Entries categorized as ‘opini’
Dan aku di sini. Masih bermimpi tentang perpustakaan itu, di mana aku masih bisa belajar dan bekerja di sana sampai malam hari. Perpustakaan yang hanya pernah aku dengar kabarnya dari cerita dosenku di suatu pagi. Konon katanya perpustakaan itu buka 24 jam….
Oh, andaikan saja kampusku memiliki perpustakaan seperti itu. Atau setidaknya membuka hall, lobby, selasarnya 24 jam untuk mahasiswa yang masih mau menekuri artikel, tugas, atau laptopnya. Mungkin aku saat ini masih berada di sana. Di kampusku…
Aku bertanya-tanya, apakah pejabat fakultasku juga pernah mengalami kampus yang terbuka 24 jam untuk mahasiswanya belajar ketika mereka mengambil gelar master dan doktoral di luar negri sana? Jika pernah, pernahkah mereka berterima kasih untuk kebijakan yang dibuat oleh kampus mereka yang konon sudah maju dalam konsep tersebut? Mengapa ya, mereka belum membuatkannya untuk aku dan teman-temanku di sini…
Oh bulan, oh bintang… Tolong katakan pada mereka yang mungkin sudah terlelap, bahwa aku bermimpi memiliki kampus yang tidak akan mengusirku untuk belajar atau bekerja di sana. Entah sudah berapa kali aku di’usir’ satpam secara halus untuk melanjutkan pekerjaanku di rumah, atau esok harinya. Ketika itu terjadi, haruskah aku menjelaskan panjang lebar ke satpam untuk menjelaskan suatu hal yang sangat penting untuk belajar dan bekerja? MOOD!
Ketika mood itu masih ada, tolong, jangan padamkan apinya… Please…. Jangan usir aku pulang, Pak Satpam… Aku masih mau di kampus untuk belajar dan bekerja. Apa yang kau khawatirkan dengan keberadaanku di kampus sampai larut malam? Bahkan ibuku yang begitu mengenalku tak mengkhawatirkanku (karena ia tahu bahwa aku di kampus untuk apa).
Pak Satpam… kau bisa pantau aku dengan CCTV yang menyiarkan siaran langsung itu ke ruangmu. I’m not doing anything bad, there. Hey, come on. No reason to force me to go home. I need the athmosphere to study, to work… Why i can’t stay there as long as i need it? I’m neither a criminal nor a vandals. I just can’t find better place to study and work better than my campus can provide… I also can’t afford cozy cafe for working. My bedroom only persuade me to get sleep early and I don’t have other room to work… Can’t I stay there? On my own campus?
Fiuh fiuh fiuh…. i’m talking alone here… Anybody hear me???
*Aurelia Claresta Utomo adalah mahasiswi smester 9 yang sedang berupaya menyelesaikan skripsinya di Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM, Yogyakarta
Kategori: opini · tulisan ringan
Ditandai: bekerja, belajar, campus, ekonomika dan bisnis, fakultas, FEB, hari, jogja, kampus, laptop, library, malam, mimpi, perpustakaan, satpam, UGM, Yogyakarta
Sebenarnya awalnya tulisan ini ingin saya beri judul “Miris”… sebagai lelucon saja untuk seorang teman yang sudah dua kali merilis tulisannya dengan judul tersebut.
Tanggal 24 Maret 2009 malam, saya secara tidak sengaja menemukan acara Discovery Channel khusus mengenai Korea Utara. Tertarik mengenai negara tersebut, saya pun menontonnya.
Hey… Korea Utara kan negara yang sudah saya tahu namanya sejak zaman purba SD. Bukan seperti Republik Abkhazia yang namanya sangat asing, atau Negara Eritrea yang letaknya entah di benua mana.

