New Motivation Theory: Autonomy-Mastery-Purpose By Daniel Pink

Kebiasaan sejak menjadi mahasiswa manajemen di Fakultas Ekonomika & Bisnis, UGM membuat saya berhati-hati dalam diksi. Pun berhati-hati dengan pemakaian istilah. Tapi, karena saya sudah bukan mahasiswa lagi, kali ini saya mau seenaknya menggunakan kata TEORI. Anda seorang dosen, mau maki-maki saya karena terlalu cepat menjuduli opininya orang sebagai teori? Monggo, ada fasilitas ‘comment‘ di bawah post ini.

Daniel Pink

Di malam minggu, di saat orang pacaran ngomongin bintang jatuh, ato nongkrong di pinggir bunderan HI, saya merasakan excited yang sama setelah menonton video ini.

Pink (saya ngikutin bule, yang manggil orang -tak akrab- dengan nama belakangnya) menyiram kerinduan saya akan kelas manajemen, yang sudah saya tinggalkan selama berbulan-bulan. 18 menit dan 20 detik yang membuat saya merasa jadi lebih kaya (pengetahuan) dan berwawasan. Hehehe. Really like it.

Pink memulai kelas TEDnya dengan membawa-bawa jawara motivasi yang model penelitiannya sudah direplikasi berpuluh-puluh kali di seluruh dunia. Ada nama Karl Duncker (honestly, i haven’t heard about it before) dengan eksperimen candle problem-nya, dan ilmuwan yang lebih muda Sam Glucksberg dari Princeton University yang meneliti tentang insentif.

Intinya: Pink mau bilang ke semua orang bahwa: “Reward and Punishment” atau “Carrot and Stick” tidak berlaku untuk pekerjaan yang membutuhkan otak kanan, kreatifitas, kerjaan non-templete. Reward and punishment berlaku untuk pekerjaan mechanical, yang mudah dimengerti, jelas, dan hanya membutuhkan fokus, bukan kreativitas. Dengan berbagai penelitian yang sudah mendahului, dengan yakin ia mengajak kita untuk melupakan hadiah untuk memotivasi orang.

Note: sehubungan dengan judul yang saya pakai, saya dibisiki pacar saya bahwa sebenernya nggak ada hal baru di sini. Semua adalah bahan lama yang disajikan ulang :)

Alih-alih menawarkan gaji besar, insentif, dkk, Pink menawarkan 3 hal yang bisa memotivasi orang lebih baik dan lebih efektif:

Autonomy, Mastery, and Purpose

Apa tuh? Pake bahasa Indonesia, kenapa?

Hahahaha….. Oke oke, toh post ini juga masih berbahasa Indonesia, tenang aja.

Autonomy maksudnya: the urge to direct our own lives. Bahasa Indonesianya: keinginan untuk menentukan arah hidup sendiri.

Mastery: the desire to get better and better at something that matters. Jadi, keinginan untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi di suatu bidang yang penting.

Purpose: the yearning to do what we do in the service of something larger than ourselves. Yaitu kerinduan untuk melakukan sesuatu yang begitu penting, jauh lebih penting daripada diri kita sendiri.

Pink memberi contoh aplikasi otonomi. Ia menyebutkan Atlassian (perusahaan software dari Australia), Google, LOWE. Perusahaan-perusahaan ini memberikan kebebasan pada karyawannya dalam menyelesaikan pekerjaannya, atau keleluasaan untuk mengembangkan kreatifitas untuk dibawa ke tempat kerja. Ekstrimnya, yang penting pekerjaan terselesaikan, mau dikerjakan di mana, kapan, dengan siapa, dan bagaimana tekniknya, terserah. Bagi perusahaan yang core-nya ada di inovasi, ide boleh didapat dengan keleluasaan waktu kerja. Lakukan apapun yang membuat kreativitasmu mengalir deras. :)

Hasil dari penerapan otonomi di perusahaan-perusahaan itu adalah: produktivitas naik, loyalitas karyawan naik, kepuasan karyawan naik, dan turn-over turun.

Masih tidak percaya? Pink membawa dua nama pembuat ensiklopedia: Encarta dan Wikipedia. Yang pertama menggunakan tenaga ahli yang dibayar mahal untuk membuatnya. Yang kedua menggunakan relawan yang dengan senang hati melakukan hal itu, tidak perlu diuji untuk bisa turut melengkapi si ensiklopedi. Hasilnya? Siapa yang jadi referensi hampir semua pelajar di seluruh dunia di era digital ini??? You can answer it by yourself, right?

Pintar dan Sukses ala Indonesia

Saat ‘menggelandang’ di stasiun Sudirman tadi malam, saya menonton Kick Andy. Episode yang disponsori Djarum ini diberi judul Demi Prestasi Sang Buah Hati. Talkshow-nya menyorot tentang dukungan orang tua untuk anaknya yang ingin menjadi atlet.

Sebagai orang Indonesia, kita sama-sama tahu. Menjadi atlet bukanlah cita-cita yang lazim.

Cita-cita yang lazim itu jadi dokter, engineer, CEO, manajer, akuntan, guru/dosen, ahli IT, dan PNS.

Jadi penyanyi rock, pesulap, penari, seniman, olahragawan, ahli sastra daerah, ahli sejarah bukan hal yang membanggakan bagi sebagian besar orang tua di Indonesia. Mungkin tidak hanya di Indonesia. Film 3 Idiots memberitahu orang Indonesia, bahwa di India itu pun terjadi. Di Amerika pun setahu saya, ada profesi-profesi yang dianggap lebih tinggi dan terhormat daripada profesi lainnya (misalnya lawyer & wealth/finance manager)

Setelah Herman menonton 3 Idiots (dan saya baru nonton 1 part di Youtube). Dia beberapa kali membawa topik ini ke dalam pembicaraan kami. Maka, bergulirlah pembicaraan tentang hal ini. Tentang menjadi diri sendiri. Tentang mengejar jati diri. Mengejar passion hidup. Tentang ‘aku mau jadi apa’.

