Makan @ Bandung [1]: Warung Laos

Yang paling menarik dari sebuah perjalanan, adalah kadang kita tidak tahu akan menemukan apa di perjalanan. Di tengah kebingungan klasik ‘mau makan apa’ di daerah Ciwalk, saya dan Herman masuk ke dalam sebuah warung makan yang nampaknya asik, namanya Warung Laos. Alamat pastinya adalah Jl. Prof Eyckman No.2. Nampak agak kuno, banyak elemen kayu, tapi tidak melompong. Beberapa orang telah duduk santai di sana. Hujan rintik-rintik mempercepat pengambilan keputusan. Kami mau makan siang di situ saja.

Salah satu pemiliknya adalah Darwis Triyadi

Awalnya dengan melihat papan nama si warung, asumsinya yang dijual adalah ayam-tahu-tempeĀ bacem. Itu adalah asosiasi terdekat dari nama Warung Laos. Begitu masuk, ternyata ini adalah pizzeria. (-_-”) pemilihan nama yang aneh.

Masuk dan memilih tempat duduk di lantai atas. Harapannya bisa melihat pemandangan jalan Cihampelas yang sempit namun ramai dari atas. Apa daya, ternyata posisi strategis sudah diduduki tamu lain. Maka, akhirnya cuma bisa melipir. Nasib.

Yang kami pesan adalah potato skin & sausage serta pizza. Sayang sekali pizzanya nggak ke-foto.

Kedua menunya oke. Penyajian minumannya pun menarik, walaupun cangkirnya belepotan. Belum puas? Take away saja. Kemasannya adalah anyaman bambu yang biasa buat bungkus moci. Heheh. Lucu. Seperti yang saya bilang tadi, Darwis Triyadi adalah salah satu pemiliknya (pengakuan karyawan di sana loh, ya), nggak heran ada hasil karya beliau di dinding Warung Laos.

Naahh… cobain ya, kalau belum pernah mampir… Kasih rekomendasi kalo ada menu lain yang enak! :)

Makan @ Jogja [16]: Sentana Bistro

Saya sudah pernah menulis sedikit tentang menu di Sentana Bistro. Weekend minggu lalu saya datang ke Sentana Bistro untuk yang ketiga kalinya (if i’m not mistaken) dan mencoba berbagai makanan yang dibayari boss besar saya: my mom.

gyu soyu ramen - sentana bistro

Kami memesan 3 menu ramen: chicken ramen, sentana ramen, dan gyu soyu ramen. Kesimpulannya adalah: chicken ramen yang saya puji-puji di kedatangan lalu kini dikalahkan sama Gyu Soyu Ramen (harga sekitar Rp24.000).

unagi sushi - sentana bistro

Menu lain yang menggembirakan saya adalah Unagi Sushi (sekitar Rp44.000) untuk 3 potong sushi seperti di gambar. I like it :) Untuk salmon teriyaki-nya, lumayan oke, cuma sedikit (terlalu) manis…

Makan @ Jogja [15]: Hikari Ramen

Karena rekomendasi orang tak dikenal di salah satu grup makanan jogja di Facebook, saya akhirnya mendatangi Hikari Ramen di jalan Wakhid Hasyim (Nologaten ke utara terus sampe nembus Ring Road Utara) sekitar dua minggu yang lalu.

Saya datang ke sana dalam kondisi nggak prepare untuk nulis blog. Jadinya nggak bawa kamera. Begitu masuk, ragu setengah mati. Karena tempatnya agak parah. Low budget business terlihat dari interior-nya. Atas saran mbak waitress, saya memesan Gyu Soyu Ramen (Rp14.500). Yang masak adalah seorang lelaki yang wajahnya sedikit oriental, dan berpakaian lumayan gaul. Sayangnya, dia mungkin ngerasa kegantengan untuk sekedar mengucapkan ‘selamat menikmati’ dan sedikit tersenyum sewaktu mengantarkan si ramen ke meja saya. Saya makan ramen sambil nonton TV di sana. Lumayan lah, datang sendirian, ruangan nggak ada suasana, tapi nggak memble…

Gyu Soyu Ramen yang saya makan di Hikari Ramen ini sangat nggak mengecewakan :) . Recommended, guys! Best value ramen i ever had in Jogjakarta.

