Entries categorized as ‘puisi’

Ia merindukan datangnya malaikat….. di hidupnya
Malaikat yang bisa membuat ia tersenyum dan tertawa
Malaikat yang selalu mencerahkan hatinya
Malaikat yang paling tahu betapa berharganya ia
Dan malaikat yang mau terus bersamanya
Agar ia bahagia
Tidak seperti saat ini
—
Malaikat itu orang sebut dengan cinta
Maka dengan niat yang teguh, ia hendak mencari cinta
Cinta itu akan ia persembahkan sebagai obat bagi hatinya yang sudah lama menjadi pesakitan
—
Maka ia mencari cinta dan terus berdoa untuk mendapatkannya
Satu… lima… tujuh puluh… tiga ratus… enam ribu…. Dua puluh ribu….
Ah…. sudah… cukup…
Aku tak sanggup menghitung banyaknya orang yang sama seperti ia
Orang yang sedang mencari cinta
Untuk hati mereka yang telah lama menjadi pesakitan
Timbulrejo, 9 November 2008; 00:40 WIB
Kategori: puisi
Ditandai: aurelia claresta, hati, malaikat, malaikat untuk hati, puisi
September 23, 2009 · & Komentar
Aku terhenyak mendengar Rama yang setia
Ternyata meninggalkan Sinta….
Hati ini bertanya-tanya…
Siapa yang salah?
Rama?
Atau Sinta?
Hatiku berbisik pada telingaku
Sudahlah…. Jangan habiskan waktu untuk mencari tahu siapa yang salah
Anak kecil saja tahu
Perpisahan tak pernah terjadi akibat perbuatan satu orang saja
Coba pikirkan…. Benar tidak?
Lalu telingaku memilih untuk tidak melanjutkan mencari dengar
Bisik-bisik tetangga
Tentang perpisahan Rama dan Sinta
Timbulrejo, 27 Desember 2008; 01:32 WIB
Kategori: puisi
Aku sedang mandi di air terjun
Sewaktu kuingat
Ada sebuah sabda
Apabila kau punya iman sebiji sesawi saja
Maka gunung pun tak mustahil kau pindahkan
Aku menatap air yang jatuh menderu-deru
Hei, aku ingin air itu berhenti dan tertahan di udara
Hmm, mungkin aku harus mencobanya
Aku percaya sepenuh hati
Air itu akan berhenti
Air itu akan berhenti
Sepenuh hati
Aku bisa melakukannya
Niatku kubuat sepenuh hati
Air itu kok tidak berhenti, ya
Aku kan sudah mencoba sepenuh hati
Ya ampun…
Sungguh Tuhan Maha Besar
Niat sepenuh hatiku pun masih lebih kecil dari biji sesawi milikNya
Sungguh besar Ia
Aku terkagum-kagum jadinya
Aurelia Claresta
Jogja, 20 Oktober 2006; 02:14
Kategori: puisi
Ditandai: biji sesawi, puisi
Apa yang bisa dikatakan bayi atas ibunya yang tak kembali lagi?
Apa yang bisa dikatakan pohon karet atas lukanya yang bergerigi?
Apa yang bisa dikatakan dedalu atas malam yang pergi?
Tidak ada….
Kesedihan hanya bisa menetes
Dan jatuh ke tanah
.::Aurelia Claresta::.
Timbulrejo, 23 Jan 2008
Kategori: puisi
Ditandai: kesedihan, menetes, puisi, timbulrejo

Puisi tak bisa berkata banyak
Ia hanya ibarat mendung yang menandakan datangnya hujan
Seperti asap yang menyembunyikan sang api
Yogyakarta, 13 Nopember 2007; 22:45
Kategori: puisi
Ditandai: puisi