Sama seperti pendukung gerakan go green yang terus mendengung-dengungkan supaya orang mulai bergerak aktif mengubah gaya hidupnya kembali mencintai alam. Sama seperti Rene Suhardono yang terus mendengungkan agar orang menyadari bahwa orang perlu menemukan passion hidup dan mengejarnya sampai mati. Sama seperti Yoris Sebastian yang memiliki keyakinan happynomics dan meyakinkan pemuda-pemuda untuk bekerja dengan happy. Saya dengan post ini ingin menyambung semangat ini. Mengangkat tema ini supaya semakin banyak orang diteguhkan, bahwa orang pintar adalah orang yang mengenal dirinya dan memilih jalan yang sesuai dengan bakat dan kesenangannya.

Tuhan menciptakan manusia begitu beragam. Orang memiliki hobi yang berbeda-beda, bakat yang berbeda-beda. Untuk apa? Untuk menciptakan dunia yang utuh dengan segala bagian-bagiannya. Manusia hanyalah satu bagian dari sekian milyar* komponen alam. Seorang manusia juga hanya memegang 1 bagian dari tugas semua manusia. Mengapa harus menjadi pintar dan sukses dengan ukuran yang bukan dibuat untuk anda?

Di Indonesia, orang yang disebut pintar itu terbatas pada yang jago eksak (exact science).

Kalau di tingkat sekolah menengah atas (SMA), yang pintar adalah yang masuk ke kelas IPA. Anak IPS konotasinya adalah buangan, apalagi kelas Bahasa. Hal itu membuat orang Indonesia secara tidak sadar, menempatkan kemampuan eksak sebagai indikator dari predikat PINTAR. Saya ingin bertanya, apakah hal itu fair? Anak yang pintar menari seperti Brandon ‘Indonesia Mencari Bakat (IMB), andaikan dia ngitungnya lemot, terus dia nggak boleh dibilang sebagai anak pintar? Joe Sandy dari acara pencarian magician berbakat, The Master dibilang pintar karena dia jago menghitung. Perhatikan hal ini. Kata pintar menjadi identik dengan kemampuan menghitung dan logika. Betapa miskinnya kata itu.

Brandon IMB

Fakultas Kedokteran dan Teknik juga merupakan yang favorit di Indonesia. Mengapa? Karena pride. Orang pintar akan berebut masuk ke fakultas-fakultas tersebut. Berhasil masuk dan lulus dengan predikat cum laude dari fakultas itu, orang tua dijamin akan bangga. Kebanggan orang tua (yang tidak moderat) menjadi begitu terbatas. Mengapa nggak bisa bangga kalau anaknya jago balap motor seperti Doni Tata dan jago nge-rock seperti Ahmad Dhani?

Setahu saya, semua org ingin menjadi pribadi yang unik. Tapi anehnya, mereka ingin dinilai pintar dengan parameter yang sama: jago logika, jago ngitung. Juga mau diukur kesuksesannya dengan indikator yang sama: kesuksesan finansial.

(Aurelia Claresta - 14 September 2010 10:17 – bus Trans Jakarta, halte Bank Indonesia)

Kenapa orang tua bisa bangga kalau anaknya jadi dokter yang lulus cum laude yang tidak bahagia karena lebih suka mengutak-atik komponen elektronik? Bukankan ini adalah sesuatu yang salah?

Tokoh Keenan dalam buku Perahu Kertas-nya Dewi ‘Dee’ Lestari adalah contoh dari anak yang bisa dapat nilai terbaik di Fakultas Ekonomi namun jiwanya hidup di kegiatan melukis. Memang Keenan adalah tokoh fiksi. Namun, saya yakin, tidak sedikit Keenan-Keenan lain di Indonesia, yang tidak bisa memilih jalan hidupnya, tapi dipilihkan orang tuanya. Orang tua seperti itu adalah pembunuh. Pembunuh ‘semangat hidup’ dari diri anaknya. Tapi biasanya mereka merasa melakukan hal itu demi kebaikan si anak. Demi kesuksesannya. Sekali lagi, SUKSES diukur dengan hal yang tidak tepat: kemapanan secara finansial.

Seniman miskin saya rasa akan lebih bahagia daripada direktur kaya yang terkungkung pekerjaan di kantor padahal jiwanya ada di tempat lain. Toh “manusia tidak hanya hidup dari roti saja”, kan? Seringkali ada masa dimana makanan bagi jiwa itu lebih penting daripada makanan bagi tubuh.

Kesuksesan hidup seseorang bukan ditentukan seberapa banyak uang yang ia dapat, seberapa tinggi jabatannya, seberapa famous kenalan-kenalan dan rekan kerjanya. Kesuksesan hidup menurut saya, terjadi ketika orang itu berhasil menunjukkan karyanya, yang terjadi karena ia begitu mencintai dan memperjuangkan apa yang ia kerjakan. Kecintaan dan perjuangan itu akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Penemuan-penemuan luar biasa di abad ini, lahir dari orang-orang yang mencintai apa yang ia lakukan (baca: kerjakan).