Peringatan aja, Hikari Ramen nggak cocok buat mereka yang: menyukai seni makan dengan suasana yang perfect, orang kaya yang nggak biasa makan di warteg, orang yang lanjut usia, orang yang dateng bawa temen sekampung (kapasitas kedai ramen ini terbatas), dan orang yang benci parkirin mobilnya di jalan sempit.

Saya belum coba Nikkou Ramen… Next time deh

Makan @ Jakarta [2]: Sushi Tei

2. Sushi Tei (Plaza Senayan, MKG, dll)

Keluarga saya ada di Jogja. Di Jogja nggak ada sushi oke. Jadi, Jakarta agak identik dengan memenuhi hasrat makan sushi. Hehehe. Maklum ya, wong ndeso.

Melalui official web-nya, saya jadi tahu bahwa Sushi Tei asalnya dari negara tetangga, Singapura. Satu hal yang membuat Sushi Tei menjadi bisnis yang sangat baik adalah karena value-nya yang tinggi di antara restoran sushi dan makanan jepang lainnya. Apa yang menentukan value? Value dihitung dengan cara membagi benefit dengan harga. Semakin tinggi benefit, semakin rendah harga, semakin tinggi value yang didapat oleh para konsumen. Sushi Tei menawarkan sushi dalam porsi yang kecil-kecil, sehingga harganya pun jadi makin terjangkau. Selain itu, Sushi Tei memiliki Kaiten Sushi / kereta sushi. Sushi dengan piring-piring kecil diletakkan di roda berjalan yang mengelilingi open kitchen dan para chef. Pemandangan yang menarik dan menggiurkan.

Saya baru 2 kali makan di sini. Keduanya bersama Herman ^_^. He knows that i love sushi so much. He treated me sushi three times, if i’m not mistaken.

Apa yang menjadi favorit saya di sini?

Saya suka sekali sushi dengan tobiko (telur ikan terbang) yang banyak dan mayonaisse yang bikin sushi terasa maknyus. Oleh karena itu, saya nggak akan absen untuk memesan Kanimayo Tobiko Maki.

Kanimayo Tobiko Maki

Herman menyukai sushi yang berisi ikan yang dicampur dengan cacahan kacang mede/mete. Namanya Stamina Maki. Saya rasa ini juga pilihan yang bagus. Nice!

Stamina Maki

Selanjutnya, auntie Tien (my auntie from mom) mencoba sushi mentah ter-oke yang pernah saya coba. Selama ini kalau makan sushi mentah suka kecewa. Hambar atau nggak fresh. Namanya Rainbow Roll Set (Rp65.000). Next time harus makan ini lagi :)

Rainbow Roll Set

Ayo makan sayur! Bosen dengan sayur yang itu-itu aja? Mari makan salad di Sushi Tei. Saya mencoba salad ini. Saya tidak ingat namanya. Yang pasti salad ini terdiri dari irisan wortel, selada keriting, dan 2 jenis rumput laut. Yiha!! Nice try!

Salad dengan nama yang rumit

Masih belum kenyang? Salah satu kesukaan saya adalah tuna. Kali ini, sushi yang dibungkus nori dan atasnya penuh dengan tuna. Sluurrrpp.

Saya tidak ingat namanya. Mungkin Tuna Roll?

Dessert yang lumayan. Bikin acara makan makin asyik.

Ice cream with ogura (forget the commercial name)

Chocospoon (Rp20.000)

Makan sushi paling enak beramai-ramai. Karena bisa comot sana comot sini. Cicip banyak jenis sushi yang tidak mungkin dilakukan kalau datang sendirian (baca: 2 atau 3 menu sudah kenyang). Kalau datang ber-4, bisa coba 7-10 menu :) Asyik kan…. Makanya, jangan sendirian datang ke sini. Rugi. Sepi… Kurang asyik…

Semua foto makanan ini diambil dengan kamera Canon Ixus 970IS milik ibu saya. Yang motret siapa? Ya saya, dong. Hehehe.

