Monthly Archives: Februari 2009

Sedikit tentang sinetron Melati untuk Marvel

Standar

Tidak sedikit orang Indonesia sendiri yang sebal dengan sinema elektronik (sinetron) Indonesia. Sinetron Indonesia punya cap dan citra yang buruk. Mulai dari sisi cerita yang nggak bermutu karena sistem syutingnya kejar tayang. Kemudian, cerita bisa panjang sekali dan bertele-tele, bisa ratusan episode. Kadang kala, iklan juga memperparah situasi karena durasi iklannya lama sekali, bisa 5 menit. Pun banyak kekerasan yang disuguhkan, misalnya dalam bentuk kata-kata kasar dari tokoh antagonisnya.

Tadi malam, saya dan seorang teman perempuan saling bertukar kelakar mengenai sinetron Melati untuk Marvel. Saya jadi ingat, seorang teman kami berdua pernah meledek teman perempuan ini karena menyukai sinetron Melati untuk Marvel. Kenapa diledek? Karena dari info Facebook, dia menyebutkan acara TV favoritnya adalah Oprah, Bioskop Trans TV, dan Melati untuk Marvel. Tentu ini lucu, karena penyuka Oprah biasanya cenderung tinggi selera tontonannya, lha kok ini malah nonton sinetron.

Karena dibahas itulah, saya jadi lebih memperhatikan sinetron itu. Saya pun bisa menyetujui, bahwa Melati untuk Marvel cukup bisa diacungi jempol dalam kapasitasnya sebagai sinetron, walau masih bisa saya cela dalam beberapa hal.

Mengapa saya puji?

Sinetron biasanya menampilkan tokoh baik dan tokoh jahat. Yang baik sangat baik dan tidak jahat. Yang jahat tidak ada sisi baiknya. Hahaha… Contohnya mungkin seperti dalam kisah Cinderella, atau sinetron Alisa, di mana Nia Ramadani digambarkan sangat licik dan nggak punya sisi positif. Jahaaat melulu. Tapi di Melati untuk Marvel, peran antagonisnya sangat wajar. Ada Dika (Fendy Chow) yang bisa sebal dengan istrinya, namun bisa jadi baik juga. Dika juga digambarkan seperti “nenek sihir ala cowok” cerewet dan suka nyusahin karyawannya (terutama Marvel). Namun di sisi lain, Dika juga sayang sama adikknya (Melati), care dengan istrinya (Aurel). Namun ada sisi-sisi manusiawinya juga, yaitu sempat khilaf karena menghamili mantan pacarnya, Shafa.

Sinetron ini alurnya baik dan sangat natural. Scene-scene-nya sangat masuk akal. Beda dengan sinetron Alisa yang beberapa kali ceritanya nggak masuk akal. Salah satu yang saya ingat adalah ketika Natasha (Nia Ramadani) menuangkan sebotol pemutih pakaian ke ember cucian Alisa. Digambarkan Alisa kemudian terkejut karena air cuciannya kok panas.

Apaaaa??? Panas? Kalau seember cucian diberi pemutih pakaian sebotol, harusnya baunya aja udah kecium dong… Nggak pernah nyuci, ya om sutradara (atau penulis skenario)??? Please deh…..

Kembali ke Melati untuk Marvel. Walau bisa sedikit dipuji, tapi sinetron ini juga masih kurang oke. Karena seperti penyakit sinetron Indonesia lainnya, yaitu melupakan detail. Ada saat ketika Chelsea dan Rezky tidak dapat syuting bersama, tapi harus ada adegan bersama. Gimana caranya? Ya di-shoot sendiri-sendiri. Kesalahannya kelihatan ketika Melati menempelkan jarinya ke bibir Marvel sebagai ganti ciuman. Kukunya beda. Kuku Melati itu hasil kerjaan nail saloon, bermotif strawberry dengan warna merah dan hijau, sedangkan yang tampak di bibir Marvel kukunya merah doang.

Hihihihi… ngikik….

gambar dipinjam dari sini

I love the way they dressed

Standar

Di musim orang-orang mulai memakai harlem pants dan high waist skirt yang menurut saya kurang oke dan agak cacat secara mode :P [peace yo, pendapat boleh beda kan?], saya sangat senang dengan apa yang mereka pakai. Good looking :)

Jangan jadi korban mode ya! Pakai yang sesuai dengan badan kamu :)

Debra Messings emerald-embellished Jenny Packham piece showed off the 40-year-olds toned arms and gorgeous head of red.

