Genggaman yang Baru

Senin yang lalu (7 Mei 2012), smartphone saya hilang. Tentu ada yang mengambilnya sewaktu saya lengah. Mungkin hilangnya di toko mainan depan sekitar pukul 15.00. Saya menyadarinya agak terlambat. Kehilangan kali ini membuat agak panik karena smartphone saya terkoneksi dengan akun Yahoo Mail, Gmail, Twitter, Foursquare, YM, dan Whatsapp. Kalau orangnya iseng. Bisa repot saya. Facebook kebetulan baru ter-uninstall karena gagal install new version.

Saya cukup beruntung karena sebelum 2 jam, saya sudah sadar, dan saya ubah semua password akun tersebut. Agak ngeri juga baca konsekuensi smartphone hilang di blog ini. Nomor telepon semua ada di google, jadinya nggak perlu repot minta-minta lagi. Foto sampai dengan akhir Oktober 2011 sudah ada back-up. Yang disayangkan paling data rincian pemasuan, pengeluaran saya di salah satu aplikasi, dan catatan2 penting di memo HP tersebut.

Saya ikhlaskan saja si Galaxy Mini itu hilang… Usianya baru 1 tahun 2 bulan. Tapi memang saya sudah berniat mencari yang lebih besar internal memory-nya dan saya mendapatkan apa yang saya mau.

Smartphone pengganti si Galaxy Mini harus memiliki kriteria ini:

1. Android (Blackberry itu mahal tapi fiturnya minim dan bulanannya mehel, iPhone segala2nya mahal)

2. Ukuran layar sebesar Galaxy mini atau lebih besar (yang lebih kecil kaya Galaxy Y bikin typo melulu)

3. Internal storage lebih besar (karena si Mini pernah penuh melulu internal storage-nya)

4. RAM lebih besar (karena si Mini pernah lemot)

Dan saya dapatkan semua itu di Samsung Galaxy Y Duos melalui proses yang SANGAT KEBETULAN hari Jumat (11 Mei 2012) lalu di Erafone Ambarukmo Plaza dengan cicilan 0%. Please… kali ini jangan ilang lagi. Si Duos ini masih NYICIL!! *pasang gantungan HP*

Mempersiapkan KKN (Kuliah Kerja Nyata)

Judulnya nggak asik banget ya? Hahaha. Intinya sih tulisan ini mau dipersembahkan buat adik-adik yang akan menghadapi KKN. Oh ya, sebelum panjang cerita ke mana-mana. Mending saya kasi tau dulu bahwa saya adalah alumnus dari Fak. Ekonomika & Bisnis, UGM. Pada Juli-Agustus 2008 KKN di Kecamatan Pajangan, Bantul.

Jujur ya… Beberapa semester sebelum boleh menjalani KKN, saya adalah orang yang sangat ngebet mau KKN. Ada keinginan yang menggebu-gebu untuk dapat menolong masyarakat dengan kemampuan saya; berbagi ilmu, dsb. Ketika sudah direkrut oleh teman untuk masuk ke tim KKN, yang dirasakan adalah agak hopeless…. Masalahnya adalah kepentok budget. Kegiatan pencarian dana tidak (begitu) sukses, sehingga program-program pun nggak bisa idealis. Tidak bisa jadi seperti sinterklas yang bagi-bagi hadiah karena kami hanya bergantung pada uang pribadi yang direlakan serta berbagai produk sponsor yang bisa diberikan gratis.

Ketika KKN sudah hampir selesai, saya sadar bahwa performance kami nggak begitu baik. Apa yang sudah kami lakukan, kurang nge-gong. Ada beberapa program yang gagal seperti program pelatihan pembuatan limbah serbuk batok kelapa menjadi briket arang. Ada program yang nggak tuntas, yaitu mengenai pembuatan kompos, namun belum sampai berhasil membuat mereka untuk benar-benar merasakan betapa berguna dan murahnya kompos (baca: mereka masih menggunakan pupuk urea yang mahal). Segala sesuatu yang disediakan alam adalah ‘mudah’ dan ‘mudah’ adanya. Manusia hanya harus jeli dalam melihat, bagaimana menyiasati hal itu. Adaprogram yang nggak kesampaian, yaitu program pengenalan pembuatan instalasi biogas. Ahhh…. sedihnya. Ada perasaan sedikit sia-sia, berada di sana.