Belum pernah ke, Sushi Tei? Agendakan sekarang! :) Dijamin happy

Makan @ Jogja [15]: Mie Ceker Bandung

20. Mie Ceker Bandung [jl. Wolter Monginsidi, perempatan SD Tumbuh, ke barat]

suasana malam hari yang romantis

Setidaknya saya sudah bolak-balik makan menu yang sama di sini 6 kali. Pertama kalinya ketika menraktir teman di hari ultah saya di tahun 2009. Itu artinya, dalam waktu 8 bulan, saya sudah melakukan repurchasing atau pembelian ulang sebanyak minimal 5 kali. Dalam bisnis, salah satu tanda konsumen puas adalah ketika mereka melakukan pembelian ulang.

Saya membawa teman-teman terbaik saya ke tempat ini untuk makan dan ngobrol. Mie ayam adalah menu yang nggak ngebosenin bagi saya. Kalau untuk menu steak, saya bisa cukup puas makan setahun sekali atau dua kali, mie ayam bisa saya santap seminggu sekali kalau lagi doyan.

Saya pernah bilang bahwa Yamie Manis Bandung 59 adalah favorit saya. itu benar. Tapi untuk kesempatan yang berbeda, yamie manis di Mie Ceker Bandung ini lebih cocok. Kesempatan yang seperti apa? Kesempatan makan bersama pasangan, keluarga, dan tamu luar kota. Itu semua karena tempat ini memiliki manajemen yang lebih baik, pilihan menu lebih banyak, tempat lebih bersih, pelayan lebih terlatih, suasana malam yang romantis, dan juga ada 8 kamar (menyatu dengan Monginsidi Guest House) untuk tamu luar kota.

Sekalian info tambahan buat pembaca blog yang ingin sekalian cari penginapan oke, guest house ini memiliki 3 jenis kamar dengan rate Rp275.000 (3 kamar), Rp340.000 (4 kamar), dan Rp380.000 (1 kamar). Belum termasuk pajak dan layanan 15%.

Oh iya, harga mie di sini berkisar antara 10 – 15 ribu (berdasarkan ingatan saya saja). Harga jus rata-rata 9 ribuan. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah malam hari karena suasananya lebih hidup dengan lampu2 berwarna hangat. Bukanya dari jam 10 pagi – 10 malam. Ada 48 seat, yang terbagi indoor dan outdoor (dengan meja-meja berpayung).

Selamat mencoba!

Makan @ Jogja [14]: Ramen

Teman-teman saya dari FEB UGM sudah ada 3 orang + 1 orang investor yang memiliki kedai ramen. They are Saiqa, Putro & Galih Baskoro (Hotaru & Hotaru Ramen) and Genny Mirzana Nugraha (Nikkou Ramen). Aku salut dengan keberanian mereka untuk membuka bisnis sendiri dan membuka lapangan pekerjaan buat orang lain.

Seperti yang saya sudah tulis di post terdahulu, saya sudah mencoba ramen di Sakura (Babarsari), Sapporo Ramen (Jakal km10,9), dan Hotaru (Godean). Intinya saya sempat gemar dengan ramen setelah makan miso ramen di Sakura. Sayangnya, rasa miso ramen di kunjungan saya berikutnya, berubah. Saya pun berkesimpulan wah, ramen kok rasanya terlalu hambar ya. Kayanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya lebih suka dengan mie ayam :)

miso ramen di Sentana Bistro -gambar dari blog orang-

Setelah post tersebut dibuat saya mencoba makan ramen di Ramen (Jakal, depan Superindo) dan Sentana Bistro (Jakal, deket Hoka-Hoka Bento). Ramen di Ramen hampir sama dengan ramen lain yang pernah saya makan. Nggak favorit. Tapi kemarin siang saya makan di Sentana Bistro. Stamina ramen yang saya pesan, rasanya biasa saja. Tapi chicken ramen yang dipesan adik bungsu saya, secara mengejutkan RASANYA ENAK! Harganya Rp24.000.