Nugie

Mia Thermopolis, tokoh dalam serial The Princess Diaries di masa remajanya akhirnya menemukan dirinya sebenarnya memiliki bakat, yaitu bakat menulis. Awalnya dia merasa dirinya biasa-biasa saja dan tidak berbakat. Semua orang pintar dengan caranya sendiri-sendiri. Dan semua orang bisa sukses jika ia mengikuti Lentera Jiwanya.

Sebagai penutup, bagi yang belum pernah, saya ingin anda melihat video klip Lentera Jiwa dari Nugie (saran saya, nontonnya full screen aja).

Kalau masih kurang, ini saya punya link video 1 lagi.

catatan: *sebenarnya penggunaan kata milyar ini tidak tepat, cuma kalau saya pake istilah kuadriliun dan kuantiliun nanti yang baca mabok.

Apa yang (Tak) Boleh Ditanyakan

Saya tidak kenal siapa itu @vipertongue. Tapi saya suka dengan quote-nya yang saya baca di Twitter.

If annoyed by your relatives’ nosey questions, just remember to not do the same when you become their age.

Hari gini, jaman Twitter meraja, semua orang bisa terkenal karena kata-kata-seratus-empat-puluh-karakternya. Syaratnya gampang-gampang susah. Bikin banyak orang meyakini kalimat itu sebagai kalimat ampuh, sehingga mereka dengan sukarela me-retweet-nya.

But.. heyyy…. I’m not gonna talking about Twitter here. Saya mau membahas tentang pertanyaan-pertanyaan yang sangat biasa terdengar di sekitar kita, dan sangat mudah kita tirukan, padahal sangat menyebalkan bagi yang mendengarkan.

Bisa tebak, pertanyaan apa itu? Yak, Tuan.. Anda benar sekali (penulis mulai berimajinasi sendiri, bisa membaca benak pembacanya),

Skripsinya sampai mana? Kapan lulus?

dan tentu saja, jawaban si tuan imajiner ini sudah sepaket dengan lanjutan reseh yang serupa, seperti

Loh, kamu masi di kampus aja? Sana, cepetan lulus, cari kerja.

Itu adalah variasi jenis pertanyaan yang membuat banyak mahasiswa tertohok-tohok dan banyak pisau-pisau imajiner nancep di mana-mana. Membuat si (calon) mahasiswa abadi berdarah-darah seperti aktor-aktor di film Darah Garuda yang saya tonton minggu lalu.

Variasi pertanyaan itu di masa-masa selanjutnya bunyinya nggak akan jauh-jauh dari

Kapan kawin? Kapan mau punya baby? Kapan nambah adik?

Begitu ‘lucu’nya pertanyaan-pertanyaan ini, sampai ada lebih dari satu iklan yang menggunakan pertanyaan segala jaman itu. Iklan apa itu? Seingat saya, ada iklan rokok “Mei…Maybe..” dan iklan KB.

Adrian Darmono

Indonesia memang istimewa. Orang-orangnya merasa bebas lepas untuk menanyakan hal-hal ‘nyebelin’ semacam itu tanpa merasa bersalah. Makanya saya setuju banget dengan apa yang ditulis @vipertongue di tweet-nya. Actually namanya Adrian Darmono. Sebut nama, biar kelihatan lebih manusiawi. Kalo viper tongue kan kesannya makhluk sejenis Voldemort yang separoh uler gitu. Out of topic. Lanjuuut.

Walaupun sampai hari ini, tweet itu cuma di-retweet oleh 38 orang (termasuk saya)… Menurut saya, apa yang dia bilang itu patut diingat-ingat sepanjang jaman. Kalo menurut kamu, pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan reseh, nggak berprikemanusiaan, dan melanggar privasi. Please, rememberDon’t ask the same question, after you pass that question. Kalo udah lulus, ya nggak usah nanya-nanya sok tengil ke adik angkatan

Skripsinya udah sampai bab brapa?

*bersambung*

Siapa Yang Terpenting Dalam Organisasi?

Sungguh saya merasa: saya adalah orang yang suka telat mikir. Beberapa pertanyaan yang pernah diajukan orang lain, dan tidak berhasil saya jawab, membuat pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada di memori. Dan ketika sedang senggang, saya keluarkan lagi. Layaknya hewan pemamah biak, saya ‘kunyah-kunyah’ lagi pertanyaan itu. Saya coba pikir-pikir lagi apa jawabannya. Ehm, mungkin sebenernya nggak bisa dibilang telmi juga sih. Mungkin memang pertanyaannya bersifat reflektif. Kalau belum pernah merefleksikannya, ya… bagaimana bisa menjawab?

Salah satu pertanyaan yang masih mengganggu saya adalah pertanyaan pada sebuah tes masuk di sebuah perusahaan. Di sana, ada pertanyaan:

Menurut anda, siapa/departemen/bagian apa yang paling penting dalam sebuah organisasi?

Saat itu, karena saya sudah pernah memikirkan hal ini, saya sudah punya jawaban. Saya menjawab dengan mantap:

Dengan asumsi organisasi yang dimaksud adalah perusahaan pada industri X, maka yang terpenting adalah bagian A.

Ketika maju ke tahap selanjutnya: yaitu tahap interview, jawaban saya itu dilihat oleh sang user dan saya diminta menjelaskan, apa yang saya maksud dengan jawaban saya itu. Maka, saya jelaskanlah bla bla bla bla, sesuai dengan apa yang saya yakini saat itu.

Sepulang dari interview tersebut, rasanya masih ada yang mengganjal. Jawaban saya rasanya benar dan logis… Tapi kok rasanya kurang mantap ya. Kayanya masih ada defect-nya.. Maka saya pun menyimpan pertanyaan itu sebagai salah satu dari pertanyaan most wanted to be answered. Efeknya, pertanyaan itu akan sering muncul di saat-saat bengongdi perjalanan ibukota yang makan waktu.

