Entries categorized as ‘new experience’
Sebenarnya awalnya tulisan ini ingin saya beri judul “Miris”… sebagai lelucon saja untuk seorang teman yang sudah dua kali merilis tulisannya dengan judul tersebut.
Tanggal 24 Maret 2009 malam, saya secara tidak sengaja menemukan acara Discovery Channel khusus mengenai Korea Utara. Tertarik mengenai negara tersebut, saya pun menontonnya.
Hey… Korea Utara kan negara yang sudah saya tahu namanya sejak zaman purba SD. Bukan seperti Republik Abkhazia yang namanya sangat asing, atau Negara Eritrea yang letaknya entah di benua mana.

Kim Jong Il (born 16 February 1941)
Korea Utara… Jelas saya tahu Korea Utara dan Selatan. Korea Selatan ibukotanya Seoul dan Korea Utara ibukotanya Pyongyang. Yang baru saya tahu setelah menonton acara tersebut adalah bahwa di sana keadaannya sangat parah. Walaupun mereka sangat membanggakan kekuatan militer mereka yang merupakan no.4 di dunia, tapi di bidang lain, sangat jauh dari membanggakan. Dalam bidang kesehatan, walaupun warga tidak perlu membayar biaya kesehatan di RS, tapi dokter sangat rendah skill-nya, bahkan untuk operasi ringan seperti katarak saja, mereka [mungkin] tidak bisa. Di atas meja bedah, alih-alih kasur dan sprei bersih, yang ada hanya darah yang mengering di meja tersebut. Sangat tidak steril dan mengenaskan. Botol infus dibuat dari botol arak (yang ijo itu lho, yang kaya botol kecap). Bahkan tidak ada sabun di rumah sakit.
Korea Utara menerapkan politik luar negri tertutup. Hal ini terjadi sejak meletusnya Perang Korea (antara Korea Utara dan Korea Selatan) yang berlangsung dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Amerika Serikat adalah negara sekutu Korea Selatan yang sangat dibenci oleh SEMUA masyarakat Korea Utara. Saya memberi penegasan pada kata SEMUA karena hal itu sangat terlihat dari rekaman dokumenter curi-curi tersebut.

Kim Il Sung (15 April 1912 – 8 July 1994)
Hal lain yang saya lihat adalah betapa berhasilnya pemerintahan Kim Jong Il dalam melakukan pencucian otak atas rakyatnya. Doktrin yang sangat nyata mendarah daging adalah membenci Amerika sampai mati. Rakyat Korea Utara juga sangat mencintai dan memuja-muja Kim Jong Il serta Kim Il Sung (ayah Kim Jong Il) bak memuja dewa. Mereka sangat yakin bahwa pemimpin mereka itulah yang membuat mereka masih hidup dan hidup bahagia setelah kehancuran mereka di era Perang Korea.
Aksi Kim Jong Il dalam “menutup” Korea Utara sangatlah berhasil. Karena sampai saat ini, warga Korea Utara tidak mengenal buku umum dan internet. Sangat kontras dengan kehidupan Kim Jong Il sendiri yang dielu-elukan, yang konon merupakan pecinta film dan memiliki koleksi film sebanyak 20.000 buah. Buku-buku yang ada di Korea Utara semuanya ditulis oleh satu orang saja, yaitu Kim Il Sung, sang pendiri negara tersebut. Saya akan mengategorikan hal ini sebagai pembodohan. Mengerikan. Di era semacam ini… Saya melihat hidup mereka sama ‘modern’nya dengan kota kecil di Indonesia tahun 1990-an awal. Sedangkan HAM dll, jauhhhh tertinggal.