Saya baru 2 kali datang ke Sentana Bistro, tapi saya bisa memuji tempat ini karena beberapa hal, antara lain karena harganya sesuai dengan layanan yang didapat. Untuk setiap pengunjung yang datang akan langsung disuguhi handuk dingin, 1 cup ocha, dan 1 porsi kecil potato salad. Mashed potato-nya seperti dipadukan dengan acar timun dan wortel. Nice! Suasanya dan interiornya cocok dengan harganya. Sebelumnya di Sentana Bistro saya pernah memesan tobiko (telur ikan terbang) sushi dan tempura sayuran (Rp15.000). Sushinya kurang oke, tempuranya lumayan banyak dan mengenyangkan!

Try Sentana Bistro!

Makan @ Jogja [13]: Pizza

Mau makan pizza di Jogja? Kota ini punya beberapa alternatif. Pizza Hut sudah masuk ke Jogja sudah agak lama. Gerainya ada 3, yaitu di Malioboro Mall, Jl. Sudirman [Tugu Jogja], dan yang terbaru di Ambarukmo Plaza. Paparons juga sudah ada sini, yaitu di Jl. Sangaji.

17. Nanamia Pizzeria [Jl. Moses Gatotkaca B.13 Gejayan] [pesan lewat telp: 0274-556494]

Ada namanya Nanamia Pizzeria yang posisinya dekat dengan kampus Sanata Dharma Mrican. Mottonya “Traditional Pizza for Modern People”. Gerainya kecil, namun suasananya asyik. Hampir selalu ramai dan hampir selalu ada foreigner di sana. Pizza yang di sini jenisnya adalah pizza klasik yang tipis dan topping-nya fresh. Fresh di sini maksudnya, semua bahan topping yg ditaburkan cenderung masih mentah. Rasanya cenderung sesuai dengan rasa asli topping-nya. Tidak banyak bumbu tambahan. Rasanya cenderung tidak tajam. Rasa enaknya muncul dari lemak pada lumeran keju Mozarella.

saya baru sadar, saya sudah sering ke sana tapi nggak punya foto waktu di sana. Ini foto diambil oleh orang luar, saya pinjam saja

foto minjem dari tempat lain

Jam bukanya, mulai dari jam 13.00. Tutupnya kira-kira sekitar jam 21.00 atau 22.00. Kapasitas ruangan ini kira-kira hanya untuk 34 orang. Pada kunjungan saya yang ke-8 di sana, tanggal 20 Januari 2010, pukul 20.00an malam, seluruh seat penuh, dengan komposisi jenis konsumen: 9 pasang couple, 2 keluarga kecil, 2 peers (bareng temen2). Musik di sini selalu impor, jadi nuansanya agak-agak Eropa dikit (ditunjang dengan adanya beberapa bule di sana). Belom pernah ke sini? Kudu dateng dan coba ya!

Ada beberapa referensi tentang tempat ini, ada yang positif dan ada juga yang cenderung agak negatif. Biar imbang gitu loh, infonya. :)

18. Rumah Pizza [Selokan Mataram, barat Outlet Biru]

Saya baru 3 kali datang ke tempat ini. Terakhir kali bersama Luluk Nastiti, tanggal 12 Agustus 2009. Justru di tempat ini saya punya dokumentasi foto yang agak lumayan. Secara singkat begini isi referensi saya:

Rumah Pizza tampak luar

Rumah Pizza tampak luar

Pizza di sini rotinya enak, toppingnya lumayan, secara keseluruhan pizzanya recommended. Calzone-nya juga recommended. Rasanya masuk hitungan. Hanya saja tempatnya yang nggak oke. Nggak cozy. Toilet sangat buruk, wastafel nggak ada. Pelayanan nggak mantep. Kasir agak jutek. Parkir mobil susah, karena di pinggir selokan. Sangat cocok untuk take away (belum ada delivery service) tapi segera dimakan pizzanya. Nggak disarankan untuk makan di tempat, kecuali nggak butuh suasana & kenyamanan makan. Harga oke. Pilihan minuman terbatas.

Egg Cheese & Smoked Beef Calzone

Ibu saya yang suka pizza karena rotinya, lebih menjagokan tempat ini daripada Nanamia. Mengapa? Karena rotinya lebih tebal (ala Pizza Hut) dan rasa toppingnya lebih familiar (mirip dengan Pizza Hut). Pemiliknya memang mantan pegawai Pizza Hut. Tapi kalau saya, saya lebih menjagokan Musee Pizza di bawah ini.

