New Motivation Theory: Autonomy-Mastery-Purpose By Daniel Pink

Kebiasaan sejak menjadi mahasiswa manajemen di Fakultas Ekonomika & Bisnis, UGM membuat saya berhati-hati dalam diksi. Pun berhati-hati dengan pemakaian istilah. Tapi, karena saya sudah bukan mahasiswa lagi, kali ini saya mau seenaknya menggunakan kata TEORI. Anda seorang dosen, mau maki-maki saya karena terlalu cepat menjuduli opininya orang sebagai teori? Monggo, ada fasilitas ‘comment‘ di bawah post ini.

Daniel Pink

Di malam minggu, di saat orang pacaran ngomongin bintang jatuh, ato nongkrong di pinggir bunderan HI, saya merasakan excited yang sama setelah menonton video ini.

Pink (saya ngikutin bule, yang manggil orang -tak akrab- dengan nama belakangnya) menyiram kerinduan saya akan kelas manajemen, yang sudah saya tinggalkan selama berbulan-bulan. 18 menit dan 20 detik yang membuat saya merasa jadi lebih kaya (pengetahuan) dan berwawasan. Hehehe. Really like it.

Pink memulai kelas TEDnya dengan membawa-bawa jawara motivasi yang model penelitiannya sudah direplikasi berpuluh-puluh kali di seluruh dunia. Ada nama Karl Duncker (honestly, i haven’t heard about it before) dengan eksperimen candle problem-nya, dan ilmuwan yang lebih muda Sam Glucksberg dari Princeton University yang meneliti tentang insentif.

Intinya: Pink mau bilang ke semua orang bahwa: “Reward and Punishment” atau “Carrot and Stick” tidak berlaku untuk pekerjaan yang membutuhkan otak kanan, kreatifitas, kerjaan non-templete. Reward and punishment berlaku untuk pekerjaan mechanical, yang mudah dimengerti, jelas, dan hanya membutuhkan fokus, bukan kreativitas. Dengan berbagai penelitian yang sudah mendahului, dengan yakin ia mengajak kita untuk melupakan hadiah untuk memotivasi orang.

Note: sehubungan dengan judul yang saya pakai, saya dibisiki pacar saya bahwa sebenernya nggak ada hal baru di sini. Semua adalah bahan lama yang disajikan ulang :)

Alih-alih menawarkan gaji besar, insentif, dkk, Pink menawarkan 3 hal yang bisa memotivasi orang lebih baik dan lebih efektif:

Autonomy, Mastery, and Purpose

Apa tuh? Pake bahasa Indonesia, kenapa?

Hahahaha….. Oke oke, toh post ini juga masih berbahasa Indonesia, tenang aja.

Autonomy maksudnya: the urge to direct our own lives. Bahasa Indonesianya: keinginan untuk menentukan arah hidup sendiri.

Mastery: the desire to get better and better at something that matters. Jadi, keinginan untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi di suatu bidang yang penting.

Purpose: the yearning to do what we do in the service of something larger than ourselves. Yaitu kerinduan untuk melakukan sesuatu yang begitu penting, jauh lebih penting daripada diri kita sendiri.

Pink memberi contoh aplikasi otonomi. Ia menyebutkan Atlassian (perusahaan software dari Australia), Google, LOWE. Perusahaan-perusahaan ini memberikan kebebasan pada karyawannya dalam menyelesaikan pekerjaannya, atau keleluasaan untuk mengembangkan kreatifitas untuk dibawa ke tempat kerja. Ekstrimnya, yang penting pekerjaan terselesaikan, mau dikerjakan di mana, kapan, dengan siapa, dan bagaimana tekniknya, terserah. Bagi perusahaan yang core-nya ada di inovasi, ide boleh didapat dengan keleluasaan waktu kerja. Lakukan apapun yang membuat kreativitasmu mengalir deras. :)

Hasil dari penerapan otonomi di perusahaan-perusahaan itu adalah: produktivitas naik, loyalitas karyawan naik, kepuasan karyawan naik, dan turn-over turun.

Masih tidak percaya? Pink membawa dua nama pembuat ensiklopedia: Encarta dan Wikipedia. Yang pertama menggunakan tenaga ahli yang dibayar mahal untuk membuatnya. Yang kedua menggunakan relawan yang dengan senang hati melakukan hal itu, tidak perlu diuji untuk bisa turut melengkapi si ensiklopedi. Hasilnya? Siapa yang jadi referensi hampir semua pelajar di seluruh dunia di era digital ini??? You can answer it by yourself, right?