Akhirnya, setelah melalui berbagai kemacetan ibukota, berbagai waktu senggang di kamar mandi atau beberapa belokan gang bertikus berkecoa, saya menyimpulkan begini:

Yang paling penting dari sebuah organisasi adalah PEMIMPINnya. Pemimpin menentukan visi dari organisasi. Pemimpin adalah penentu, organisasi itu mau dibawa ke mana, akan diisi orang-orang seperti apa, dan mau berada di jalan yang mana. Untuk semua organisasi, pemimpinnya adalah yang terpenting.

Bill Gates

Betapa pentingnya pemimpin pada perusahaan secara cepat dan mudah (atau secara common sense) dapat dilihat dari besar gajinya. Besar gaji atau bagiannya menunjukkan bahwa ia sangat berpengaruh pada keberhasilan perusahaan tersebut. Namun….. pemimpin tanpa pengikut, bukanlah pemimpin (wong nggak ada yang dipimpin). Saya tidak mengatakan bahwa fungsi-fungsi di bahwa pemimpin itu tidak penting, namun saya sedang menjawab pertanyaan: siapa yang TERPENTING.

Saya kasih contoh aja… orang kalau tinggi badannya 180 cm itu tinggi atau pendek? Secara relatif, bisa dikatakan tinggi kan ya. Kalau Andi tingginya 181 cm, Beni 183 cm, dan Dion 187 cm… Siapa yang tinggi? Semua tinggi dong. Siapa yang TERTINGGI? Dion sudah pasti. Hanya ada 1 jawaban untuk pertanyaan superlatif.

Nah, selain pemimpin, di antara fungsi-fungsi manajemen di dalam perusahaan (ini bahasannya loncat ke perusahaan ya, udah ga sekedar organisasi), mana yang paling penting, hayo?

Tergantung! Perusahaan itu bergerak di bidang apa. Core bisnisnya apa. Perusahaan jasa kuliner (restoran dkk) prioritasnya adalah makanan yang lezat. Apanya yang harus bagus? Pertama-tama kokinya. Pelayan, kasir, designer interior, personalia menjadi yang nomor sekian. Sekali lagi, tidak mengatakan mereka tidak penting. Mereka semuanya harus bagus untuk mendukung perusahaan menjadi benar-benar bagus (excellent) di semua sisi. Tapi yang nomor satu, kokinya harus bagus. Makanan yang lezat adalah hal yang terpenting untuk sebuah bisnis kuliner (rumah makan). Hal ini menjawab keheranan orang-orang akan suatu tempat makan yang luar biasa rame, padahal tempatnya tidak berseni (tidak ada design interior), mungkin parkirnya susah, pelayanannya lama, dsb. Orang masih berharap akan satu hal: makanan yang enak. Itu yang paling penting,

Perusahaan jasa relaksasi (spa dkk) harus memiliki terapist yang bagus. Karena core business-nya di situ. Perusahaan jasa IT harus memiliki tim IT yang canggih. Perusahaan manufaktur harus memiliki bagian operation yang sangat handal dan terpercaya. Perusahaan jasa training harus memiliki orang-orang bagian SDM yang terbaik. Begitu polanya…

Yah….. sekarang pertanyaan itu sudah keluar dari kolam most wanted to be answered question. Any comment, my dear reader?

Relationship: Berjalan Bersama

Tentu semua orang sudah tahu bahwa dalam menjalani hibungan cinta yang serius, orang harus memiliki tujuan hubungan yang sama, pengertian, kejujuran, dan tentu saling ketertarikan. Kemudian, komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam menentukan keberlanjutan hubungan tersebut. Kesetiaan adalah hal lain yang akan dipegang oleh mereka yang benar-benar serius dalam menjalani hubungan tersebut.

Kali ini saya ingin mengibaratkan sebuah hubungan cinta yang serius itu seperti dua orang yang akan menempuh perjalanan yang jauh dalam jangka waktu yang tidak diketahui. Beberapa hal yang mereka butuhkan dalam perjalanan itu adalah:

1. Kecepatan berjalan yang tidak berbeda jauh

Jika seseorang memilih partner yang berjalan terlalu cepat, tentu ia akan kelelahan sendiri karena terpaksa berjalan di atas kemampuannya dan kewalahan untuk mengejar-ngejar langkah partnernya. Jika orang itu berjalan terlalu lambat, maka ia akan menjadi lelah sendiri juga, karena harus berhenti berkali-kali di perjalanan, menunggu partnernya mengejar ketertinggalan.

2. Dapat menikmati hal yang sama

Perjalanan akan sangat menyenangkan ketika salah satu dari mereka berhenti untuk mengagumi serumpun bunga liar yang cantik sekali, namun jarang sekali bisa ditemui, dan partnernya juga bisa menikmati hal itu. Perjalanan yang berat akan terasa sangat ringan jika kedua orang tersebut bisa menyanyikan lagu-lagu riang yang sama (alih-alih ketika yang satu bernyanyi, yang lainnya menutup telinga karena merasa lagu pilihan partnernya jelek sekali), atau sama-sama bisa bertukar teka-teki konyol yang tak habis-habis.

3. Kemandirian

Sangat menyenangkan bisa melakukan perjalanan dengan seseorang yang mandiri. Orang yang bisa membawa sendiri, seluruh perlengkapan dan beban yang menjadi tanggung jawabnya. Orang yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri selama di perjalanan.