Kim Jong Il (born 16 February 1941)
Korea Utara… Jelas saya tahu Korea Utara dan Selatan. Korea Selatan ibukotanya Seoul dan Korea Utara ibukotanya Pyongyang. Yang baru saya tahu setelah menonton acara tersebut adalah bahwa di sana keadaannya sangat parah. Walaupun mereka sangat membanggakan kekuatan militer mereka yang merupakan no.4 di dunia, tapi di bidang lain, sangat jauh dari membanggakan. Dalam bidang kesehatan, walaupun warga tidak perlu membayar biaya kesehatan di RS, tapi dokter sangat rendah skill-nya, bahkan untuk operasi ringan seperti katarak saja, mereka [mungkin] tidak bisa. Di atas meja bedah, alih-alih kasur dan sprei bersih, yang ada hanya darah yang mengering di meja tersebut. Sangat tidak steril dan mengenaskan. Botol infus dibuat dari botol arak (yang ijo itu lho, yang kaya botol kecap). Bahkan tidak ada sabun di rumah sakit.
Korea Utara menerapkan politik luar negri tertutup. Hal ini terjadi sejak meletusnya Perang Korea (antara Korea Utara dan Korea Selatan) yang berlangsung dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Amerika Serikat adalah negara sekutu Korea Selatan yang sangat dibenci oleh SEMUA masyarakat Korea Utara. Saya memberi penegasan pada kata SEMUA karena hal itu sangat terlihat dari rekaman dokumenter curi-curi tersebut.

Kim Il Sung (15 April 1912 – 8 July 1994)
Hal lain yang saya lihat adalah betapa berhasilnya pemerintahan Kim Jong Il dalam melakukan pencucian otak atas rakyatnya. Doktrin yang sangat nyata mendarah daging adalah membenci Amerika sampai mati. Rakyat Korea Utara juga sangat mencintai dan memuja-muja Kim Jong Il serta Kim Il Sung (ayah Kim Jong Il) bak memuja dewa. Mereka sangat yakin bahwa pemimpin mereka itulah yang membuat mereka masih hidup dan hidup bahagia setelah kehancuran mereka di era Perang Korea.
Aksi Kim Jong Il dalam “menutup” Korea Utara sangatlah berhasil. Karena sampai saat ini, warga Korea Utara tidak mengenal buku umum dan internet. Sangat kontras dengan kehidupan Kim Jong Il sendiri yang dielu-elukan, yang konon merupakan pecinta film dan memiliki koleksi film sebanyak 20.000 buah. Buku-buku yang ada di Korea Utara semuanya ditulis oleh satu orang saja, yaitu Kim Il Sung, sang pendiri negara tersebut. Saya akan mengategorikan hal ini sebagai pembodohan. Mengerikan. Di era semacam ini… Saya melihat hidup mereka sama ‘modern’nya dengan kota kecil di Indonesia tahun 1990-an awal. Sedangkan HAM dll, jauhhhh tertinggal.

semua orang menghormati patung Kim Il Sung
Saya memang nggak luas wawasannya. Pantas saja hal-hal di atas baru saya ketahui sekarang, di usia 21 tahun (lebih). Jadi malu. Tapi, apa dulu di sekolah saya pernah diceritain tentang keprihatinan akan kehidupan di Korea Utara ya? Saya rasa…. Nggak pernah deh. Hehehe. Makanya saya tulis di sini untuk yang belum pernah tahu seperti saya kemarin. Yang emang belajar sejarah yaaa… Memang bukan target pembaca yang saya harapkan. Tapi komentarnya, boleh dong…
Ehm… Saya belum tahu banyak soal Myanmar, cuma dengar heboh-heboh soal junta militer di sana. Saya rasa, di sana juga banyak hal buruk yang terjadi…. [lesu]
Akan saya cari tahu…..
Gambar: wikipedia & ini
Kategori: new experience · opini
Ditandai: Kim Il Sung, Kim Jong Il, Korea Utara, miskin, negara, North Korea, otoriter
Di musim orang-orang mulai memakai harlem pants dan high waist skirt yang menurut saya kurang oke dan agak cacat secara mode
[peace yo, pendapat boleh beda kan?], saya sangat senang dengan apa yang mereka pakai. Good looking
Jangan jadi korban mode ya! Pakai yang sesuai dengan badan kamu

Debra Messing's emerald-embellished Jenny Packham piece showed off the 40-year-old's toned arms and gorgeous head of red.