Pintar dan Sukses ala Indonesia

Saat ‘menggelandang’ di stasiun Sudirman tadi malam, saya menonton Kick Andy. Episode yang disponsori Djarum ini diberi judul Demi Prestasi Sang Buah Hati. Talkshow-nya menyorot tentang dukungan orang tua untuk anaknya yang ingin menjadi atlet.

Sebagai orang Indonesia, kita sama-sama tahu. Menjadi atlet bukanlah cita-cita yang lazim.

Cita-cita yang lazim itu jadi dokter, engineer, CEO, manajer, akuntan, guru/dosen, ahli IT, dan PNS.

Jadi penyanyi rock, pesulap, penari, seniman, olahragawan, ahli sastra daerah, ahli sejarah bukan hal yang membanggakan bagi sebagian besar orang tua di Indonesia. Mungkin tidak hanya di Indonesia. Film 3 Idiots memberitahu orang Indonesia, bahwa di India itu pun terjadi. Di Amerika pun setahu saya, ada profesi-profesi yang dianggap lebih tinggi dan terhormat daripada profesi lainnya (misalnya lawyer & wealth/finance manager)

Setelah Herman menonton 3 Idiots (dan saya baru nonton 1 part di Youtube). Dia beberapa kali membawa topik ini ke dalam pembicaraan kami. Maka, bergulirlah pembicaraan tentang hal ini. Tentang menjadi diri sendiri. Tentang mengejar jati diri. Mengejar passion hidup. Tentang ‘aku mau jadi apa’.

Sama seperti pendukung gerakan go green yang terus mendengung-dengungkan supaya orang mulai bergerak aktif mengubah gaya hidupnya kembali mencintai alam. Sama seperti Rene Suhardono yang terus mendengungkan agar orang menyadari bahwa orang perlu menemukan passion hidup dan mengejarnya sampai mati. Sama seperti Yoris Sebastian yang memiliki keyakinan happynomics dan meyakinkan pemuda-pemuda untuk bekerja dengan happy. Saya dengan post ini ingin menyambung semangat ini. Mengangkat tema ini supaya semakin banyak orang diteguhkan, bahwa orang pintar adalah orang yang mengenal dirinya dan memilih jalan yang sesuai dengan bakat dan kesenangannya.

Tuhan menciptakan manusia begitu beragam. Orang memiliki hobi yang berbeda-beda, bakat yang berbeda-beda. Untuk apa? Untuk menciptakan dunia yang utuh dengan segala bagian-bagiannya. Manusia hanyalah satu bagian dari sekian milyar* komponen alam. Seorang manusia juga hanya memegang 1 bagian dari tugas semua manusia. Mengapa harus menjadi pintar dan sukses dengan ukuran yang bukan dibuat untuk anda?

Di Indonesia, orang yang disebut pintar itu terbatas pada yang jago eksak (exact science).

Kalau di tingkat sekolah menengah atas (SMA), yang pintar adalah yang masuk ke kelas IPA. Anak IPS konotasinya adalah buangan, apalagi kelas Bahasa. Hal itu membuat orang Indonesia secara tidak sadar, menempatkan kemampuan eksak sebagai indikator dari predikat PINTAR. Saya ingin bertanya, apakah hal itu fair? Anak yang pintar menari seperti Brandon ‘Indonesia Mencari Bakat (IMB), andaikan dia ngitungnya lemot, terus dia nggak boleh dibilang sebagai anak pintar? Joe Sandy dari acara pencarian magician berbakat, The Master dibilang pintar karena dia jago menghitung. Perhatikan hal ini. Kata pintar menjadi identik dengan kemampuan menghitung dan logika. Betapa miskinnya kata itu.

Brandon IMB

Fakultas Kedokteran dan Teknik juga merupakan yang favorit di Indonesia. Mengapa? Karena pride. Orang pintar akan berebut masuk ke fakultas-fakultas tersebut. Berhasil masuk dan lulus dengan predikat cum laude dari fakultas itu, orang tua dijamin akan bangga. Kebanggan orang tua (yang tidak moderat) menjadi begitu terbatas. Mengapa nggak bisa bangga kalau anaknya jago balap motor seperti Doni Tata dan jago nge-rock seperti Ahmad Dhani?

Setahu saya, semua org ingin menjadi pribadi yang unik. Tapi anehnya, mereka ingin dinilai pintar dengan parameter yang sama: jago logika, jago ngitung. Juga mau diukur kesuksesannya dengan indikator yang sama: kesuksesan finansial.