19. Musee Pizza [Jl. Perumnas Congdong Sari C1, daerah Selatan UPN]

Semalam saya datang ke sini untuk pertama kalinya. Tempat ini bukanya sudah agak lama. Tapi sama dengan Rumah Pizza, tempat ini nggak pernah ramai. Saya senang makan di sini tadi malam. Tempat ini memberikan best value untuk saya sebagai consumer.

suasana Musee Pizza di waktu malam

Saya menyukai Musee Pizza karena beberapa hal: tempat ini lebih baik interior design-nya dibandingkan dengan Rumah Pizza. Dan lebih besar & leluasa daripada Nanamia meskipun nggak ada musik Italianya dan pelayannya juga nggak oke-oke banget. Harga di sini lebih murah daripada Nanamia. Ada pizza ukuran personalnya yang harganya cuma Rp10-12 ribu. Tapi nggak ada pizza ukuran large. Maksimal ukurannya medium. Wow! Suasana dapet, harga oke. Konsumen senang, hahaha. Kekurangannya terletak pada pilihan pizza yang kalah banyak dibanding kedua tempat di atas. Tapi variasinya boleh juga. Mungkin karena sepi, stock fresh fruitnya nggak banyak (atau malah nggak pernah ada lagi). Parkir mudah, rasa topping-nya oke. Kalau Rumah Pizza menang di rotinya, Musee Pizza menang di toppingnya (roti pizzanya agak kurang gosong, kurang mantep). Saya nggak terlalu cocok dengan pizza tradisional ala Nanamia.

Yang saya pesan di sini adalah:

  • Bolognaise Pizza Medium (bisa untuk ber-2 atau ber-3 kalo sedang diet rendah kalori) – Rp22.500 [recommended]
  • Beef Bruchetta (4 pieces) – Rp7.200 [recommended]
  • Orange juice – Rp4.500

lihat bagian rotinya yg kayanya kurang mateng dikiiit... kurang gosong.

Harga di atas adalah harga nett yang saya bayar setelah dipotong diskon 10% (discount all the time). Huahahaha… senang deh. Ayo dong, pada ke sini, biar bisnisnya bisa terus berjalan… Sehingga bisnisnya nggak mati. Jadi, saya tetep bisa makan pizza enak dan murah. Hahahaha

Hmm, demikianlah ulasan tentang pizza-pizzaan…. Sebetulnya masih ada Mozzarello di Galeria Mall. Tapi waktu itu saya baru datang sekali dan makan Deluxe Beef Spaghetti-nya saja. Entahlah dengan pizza-nya. Rasa spaghetti-nya biasa aja sih. Rata-rata :)

Makan @ Jogja [12]: Gama Candi Resto

16. Gama Candi Resto [Jl. Mangkubumi, seberang stasiun Tugu]

Tanggal 12 Desember 2009, saya kedatangan tamu yang ‘hobi’ nraktir mahasiswa ra mutu [baca: ra lulus2] seperti saya. Niat awalnya mau ke pantai Depok, untuk makan ikan. Namun teriknya matahari, absennya rombongan awan menuju arah selatan, dan suhu yang diperkirakan sekitar 33 derajad celcius, membatalkan niat tersebut. Pendek cerita, kami akhirnya makan di Gama Candi Resto.

Bandeng Kropok nan lezat. ditambah sambel jeruk, mantap.

Ini kunjungan saya yang pertama ke Gama Candi, dan kedua untuk si teman yang baik hati dan rajin menabung itu. Dari kunjungan yang baru sekali ini, saya sudah bisa bilang bahwa Gama Candi Resto adalah salah satu aset kota Jogja. Recommended!!! Teman saya memesan dan saya manut. Menu yang dipilih adalah:

  • Bandeng Tambak Kropok [recommended] – Rp35.000
  • Kerang Dara Goreng
  • Ca Brokoli [recommended]

Nah, karena saya tidak membayar bill-nya, maka saya hanya bisa mengambil data harga dari sumber sekunder. Saya perkirakan, untuk makan satu orang di tempat ini siapkanlah minimal Rp50.000 per orang. Oh ya, Bandeng Tambak Kropok-nya itu jempol banget. Enakk!!! Nggak bo’ong. Rasanya mantap, tanpa duri pula… Sip. Brokolinya dimasak dengan baik, sehingga warnanya masih hijau bagus, namun matang. Chef-nya kukasi dua jempol deh. Kerangnya, ehm… cenderung biasa saja.