Tentu akan menjengkelkan kalau berjalan bersama seseorang yang ngotot mau membawa hal-hal yang tidak bisa dibawanya sendiri dan malah meminta partnernya untuk membawakan perlengkapannya. Ckckck

4. Keceriaan

Mengingat perjalanan yang akan dilalui akan sangat sangat jauh dan pasti akan ada saatnya kelelahan akut menyandera, maka satu sama lain harus bisa membawa keceriaan dalam perjalanan tersebut. Keceriaan, penghiburan adalah hal yang sangat penting untuk perjalanan panjang tersebut.

5. Kedewasaan

Sebuah perjalanan yang jauh dan berat, bukanlah perjalanan bagi anak-anak. Anak-anak yang masih suka main-main, tidak serius, belum berpikir panjang dan penuh perhitungan, dan masih suka ngambek tidak cocok untuk menjalani perjalanan yang berat dan butuh banyak persiapan.

6. Tangguh dan dapat diandalkan

Ketika perjalanan membawa kedua orang tersebut ke suatu daerah yang sepi penduduk, dan terjadi suatu masalah dengan salah satu dari mereka, maka yang satunya harus bisa mengatasi masalah itu dengan kepala dingin dan tidak gentar menghadapi masalah tersebut.

Saya rasa, poin 2 sampai 6 cukup mudah untuk dipahami. Bagaimana dengan poin 1. Bisa menerka-nerka maksud saya?

Jika anda pernah menjalani perjalanan panjang seperti itu, tentu anda dapat memperkaya list yang saya buat ini… Bagaimana? Mau menambahkan? Ini giliran anda :)

Pemandangan Gunung dan Billboard

Sekitar satu atau satu setengah tahun yang lalu, saya membaca skripsi Paramitha Suandi, kakak angkatan saya di Manajemen UGM. Skripsinya mencari tahu apakah orang yang tiap hari jalur hilir mudiknya utara-selatan, memiliki keinginan untuk adanya daerah-daerah bebas billboard karena area tersebut memiliki view ke arah gunung.

Waktu saya membaca tentang ide skripsinya itu, saya tidak pernah terpikir sama sekali tentang billboard zoning. Bahkan saya pun baru tahu bahwa di luar negri ada hal semacam itu (ndeso gitu deh). Harusnya, setelah saya membaca tentang itu, awareness saya mengenai isu itu bertambah kan. Harusnya saya jadi lebih kritis dan menyetujui (dalam sikap) adanya billboard zoning tersebut. Toh, ternyata, tidak juga. Waktu membaca saya hanya berpikir “wah, ada ya kaya ginian di luar negri. oke juga idenya”. Dan semua berhenti sampai situ saja. Setiap kali saya melewati perempatan Condong Catur – Ring Road Utara, saya beberapa kali teringat akan hal itu, zona bebas billboard.

Hari Rabu, tanggal 31 Maret 2010 adalah hari yang spesial menurut saya. Hari itu saya senang karena Merapi terlihat sangat jelas ketika saya melewati jalan Affandi (Gejayan). Ah… benar-benar bersih pemandangannya. Tidak ada kabut. Saya langsung berpikir “turis yang datang ke Jogja hari ini sangat beruntung bisa melihat keindahan ini”. Kenapa saya berpikir demikian? Karena beberapa tahun yang lalu saya pernah menemani seorang turis dari Perancis untuk jalan di Jogja selama 2 hari. Saat itu, Merapi terlihat mengeluarkan awan panas, namun kabut membuat pemandangan Merapi kurang jelas. Saya saat itu merasa kecewa karena tidak bisa ‘pamer’ keindahan Merapi.

Ketika melihat Merapi dalam kondisi bebas kabut seperti itu, saya benar-benar merasa senang ketika di jalan. Wow… Efeknya agak luar biasa menurut saya. Dalam hati saya juga berpikir “tinggal di Jogja memang benar-benar menyenangkan. Di Jakarta mana bisa dapat pemandangan kaya gini”. Hahaha, sekali lagi saya ‘narsis’ dengan kota ini. Sebenernya saya juga tahu, Jakarta pun punya daya tarik lain dibanding Jogja. Nggak usah terlalu fanatik lah dengan kota ini. Hehehe.

Ketika saya saya berhenti di perempatan Condong Catur – Ring Road Utara, saya langsung mengeluarkan kamera dan merasa perlu untuk mengabadikan pemandangan Merapi hari itu. Saya pas kedapatan lampu merah, dan bisa mengambil posisi terdepan dari antrian lampu merah itu. Apa yang bisa saya dapatkan? Hanya foto ini.

12:54 WIB

Saya kemudian merasa, perempatan ini perlu dibebaskan dari billboard, kabel telepon, kabel listris, dan hal-hal lain yang mengganggu pemandangan Merapi. Ini aset Sleman untuk mendapatkan kepuasan wisatawan yang lebih tinggi. Pak Bupati… tolong dong, aspirasi rakyat ini didengarkan. Terima kasih, Pak.

Baju-baju Terbaik Oscars 2010 [menurut saya]

Sebetulnya saya tidak bisa bilang, mana gaun yang terbaik, mana yang nomor dua, dsb. Tapi, inilah gaun-gaun terbaik Academy Awards 2010.

Demi Moore (yang nama aslinya Demetria Gene Guynes) tampil cantik dengan gaun yang manis dari Atelier Versace yang nyatu dengan warna kulitnya dan clutch dari Salvatore Ferragamo. She’s 47 and owesome, girls…. Wow!!


Rachel McAdams, aktris dalam film Sherlock Holmes menggunakan gaun berbahan organza dan chiffon koleksi Elie Saab. Saya suka banget dengan koleksi haute couture-nya Elie Saab untuk musim semi dan musim panas 2010 yang bisa dilihat di sini. I really really like it.