(Aurelia Claresta - 14 September 2010 10:17 – bus Trans Jakarta, halte Bank Indonesia)

Kenapa orang tua bisa bangga kalau anaknya jadi dokter yang lulus cum laude yang tidak bahagia karena lebih suka mengutak-atik komponen elektronik? Bukankan ini adalah sesuatu yang salah?

Tokoh Keenan dalam buku Perahu Kertas-nya Dewi ‘Dee’ Lestari adalah contoh dari anak yang bisa dapat nilai terbaik di Fakultas Ekonomi namun jiwanya hidup di kegiatan melukis. Memang Keenan adalah tokoh fiksi. Namun, saya yakin, tidak sedikit Keenan-Keenan lain di Indonesia, yang tidak bisa memilih jalan hidupnya, tapi dipilihkan orang tuanya. Orang tua seperti itu adalah pembunuh. Pembunuh ‘semangat hidup’ dari diri anaknya. Tapi biasanya mereka merasa melakukan hal itu demi kebaikan si anak. Demi kesuksesannya. Sekali lagi, SUKSES diukur dengan hal yang tidak tepat: kemapanan secara finansial.

Seniman miskin saya rasa akan lebih bahagia daripada direktur kaya yang terkungkung pekerjaan di kantor padahal jiwanya ada di tempat lain. Toh “manusia tidak hanya hidup dari roti saja”, kan? Seringkali ada masa dimana makanan bagi jiwa itu lebih penting daripada makanan bagi tubuh.

Kesuksesan hidup seseorang bukan ditentukan seberapa banyak uang yang ia dapat, seberapa tinggi jabatannya, seberapa famous kenalan-kenalan dan rekan kerjanya. Kesuksesan hidup menurut saya, terjadi ketika orang itu berhasil menunjukkan karyanya, yang terjadi karena ia begitu mencintai dan memperjuangkan apa yang ia kerjakan. Kecintaan dan perjuangan itu akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Penemuan-penemuan luar biasa di abad ini, lahir dari orang-orang yang mencintai apa yang ia lakukan (baca: kerjakan).

Nugie

Mia Thermopolis, tokoh dalam serial The Princess Diaries di masa remajanya akhirnya menemukan dirinya sebenarnya memiliki bakat, yaitu bakat menulis. Awalnya dia merasa dirinya biasa-biasa saja dan tidak berbakat. Semua orang pintar dengan caranya sendiri-sendiri. Dan semua orang bisa sukses jika ia mengikuti Lentera Jiwanya.

Sebagai penutup, bagi yang belum pernah, saya ingin anda melihat video klip Lentera Jiwa dari Nugie (saran saya, nontonnya full screen aja).

Kalau masih kurang, ini saya punya link video 1 lagi.

catatan: *sebenarnya penggunaan kata milyar ini tidak tepat, cuma kalau saya pake istilah kuadriliun dan kuantiliun nanti yang baca mabok.

Mempersiapkan KKN (Kuliah Kerja Nyata)

Judulnya nggak asik banget ya? Hahaha. Intinya sih tulisan ini mau dipersembahkan buat adik-adik yang akan menghadapi KKN. Oh ya, sebelum panjang cerita ke mana-mana. Mending saya kasi tau dulu bahwa saya adalah alumnus dari Fak. Ekonomika & Bisnis, UGM. Pada Juli-Agustus 2008 KKN di Kecamatan Pajangan, Bantul.

Jujur ya… Beberapa semester sebelum boleh menjalani KKN, saya adalah orang yang sangat ngebet mau KKN. Ada keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat menolong masyarakat dengan kemampuan saya; berbagi ilmu, dsb. Ketika sudah direkrut oleh teman untuk masuk ke tim KKN, yang dirasakan adalah agak hopeless…. Masalahnya adalah kepentok budget. Kegiatan pencarian dana tidak (begitu) sukses, sehingga program-program pun nggak bisa idealis. Tidak bisa jadi seperti sinterklas yang bagi-bagi hadiah karena kami hanya bergantung pada uang pribadi yang direlakan serta berbagai produk sponsor yang bisa diberikan gratis.