Halle Berry hit yet another fashion home run in a sexy strapless Reem Acra dress at the 2nd annual Essence Black Women in Hollywood Luncheon.

Marcia Cross stole the spotlight in a lilac cap-sleeved Elie Saab stunner at a recent charity soiree.

Marcia's fellow "housewife" Teri Hatcher looked far from "desperate" in a cute tank, corset, skinny pants, and studded booties at the Indie Spirit Awards.
Gambar diambil dari sini, sini, sini, dan sini
Ini ada satu lagi dink… [ditambahkan 31 Maret 2009]

CANNES, FRANCE - JANUARY 20: Singer Cassie attends the 2007 NRJ Music Awards held at the Palais des Festivals in Cannes, France on January 20, 2007. (Photo by Pascal Le Segretain/Getty Images)
Kategori: opini · tulisan ringan
Ditandai: fashion, mode
Ternyata banyak juga yang mbaca tulisan saya tentang Bali. Tulisan ini akan jadi pelengkap tulisan itu….
Sebagai orang yang sudah menetap di Jogja sejak Juli 2005, saya ingin menuliskan hal-hal baik juga tentang Jogja, jika dibandingkan dengan Bali. Iya dong…. Selain punya kekurangan, Jogja juga punya kelebihan dong
Hehehe…
“]
![Mirota Batik Jl. A. Yani No.9 [depan pasar Beringharjo]](http://img144.imageshack.us/img144/8809/mirotaentrancexc0.jpg)
Mirota Batik Jl. A. Yani No.9 [depan pasar Beringharjo
[satu] Jogja punya toko oleh-oleh yang oke banget. Namanya Mirota Batik. Sangat disarankan untuk mengunjungi Mirota Batik untuk membeli oleh-oleh, daripada beli di jalan Malioboro [bisa diperas kalau nggak tahu harga]. Sangat baik, jika bisa mampir ke kedua Mirota Batik, baik yang di jl. Kaliurang km.13-an maupun yang di seberang pasar Beringharjo. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang di jalan Kaliurang sangat artistik dan tenang, lebih murah sedikit harganya, plus pramuniaganya cowok smua en well-build-body semua… Hehehehe. Sedangkan yang di depan pasar Beringharjo barangnya agak lebih banyak, lebih mudah dijangkau karena dekat dengan pusat kunjungan wisata [Malioboro, Benteng Vredeburg, Keraton, dan Taman Sari]. Referensi tentang tempat ini juga ada di
sini dan
situ.
[dua] Pramuniaga di Jogja ramah-ramah, euy!
[tiga] Jogja punya Becak [remember: becak, bukan becyek ya]. Tukang becaknya pun bisa nego harga pake bahasa Inggris. Mantap!!!

Buku Waton Urip karya Agus Leonardus yang dipersembahkan untuk para tukang becak
[empat] Jogja punya keraton. Dan juga punya Sultan: Hamengku Buwono X. Keratonnya masih hidup…. Bukan sekedar bangunan. Karenanya, Jogja masih punya abdi dalem. Abdi dalem adalah orang yang mengabdi kepada Sultan dan Keraton. Kalau lagi upacara, abdi dalemnya akan kelihatan dalam iring-iringan semacam pawai atau karnaval.

bagian dalam Keraton. Ludovic, tamu dari Perancis (teman auntie) tertarik dengan warna emas di kayu-kayu itu
[lima] Mural dan grafiti eksis di Jogja. Walaupun kadang ada yang cenderung mengotori daripada memperindah kota, tapi di beberapa tempat, seni ini cukup apik serta mempermanis dinding-dinding kota. Mural dan grafiti ini bisa ditemukan di stadion Kridosono, SMP 5 Yogyakarta, dinding timur UNY, perempatan Galeria Mall, perempatan Lempuyangan, perempatan Senopati, jalan Mataram, dll.