Gaun kedua Elie Saab yang saya suka dalam event ini dipakai oleh Anna Kendrick yang main di film Up in the Air dan serial Twilight Saga. Kritik yang dilontarkan untuk Anna sehubungan dengan sepatunya. Katanya sih nggak cocok. Ehm, girls, pernah liat sepatu yang bisa lebih cocok ke dia?


Kali ini menurut saya Cameron Diaz tampil beda. Gaun dari Oscar de la Renta ini memang tampak ‘wah’.


Saya ingin mengapresiasi gaun Badgley Mischka yang dipakai sama Hellen Mirren ini. Sederhana, tapi pas untuk Hellen dan tetap cocok untuk usianya yang 64 tahun. Tata rambutnya juga sesuai. Cantik!


Salah satu gaun yang beda, saya lihat dipakai oleh Carey Mulligan. Gaun rancangan Prada ini dihiasi dengan Swarovski berbagai bentuk seperti bunga, gunting, garpu, dan pisau. Wow… pilihan yang berani. Kritik untuk gaun ini ditujukan untuk potongan bawah gaun di bagian depan. Saya rasa, kritiknya ada benarnya juga.

Saya suka gaun yang rancangan Armani Prive yang dipakai oleh Jennifer Lopez walau nampak sedikit berlebihan dan sedikit mirip gaun pengantin. Tapi… ya…. manis! Saya hanya agak nggak suka dengan ‘hair-do‘-nya.

Banyak yang bilang, gaun Armani Prive yang dipakai oleh Amanda Seyfried masih terlalu mirip dengan gaun yang dipakai J Lo. Yah, tapi saya tetap suka gaun ini. Lebih simple. Tetap manis.

Majalah Bazaar menampilkan Sandra Bullock, aktris terbaik Oscars 2010 pada halaman cover-nya. Memang pantas karena gaunnya pun membuat banyak orang berdecak kagum, walau tampak sedikit terlalu berkilau. Gaun ini merupakan rancangan Marchesa. Tapi, rambutnya sedikit kurang bervolume. Kurang sedikit…

Gaun Versace yang dipakai sama Elizabeth Banks juga manis, walau bagian bawahnya sedikit ribet dan sedikit terlalu numpuk-numpuk.

Kate Winslet tampil manis dengan gaunnya yang membuat ia tampak ramping. Rancangan Yves Saint Laurent. Uww… tempting banget ya?! Sexy mom.


Siapa bilang untuk tampil cantik harus dengan gaun yang ‘wow’. Katherine Bigelow pemenang sutradara terbaik Academy Awards 2010 tampil manis dengan gaun yang simple dan membuat ia tampak jauh lebih muda dari usianya yang 58 tahun.

Menjadi Malaikat

Ini adalah tulisan yang saya tulis per 8 November 2008, yang artinya sudah setahun lebih yang lalu (dan notabene saya belum menjadi jomblo). Baru saja saya baca lagi, dan walaupun agak ekstrim, kontroversial dan berat sebelah, ada maksud tersendiri untuk menulisnya demikian. Tiap tulisan tentu punya tujuan. Bagi yang tidak setuju, maupun setuju, silahkan berkomentar :)

Menjalin relationship dengan seseorang kadang (mungkin selalu) membuat hubungan antar 2 orang itu menjadi lebih buruk. Semakin dekat kita dengan seseorang. Kita seolah-olah memiliki dirinya. Memiliki hidupnya. Boleh protes atas hal-hal yang tidak pas menurut pandangan kita. Dianggap wajar ketika melarangnya untuk berteman dekat dengan lawan jenis. Bisa mengeluh tanpa segan. Bisa cemberut padanya ketika memang tidak suka. Bisa menjadikannya sebagai korban semprotan ketika kesal dengan orang/hal lain. Dan semua itu akan terus terakumulasi. Akumulasi hal-hal itu pasti akan membuat hubungan itu terasa seperti kendaraan yang sedang menuju ke neraka.

Oleh karena itu menurut saya, ada baiknya kalau kita tidak usah memiliki status pacaran apalagi menikah. Hubungan seperti itu hanya seperti racun dalam darah. Terutama karena ada bawaan hal-hal di atas, dalam setiap hubungan. Perilaku tersebut selalu dilakukan dalam ketidaksadaran ketika berhadapan dengan pasangan. Hal-hal itu yang menjadi racun dalam hubungan.

Hubungan dekat lain juga sama sebenarnya. Yaitu, hubungan keluarga. pandangan orang pada umumnya, wajar jika orang tua memarahi anaknya untuk suatu kebaikan. Wajar jika orang tua melarang anaknya memilih musik sebagai jalur untuk menghidupi diri, padahal anaknya menganggap dalam musiklah dia benar-benar merasa ‘hidup’. Pikiran seperti itu sama saja, racun. Hal-hal seperti itu seringkali membawa hubungan yang parah dalam hidup keluarga. Anak merasa kecewa karena tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Orang tua juga kecewa, anak yang dibesarkan dengan makan ati & uang yang tak sedikit, ternyata tidak bisa memenuhi harapan orang tua.

Saya berkesimpulan. Jika kamu seorang pacar, atau seorang suami/istri, jangan terlalu mencampuri hidup pasanganmu. Biarkan dia memilih apa yang dia suka, apakah berkarir, atau di rumah. Apakah dia mau mencintai orang lain selain dirimu, atau tidak. Jika tidak suka dengan kebiasaan buruknya, cukup ingatkan, dan tidak usah marah-marah. Jika dia tidak mau berubah, ya sudah. Selanjutnya adalah pilihan anda, masih mau bersama dia atau tidak.