semua orang menghormati patung Kim Il Sung
Saya memang nggak luas wawasannya. Pantas saja hal-hal di atas baru saya ketahui sekarang, di usia 21 tahun (lebih). Jadi malu. Tapi, apa dulu di sekolah saya pernah diceritain tentang keprihatinan akan kehidupan di Korea Utara ya? Saya rasa…. Nggak pernah deh. Hehehe. Makanya saya tulis di sini untuk yang belum pernah tahu seperti saya kemarin. Yang emang belajar sejarah yaaa… Memang bukan target pembaca yang saya harapkan. Tapi komentarnya, boleh dong…
Ehm… Saya belum tahu banyak soal Myanmar, cuma dengar heboh-heboh soal junta militer di sana. Saya rasa, di sana juga banyak hal buruk yang terjadi…. [lesu]
Akan saya cari tahu…..
Gambar: wikipedia & ini
Kategori: new experience · opini
Ditandai: Kim Il Sung, Kim Jong Il, Korea Utara, miskin, negara, North Korea, otoriter
Ketika hati sedang tidak tenang, tidak ada ide sama sekali yang keluar untuk diketikkan di blog ini. Kasian si bloggie…
Maaf ya, bloggie… kamu kutinggal lama
sedih juga tauk, ga bisa posting sesering biasanya
Bulan Februari 2009… akan tercatat sebagai bulan yang paling tidak produktif dalam urusan blogging.
Sebagai catatan, bulan Juli 2008 memang tidak ada satupun post, tapi itu karena terhalangnya saya dari koneksi internet. Hehehe… Maklum. Kan lagi KKN, wajar donk. Masa KKN tapi tetep eksis aja di dunia maya. Brarti saya KKNnya beneran kan. Ga main-main. Hahaha….
Anyway…. sedih tidak boleh berlarut-larut. Saya sedang berusaha mengatasi diri saya sendiri
Mengatasi kesedihan ini. Memotivasi diri sendiri. Dan terus menerus memeriksa kesehatan jiwa sendiri. Kesedihan yang dalam, saya yakini bisa membuat gangguan serius bagi jiwa seseorang. Oleh karena tidak ada yang memeriksa dan mengobati jiwa ini, maka saya sendiri harus terus menjaganya 24 jam (baca: 24 jam dikurangi jam tidur).
Di bulan ini mungkin saya harus lebih mengekspos kegembiraan bagi diri sendiri, supaya jiwa ini tidak sedih melulu. Sehingga balance, gitu. Ada beberapa kegembiraan yang saya catat selama bulan ini:
- IPK akhirnya sudah naik, dan saya sudah puas. Saya tidak mau membandingkannya dengan IPK teman-teman saya (yang lebih tinggi). Saya sudah merasa bersyukur dengan IPK yang saya miliki sekarang. Tuhan, terima kasih.
- Saya mengirimkan sebuah bingkisan kepada teman baru yang saya temui di dunia maya. Her name is Iren. Dia orang Kazakhstan. Saya senang bingkisan saya sudah sampai di sana
. Saya sungguh bahagia untuk hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan. Memberi sesuatu kepada orang yang tidak saya kenal sebelumnya.
- Saya sedikit senang karena saya merasa lebih wise dari sebelumnya. Kesedihan itu memang ada sedikit hal baiknya (dan akan tampak lebih banyak ketika kesedihan itu sudah lewat). Tuhan, jadikan aku pribadi yang lebih baik dengan caraMu.
- Merasa sangat terharu dan bersyukur atas ibu yang luar biasa di suatu moment. Sangat sangat terharu… Terima kasih ibu
Saya tidak bisa pungkiri bahwa bulan Februari 2009 adalah bulan yang kelabu bagi saya. Namun saya tetap mencatat hal-hal baik yang terjadi di bulan ini. I thank You for those good things in the worst period of my life.
Gambar dipinjam dari sini
Kategori: new experience · tulisan ringan
Ditandai: februari kelabu, kebahagiaan, kesedihan, sadness, sedih
Pulang dari Pulau Bali, bawa oleh-oleh apa? Maaf ya, nggak ada buah tangan untuk dibagikan. Maklum, yang ke Bali ini budgetnya mepet, itu pun hasil belas kasihan orang (dikasih). Hu hu hu…. Masih mahasiswa, jadinya, masih bokek.