Debra Messing's emerald-embellished Jenny Packham piece showed off the 40-year-old's toned arms and gorgeous head of red.

Halle Berry hit yet another fashion home run in a sexy strapless Reem Acra dress at the 2nd annual Essence Black Women in Hollywood Luncheon.

Halle Berry hit yet another fashion home run in a sexy strapless Reem Acra dress at the 2nd annual Essence Black Women in Hollywood Luncheon.

Marcia Cross stole the spotlight in a lilac cap-sleeved Elie Saab stunner at a recent charity soiree.

Marcia Cross stole the spotlight in a lilac cap-sleeved Elie Saab stunner at a recent charity soiree.

Marcias fellow housewife Teri Hatcher looked far from desperate in a cute tank, corset, skinny pants, and studded booties at the Indie Spirit Awards.

Marcia's fellow "housewife" Teri Hatcher looked far from "desperate" in a cute tank, corset, skinny pants, and studded booties at the Indie Spirit Awards.

Gambar diambil dari sini, sini, sini, dan sini

Ini ada satu lagi dink… [ditambahkan 31 Maret 2009]

CANNES, FRANCE - JANUARY 20:  Singer Cassie attends the 2007 NRJ Music Awards held at the Palais des Festivals in Cannes, France on January 20, 2007.  (Photo by Pascal Le Segretain/Getty Images)

CANNES, FRANCE - JANUARY 20: Singer Cassie attends the 2007 NRJ Music Awards held at the Palais des Festivals in Cannes, France on January 20, 2007. (Photo by Pascal Le Segretain/Getty Images)

Pebruari atau Februari?

Standar

Dulu, dengan yakin saya akan menulis Pebruari, karena begitulah yang benar berdasarkan sumber yang bisa saya percaya (sebagai seorang pemerhati bahasa).

Sekarang, kok makin jarang saya lihat, tulisan Pebruari. Maka saya bertanya-tanya. Apakah masih Pebruari atau sudah dijadikan Februari saja? Soalnya saya cek di Kompas, mereka menggunakan “F” alih-alih “P”.

So… mulai sekarang, saya akan menuliskan Februari sebagai nama bulan kedua dalam kalender masehi.

Menjelang akhir Februari

Standar

Ketika hati sedang tidak tenang, tidak ada ide sama sekali yang keluar untuk diketikkan di blog ini. Kasian si bloggie…

Maaf ya, bloggie… kamu kutinggal lama :( sedih juga tauk, ga bisa posting sesering biasanya

Bulan Februari 2009… akan tercatat sebagai bulan yang paling tidak produktif dalam urusan blogging.

Sebagai catatan, bulan Juli 2008 memang tidak ada satupun post, tapi itu karena terhalangnya saya dari koneksi internet. Hehehe… Maklum. Kan lagi KKN, wajar donk. Masa KKN tapi tetep eksis aja di dunia maya. Brarti saya KKNnya beneran kan. Ga main-main. Hahaha….

Anyway…. sedih tidak boleh berlarut-larut. Saya sedang berusaha mengatasi diri saya sendiri :) Mengatasi kesedihan ini. Memotivasi diri sendiri. Dan terus menerus memeriksa kesehatan jiwa sendiri. Kesedihan yang dalam, saya yakini bisa membuat gangguan serius bagi jiwa seseorang. Oleh karena tidak ada yang memeriksa dan mengobati jiwa ini, maka saya sendiri harus terus menjaganya 24 jam (baca: 24 jam dikurangi jam tidur).

Di bulan ini mungkin saya harus lebih mengekspos kegembiraan bagi diri sendiri, supaya jiwa ini tidak sedih melulu. Sehingga balance, gitu. Ada beberapa kegembiraan yang saya catat selama bulan ini:

  • IPK akhirnya sudah naik, dan saya sudah puas. Saya tidak mau membandingkannya dengan IPK teman-teman saya (yang lebih tinggi). Saya sudah merasa bersyukur dengan IPK yang saya miliki sekarang. Tuhan, terima kasih.
  • Saya mengirimkan sebuah bingkisan kepada teman baru yang saya temui di dunia maya. Her name is Iren. Dia orang Kazakhstan. Saya senang bingkisan saya sudah sampai di sana :). Saya sungguh bahagia untuk hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan. Memberi sesuatu kepada orang yang tidak saya kenal sebelumnya.
  • Saya sedikit senang karena saya merasa lebih wise dari sebelumnya. Kesedihan itu memang ada sedikit hal baiknya (dan akan tampak lebih banyak ketika kesedihan itu sudah lewat). Tuhan, jadikan aku pribadi yang lebih baik dengan caraMu.
  • Merasa sangat terharu dan bersyukur atas ibu yang luar biasa di suatu moment. Sangat sangat terharu… Terima kasih ibu :)

Saya tidak bisa pungkiri bahwa bulan Februari 2009 adalah bulan yang kelabu bagi saya. Namun saya tetap mencatat hal-hal baik yang terjadi di bulan ini. I thank You for those good things in the worst period of my life.