Mural Jogja versi Iklan Kedaulatan Rakyat
segitu dulu aja postingannya kali ini…. Sampai jumpaaa…..
Gambar dicolong dari tempat ini, ini, ini, dan ini.
Kategori: bisnis · opini · tulisan ringan
Ditandai: bali, becak, grafiti, jogja, keraton, Mirota Batik, mural
Sebagai sedikit informasi, saya adalah orang yang tertarik dengan dunia perkaosan [red: baca yang pelan, kalo kecepetan, bisa salah baca jadi 'aksi kriminal']. Nah, baru-baru ini, tepatnya tanggal 22 Januari 2009, saya ke Joger di Bali. Dan kemarin [2 Februari 2009] saya ke Dagadu.
It was my first time came to Bali. Itu juga pertama kalinya saya datang ke Joger dong! Ramenya…. minta ampun! [suara: ampun..... ampun....] Lepas dari keramaian di sana, saya mau komentarin tentang kaosnya Joger. Kaos Joger ukurannya besar! Untuk ukuran badan saya, saya harus beli yang untuk anak-anak, ukuran XL. Otomatis, tulisannya itu ga cocok donk! Tulisannya ya buat anak-anak! Huks… Mana tulisannya pada ‘ga waras’ semua. Ga ada yang cocok buat saya! Gambarnya juga cuma gitu-gitu aja. Tipikalnya Joger.
Sayang sekali…. Kaos Joger nggak menarik untuk saya. Komentar yang sama juga muncul dari beberapa orang teman saya, lho! Wah…. tapi memang Joger luar biasa. Walau kaosnya kaya gitu, yang masuk ke tokonya itu luar biasa banyak. Mungkin karena saya datang bersamaan dengan rombongan wisatawan lain. Jadinya, sangat padat. Sehingga kenyamanan berbelanja berkurang. Hanya saja, ketika melihat moment seperti itu, di mana kaos-kaosnya jadi tidak menarik lagi, saya mulai mengkhawatirkan sustainability-nya. Pak Joger harus segera bertindak! Kapasitas toko dan barang yang tersedia tidak dapat melayani demand yang ada. Ayo, Pak Joger! Berbenah!!!
Ngobrolin Joger sudah selesai, sekarang giliran Dagadu.
Saya datang ke Dagadu semalam untuk mencari sebuah kaos yang akan saya kirimkan ke Kazakhstan. Sayangnya, nggak terlalu mudah juga mencari kaos yang bisa saya berikan pada orang luar negri. Tipikal kaos Dagadu adalah plesetan. Agak ‘gimanaa’ gitu, kalau kasi kaos yang plesetan. Pengennya dapet kaos yang desainnya menarik, kelihatan khas Jogja, tapi pakai bahasa Inggris. Hahaha, makanya ga gampang.
Awalnya, sebelum pergi ke Dagadu, saya berharap menemui kaos versi kota-kota lain, seperti Batur Raden, Kasongan, dll yang berada di bawah label Hiruk Pikuk [sister brand Dagadu]. Sayang, sekarang Hiruk Pikuk yang dijual di Jogja, hanya yang tulisannya Jogja. Kata gardep [pramuniaga Dagadu disebut gardep, singakatan dari garda depan] yang tulisan kota lain ya tersedianya di kotanya masing-masing. Komentar saya atas koleksi Hiruk Pikuk, bad! Kurang menarik, dan koleksinya hanya sedikit. Harus banyak design baru ditambahkan.
Kunjungan saya yang terakhir ke Dagadu, agak mengecewakan. Nampaknya manajemen sedang sibuk dengan ekspansinya melalui Omus, Hiruk Pikuk, dll, sehingga pergiliran desainnya agak lambat. Key chain-nya juga belum banyak pilihan. Saya mencari key chain yang agak eksklusif, minimal dari akrilik, atau bahan logam. Sayang, nggak ada yang oke. Dagadu harus melihat kekurangan ini, untuk digarap.
Ayo…. Dagadu… Joger, aku mendukung kalian. Teruslah maju!!!
Oiya, sebagai penutup, sedikit saja, kita ngomongin kaos Jangkrik yang saya temui di kompleks GWK [Garuda Wisnu Kencana] dan Bandara Ngurah Rai. Koleksinya lumayan. Agak surprise juga dengan koleksinya yang menggunakan karikatur Beni dan Mice. Juga tersedia kaos oleh-oleh yang harganya Rp 200 – 300 ribu. Mungkin karena untuk mengganti ongkos beli ijin penggunaan karikatur secara eksklusif. Jangkrik cukup oke juga!!! Makin maju, ya!!!
Pinjam gambar dari sini, sini, dan sini
Kategori: bisnis · opini
Ditandai: bali, Bandara Ngurah Rai, Beni dan Mice, Dagadu, GWK, Hiruk Pikuk, Jangkrik, Joger, jogja, kaos, kaos oleh-oleh, oblong, oleh-oleh
Pulang dari Pulau Bali, bawa oleh-oleh apa? Maaf ya, nggak ada buah tangan untuk dibagikan. Maklum, yang ke Bali ini budgetnya mepet, itu pun hasil belas kasihan orang (dikasih). Hu hu hu…. Masih mahasiswa, jadinya, masih bokek.
Makanya, tak nulis aja. Biar jadi pengganti oleh-oleh buat kerabat, teman, dan handai taulan. Oops, salah… maksudnya oleh-oleh buat pembaca setia blog ini. Hahahaha…