Walaupun kami sudah membantu untuk perancangan dan pembuatan jembatan yang berguna bagi masyarakat, walau kami sudah berhasil cukup akrab dan diterima oleh masyarakat (bahkan sampai sekarang masih ada orang dari dusun KKN yang masih mengirim SMS tanda keakraban), dan masih banyak walau-walau lainnya. Saya merasa ada yang kurang dan butuh ‘tetap dibayar’ suatu hari.

Memang tidak bisa mengharapkan keberhasilan tanpa persiapan. Saya merasa ada yang kurang dalam persiapan kami dulu dalam menghadapi KKN.

Yang terpenting untuk mempersiapkan program KKN adalah: memiliki kejelian dalam melihat kebutuhan masyarakat (desa) yang mereka sendiri tidak sadari.

Kecuali kamu adalah anak orang kaya yang royal dan mau  menyumbang angka Rupiah 7 digit untuk program-program berguna yang membutuhkan biaya tak sedikit, kamu harus benar-benar jeli. Tidak semua orang punya bakat atau pengalaman yang mengajarkannya untuk menjadi jeli dalam melihat peluang. Kita hanya akan mampu membuat program KKN yang bagus dan impactful kalau kita tahu, program apa yang bisa kita buat bagi mereka, mereka butuhkan, akan meningkatkan taraf kehidupan mereka, namun hanya memerlukan sedikit biaya.

memahami kebutuhan tiap-tiap daerah tidak mudah. Semua harus dimulai dengan penerimaan masyarakat yang baik. Kita butuh keterbukaan mereka sehingga kita bisa berdialog dengan informal. Dari pembicaraan sehari-hari itulah kita bisa menangkap masalah apa yang mereka hadapi, baik yang terucapkan dari bibir mereka, maupun yang mereka tidak sadari. Pembicaraan formal cenderung tidak efektif untuk identifikasi masalah. Kejelian dan kepekaan dibutuhkan untuk melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang benar, sehingga bisa membuat solusi yang tepat pula untuk mereka.

Saya beri contoh saja deh. Seringkali mahasiswa itu pinter, IP tinggi, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang simple sekalipun.

Misalnya: Bu Giyem seorang ibu rumah tangga, istri dari tukang bangunan, ingin menambah penghasilan keluarga dengan menjual makanan. Dia sudah mencoba membuat berbagai makanan, katanya. Dia sudah pernah bikin kacang bawang, keripik bayem, bumbu bubuk yang dikemas, dll. Kemudian dia titip-titipkan di warung dan berbagai kenalan di pasar. Hasil akhirnya sama: nggak laku. Kemudian Bu Giyem nanya sama kamu, gimana ya caranya supaya pemasaran itu sukses. Kamu mau jawab apa?

Mau pake teori marketing yang mana coba? Iklan seperti apa yang bisa dia lakukan?

Kejadian itu benar-benar terjadi pada saya, dan kemudian saya sendiri cuma sampai di tahap interview (nanya2 usaha apa yang sudah dia lakukan), dan langsung merasa: memang dia sudah lakukan semua. Kalau tidak laku, ya gimana ya, mungkin pasarnya memang nggak ada. Bego sekali kan? Fhhh…… Seorang mahasiswi manajemen UGM, tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Bagaimana dia bisa menyelesaikan permasalahan besar?

*bersambung*

Pada Sebuah Taksi

Pada sebuah perjalanan buru-buru karena si penumpang tidak disiplin waktu, sebuah taksi dihentikan dan meluncurlah taksi itu ke sebuah mall kecil di daerah Pejaten.

Nama supir taksi itu adalah Suwarno. Asalnya dari Karang Anyar, daerah yang terkenal dengan objek wisata Grojogan Sewu-nya, tetangganya Solo. Nasib membawanya ke Jakarta. Ia memilih untuk bekerja pada perusahaan taksi nomor satu di negri ini. Akhirnya pindahlah ia ke Jakarta. Begitu juga keluarganya menyusulnya ke Jakarta.

