernah kesal karena sebab-sebab apapun: dipelakukan tidak adil, tidak diperhatikan, dimarahi, dsb. Pada waktu saya masih kecil, saya merasa emosi saya meluap-luap. Mudah sekali marah. Kekesalan bisa langsung ditransformasi menjadi kemarahan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membiarkan kata-kata ‘tukang kompor yang ada di dalam hati’ memperjelas kekesalan itu dan membuatnya menjadi kemarahan.

Misalnya: saya sakit hati karena dimarah-marahi sama kakak kelas waktu ada LDK (latihan dasar kepemimpinan). dalam hati saya memperbesar kekesalan itu dengan: mengulang-ulang kata-kata yang bikin sakit hati itu, mengingat-ingat secara persis tentang hal yang menyakitkan dari kata-kata itu, mengkritisi kata-kata tajam itu tidak relevan-tidak manusiawi, mengubah kekesalan dari tindakannya ke orangnya, mencari-cari kesalahan orang itu di kehidupan sehari-harinya dan menjadikan itu alasan bahwa orang itu memang ga lebih baik dari saya, dst dst….

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pengalaman yang agak nggak enak (siapapun yg mengetahui apa yg saya alami, pasti menganggapnya itu pengalaman ga oke). Tapi entahlah, kok saya sudah tidak bisa marah ya. Selama proses pendewasaan diri, saya sudah membuang jauh2 kebiasaan ‘memberi minyak pada api’ alias menghidupi kemarahan. Kemarahan itu sangat merugikan diri sendiri. Di saat terakhir saya merasa sangat marah pada seseorang, saya merasa di dalam dada ini panasssss…. Benar-benar seperti ada yg membara di dalam. Sangat-sangat nggak sehat buat tubuh, terutama buat psikis. Oleh karenanya, saya sudah nggak mau lagi menghidupi kemarahan.

Kelemahannya: kemarahan itu bisa dijadikan energi yang bisa digunakan untuk memacu orang melakukan hal apapun. Ketika energi itu digunakan untuk melakukan hal-hal positif, energi itu berguna sekali. Sayang sekali, saya sudah lupa bagaimana caranya menghidupi kemarahan dalam hati saya. Ketika ada momen untuk bisa menangkap energi itu dari kemarahan saya, saya sudah nggak bisa menyimpan energinya, karena sudah susah untuk marah.

Yah, walaupun kehilangan momen itu (momen menyimpan energi kemarahan untuk menjadi sangat bersemangat) yah, nggak papa deh. Saya sangat bersyukur karena sudah nggak mudah marah. Ini adalah modal di sisi lain, yaitu untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Tidak mudah marah menurut saya, menunjukkan kematangan pribadi juga :)

Sekali lagi saya bilang: saya nggak mau memberi minyak pada api kemarahan saya. Marah itu menguras energi! Habis marah itu, capeknya luar biasa. Lapernya juga :P

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.