Pantai Dreamland sebelum dibangun gedung-gedung dan toko-toko
Lima hari di Bali adalah masa yang sangat menyenangkan. Saya tekankan, SANGAT menyenangkan. Really… Bahkan untuk orang yang tinggal di kota wisata juga, seperti saya. Saya memberikan acungan jempol untuk pemerintah di sana. Toleransi di sana benar-benar besar. Budaya dilestarikan, salah satunya dengan menyeragamkan bentuk pagar menjadi bentuk candi bentar. Para pemandu wisata juga diharuskan menggunakan baju adat.
Bali adalah kota budaya yang hidup, bisa dilihat dari kepercayaan mereka akan persembahan sesaji, pemotongan gigi, upacara ngaben, dll. Hidup mereka sangat berdekatan dengan alam. Tak heran, lanskap di sana tertata apik.
Senang sekali rasanya melihat perempuan-perempuan Bali mengenakan kebaya yang ngepas di badan sambil membawa banten di atas kepalanya. Di tempat lain, mudah ditemukan perempuan yang meletakkan sesaji serta dupa dan memercikkan air pada sesaji tersebut.Hal itu ditambah dengan pemandangan kontras, turis asing (yang sering kita sebut bule) yang bermain air laut dan meluncur di atas ombak. Melihat hal-hal itu, membuat saya merasa, Bali memang tempat yang indah, dan sungguh pulau dewata.