Gambar dipinjam dari sini

Ngintip Galeria Mall Jogja

Standar

img_0112Hari minggu (8 Feb 2009) saya ‘main’ ke Galeria mall bersama mama dan Austin. Sambil jalan-jalan, saya melihat sebuah fenomena.

Ceileee… istilahnya fenomena segala

Lihat foto yang diambil Austin ini. Apa yang anda pikirkan? Melihat beberapa kali orang-orang di Galeria duduk ndlongsor di lantai, atau menggunakan bangku dengan cara seperti ini, membuat saya ‘tergelitik’.

Hei… bangku itu dibuat dan dipasang di sana buat orang yang kelelahan dan butuh duduk. Bukan untuk dipakai sebagai meja untuk laptop

Ya kan?! Benar kan?! Maksud saya… pihak Galeria bisa melihat hal ini sebagai teguran non-verbal. They need something to lay their laptop, sir….

Jogja Juga Oke

Standar

Ternyata banyak juga yang mbaca tulisan saya tentang Bali. Tulisan ini akan jadi pelengkap tulisan itu….

Sebagai orang yang sudah menetap di Jogja sejak Juli 2005, saya ingin menuliskan hal-hal baik juga tentang Jogja, jika dibandingkan dengan Bali. Iya dong…. Selain punya kekurangan, Jogja juga punya kelebihan dong :) Hehehe…

“]Mirota Batik Jl. A. Yani No.9 [depan pasar Beringharjo][satu] Jogja punya toko oleh-oleh yang oke banget. Namanya Mirota Batik. Sangat disarankan untuk mengunjungi Mirota Batik untuk membeli oleh-oleh, daripada beli di jalan Malioboro [bisa diperas kalau nggak tahu harga]. Sangat baik, jika bisa mampir ke kedua Mirota Batik, baik yang di jl. Kaliurang km.13-an maupun yang di seberang pasar Beringharjo. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang di jalan Kaliurang sangat artistik dan tenang, lebih murah sedikit harganya, plus pramuniaganya cowok smua en well-build-body semua… Hehehehe. Sedangkan yang di depan pasar Beringharjo barangnya agak lebih banyak, lebih mudah dijangkau karena dekat dengan pusat kunjungan wisata [Malioboro, Benteng Vredeburg, Keraton, dan Taman Sari]. Referensi tentang tempat ini juga ada di sini dan situ.

[dua] Pramuniaga di Jogja ramah-ramah, euy!

[tiga] Jogja punya Becak [remember: becak, bukan becyek ya]. Tukang becaknya pun bisa nego harga pake bahasa Inggris. Mantap!!!

Buku Waton Urip karya Agus Leonardus yang dipersembahkan untuk para tukang becak

Buku Waton Urip karya Agus Leonardus yang dipersembahkan untuk para tukang becak

[empat] Jogja punya keraton. Dan juga punya Sultan: Hamengku Buwono X. Keratonnya masih hidup…. Bukan sekedar bangunan. Karenanya, Jogja masih punya abdi dalem. Abdi dalem adalah orang yang mengabdi kepada Sultan dan Keraton. Kalau lagi upacara, abdi dalemnya akan kelihatan dalam iring-iringan semacam pawai atau karnaval.

bagian dalam Keraton. Ludovic, tamu dari Perancis (teman auntie) tertarik dengan warna emas di kayu-kayu itu

bagian dalam Keraton. Ludovic, tamu dari Perancis (teman auntie) tertarik dengan warna emas di kayu-kayu itu

[lima] Mural dan grafiti eksis di Jogja. Walaupun kadang ada yang cenderung mengotori daripada memperindah kota, tapi di beberapa tempat, seni ini cukup apik serta mempermanis dinding-dinding kota. Mural dan grafiti ini bisa ditemukan di stadion Kridosono, SMP 5 Yogyakarta, dinding timur UNY, perempatan Galeria Mall, perempatan Lempuyangan, perempatan Senopati, jalan Mataram, dll.

Mural Jogja versi Iklan Kedaulatan Rakyat

Mural Jogja versi Iklan Kedaulatan Rakyat

segitu dulu aja postingannya kali ini…. Sampai jumpaaa…..