Makanya, tak nulis aja. Biar jadi pengganti oleh-oleh buat kerabat, teman, dan handai taulan. Oops, salah… maksudnya oleh-oleh buat pembaca setia blog ini. Hahahaha…

Pantai Dreamland sebelum dibangun gedung-gedung dan toko-toko
Lima hari di Bali adalah masa yang sangat menyenangkan. Saya tekankan, SANGAT menyenangkan. Really… Bahkan untuk orang yang tinggal di kota wisata juga, seperti saya. Saya memberikan acungan jempol untuk pemerintah di sana. Toleransi di sana benar-benar besar. Budaya dilestarikan, salah satunya dengan menyeragamkan bentuk pagar menjadi bentuk candi bentar. Para pemandu wisata juga diharuskan menggunakan baju adat.
Bali adalah kota budaya yang hidup, bisa dilihat dari kepercayaan mereka akan persembahan sesaji, pemotongan gigi, upacara ngaben, dll. Hidup mereka sangat berdekatan dengan alam. Tak heran, lanskap di sana tertata apik.
Senang sekali rasanya melihat perempuan-perempuan Bali mengenakan kebaya yang ngepas di badan sambil membawa banten di atas kepalanya. Di tempat lain, mudah ditemukan perempuan yang meletakkan sesaji serta dupa dan memercikkan air pada sesaji tersebut.Hal itu ditambah dengan pemandangan kontras, turis asing (yang sering kita sebut bule) yang bermain air laut dan meluncur di atas ombak. Melihat hal-hal itu, membuat saya merasa, Bali memang tempat yang indah, dan sungguh pulau dewata.

Aurelia di Tanah Lot, Bali
Kasarannya, setelah melihat Bali, saya akan bilang Jogja nggak ada apa-apanya. Sungguh. Mulai dari budaya, bangunan, pantai, butik, furniture, barang kesenian. Jogja masih nol kecil… Ayo nih, siapa sih pemimpin Jogja? Kembangkan Kasongan. Kembangkan Malioboro. Berdayakan pengerajin. Adakan sentra keranjinan yang lebih menarik untuk didatangi (melebihi Pasar Seni Gabusan). Adakan tari-tarian di keraton. Adakan lomba-lomba tari tradisional yang lebih besar-besaran. Adakan lomba ndalang, dsb. Jangan sampai kesenian yang menarik, tidak terekspose. Sia-sia…. Oh iya, satu hal dari Jogja yang lebih baik daripada Bali, yaitu keramahan pramuniaganya. Di Bali, sudah beberapa kali saya diberi jawaban ketus dari para penjual. Ada juga pengalaman di-nyolotin sama bencong. Sial….
Kembali ke Bali. Salah satu hal yang disayangkan dari Bali adalah, Pantai Kuta (pantai yang paling dekat dengan pusat keramaian dan hiburan) yang banyak sekali sampahnya. Semoga pantai Dreamland yang pasirnya putih dan indah itu, tidak bernasib sama dengan Kuta (dalam hal sampah). Sungguh budaya membuang sampah yang buruk.
Pita (teman yang selama 2 malam terakhir jadi rekan setempat tidur) mengajak untuk kumpul di Bali, 1 tahun lagi, dengan membawa sangu alias bekal yang lebih banyak, supaya lebih bisa banyak belanja dan bersenang-senang di sana. Okay… Nabung dehhh….
Itung-itung membantu bergeraknya perekonomian (ya dengan konsumsi.. hahaha).
Kategori: new experience · opini · tulisan ringan
Ditandai: bali, belanja, budaya, indah, indonesia, jogja, kesenian, pemerintah, perekonomian, tarian, Yogyakarta
Istilah e-waste saya baca pertama kali, sekitar 2 minggu yang lalu di majalah Times. E-waste adalah istilah yang merujuk pada sampah elektronik, yaitu barang-barang elektronik yang sudah tidak dapat bekerja dengan baik alias rusak.