Si penumpang usil mengajukan satu, dua, banyak pertanyaan. Ia kemudian agak takjub dengan cerita si supir. Pak supir yang ditaksir usianya sekitar tiga puluhan atas atau empat puluhan bawah, demi hidupnya, hanya pulang ke rumah kontrakan dua hari sekali. Sehari tidur di rumah, sehari tidur di pool taksi. Dari rumah kontrakan di Bekasi pinggir menuju pool taksi, harus menaiki angkot (angkutan umum) sebanyak 3 kali. Perjalanan bersama angkot memakan waktu 2 jam.  Kontrakan 3 petak yang dikontraknya, mengharuskannya menyisihkan Rp250.000 per bulan. “Kalau tinggal di Jakarta, segitu pasti nggak dapet,” begitu katanya.

Sehari ia akan mendapatkan 10% dari total uang hasil ‘narik taksi’ jika yang didapat di bawah target. Target dari perusahaan itu adalah Rp500.000 per hari. Si penumpang agak syok. “Wah, gede juga ya, target supir taksi,” pikirnya bego polos. Kalau berhasil melebihi target, maka persenannya bertambah. Hmm, pantas saja pak supir ini harus pulang ke rumah tiap 2 hari sekali.

Penumpang itu kemudian berkata pada dirinya sendiri, bahwa hidupnya kalaupun bisa ‘enak’, tidak boleh semena-mena, tidak boleh berlebihan, tidak boleh tidak sederhana…. Penumpang itu berusaha mencamkan hal itu baik-baik. Dalam hati dan pikirannya.

Melihat Korea Utara [melalui TV]

Sebenarnya awalnya tulisan ini ingin saya beri judul “Miris”… sebagai lelucon saja untuk seorang teman yang sudah dua kali merilis tulisannya dengan judul tersebut.

Tanggal 24 Maret 2009 malam, saya secara tidak sengaja menemukan acara Discovery Channel khusus mengenai Korea Utara. Tertarik mengenai negara tersebut, saya pun menontonnya.

Hey… Korea Utara kan negara yang sudah saya tahu namanya sejak zaman purba SD. Bukan seperti Republik Abkhazia yang namanya sangat asing, atau Negara Eritrea yang letaknya entah di benua mana.

Kim Jong Il (born 16 February 1941)

Kim Jong Il (born 16 February 1941)

Korea Utara… Jelas saya tahu Korea Utara dan Selatan. Korea Selatan ibukotanya Seoul dan Korea Utara ibukotanya Pyongyang. Yang baru saya tahu setelah menonton acara tersebut adalah bahwa di sana keadaannya sangat parah. Walaupun mereka sangat membanggakan kekuatan militer mereka yang merupakan no.4 di dunia, tapi di bidang lain, sangat jauh dari membanggakan. Dalam bidang kesehatan, walaupun warga tidak perlu membayar biaya kesehatan di RS, tapi dokter sangat rendah skill-nya, bahkan untuk operasi ringan seperti katarak saja, mereka [mungkin] tidak bisa. Di atas meja bedah, alih-alih kasur dan sprei bersih, yang ada hanya darah yang mengering di meja tersebut. Sangat tidak steril dan mengenaskan. Botol infus dibuat dari botol arak (yang ijo itu lho, yang kaya botol kecap). Bahkan tidak ada sabun di rumah sakit.

Korea Utara menerapkan politik luar negri tertutup. Hal ini terjadi sejak meletusnya Perang Korea (antara Korea Utara dan Korea Selatan) yang berlangsung dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Amerika Serikat adalah negara sekutu Korea Selatan yang sangat dibenci oleh SEMUA masyarakat Korea Utara. Saya memberi penegasan pada kata SEMUA karena hal itu sangat terlihat dari rekaman dokumenter curi-curi tersebut.

Kim Il Sung (15 April 1912 – 8 July 1994)

Kim Il Sung (15 April 1912 – 8 July 1994)

Hal lain yang saya lihat adalah betapa berhasilnya pemerintahan Kim Jong Il dalam melakukan pencucian otak atas rakyatnya. Doktrin yang sangat nyata mendarah daging adalah membenci Amerika sampai mati. Rakyat Korea Utara juga sangat mencintai dan memuja-muja Kim Jong Il serta Kim Il Sung (ayah Kim Jong Il) bak memuja dewa. Mereka sangat yakin bahwa pemimpin mereka itulah yang membuat mereka masih hidup dan hidup bahagia setelah kehancuran mereka di era Perang Korea.