Hal lain dari alur yang sama. Loyalitas dan kesetiaan adalah hal yang membingungkan. Dan mungkin juga adalah hal yang berpamrih. Seperti sebaris lirik lagu, “aku setia, kalau kau pun setia”. Kesetiaan adalah hal yang tidak murni juga dalam hubungan. Kesetiaan mengandung perjanjian tak tertulis mengenai suatu pertukaran. Begitukah seharusnya sebuah kesetiaan? Tampaknya tidak. Setahu saya, kesetiaan harusnya tidak berpamrih. Saya mengambil contoh dari Tuhan yang saya percayai ada. Allah itu setia. Allah setia pada kita, memberi kita rahmat hari per hari, walaupun kita adalah koruptor kelas kakap, penganiaya hati orang, dsb. Allah setia, dan apakah kesetiaannya berpamrih? Jadi, bagaimana kita bisa mengatakan, aku akan setia pada pasanganku, dan aku juga berharap dia setia padaku. Ketika dia tidak setia, maka kesetiaanku juga akan berakhir. Bagaimana kita harus bersikap?

Kembali ke bagaimana kita harusnya bersikap kepada pasangan. Saya rasa, orang yang pernah jatuh cinta dan cintanya berbalas, bisa memahami penjelasan saya berikut. Bagaimana saat seseorang mulai jatuh cinta pada orang lain? Dia akan terus terbayang-bayang akan orang tersebut. Mengingat-ingat betapa manisnya dia, dan bertapa mengagumkannya apa yang dia lakukan, sehingga ia ingin selalu ada di dekat malaikat itu, karena dengan bersamanya ia bahagia. Kemudian ketika mereka bertemu, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Pujian tak segan-segan dilontarkan pada si dia. Hal-hal manis juga dilakukan untuk membuat dia senang. Masing-masing akan menampilkan dirinya seindah mungkin. Itulah mengapa setiap orang merasa sangat bahagia ketika jatuh cinta.

Selanjutnya, ketika mereka akhirnya sepakat untuk menjadi sepasang kekasih-atau-suami/istri, muncullah hal-hal yang tidak mereka inginkan. Pasangan itu berubah dari sosok malaikat, menjadi sosok setan. Suka marah-marah, selalu ingin diperhatikan, hanya memikirkan diri sendiri, tidak mau memahami perasaan pasangannya, dan sederet hal-hal serupa. Maka hubungan mereka pun menjadi tidak berarti lagi. Kebersamaan mereka tidak seperti tujuan awal mereka berikrar.

Cerita yang buruk itu bisa tampak lebih buruk lagi ketika datanglah sesosok malaikat lain yang siap memberi air pada hati yang kering. Orang umum menyebutnya selingkuh. Sebenarnya itu kan, masalahnya, pada orang yang berselingkuh (kecuali mereka yang memang tidak menganggap serius suatu hubungan-mereka sering disebut playboy/playgirl).

Masyarakat pasti akan menyalahkan orang yang berselingkuh, dan bersimpati pada orang yang ditinggal berselingkuh oleh pasangannya. Padahal, perselingkuhan itu, mungkin awalnya adalah karena orang yang ditinggal berselingkuh ini, tidak lagi mampu menjadi malaikat dalam hidup pasangannya.

Oleh karena itu, yang terpenting, jagalah hubungan anda dengan semua orang yang anda kasihi. Dan jadilah malaikat dalam hidup mereka. Ketika anda sudah bukan malaikat lagi dalam hidupnya. Maka dapat dipastikan, orang itu akan merindu hadirnya malaikat lain dalam hidupnya.

Kampus di malam hari (monolog Aurelia)

Dan aku di sini. Masih bermimpi tentang perpustakaan itu, di mana aku masih bisa belajar dan bekerja di sana sampai malam hari. Perpustakaan yang hanya pernah aku dengar kabarnya dari cerita dosenku di suatu pagi. Konon katanya perpustakaan itu buka 24 jam….

Oh, andaikan saja kampusku memiliki perpustakaan seperti itu. Atau setidaknya membuka hall, lobby, selasarnya 24 jam untuk mahasiswa yang masih mau menekuri artikel, tugas, atau laptopnya. Mungkin aku saat ini masih berada di sana. Di kampusku…

Aku bertanya-tanya, apakah pejabat fakultasku juga pernah mengalami kampus yang terbuka 24 jam untuk mahasiswanya belajar ketika mereka mengambil gelar master dan doktoral di luar negri sana? Jika pernah, pernahkah mereka berterima kasih untuk kebijakan yang dibuat oleh kampus mereka yang konon sudah maju dalam konsep tersebut? Mengapa ya, mereka belum membuatkannya untuk aku dan teman-temanku di sini…

Oh bulan, oh bintang… Tolong katakan pada mereka yang mungkin sudah terlelap, bahwa aku bermimpi memiliki kampus yang tidak akan mengusirku untuk belajar atau bekerja di sana. Entah sudah berapa kali aku di’usir’ satpam secara halus untuk melanjutkan pekerjaanku di rumah, atau esok harinya. Ketika itu terjadi, haruskah aku menjelaskan panjang lebar ke satpam untuk menjelaskan suatu hal yang sangat penting untuk belajar dan bekerja? MOOD!

Ketika mood itu masih ada, tolong, jangan padamkan apinya… Please…. Jangan usir aku pulang, Pak Satpam… Aku masih mau di kampus untuk belajar dan bekerja. Apa yang kau khawatirkan dengan keberadaanku di kampus sampai larut malam? Bahkan ibuku yang begitu mengenalku tak mengkhawatirkanku (karena ia tahu bahwa aku di kampus untuk apa).