Aurelia di Tanah Lot, Bali
Kasarannya, setelah melihat Bali, saya akan bilang Jogja nggak ada apa-apanya. Sungguh. Mulai dari budaya, bangunan, pantai, butik, furniture, barang kesenian. Jogja masih nol kecil… Ayo nih, siapa sih pemimpin Jogja? Kembangkan Kasongan. Kembangkan Malioboro. Berdayakan pengerajin. Adakan sentra keranjinan yang lebih menarik untuk didatangi (melebihi Pasar Seni Gabusan). Adakan tari-tarian di keraton. Adakan lomba-lomba tari tradisional yang lebih besar-besaran. Adakan lomba ndalang, dsb. Jangan sampai kesenian yang menarik, tidak terekspose. Sia-sia…. Oh iya, satu hal dari Jogja yang lebih baik daripada Bali, yaitu keramahan pramuniaganya. Di Bali, sudah beberapa kali saya diberi jawaban ketus dari para penjual. Ada juga pengalaman di-nyolotin sama bencong. Sial….
Kembali ke Bali. Salah satu hal yang disayangkan dari Bali adalah, Pantai Kuta (pantai yang paling dekat dengan pusat keramaian dan hiburan) yang banyak sekali sampahnya. Semoga pantai Dreamland yang pasirnya putih dan indah itu, tidak bernasib sama dengan Kuta (dalam hal sampah). Sungguh budaya membuang sampah yang buruk.
Pita (teman yang selama 2 malam terakhir jadi rekan setempat tidur) mengajak untuk kumpul di Bali, 1 tahun lagi, dengan membawa sangu alias bekal yang lebih banyak, supaya lebih bisa banyak belanja dan bersenang-senang di sana. Okay… Nabung dehhh….
Itung-itung membantu bergeraknya perekonomian (ya dengan konsumsi.. hahaha).
Kategori: new experience · opini · tulisan ringan
Ditandai: bali, belanja, budaya, indah, indonesia, jogja, kesenian, pemerintah, perekonomian, tarian, Yogyakarta
Istilah e-waste saya baca pertama kali, sekitar 2 minggu yang lalu di majalah Times. E-waste adalah istilah yang merujuk pada sampah elektronik, yaitu barang-barang elektronik yang sudah tidak dapat bekerja dengan baik alias rusak.

e-waste worker on a mountain of e-waste
Setelah membaca postingan teman dan juga iseng klak-klik ke sini, saya jadi mengingat salah satu hal yang membuat saya excited, membuat saya termotivasi untuk bekerja, yaitu menginisiasi bisnis yang mengolah e-waste. E-waste tersebut akan ‘diurai’ secara khusus, hehehe, maksudnya dipilah-pilahkan komponennya, sehingga mungkin ada komponen yang bisa dipakai lagi, seperti timbal, tembaga, dll.
Pengen rasanya ada jalan yang membawa saya sampai di sana. Sampai di mana? Di China. Atau manapun lah, negara yang memiliki praktek ini. Di Indonesia sudah ada belum ya??? Saya pengen memulainya….. Ada yang mau modalin? Hihihi. Saya nggak suka ngutang. Ini masalah pilihan, bukan skill mengelola keuangan (financial management)….
Ide mengelola e-waste sebagai bisnis ini sudah muncul sejak saya smester 2. Saya sudah ungkapkan di kelas Manajemen-nya Hani Handoko.
Arrrgghhh…. jadi ingat, harus cepetan skripsinya…..
gambar diambil dari sini
Kategori: new experience · opini · tulisan ringan
Ditandai: China, e-waste, elektronik, Hani Handoko, indonesia, limbah, pemilahan sampah, pengelolaan limbah, recycle, tembaga
Another me: Lho… keadaan krisis kok malah bahagia?
Aurelia: Ya iya… karena orang pada berhemat. Jumlah pertumbuhan kendaraan (terutama mobil) berkurang, kan lebih bagus tuh buat lingkungan. Orang mengurangi kegiatan foya-foya, kan bagus tuh buat mengurangi kesenjangan sosial. Orang mengurangi acara berpergian, kan bagus tuh buat menghemat energi dari fosil.
Another me: Oh…. gitu maksud judul tulisan ini?
Aurelia: Iya…. Krisis ini membawa hikmat! Eh salah. Ada hikmah di balik krisis….
Another me: Kayanya pernah diungkapin juga sama orang terkenal, sapa ya?
Aurelia: Sandiaga S Uno… entrepreneur ganteng yang seumuran ama nyokap.
Another me: Huuu……Eh, itu doang yang mau ditulis?
Aurelia: Iya
Another me: Payah…..
Aurelia: Biarin! Sapa suruh mau mbaca…. Hahahaha
Another me: hei, yg pada baca…. udah bubar aja….. tulisannya udah abis
Aurelia: [cekikikan]
Kategori: opini · tulisan ringan
Ditandai: keuntungan, krisis, opportunity
I watched James Bond 007 Quantum of Solace last night. I went to the cinema with 13 KMK friends. Even though I’m not satisfied with the movie like I was with Iron Man, I learned a few things from this movie.