Waah, jadi pengen nyoba menu lainnya, kalo ada yg mau nraktir (berharap ditraktir ibu). Tempat ini, kapasitasnya lumayan besar (perkiraan sekitar 100-150 orang). Ada tempat yang outdoor, ada yang indoor. Desain tempatnya bagus. Menyenangkan!

Bawa tamu ke sini, pasti tidak mengecewakan. Datang bersama keluarga adalah yang paling tepat.

Sebagai info saja, tadi yang masuk ke situ adalah orang-orang bermobil yang well-dressed. Hanya saya dan teman saya yang masuk kaya anak kesasar. Pakai sendal jepit dan kaos oblong. Hahaha. Yang disayangkan cuma satu, tadi AC menunjukkan angka 16 derajad celcius, tapi saya merasa suhu di dalam ruangan itu sekitar 29 derajad celcius. Jogja is sooo hottt!!! Hahahaha

Gama Candi, rocks!!!!

Makan @ Jogja [11]: Amboja Resto

15. Amboja Herb Garden Resto [Jl. Kaliurang km.18,7]

Tanggal 2 Agustus 2009 yll, untuk pertama kalinya saya mencoba makan di Amboja Resto yang sudah direkomendasikan seorang tante dan seorang teman nggosip. Dan sekarang saya ingin melakukan hal yang sama, yaitu melanjutkan word of mouth ini.

Resto ini patut anda singgahi kalau anda ke Jogja. Ini adalah resto yang cocok untuk dikunjungi kalau anda sedang refreshing atau berlibur di Jogja. Tempat ini cocok untuk anda yang mau mengajak tamu dari luar kota untuk mencicipi salah satu ‘rasa’ Jogja. Tempat ini memiliki nuansa santai yang mendukung rasa nyaman bagi pengunjung.

Semua menu di sini menggunakan produk lokal yang mereka tanam sendiri di sekitar resto. Cocok buat para pendukung penggunaan produk lokal dan vegetarian.

Rasa makannya tidak bisa dibilang luar biasa, tapi enak kok. Saya mau sekali untuk kembali makan di sini. Ada yang mau ajak saya???

Oh ya, ini daftar menu yg kami pesan waktu itu:

jamur asam manis 17.500

Nila Sc plawangan 26.000

kailan sc tiram 15.000

nasi putih 3.000

nasi hitam 5.000 [nice try]

singkong thailand 11.000 [not recommended.no more]

teh kayu manis 6.000

juice amboja 12.000

marquisa juice 12.000 [like it]

es jeruk 7.500

Makan @ Jogja [10] : Yamie Manis Bandung 59

14. Siomay & Batagor Bandung 59 [Jl. Beskalan 35 - selatan pasar Pathuk]

Saya punya tempat makan favorit untuk menu yamie manis, yaitu di sini. Harga yamie manisnya Rp7.500 per porsi. Porsinya sangat pas untuk seorang Aurelia. Tapi kalau untuk para pria-pria berkebutuhan karbohidrat tinggi, bisa pesan ukuran jumbo, harganya kurangĀ  tahu, karena saya tidak pernah mampu makan lebih dari porsi biasa.

Pemilik tempat makan ini adalah seorang pria ramah asal Bandung. Saya suka sekali melihat ekspresi ceria si om pemilik tempat ini.

semangkuk yamie manis yg sudah diublek-ublek dan dimakan sedikit

Di sini saya hanya pernah memesan yamie manis, dan tempat ini menjadi tempat makan yamie manis ter-oke di Jogja menurut saya :) . Silahkan mencoba kalau ada kesempatan! Lomie-nya juga enak kok… saya pernah nyicip :) Mungkin next time kalau bisa menahan air liur terhadap menu yamie manisnya, saya akan memesan batagornya….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.