New Motivation Theory: Autonomy-Mastery-Purpose By Daniel Pink
Desember 17, 2010 5 Komentar
Kebiasaan sejak menjadi mahasiswa manajemen di Fakultas Ekonomika & Bisnis, UGM membuat saya berhati-hati dalam diksi. Pun berhati-hati dengan pemakaian istilah. Tapi, karena saya sudah bukan mahasiswa lagi, kali ini saya mau seenaknya menggunakan kata TEORI. Anda seorang dosen, mau maki-maki saya karena terlalu cepat menjuduli opininya orang sebagai teori? Monggo, ada fasilitas ‘comment‘ di bawah post ini.
Di malam minggu, di saat orang pacaran ngomongin bintang jatuh, ato nongkrong di pinggir bunderan HI, saya merasakan excited yang sama setelah menonton video ini.
Pink (saya ngikutin bule, yang manggil orang -tak akrab- dengan nama belakangnya) menyiram kerinduan saya akan kelas manajemen, yang sudah saya tinggalkan selama berbulan-bulan. 18 menit dan 20 detik yang membuat saya merasa jadi lebih kaya (pengetahuan) dan berwawasan. Hehehe. Really like it.
Pink memulai kelas TEDnya dengan membawa-bawa jawara motivasi yang model penelitiannya sudah direplikasi berpuluh-puluh kali di seluruh dunia. Ada nama Karl Duncker (honestly, i haven’t heard about it before) dengan eksperimen candle problem-nya, dan ilmuwan yang lebih muda Sam Glucksberg dari Princeton University yang meneliti tentang insentif.
Intinya: Pink mau bilang ke semua orang bahwa: “Reward and Punishment” atau “Carrot and Stick” tidak berlaku untuk pekerjaan yang membutuhkan otak kanan, kreatifitas, kerjaan non-templete. Reward and punishment berlaku untuk pekerjaan mechanical, yang mudah dimengerti, jelas, dan hanya membutuhkan fokus, bukan kreativitas. Dengan berbagai penelitian yang sudah mendahului, dengan yakin ia mengajak kita untuk melupakan hadiah untuk memotivasi orang.
Note: sehubungan dengan judul yang saya pakai, saya dibisiki pacar saya bahwa sebenernya nggak ada hal baru di sini. Semua adalah bahan lama yang disajikan ulang

Alih-alih menawarkan gaji besar, insentif, dkk, Pink menawarkan 3 hal yang bisa memotivasi orang lebih baik dan lebih efektif:
Autonomy, Mastery, and Purpose
Apa tuh? Pake bahasa Indonesia, kenapa?
Hahahaha….. Oke oke, toh post ini juga masih berbahasa Indonesia, tenang aja.
Autonomy maksudnya: the urge to direct our own lives. Bahasa Indonesianya: keinginan untuk menentukan arah hidup sendiri.
Mastery: the desire to get better and better at something that matters. Jadi, keinginan untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi di suatu bidang yang penting.
Purpose: the yearning to do what we do in the service of something larger than ourselves. Yaitu kerinduan untuk melakukan sesuatu yang begitu penting, jauh lebih penting daripada diri kita sendiri.
Pink memberi contoh aplikasi otonomi. Ia menyebutkan Atlassian (perusahaan software dari Australia), Google, LOWE. Perusahaan-perusahaan ini memberikan kebebasan pada karyawannya dalam menyelesaikan pekerjaannya, atau keleluasaan untuk mengembangkan kreatifitas untuk dibawa ke tempat kerja. Ekstrimnya, yang penting pekerjaan terselesaikan, mau dikerjakan di mana, kapan, dengan siapa, dan bagaimana tekniknya, terserah. Bagi perusahaan yang core-nya ada di inovasi, ide boleh didapat dengan keleluasaan waktu kerja. Lakukan apapun yang membuat kreativitasmu mengalir deras.
Hasil dari penerapan otonomi di perusahaan-perusahaan itu adalah: produktivitas naik, loyalitas karyawan naik, kepuasan karyawan naik, dan turn-over turun.

Masih tidak percaya? Pink membawa dua nama pembuat ensiklopedia: Encarta dan Wikipedia. Yang pertama menggunakan tenaga ahli yang dibayar mahal untuk membuatnya. Yang kedua menggunakan relawan yang dengan senang hati melakukan hal itu, tidak perlu diuji untuk bisa turut melengkapi si ensiklopedi. Hasilnya? Siapa yang jadi referensi hampir semua pelajar di seluruh dunia di era digital ini??? You can answer it by yourself, right?