Aksi Kim Jong Il dalam “menutup” Korea Utara sangatlah berhasil. Karena sampai saat ini, warga Korea Utara tidak mengenal buku umum dan internet. Sangat kontras dengan kehidupan Kim Jong Il sendiri yang dielu-elukan, yang konon merupakan pecinta film dan memiliki koleksi film sebanyak 20.000 buah. Buku-buku yang ada di Korea Utara semuanya ditulis oleh satu orang saja, yaitu Kim Il Sung, sang pendiri negara tersebut. Saya akan mengategorikan hal ini sebagai pembodohan. Mengerikan. Di era semacam ini… Saya melihat hidup mereka sama ‘modern’nya dengan kota kecil di Indonesia tahun 1990-an awal. Sedangkan HAM dll, jauhhhh tertinggal.

semua orang menghormati patung Kim Il Sung

semua orang menghormati patung Kim Il Sung

Saya memang nggak luas wawasannya. Pantas saja hal-hal di atas baru saya ketahui sekarang, di usia 21 tahun (lebih). Jadi malu. Tapi, apa dulu di sekolah saya pernah diceritain tentang keprihatinan akan kehidupan di Korea Utara ya? Saya rasa…. Nggak pernah deh. Hehehe. Makanya saya tulis di sini untuk yang belum pernah tahu seperti saya kemarin. Yang emang belajar sejarah yaaa… Memang bukan target pembaca yang saya harapkan. Tapi komentarnya, boleh dong… :)

Ehm… Saya belum tahu banyak soal Myanmar, cuma dengar heboh-heboh soal junta militer di sana. Saya rasa, di sana juga banyak hal buruk yang terjadi…. [lesu]

Akan saya cari tahu…..

Gambar: wikipedia & ini

Menjelang akhir Februari

Ketika hati sedang tidak tenang, tidak ada ide sama sekali yang keluar untuk diketikkan di blog ini. Kasian si bloggie…

Maaf ya, bloggie… kamu kutinggal lama :( sedih juga tauk, ga bisa posting sesering biasanya

Bulan Februari 2009… akan tercatat sebagai bulan yang paling tidak produktif dalam urusan blogging.

Sebagai catatan, bulan Juli 2008 memang tidak ada satupun post, tapi itu karena terhalangnya saya dari koneksi internet. Hehehe… Maklum. Kan lagi KKN, wajar donk. Masa KKN tapi tetep eksis aja di dunia maya. Brarti saya KKNnya beneran kan. Ga main-main. Hahaha….

Anyway…. sedih tidak boleh berlarut-larut. Saya sedang berusaha mengatasi diri saya sendiri :) Mengatasi kesedihan ini. Memotivasi diri sendiri. Dan terus menerus memeriksa kesehatan jiwa sendiri. Kesedihan yang dalam, saya yakini bisa membuat gangguan serius bagi jiwa seseorang. Oleh karena tidak ada yang memeriksa dan mengobati jiwa ini, maka saya sendiri harus terus menjaganya 24 jam (baca: 24 jam dikurangi jam tidur).

Di bulan ini mungkin saya harus lebih mengekspos kegembiraan bagi diri sendiri, supaya jiwa ini tidak sedih melulu. Sehingga balance, gitu. Ada beberapa kegembiraan yang saya catat selama bulan ini:

  • IPK akhirnya sudah naik, dan saya sudah puas. Saya tidak mau membandingkannya dengan IPK teman-teman saya (yang lebih tinggi). Saya sudah merasa bersyukur dengan IPK yang saya miliki sekarang. Tuhan, terima kasih.
  • Saya mengirimkan sebuah bingkisan kepada teman baru yang saya temui di dunia maya. Her name is Iren. Dia orang Kazakhstan. Saya senang bingkisan saya sudah sampai di sana :) . Saya sungguh bahagia untuk hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan. Memberi sesuatu kepada orang yang tidak saya kenal sebelumnya.
  • Saya sedikit senang karena saya merasa lebih wise dari sebelumnya. Kesedihan itu memang ada sedikit hal baiknya (dan akan tampak lebih banyak ketika kesedihan itu sudah lewat). Tuhan, jadikan aku pribadi yang lebih baik dengan caraMu.
  • Merasa sangat terharu dan bersyukur atas ibu yang luar biasa di suatu moment. Sangat sangat terharu… Terima kasih ibu :)