e-waste worker on a mountain of e-waste
Setelah membaca postingan teman dan juga iseng klak-klik ke sini, saya jadi mengingat salah satu hal yang membuat saya excited, membuat saya termotivasi untuk bekerja, yaitu menginisiasi bisnis yang mengolah e-waste. E-waste tersebut akan ‘diurai’ secara khusus, hehehe, maksudnya dipilah-pilahkan komponennya, sehingga mungkin ada komponen yang bisa dipakai lagi, seperti timbal, tembaga, dll.
Pengen rasanya ada jalan yang membawa saya sampai di sana. Sampai di mana? Di China. Atau manapun lah, negara yang memiliki praktek ini. Di Indonesia sudah ada belum ya??? Saya pengen memulainya….. Ada yang mau modalin? Hihihi. Saya nggak suka ngutang. Ini masalah pilihan, bukan skill mengelola keuangan (financial management)….
Ide mengelola e-waste sebagai bisnis ini sudah muncul sejak saya smester 2. Saya sudah ungkapkan di kelas Manajemen-nya Hani Handoko.
Arrrgghhh…. jadi ingat, harus cepetan skripsinya…..
gambar diambil dari sini
Kategori: new experience · opini · tulisan ringan
Ditandai: China, e-waste, elektronik, Hani Handoko, indonesia, limbah, pemilahan sampah, pengelolaan limbah, recycle, tembaga
Aku tidak suka kalau jatuh sakit. Walaupun sakitnya menyelamatkanku dari deadline, atau apapun yg sekilas jadi tampak ’sedikit menguntungkan’. [Siapa sih, orang yang suka jatuh sakit].
Anyway, apa sih yang paling tidak kamu sukai saat sakit? Kalau aku… aku tidak suka sendiri, sepi dan diperparah oleh hal yang tidak terhindarkan mendengarkan suara detak jarum detik jam. Tak henti-henti, dan begitu monoton. Aku bosan mendengarkan detak jarum detik jam. Terutama ketika sedang tidak bisa tidur lagi [karena sudah tidur terus seharian].
Oleh karena itu aku lebih suka jam yang jarum detiknya berjalan pelan namun tidak berdetak. Kata seorang teman, jam semacam itu malah buruk untuk diletakkan di ruang tunggu, karena waktu tampak cepat sekali berlalu. Tapi bagiku, menunggu saja sudah bete, apalagi jika ditambah dengan mendengar suara detak jam. Fuuuiihhh…. Makasih!
Oh iya, ngomong-ngomong soal sakit. Saat terkahir kali aku sakit, kan tidak bisa makan yang keras-keras. Alih-alih membuatkan bubur seperti biasanya, mama membelikan SUN bubur bayi. Ternyata enak lho! Ketika SUN-nya tidak habis dimakan ketika sakit, aku bawa ke kantor untuk dimakan saat kelaparan. Pengalaman membuktikan bahwa SUN Beras Merah lebih enak daripada SUN Kacang Hijau. Hahaha…..
Satu lagi. Mumpung masing ngobrol tentang sakit. Berikut adalah daftar obat-obat (selain obat luka) yang menurutku penting untuk kumiliki di rumah:
- obat penurun panas
- obat anti sakit (Paracetamol)
- obat diare
- obat maag
- obat batuk pilek
- obat sakit kepala
foto dari sini
Kategori: new experience · tulisan ringan
Ditandai: detak, detik, jam, obat, paracetamol, sakit, SUN beras merah, SUN bubur bayi, SUN kacang hijau
Yanuar, temen KKN saya pernah bilang kalau saya orangnya fanatik. Kayaknya dia memakai diksi yang salah, karena dia mencontohkan saya yang semangatnya musiman. Kalau lagi suka nonton voli plastik, tiap hari nonton. Gitu…
Nah, semalam saya mengunjungi Padepokan Seni Tjipta Budaja, di Tutup Ngisor, di lereng Merapi. Di sana saya melihat Pak Sitras Anjilin, kedua anaknya, Mas Eka, dan 2 Mas -yang namanya hilang di selokan ingatan saya- lainnya menari. Menari tanpa musik. Dalam hening saja…. Tarian ini fokus utamanya bukan pada keindahan, namun pada RASA. Bagaimana dengan sadar, seseorang menari dan menggerakkan tubuhnya ke mana tangan, kaki, jari, pinggang, pinggul, dan tubuhnya mau bergerak… Ke mana saja… Terserah… Gerakan apa saja… Terserah… Semua spontan… Semua bebas… Tubuh ini tidak terkungkung.