Ketika KKN sudah hampir selesai, saya sadar bahwa performance kami nggak begitu baik. Apa yang sudah kami lakukan, kurang nge-gong. Ada beberapa program yang gagal seperti program pelatihan pembuatan limbah serbuk batok kelapa menjadi briket arang. Ada program yang nggak tuntas, yaitu mengenai pembuatan kompos, namun belum sampai berhasil membuat mereka untuk benar-benar merasakan betapa berguna dan murahnya kompos (baca: mereka masih menggunakan pupuk urea yang mahal). Segala sesuatu yang disediakan alam adalah ‘mudah’ dan ‘mudah’ adanya. Manusia hanya harus jeli dalam melihat, bagaimana menyiasati hal itu. Adaprogram yang nggak kesampaian, yaitu program pengenalan pembuatan instalasi biogas. Ahhh…. sedihnya. Ada perasaan sedikit sia-sia, berada di sana.

Walaupun kami sudah membantu untuk perancangan dan pembuatan jembatan yang berguna bagi masyarakat, walau kami sudah berhasil cukup akrab dan diterima oleh masyarakat (bahkan sampai sekarang masih ada orang dari dusun KKN yang masih mengirim SMS tanda keakraban), dan masih banyak walau-walau lainnya. Saya merasa ada yang kurang dan butuh ‘tetap dibayar’ suatu hari.

Memang tidak bisa mengharapkan keberhasilan tanpa persiapan. Saya merasa ada yang kurang dalam persiapan kami dulu dalam menghadapi KKN.

Yang terpenting untuk mempersiapkan program KKN adalah: memiliki kejelian dalam melihat kebutuhan masyarakat (desa) yang mereka sendiri tidak sadari.

Kecuali kamu adalah anak orang kaya yang royal dan mau  menyumbang angka Rupiah 7 digit untuk program-program berguna yang membutuhkan biaya tak sedikit, kamu harus benar-benar jeli. Tidak semua orang punya bakat atau pengalaman yang mengajarkannya untuk menjadi jeli dalam melihat peluang. Kita hanya akan mampu membuat program KKN yang bagus dan impactful kalau kita tahu, program apa yang bisa kita buat bagi mereka, mereka butuhkan, akan meningkatkan taraf kehidupan mereka, namun hanya memerlukan sedikit biaya.

memahami kebutuhan tiap-tiap daerah tidak mudah. Semua harus dimulai dengan penerimaan masyarakat yang baik. Kita butuh keterbukaan mereka sehingga kita bisa berdialog dengan informal. Dari pembicaraan sehari-hari itulah kita bisa menangkap masalah apa yang mereka hadapi, baik yang terucapkan dari bibir mereka, maupun yang mereka tidak sadari. Pembicaraan formal cenderung tidak efektif untuk identifikasi masalah. Kejelian dan kepekaan dibutuhkan untuk melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang benar, sehingga bisa membuat solusi yang tepat pula untuk mereka.

Saya beri contoh saja deh. Seringkali mahasiswa itu pinter, IP tinggi, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang simple sekalipun.

Misalnya: Bu Giyem seorang ibu rumah tangga, istri dari tukang bangunan, ingin menambah penghasilan keluarga dengan menjual makanan. Dia sudah mencoba membuat berbagai makanan, katanya. Dia sudah pernah bikin kacang bawang, keripik bayem, bumbu bubuk yang dikemas, dll. Kemudian dia titip-titipkan di warung dan berbagai kenalan di pasar. Hasil akhirnya sama: nggak laku. Kemudian Bu Giyem nanya sama kamu, gimana ya caranya supaya pemasaran itu sukses. Kamu mau jawab apa?

Mau pake teori marketing yang mana coba? Iklan seperti apa yang bisa dia lakukan?

Kejadian itu benar-benar terjadi pada saya, dan kemudian saya sendiri cuma sampai di tahap interview (nanya2 usaha apa yang sudah dia lakukan), dan langsung merasa: memang dia sudah lakukan semua. Kalau tidak laku, ya gimana ya, mungkin pasarnya memang nggak ada. Bego sekali kan? Fhhh…… Seorang mahasiswi manajemen UGM, tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Bagaimana dia bisa menyelesaikan permasalahan besar?

*bersambung*

Buku: Your Job Is Not Your Career

Buku ini adalah buku yang membuat saya tidak meneruskan seleksi lewat TPA dan Tes Bahasa Inggris (TOEFL Test) untuk beasiswa MM UGM. Awalnya agak sayang mengeluarkan Rp72 ribu untuk sepaket buku (mengingat si pembeli adalah orang yang belum bisa men-generate money sendiri), tapi setelah membaca, harga itu adalah harga yang murah untuk saran yang begitu berharga untuk hidup saya :)

Buku ini saya beli dan baca 1 bulan lebih yang lalu. Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Rene Suhardono karena telah membuat buku ini. Saya sangat gembira, ada buku Indonesia yang bagus seperti ini. I really love my nation. Buku ini menarik untuk dibawa ke kassa dan dibawa pulang karena judulnya yang catchy. Sampulnya yang clean dan simple.