Saya tidak bisa pungkiri bahwa bulan Februari 2009 adalah bulan yang kelabu bagi saya. Namun saya tetap mencatat hal-hal baik yang terjadi di bulan ini. I thank You for those good things in the worst period of my life.

Gambar dipinjam dari sini

Belajar dari Bali

Pulang dari Pulau Bali, bawa oleh-oleh apa? Maaf ya, nggak ada buah tangan untuk dibagikan. Maklum, yang ke Bali ini budgetnya mepet, itu pun hasil belas kasihan orang (dikasih). Hu hu hu…. Masih mahasiswa, jadinya, masih bokek.

Makanya, tak nulis aja. Biar jadi pengganti oleh-oleh buat kerabat, teman, dan handai taulan. Oops, salah… maksudnya oleh-oleh buat pembaca setia blog ini. Hahahaha…

Pantai Dreamland

Pantai Dreamland sebelum dibangun gedung-gedung dan toko-toko

Lima hari di Bali adalah masa yang sangat menyenangkan. Saya tekankan, SANGAT menyenangkan. Really… Bahkan untuk orang yang tinggal di kota wisata juga, seperti saya. Saya memberikan acungan jempol untuk pemerintah di sana. Toleransi di sana benar-benar besar. Budaya dilestarikan, salah satunya dengan menyeragamkan bentuk pagar menjadi bentuk candi bentar. Para pemandu wisata juga diharuskan menggunakan baju adat.

Bali adalah kota budaya yang hidup, bisa dilihat dari kepercayaan mereka akan persembahan sesaji, pemotongan gigi, upacara ngaben, dll. Hidup mereka sangat berdekatan dengan alam. Tak heran, lanskap di sana tertata apik.

Senang sekali rasanya melihat perempuan-perempuan Bali mengenakan kebaya yang ngepas di badan sambil membawa banten di atas kepalanya. Di tempat lain, mudah ditemukan perempuan yang meletakkan sesaji serta dupa dan memercikkan air pada sesaji tersebut.Hal itu ditambah dengan pemandangan kontras, turis asing (yang sering kita sebut bule) yang bermain air laut dan meluncur di atas ombak. Melihat hal-hal itu, membuat saya merasa, Bali memang tempat yang indah, dan sungguh pulau dewata.

Aurelia di Tanah Lot, Bali

Aurelia di Tanah Lot, Bali

Kasarannya, setelah melihat Bali, saya akan bilang Jogja nggak ada apa-apanya. Sungguh. Mulai dari budaya, bangunan, pantai, butik, furniture, barang kesenian. Jogja masih nol kecil… Ayo nih, siapa sih pemimpin Jogja? Kembangkan Kasongan. Kembangkan Malioboro. Berdayakan pengerajin. Adakan sentra keranjinan yang lebih menarik untuk didatangi (melebihi Pasar Seni Gabusan). Adakan tari-tarian di keraton. Adakan lomba-lomba tari tradisional yang lebih besar-besaran. Adakan lomba ndalang, dsb. Jangan sampai kesenian yang menarik, tidak terekspose. Sia-sia…. Oh iya, satu hal dari Jogja yang lebih baik daripada Bali, yaitu keramahan pramuniaganya. Di Bali, sudah beberapa kali saya diberi jawaban ketus dari para penjual. Ada juga pengalaman di-nyolotin sama bencong. Sial….

Kembali ke Bali. Salah satu hal yang disayangkan dari Bali adalah, Pantai Kuta (pantai yang paling dekat dengan pusat keramaian dan hiburan) yang banyak sekali sampahnya. Semoga pantai Dreamland yang pasirnya putih dan indah itu, tidak bernasib sama dengan Kuta (dalam hal sampah). Sungguh budaya membuang sampah yang buruk.