Gambar dicolong dari tempat ini, ini, ini, dan ini.

Ngobrolin Joger & Dagadu

Standar

Sebagai sedikit informasi, saya adalah orang yang tertarik dengan dunia perkaosan [red: baca yang pelan, kalo kecepetan, bisa salah baca jadi 'aksi kriminal']. Nah, baru-baru ini, tepatnya tanggal 22 Januari 2009, saya ke Joger di Bali. Dan kemarin [2 Februari 2009] saya ke Dagadu.

It was my first time came to Bali. Itu juga pertama kalinya saya datang ke Joger dong! Ramenya…. minta ampun! [suara: ampun..... ampun....] Lepas dari keramaian di sana, saya mau komentarin tentang kaosnya Joger. Kaos Joger ukurannya besar! Untuk ukuran badan saya, saya harus beli yang untuk anak-anak, ukuran XL. Otomatis, tulisannya itu ga cocok donk! Tulisannya ya buat anak-anak! Huks… Mana tulisannya pada ‘ga waras’ semua. Ga ada yang cocok buat saya! Gambarnya juga cuma gitu-gitu aja. Tipikalnya Joger.

Sayang sekali…. Kaos Joger nggak menarik untuk saya. Komentar yang sama juga muncul dari beberapa orang teman saya, lho! Wah…. tapi memang Joger luar biasa. Walau kaosnya kaya gitu, yang masuk ke tokonya itu luar biasa banyak. Mungkin karena saya datang bersamaan dengan rombongan wisatawan lain. Jadinya, sangat padat. Sehingga kenyamanan berbelanja berkurang. Hanya saja, ketika melihat moment seperti itu, di mana kaos-kaosnya jadi tidak menarik lagi, saya mulai mengkhawatirkan sustainability-nya. Pak Joger harus segera bertindak! Kapasitas toko dan barang yang tersedia tidak dapat melayani demand yang ada. Ayo, Pak Joger! Berbenah!!!

Ngobrolin Joger sudah selesai, sekarang giliran Dagadu.

Saya datang ke Dagadu semalam untuk mencari sebuah kaos yang akan saya kirimkan ke Kazakhstan. Sayangnya, nggak terlalu mudah juga mencari kaos yang bisa saya berikan pada orang luar negri. Tipikal kaos Dagadu adalah plesetan. Agak ‘gimanaa’ gitu, kalau kasi kaos yang plesetan. Pengennya dapet kaos yang desainnya menarik, kelihatan khas Jogja, tapi pakai bahasa Inggris. Hahaha, makanya ga gampang.

Awalnya, sebelum pergi ke Dagadu, saya berharap menemui kaos versi kota-kota lain, seperti Batur Raden, Kasongan, dll yang berada di bawah label Hiruk Pikuk [sister brand Dagadu]. Sayang, sekarang Hiruk Pikuk yang dijual di Jogja, hanya yang tulisannya Jogja. Kata gardep [pramuniaga Dagadu disebut gardep, singakatan dari garda depan] yang tulisan kota lain ya tersedianya di kotanya masing-masing. Komentar saya atas koleksi Hiruk Pikuk, bad! Kurang menarik, dan koleksinya hanya sedikit. Harus banyak design baru ditambahkan.

Kunjungan saya yang terakhir ke Dagadu, agak mengecewakan. Nampaknya manajemen sedang sibuk dengan ekspansinya melalui Omus, Hiruk Pikuk, dll, sehingga pergiliran desainnya agak lambat. Key chain-nya juga belum banyak pilihan. Saya mencari key chain yang agak eksklusif, minimal dari akrilik, atau bahan logam. Sayang, nggak ada yang oke. Dagadu harus melihat kekurangan ini, untuk digarap.

Ayo…. Dagadu… Joger, aku mendukung kalian. Teruslah maju!!!

Oiya, sebagai penutup, sedikit saja, kita ngomongin kaos Jangkrik yang saya temui di kompleks GWK [Garuda Wisnu Kencana] dan Bandara Ngurah Rai. Koleksinya lumayan. Agak surprise juga dengan koleksinya yang menggunakan karikatur Beni dan Mice. Juga tersedia kaos oleh-oleh yang harganya Rp 200 – 300 ribu. Mungkin karena untuk mengganti ongkos beli ijin penggunaan karikatur secara eksklusif. Jangkrik cukup oke juga!!! Makin maju, ya!!!

Pinjam gambar dari sini, sini, dan sini