I do believe, cover is important to make a book successful. (Aurelia Claresta Utomo)

Cover yang bagus menunjukkan bahwa buku itu digarap serius. Tidak hanya hal besar yang dipikirkan, tapi sampai ke hal kecilnya sekalipun. Namun, hal yang paling esensial dari sebuah buku tentunya adalah isinya. Makanya ada kutipan yang (sangat) terkenal: Don’t judge the book from its cover. Bisa jadi, cover bagus, isinya jelek. That’s also right.

Buku ini layout dan ilustrasinya ‘aku suka banget’. Sangat ringan untuk dibaca, mudah dimengerti, hal simple bisa diulas dengan teknik-teknik tertentu sehingga tetap menarik dan tidak terasa terlalu ringan. Bagi saya, itu menunjukkan tingkat intelegensi dan taste yang baik dari si penulis.

Rene mengatakan bahwa hidup orang seringkali terbawa arus sehingga begitu dangkal. Menjalani hidupnya tanpa kekritisan. Salah satu kekritisan yang perlu adalah kekritisan untuk menentukan: dalam hidup yang cuma sekali, apakah kamu sudah bekerja sesuai dengan passion-mu?

Bisakah anda menjawab: apa passion-mu?

Rene menulis buku ini untuk menolong orang lain agar jangan sampai orang tidak bahagia dengan pekerjaannya namun tak kunjung mencari pekerjaan baru karena: terikat oleh jumlah gaji, terikat oleh jabatan tinggi, terikat oleh kenikmatan fasilitas kantor, dsb. Setiap orang harusnya menemukan kebahagiaan atau kepenuhan hidup dalam pekerjaannya. Kebanggaan atas hal-hal lain seperti: posisi, gelar, gaji, fasilitas, dll adalah semu.

Passion – It is (NOT) what you’re good at. It is what you enjoy the most (Rene Suhardono Canoneo)

Passion adalah energi. Ketika kita memilih pekerjaan yang menjadi passion kita, maka kita nggak pernah ingin menunda pekerjaan kita, karena kita menyukainya. Get it? Jadi, apa kamu sudah bekerja sesuai dengan passion-mu? Kamu suka dengan apa yang kamu kerjakan sekarang?

Ini buku yang bagus, kalau tidak bisa dibilang sangat bagus (menurut saya: sangat bagus). Nggak perlu banyak kata lagi untuk merekomendasikan buku ini. Just read it as soon as possible! Sooner is better.

Belajar dari Anne Avantie

Anda kenal Anne Avantie? Saya rasa, nama Anne Avantie cukup terkenal di Indonesia karena karya-karya kebaya modernnya yang indah, mewah, dan menawan. Saya yakin, hampir semua orang mengagumi karya-karya kebaya beliau.

Sekarang saya ingin anda bayangkan, orang sehebat dan seberbakat Anne Avantie, punya basic pendidikan apa? Sekolah mode mahal dan terkenal? Murid designer terkenal Indonesia? Lulusan bersertifikat dari luar negri? Semuanya salah. Anne Avantie memiliki masa lalu yang sulit secara finansial. Ia adalah lulusan SMA. Ketika lulus SMA, dia tidak bisa membuat pola, memotong, dan menjahit.

Kebaya karya Anne Avantie

Bisa membayangkan Anne Avantie remaja menjadi seperti designer yang sangat sukses seperti saat ini dengan basic pendidikannya dan keterbatasannya pada dunia jahit menjahit? Rasanya agak sulit, kan.

Bagaimana jika membayangkan Anne Avantie melamar untuk menjadi murid atau karyawan pada designer yang sudah kondang. Bagaimana ia harus memberikan persuasi bahwa ia adalah orang yang baik untuk dipilih sebagai murid atau karyawan? Anne remaja harus bilang apa, supaya sang designer kondang percaya? Akankah diterima? Ehem… (garuk-garuk kepala)… Entahlah. Rasanya agak nggak mungkin juga.