Pita (teman yang selama 2 malam terakhir jadi rekan setempat tidur) mengajak untuk kumpul di Bali, 1 tahun lagi, dengan membawa sangu alias bekal yang lebih banyak, supaya lebih bisa banyak belanja dan bersenang-senang di sana. Okay… Nabung dehhh…. :) Itung-itung membantu bergeraknya perekonomian (ya dengan konsumsi.. hahaha).

eWaste.com

Istilah e-waste saya baca pertama kali, sekitar 2 minggu yang lalu di majalah Times. E-waste adalah istilah yang merujuk pada sampah elektronik, yaitu barang-barang elektronik yang sudah tidak dapat bekerja dengan baik alias rusak.

e-waste worker on a mountain of e-waste

e-waste worker on a mountain of e-waste

Setelah membaca postingan teman dan juga iseng klak-klik ke sini, saya jadi mengingat salah satu hal yang membuat saya excited, membuat saya termotivasi untuk bekerja, yaitu menginisiasi bisnis yang mengolah e-waste. E-waste tersebut akan ‘diurai’ secara khusus, hehehe, maksudnya dipilah-pilahkan komponennya, sehingga mungkin ada komponen yang bisa dipakai lagi, seperti timbal, tembaga, dll.

Pengen rasanya ada jalan yang membawa saya sampai di sana. Sampai di mana? Di China. Atau manapun lah, negara yang memiliki praktek ini. Di Indonesia sudah ada belum ya??? Saya pengen memulainya….. Ada yang mau modalin? Hihihi. Saya nggak suka ngutang. Ini masalah pilihan, bukan skill mengelola keuangan (financial management)…. :P

Ide mengelola e-waste sebagai bisnis ini sudah muncul sejak saya smester 2. Saya sudah ungkapkan di kelas Manajemen-nya Hani Handoko.

Arrrgghhh…. jadi ingat, harus cepetan skripsinya…..

gambar diambil dari sini

Ketika Aku Sakit

Aku tidak suka kalau jatuh sakit. Walaupun sakitnya menyelamatkanku dari deadline, atau apapun yg sekilas jadi tampak ‘sedikit menguntungkan’. [Siapa sih, orang yang suka jatuh sakit].

Anyway, apa sih yang paling tidak kamu sukai saat sakit? Kalau aku… aku tidak suka sendiri, sepi dan diperparah oleh hal yang tidak terhindarkan mendengarkan suara detak jarum detik jam. Tak henti-henti, dan begitu monoton. Aku bosan mendengarkan detak jarum detik jam. Terutama ketika sedang tidak bisa tidur lagi [karena sudah tidur terus seharian].

Oleh karena itu aku lebih suka jam yang jarum detiknya berjalan pelan namun tidak berdetak. Kata seorang teman, jam semacam itu malah buruk untuk diletakkan di ruang tunggu, karena waktu tampak cepat sekali berlalu. Tapi bagiku, menunggu saja sudah bete, apalagi jika ditambah dengan mendengar suara detak jam. Fuuuiihhh…. Makasih!

Oh iya, ngomong-ngomong soal sakit. Saat terkahir kali aku sakit, kan tidak bisa makan yang keras-keras. Alih-alih membuatkan bubur seperti biasanya, mama membelikan SUN bubur bayi. Ternyata enak lho! Ketika SUN-nya tidak habis dimakan ketika sakit, aku bawa ke kantor untuk dimakan saat kelaparan. Pengalaman membuktikan bahwa SUN Beras Merah lebih enak daripada SUN Kacang Hijau. Hahaha…..

