Mobilku….
Mei 27, 2008 3 Komentar
Kemarin, ada yang nanya, aku kepengen (baca:naksir) mobil apa, yang ada di Indonesia? Tau apa jawabanku?
Aku mau mobil hidrogen, yang emisinya O2
![]()
isi kepalaku yang berantakan….
Mei 27, 2008 3 Komentar
Kemarin, ada yang nanya, aku kepengen (baca:naksir) mobil apa, yang ada di Indonesia? Tau apa jawabanku?
Aku mau mobil hidrogen, yang emisinya O2
![]()
Mei 14, 2008 19 Komentar
Ini daftar tuduhan kasus penjiplakannya:
Hahahaha…. Kalo udah segini buktinya, mo ngomong apa ya? Dhani tukang jiplak kah? Silahkan liat sendiri, denger sendiri, buktikan sendiri
Mei 14, 2008 3 Komentar
8. Kedai Tiga Nyonya [Jl.Jend Sudirman 16 -- seberang Pizza Hut Tugu Jogja]
Malam minggu biasanya banyak orang makan di luar rumah
. Malam minggu yang lalu saya & keluarga pergi ke sana. Berikut adalah menu yang kami pesan, beserta komentar atas menu tersebut.
Oh iya, harga di atas belum termasuk tax.
Kesan atas resto ini, suasananya oke. Pelayanan oke. Servicenya nggak kelamaan (mungkin karena sepi juga). Tapi makanannya biasa. Nggak spesial. Kata mama, dia nggak mau kembali. Kalo aku masih mau kembali, pengen coba menu lain. Mungkin kebetulan mesen menu yg bukan spesialisasi mereka. Tapi sih, saran saya pada yang punya, “Om, cabang di Jogja perlu koki yg lebih baik! Kalo nggak, nggak terslamatkan bisnismu
“
Sekian
Mei 8, 2008 7 Komentar

Sepanjang perjalanan menuju kampus hari ini, yang ada di kepala ini hanya tentang penghematan energi. Dan yang sudah banyak kukhayalkan adalah menggunakan matahari yang berlimpah untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Dari kecil saya memiliki perhatian pada lingkungan yang lebih baik. Saya masih ingat, karena membaca Bobo, saya terinspirasi untuk menjadi ilmuwan yang membuat alat untuk mengolah air ‘kotor’ menjadi bersih sehingga layak diminum. Saya membayangkan di tiap rumah ada alat yang bisa membuat air bekas cucian, air bekas mandi, dan air buangan lainnya dapat menjadi bersih lagi.
Sekarang, ketika harga minyak dunia sudah mencapai US$120 per barel, dan ditaksir pada 2010 harganya mencapai US$200, maka kepala saya ini penuh dengan angan-angan agar atap-atap mall, atap kampus, bahkan atap rumah pribadi bisa diganti dengan panel-panel surya tersebut. Ini menjadikan gedung-gedung besar yang memakan banyak listrik merasa bertanggung jawab untuk menyediakan listriknya dari energi alternatif. Lebih mudah mengatur yang besar-besar daripada yang kecil-kecil (rumah tangga), misalnya, dengan kartu pintar BBM. Itu sih menurut saya. Mungkin saja salah kalau dari sudut pandang lain.
Dari majalah tempo edisi ‘Luka Ahmadiyah’, saya membaca bahwa di Jerman ada kampung solar cell. Jadi, atap-atapnya adalah solar cell. Saya juga teringat, bahwa di beberapa bagian dunia ini (mungkin Amerika), ada ladang panel surya. Mengenai ladang solar cell, saya sih nggak tahu ya, apa bagus apa nggak, karena kan tanah yang luas itu harusnya bisa dipakai buat nanem bahan pangan ya? Kan bahan pangan juga kurang. Tapi nggak tau juga sih, keadaan sebenarnya gimana.
Tapi sekali lagi, panel surya itu mahal. Yang punya kuasa, yang punya uang yang bisa memutuskan, apakah panel surya bisa diterapkan di gedung-gedung besar, di mall-mall, di universitas, dan di perkantoran. Saya sih, nggak punya apapun yang bisa merealisasikan hal itu.
Oya, saya jadi teringat baru saja membaca mengenai rumah termahal milik Mukesh Ambani, orang India. Menurut saya, akan lebih bijak kalau orang yang punya uang berlimpah itu, melakukan sesuatu untuk perbaikan lingkungan. Termasuk mengenai penyediaan energi alternatif, apapun itu alatnya/sumber energinya. Uang memang punya kuasa
Oleh karena itu yang punya uang haruslah menjadi lebih bijak dalam mengelola uangnya. Misalnya untuk mengentaskan kemiskinan, membangun bangsa, meningkatkan pendidikan, menyediakan pembangkit listrik tenaga ‘energi alternatif’. Huff… kalo nunggu pemerintah Indonesia yang notabene belum bisa dibilang sebagai pemerintahan yang kebanyakan duit, ya jalannya lambat. Harus ada yang membantu! Siapa? Hehehe…. tau sendiri kan, jawabannya.
Mei 2, 2008 3 Komentar
Rabu (30/04) malam, pukul 19:37 saya terpaku pada tulisan kecil di bagian bawah televisi.
Global Info: Menjelang eksekusi Amrozi akan menikah lagi di LP Batu
Pikir saya: “Ya ampun…. Ngapain nikah sama orang yang mau dieksekusi. Mending kalo cinta sejati. Ini udah punya istri…. Nggak abis pikir, deh!“
Ternyata, setelah saya cek di internet, Amrozi nikahnya sama mantan istri pertamanya. “Ini lagi, ngapain juga nikah lagi sama mantan istri pertama? Cari sensasi aja. Toh selama masih jadi terpidana, dia nggak bisa memberi nafkah batin. Apa dia mau memberi nafkah yang laen? Wong masih dipenjara, terpidana mati pula. Ada-ada aja… Nggak tau deh maksudnya apa tu orang.“