Pak Satpam… kau bisa pantau aku dengan CCTV yang menyiarkan siaran langsung itu ke ruangmu. I’m not doing anything bad, there. Hey, come on. No reason to force me to go home. I need the athmosphere to study, to work… Why i can’t stay there as long as i need it? I’m neither a criminal nor a vandals. I just can’t find better place to study and work better than my campus can provide… I also can’t afford cozy cafe for working. My bedroom only persuade me to get sleep early and I don’t have other room to work… Can’t I stay there? On my own campus?

Fiuh fiuh fiuh…. i’m talking alone here… Anybody hear me???

*Aurelia Claresta Utomo adalah mahasiswi smester 9 yang sedang berupaya menyelesaikan skripsinya di Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM, Yogyakarta

Melihat Korea Utara [melalui TV]

Sebenarnya awalnya tulisan ini ingin saya beri judul “Miris”… sebagai lelucon saja untuk seorang teman yang sudah dua kali merilis tulisannya dengan judul tersebut.

Tanggal 24 Maret 2009 malam, saya secara tidak sengaja menemukan acara Discovery Channel khusus mengenai Korea Utara. Tertarik mengenai negara tersebut, saya pun menontonnya.

Hey… Korea Utara kan negara yang sudah saya tahu namanya sejak zaman purba SD. Bukan seperti Republik Abkhazia yang namanya sangat asing, atau Negara Eritrea yang letaknya entah di benua mana.

Kim Jong Il (born 16 February 1941)

Kim Jong Il (born 16 February 1941)

Korea Utara… Jelas saya tahu Korea Utara dan Selatan. Korea Selatan ibukotanya Seoul dan Korea Utara ibukotanya Pyongyang. Yang baru saya tahu setelah menonton acara tersebut adalah bahwa di sana keadaannya sangat parah. Walaupun mereka sangat membanggakan kekuatan militer mereka yang merupakan no.4 di dunia, tapi di bidang lain, sangat jauh dari membanggakan. Dalam bidang kesehatan, walaupun warga tidak perlu membayar biaya kesehatan di RS, tapi dokter sangat rendah skill-nya, bahkan untuk operasi ringan seperti katarak saja, mereka [mungkin] tidak bisa. Di atas meja bedah, alih-alih kasur dan sprei bersih, yang ada hanya darah yang mengering di meja tersebut. Sangat tidak steril dan mengenaskan. Botol infus dibuat dari botol arak (yang ijo itu lho, yang kaya botol kecap). Bahkan tidak ada sabun di rumah sakit.

Korea Utara menerapkan politik luar negri tertutup. Hal ini terjadi sejak meletusnya Perang Korea (antara Korea Utara dan Korea Selatan) yang berlangsung dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Amerika Serikat adalah negara sekutu Korea Selatan yang sangat dibenci oleh SEMUA masyarakat Korea Utara. Saya memberi penegasan pada kata SEMUA karena hal itu sangat terlihat dari rekaman dokumenter curi-curi tersebut.

Kim Il Sung (15 April 1912 – 8 July 1994)

Kim Il Sung (15 April 1912 – 8 July 1994)

Hal lain yang saya lihat adalah betapa berhasilnya pemerintahan Kim Jong Il dalam melakukan pencucian otak atas rakyatnya. Doktrin yang sangat nyata mendarah daging adalah membenci Amerika sampai mati. Rakyat Korea Utara juga sangat mencintai dan memuja-muja Kim Jong Il serta Kim Il Sung (ayah Kim Jong Il) bak memuja dewa. Mereka sangat yakin bahwa pemimpin mereka itulah yang membuat mereka masih hidup dan hidup bahagia setelah kehancuran mereka di era Perang Korea.

Aksi Kim Jong Il dalam “menutup” Korea Utara sangatlah berhasil. Karena sampai saat ini, warga Korea Utara tidak mengenal buku umum dan internet. Sangat kontras dengan kehidupan Kim Jong Il sendiri yang dielu-elukan, yang konon merupakan pecinta film dan memiliki koleksi film sebanyak 20.000 buah. Buku-buku yang ada di Korea Utara semuanya ditulis oleh satu orang saja, yaitu Kim Il Sung, sang pendiri negara tersebut. Saya akan mengategorikan hal ini sebagai pembodohan. Mengerikan. Di era semacam ini… Saya melihat hidup mereka sama ‘modern’nya dengan kota kecil di Indonesia tahun 1990-an awal. Sedangkan HAM dll, jauhhhh tertinggal.

semua orang menghormati patung Kim Il Sung

semua orang menghormati patung Kim Il Sung

Saya memang nggak luas wawasannya. Pantas saja hal-hal di atas baru saya ketahui sekarang, di usia 21 tahun (lebih). Jadi malu. Tapi, apa dulu di sekolah saya pernah diceritain tentang keprihatinan akan kehidupan di Korea Utara ya? Saya rasa…. Nggak pernah deh. Hehehe. Makanya saya tulis di sini untuk yang belum pernah tahu seperti saya kemarin. Yang emang belajar sejarah yaaa… Memang bukan target pembaca yang saya harapkan. Tapi komentarnya, boleh dong… :)

Ehm… Saya belum tahu banyak soal Myanmar, cuma dengar heboh-heboh soal junta militer di sana. Saya rasa, di sana juga banyak hal buruk yang terjadi…. [lesu]

Akan saya cari tahu…..

Gambar: wikipedia & ini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.