Kebaya yang sama, tampak depan

Hahaha, berandai-andainya sudah dulu. Intinya saya ingin mengatakan bahwa kadang-kadang, kita merasa berada di posisi yang sulit. Tidak banyak jalan yang bisa kita pilih. Banyak keterbatasan kita yang menyebabkan kita tidak mungkin melalui jalan A, memiliki peluang sangat kecil kalau lewat jalan B, sehingga terpaksa lewat di jalan C yang nampaknya nggak begitu meyakinkan. Nggak meyakinkan untuk membawa kita ke tujuan yang diharapkan.

Namun di titik itu, kita harus menerima keadaan, berjuang lebih keras dari mereka yang memiliki jalan lebih baik, dan lebih tekun dalam berusaha. Sisanya adalah keberserahan kepada Tuhan, karena kesombongan akan meruntuhkan semua hal baik. Siapa yang benar-benar berusaha, akan menuai apa yang sudah ditanamnya. Apa yang lebih mudah dari berpasrah kepada Tuhan? Semuanya akan ringan.

Pendidikan Mematikan Kreativitas

Sebuah momen telah membuat saya tergelitik lagi untuk terus menambah wawasan saya. Sungguh, saya kira saya bisa sangat frustasi kalau wawasan saya tidak berkembang seiring dengan bertambahnya umur. Mengapa?

Hidup akan berhenti di suatu titik ketika seseorang berhenti belajar.

Terdengar seperti kutipan dari seseorang? Entahlah, saya hanya menulis apa yang saya pikirkan.

Ken Robinson

Dalam rangka itu (baca: menambah wawasan) saya membuka situs TED: Ideas Worth Spreading yang saya ketahui dari seorang teman. TED adalah singkatan dari Technology, Entertaiment, Design. Ribuan ide orang-orang luar biasa didokumentasikan dalam video dan dibagikan melalui TEDTalks.

Saya memilih menontoh salah satu video dari Sir Ken Robinson. Judul videonya adalah “Ken Robinson says schools kill creativity”. Ia adalah orang Inggris yang memiliki minat pada pendidikan, menjadi dosen di University of Warwick selama 12 tahun, dan seumur hidupnya didedikasikan untuk menyerukan bahwa sekolah-sekolah di dunia telah menciptakan manusia-manusia yang kehilangan kreativitasnya.

Our education system has mined our minds in the way that we strip-mine th earth: for a particular comodity. We have to rethink the fundamental principles on which we’re educating our children – Ken Robinson

Di sekolah, doktrin-doktrin dan peraturan telah membuat anak takut untuk melakukan kesalahan (curcol: as i was and i am now). Ya… Saya rasa beliau sangat benar dalam hal ini. Ketika kita takut untuk berbuat sesuatu yang di luar kebiasaan, di luar teori, di luar akal sehat, dsb… Maka kreativitas kita terbunuh sebelum lahir.

If you’re not prepared to be wrong. You’ll never come up with anything original – Ken Robinson

Masih banyak hal di dunia ini yang salah. termasuk sistem pendidikan yang sudah di-develop sekian ratus tahun. Manusia sedang membunuh kehidupan itu sendiri.

If all the insects were to disappear from the earth within 50 years, all life on earth would end. If all human beings disappeared from the earth within 50 years, all forms of life would flourish – Jonas Salk

Top 50 Undergraduate Business Schools – by Business Week

Mau tau 50 sekolah bisnis terbaik versi Business Week?

Tapi kayanya smua dari Amerika deh. Hmm.. sebenernya ada kata-kata Silicon Valley sih tadi, itu kan India ya?! Hehehe…..

Keren ya, bisa kuliah di tempat-tempat tersebut…. Bisa lebih pintar??? Hehehehe Tergantung kali yaaa….

Hmm, aku baru tau, kalo ternyata di sana yg bagus itu program accounting & finance. Marketing dll kurang baik…. Kenapa ya?

Katanya juga, banyak perekrut SDM dari Wall Street yang ngambil karyawan dari New York University (Peringkat 8). Uugh, catet!

Tapi, yang mencengangkan, masa tidak ada nama Harvard Business School? Apa maksudnya ya? Apa…. Harvard udah pasti tidak usah di-rank? Peringkat pertama disandang oleh University of Pennsylvania, Philadelphia. Mereka sudah 3 tahun berturut-turut jadi no.1. Biaya kuliahnya? $35,916 per tahun.

Peringkat kedua jadi milik University of Virginia, Charlottesville yang annual cost-nya $8,690. Alias, sekitar 80 juta rupiah per tahun.

Mahal ya?! Sekolah memang bukan buat orang yang kesulitan dana :( University of Pennsylvania, Philadelphia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.