Satu lagi. Mumpung masing ngobrol tentang sakit. Berikut adalah daftar obat-obat (selain obat luka) yang menurutku penting untuk kumiliki di rumah:

  • obat penurun panas
  • obat anti sakit (Paracetamol)
  • obat diare
  • obat maag
  • obat batuk pilek
  • obat sakit kepala

foto dari sini

Aku tahu, aku akan belajar menari (lagi)…

Yanuar, temen KKN saya pernah bilang kalau saya orangnya fanatik. Kayaknya dia memakai diksi yang salah, karena dia mencontohkan saya yang semangatnya musiman. Kalau lagi suka nonton voli plastik, tiap hari nonton. Gitu…

Nah, semalam saya mengunjungi Padepokan Seni Tjipta Budaja, di Tutup Ngisor, di lereng Merapi. Di sana saya melihat Pak Sitras Anjilin, kedua anaknya, Mas Eka, dan 2 Mas -yang namanya hilang di selokan ingatan saya- lainnya menari. Menari tanpa musik. Dalam hening saja…. Tarian ini fokus utamanya bukan pada keindahan, namun pada RASA. Bagaimana dengan sadar, seseorang menari dan menggerakkan tubuhnya ke mana tangan, kaki, jari, pinggang, pinggul, dan tubuhnya mau bergerak… Ke mana saja… Terserah… Gerakan apa saja… Terserah… Semua spontan… Semua bebas… Tubuh ini tidak terkungkung.

Sebenarnya di balik spontanitas itu, ada makna-makna juga. Karena (kemarin) narinya ber4, maka kadang ada gerakan-gerakan yang melibatkan orang lain…. Gerakan-gerakan itu kadang melambangkan air, api, matahari, dll…. Kata Pak Sitras, tarian ini tidak populer di Indonesia. Orang Jawa nggak tertarik dengan cara nari begitu, katanya. Dalam hati, saya berkata, saya orang Indonesia, Pak. Saya tertarik, dalam hati saya berkata. Saya ingin menari, tapi semalam tidak diajak, tidak dijemput. Malu :P Hahahahaha

Tapi saya akan belajar menari… Ini tekad. Saya harus belajar setidaknya satu tarian…. Saya suka menari. Dan saya mau menari lagi :)

Iseng yang narsis

Entah kenapa, kok akhir-akhir ini yang saya tulis itu nggak penting ya :P Hehehe… Kali ini juga nggak penting.

Jadi ceritanya, saya iseng, memasukkan kata kunci “aureliaclaresta” yang notabene nama saya sendiri, ke mesin pencari google… hasilnya…

Urutan 110 dari sekitar 688 hasil penelusuran untuk aureliaclaresta. (0.30 detik)

Wow…. 688??? Banyak amat??? Kayanya dulu pernah nyari hal yg sama, tapi cuma ada 20-an deh…

Lalu, iseng berlanjut. Saya kasih spasi ke kata kunci itu sehingga kata kuncinya berubah menjadi “aurelia claresta”…. deng deng…..jreng…..

Urutan 110 dari sekitar 21,100 hasil penelusuran untuk aurelia claresta. (0.30 detik)

Kyak hak hak hak…. gile…. dua puluh satu ribu???? Apaan tuh…

Nah, untuk perbandingan, saya ketikkan saja nama orang terkenal. Pengen tau, nama mereka ada berapa banyak ya… Lagipula, setelah melihat dua puluh satu ribu di atas, jadi gede kepala… Hahaha

Maka, saya masukkan nama artis aja. Mulai dari yang nggak terlalu ngetop. Saya masukkan nama “aura kasih”… Apa hasilnya?

lindsay lohan memang cantik ya?!

Urutan 110 dari sekitar 492,000 hasil penelusuran untuk aura kasih. (0.06 detik)

Hahaha…. hampir lima ratus ribu… Ngeri…

Coba lagi ah…. masukin nama yang kelas dunia… “lindsay lohan”

Urutan 110 dari sekitar 31,300,000 hasil penelusuran untuk lindsay lohan. (0.06 detik)

Tiga puluh satu juta, ya…. Wow… Mungkin terdongkrak karena kasusnya dengan drugs juga kali ya?!

Nah, terakhir deh… Masukin nama dosen saya, biar beliau nggak malu, saya pilih dosen yang terkenal saja, yaitu “tony prasetiantono”. Maka, hasilnya adalah….

Urutan 110 dari sekitar 7,330 hasil penelusuran untuk tony prasetiantono. (0.23 detik)

Lho lho lho… kok cuma tujuh ribu??? Kan dia terkenal be ge te. Kan dia top executive-nya BNI… How come?? Si google lagi mabok kali ya???

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.