Camille - Bond - Agent Fields
(One) The film shows me that having sex –for some (or most?) people–does not necessarily have to be with your love one. You can do it with anyone, as long as it’s mutual. Although Bond loves Vesper, he takes pleasure being with Fields – the red hair who looks like Cinta Laura.
(Two) The film portrays the poor in Bolivia who suffer due to the lack of water. The movie maker wants to remind us about the existence of influential people who easily get what they want. This is illustrated by a character named Dominic Greene who forces a Bolivian General to sign a contract that makes Greene the legitimate owner of 60% of water in Bolivia. People like Greene don’t care about the suffered residents. Instead they want to take advantage from the situation. We have to be concerned about this kind of tragic reality. People like Dominic Greene exist in the real world, and maybe some of them even occupy government posts in your country. Perhaps, they are the number x richest people in the world. Their images are shown to be generous, but behind closed doors they are cruel and cold-blooded. Hello, anybody feels being pointed the finger at?

Dominic Greene
(Three) My eyes are ‘opened’ seeing that government sometimes can’t deal with many issues when it comes to the rich-and-influential-yet-immoral people. It’s like that you have to choose between agreeing that bad things will happen, or refusing them to happen with the consequences that you and your family will be killed and that these things will prevail even after your death. This dilemma most likely will lead us to the first choice.
Actually, I didn’t really like the movie but I enjoyed the rare occasion being with my friends. But I have to thank the film producer who slipped in the implicit messages. It signifies that this world still needs a lot of heroes. We are still waiting for the death of evil in our world. So, who’s gonna be the hero? You? Or me……..? Maybe us Do the best to our world, buddy.
picture from here and here
Kategori: opini
Ditandai: 007, camille, cinta laura, dominic greene, fields, james bond, KMK, quantum of solace
Tanggal 28 Oktober 2008, Widy berangkat ke Perancis. Dia tinggal di Solo Berangkatnya bukan dari Soekarno Hatta (Cengkareng, Banten), tapi dari Bandara Adisucipto – Yogyakarta, dan transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Selanjutnya baru lanjut ke Paris Charles de Gaulle International Airport (CDG) .

Kuala Lumpur International Airport
Yanuar Kurniawan, teman kampus saya… Berangkat ke Australia untukmenyelesaikan S1-nya di sana. Lewat mana? Lewat Kuala Lumpur juga. Dan masih banyak lagi yang melakukan hal serupa. Apa pasal? Kalau lewat KL lebih murah total biaya tiketnya, daripada langsung ke Paris (dari Soekarno Hatta) atau langsung ke Australia (dari Indonesia)…
Sebal….
Indonesia harus berbenah!!! (jangan cuma mbahas RUU Pornografi… bukannya melakukan sesuatu yg nyata).
Indonesia jauh tertinggal…. KLIA meng-klaim dirinya sebagai WORLD’S BEST AIRPORT. Bagaimana dengan Soekarno Hatta???
sumber foto KLIA: http://www.flickr.com/photos/stuckincustoms/2384405088/
Kategori: opini
Ditandai: adisutjipto, airport, bandara, charles de gaulle, kuala lumpur international airport, soekarno hatta