Sebenarnya di balik spontanitas itu, ada makna-makna juga. Karena (kemarin) narinya ber4, maka kadang ada gerakan-gerakan yang melibatkan orang lain…. Gerakan-gerakan itu kadang melambangkan air, api, matahari, dll…. Kata Pak Sitras, tarian ini tidak populer di Indonesia. Orang Jawa nggak tertarik dengan cara nari begitu, katanya. Dalam hati, saya berkata, saya orang Indonesia, Pak. Saya tertarik, dalam hati saya berkata. Saya ingin menari, tapi semalam tidak diajak, tidak dijemput. Malu
Hahahahaha
Tapi saya akan belajar menari… Ini tekad. Saya harus belajar setidaknya satu tarian…. Saya suka menari. Dan saya mau menari lagi
Kategori: new experience
Ditandai: menari, Sitras Anjilin, Tutup Ngisor
Entah kenapa, kok akhir-akhir ini yang saya tulis itu nggak penting ya
Hehehe… Kali ini juga nggak penting.
Jadi ceritanya, saya iseng, memasukkan kata kunci “aureliaclaresta” yang notabene nama saya sendiri, ke mesin pencari google… hasilnya…
Urutan 1 – 10 dari sekitar 688 hasil penelusuran untuk aureliaclaresta. (0.30 detik)
Wow…. 688??? Banyak amat??? Kayanya dulu pernah nyari hal yg sama, tapi cuma ada 20-an deh…
Lalu, iseng berlanjut. Saya kasih spasi ke kata kunci itu sehingga kata kuncinya berubah menjadi “aurelia claresta”…. deng deng…..jreng…..
Urutan 1 – 10 dari sekitar 21,100 hasil penelusuran untuk aurelia claresta. (0.30 detik)
Kyak hak hak hak…. gile…. dua puluh satu ribu???? Apaan tuh…
Nah, untuk perbandingan, saya ketikkan saja nama orang terkenal. Pengen tau, nama mereka ada berapa banyak ya… Lagipula, setelah melihat dua puluh satu ribu di atas, jadi gede kepala… Hahaha
Maka, saya masukkan nama artis aja. Mulai dari yang nggak terlalu ngetop. Saya masukkan nama “aura kasih”… Apa hasilnya?

Urutan 1 – 10 dari sekitar 492,000 hasil penelusuran untuk aura kasih. (0.06 detik)
Hahaha…. hampir lima ratus ribu… Ngeri…
Coba lagi ah…. masukin nama yang kelas dunia… “lindsay lohan”
Urutan 1 – 10 dari sekitar 31,300,000 hasil penelusuran untuk lindsay lohan. (0.06 detik)
Tiga puluh satu juta, ya…. Wow… Mungkin terdongkrak karena kasusnya dengan drugs juga kali ya?!
Nah, terakhir deh… Masukin nama dosen saya, biar beliau nggak malu, saya pilih dosen yang terkenal saja, yaitu “tony prasetiantono”. Maka, hasilnya adalah….
Urutan 1 – 10 dari sekitar 7,330 hasil penelusuran untuk tony prasetiantono. (0.23 detik)
Lho lho lho… kok cuma tujuh ribu??? Kan dia terkenal be ge te. Kan dia top executive-nya BNI… How come?? Si google lagi mabok kali ya???
Kategori: new experience
Ditandai: iseng, google, searching, lindsay lohan, tony prasetiantono, aura kasih
Tadi sepulang dari kuliah sesi pertama….. Di kantin FEB, seorang teman lama menawarkan saya untuk belajar drum. Tarifnya cukup menggiurkan, Rp150.000 sebulan. Kebetulan saudaranya yg punya, baru buka, joinan sama Gilang Ramadhan kalau nggak salah. Tempatnya di Gowok, daerah selatan Ambarukmo Plasa.
Sebenarnya, saya sudah lama sekali ingin belajar drum. Dari kelas 3 SMP setidaknya [momen yg saya ingat loh ya]. Trus, hari gini ditawarin les drum.
Ya ampun… gua udah tua kalee… Masa baru les drum. Fungsinya apa? Lagian drum nggak bisa dimaenin sendiri. Dan menurutku, nggak mungkin hari gini gua gabung sama group band. Hahaha, lucu banget kan…. Masa belajar drum
Tapi, dari kecil memang saya suka tetabuhan…. Hiks… Saya sebenarnya suka musik. Tapi nggak pernah bisa maenin alat musik. Lagipula karena saya perempuan, maka saya disarankan ambil alat musik yang lebih feminin. Oh…..
What should i describe a word “MUSIC” when i never make a music…
Kategori: new experience
Ditandai: drum, Gilang Ramadhan, jogja, music
KKN juga mengubahku….
- Skarang bareng si Bex (motorku), di jalan ringroad, dia bisa lari sampe 70km/jam, bahkan lebih… Hahaha, kemajuan. Biasanya kan 60km/jam-an udah pwol…
- Udah biasa nyuci pake tangan dikit2 dan ampir tiap hari
- Jadi biasa pake sabun mandi batangan
- Jadi biasa pake celana pendek ke luar rumah
- Jadi lebih mudah mengatasi malas mandi di saat dingin… dengan cara: masak air [hahaha]
- Jadi lebih semangat untuk masak-masak dan bikin kue
- Jadi familiar dengan Office 2007, karena di rumah masih pake Office 2003 sebelumnya
- Jadi lebih mudah untuk nyapa orang
- Jadi lebih baik bahasa krama-nya, mantap!
- Jadi terbiasa makan lele & telur asin [di rumah hampir nggak pernah makan]
- Jadi tahu lagu mars PKK [cekakakakak]
Yah…. itu lah, kalo yg fisik-fisik, nggak udah dibahas. Kayanya arahnya agak negatif. Biar saja. Hahahaha
Kategori: new experience
Ditandai: hal baru, kkn, positif
Hari ini aku stress….. Besok pagi ada presentasi dan aku tak kunjung dapat kuselesaikan. Padahal habis aku, masih harus ku e-mail ke temen untuk dibuatkan power point-nya. Dan masih harus diforward ke dosen. . Bayangin dong, besok kuliah pagi jam 7. Jam brapa harusnya tugas itu ada di e-mail account si dosen???
Stress banget….
Nah, untuk itu skarang, sambil nunggu ngirim e-mail tugas itu, aku mau nulis dikit. Biar seneng hatiku ini, karena blogku akhirnya kutulisi lagi. Selama KKN sampe sekarang, ada banyak ide untuk nulis. Tapi tiap kali ngenet, nggak pas untuk nulis blog…..
Nah, sekarang sesuai dengan judulnya aja… Sepeda. Sekarang aku punya sepeda. Sepeda second yang kunaiki untuk pertama kali ke warnet. Dibawa pulang oleh mama dan Widy tadi sebelum maghrib. Belinya di pasar sepeda Bantul.
Ternyata setelah lama nggak naik sepeda, cape juga ya, ngayuh sepeda itu… Tapi, sepeda itu enteng ya. Udah biasa mbawa motor, mbawa sepeda itu enteng… Tapi, jantung ini juga ‘ngayuh’… kerasa olah raganya. Takutnya naek speda malem2 cuma satu: ditabrak karena ga punya lampu. Uhhhh
Tapi yang paling penting sih 1 hal: paha ini harus mengalami progres yg positif… Hahahaha….
Kategori: new experience
Ditandai: sepeda