Mobilku….

Kemarin, ada yang nanya, aku kepengen (baca:naksir) mobil apa, yang ada di Indonesia? Tau apa jawabanku?

Aku mau mobil hidrogen, yang emisinya O2 :)

hydrogen car

Ahmad Dhani Tukang Jiplak?

Ini daftar tuduhan kasus penjiplakannya:The Donnas

  1. Cover album DewiDewi vs cover album The Donas
  2. Lagu “Cintaku Tertinggal di Malaysia” vs “Ruthless Queen”-nya Kayak (band rock asal Belanda)
  3. Lagu “Pangeran Cinta” vs “Immigrant Song”-nya Led Zeppelin
  4. Lagu “Munajat Cinta” vs “State of Grace”-nya John Petrucci
  5. Lagu “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” vs “Tears Never Dry”-nya Stephen Simmonds
  6. Judul lagu “Arjuna Mencari Cinta” vs novel berjudul sama oleh Yudistira.

Hahahaha…. Kalo udah segini buktinya, mo ngomong apa ya? Dhani tukang jiplak kah? Silahkan liat sendiri, denger sendiri, buktikan sendiri :)

Tempat Makan di Jogja [4]

8. Kedai Tiga Nyonya [Jl.Jend Sudirman 16 -- seberang Pizza Hut Tugu Jogja]

Kedai Tiga Nyoya

Malam minggu biasanya banyak orang makan di luar rumah :) . Malam minggu yang lalu saya & keluarga pergi ke sana. Berikut adalah menu yang kami pesan, beserta komentar atas menu tersebut.

  1. Beef Special Tiga Nyonya Rp27.500 + Nasi Putih Rp3.500 (pedes banget, mericanya aduhai banyaknya. rasanya nggak istimewa. padahal ini menu yang disarankan si pramusaji pria nan ganteng, seleranya payah!)
  2. Nasi Lemak Special Rp25.000 (yang enak dalam paket ini hanya teri kacangnya yang enak, lainnya, biasa. ayamnya nggak enak, nggak ada rasa alias hambar)
  3. Nasi Goreng Oriental Rp18.000 (ada udangnya, scrambled egg, tapi rasanya biasa. enakan nasi goreng Vidi!)
  4. Nyonya Ritsttafel Rp25.000 (nasi kuning & teman-temannya, nothing special)
  5. Nasi Kebuli Rp25.000 (wah, karena saya nggak nyicipi, nggak tau juga, yg pasti bumbunya rich)
  6. Pure Fresh Orange Juice Rp15.000 (oke! nggak terlalu manis. aku pernah baca jus akan kehilangan khasiatnya kalau ditambahkan gula yg banyak)
  7. Teh Poci Rp10.000 (kata mama oke. pake gula batu, good!)

Oh iya, harga di atas belum termasuk tax.

Kesan atas resto ini, suasananya oke. Pelayanan oke. Servicenya nggak kelamaan (mungkin karena sepi juga). Tapi makanannya biasa. Nggak spesial. Kata mama, dia nggak mau kembali. Kalo aku masih mau kembali, pengen coba menu lain. Mungkin kebetulan mesen menu yg bukan spesialisasi mereka. Tapi sih, saran saya pada yang punya, “Om, cabang di Jogja perlu koki yg lebih baik! Kalo nggak, nggak terslamatkan bisnismu :P

Sekian :)

‘Mimpi’ tentang Solar Cell

solar farm

Sepanjang perjalanan menuju kampus hari ini, yang ada di kepala ini hanya tentang penghematan energi. Dan yang sudah banyak kukhayalkan adalah menggunakan matahari yang berlimpah untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Dari kecil saya memiliki perhatian pada lingkungan yang lebih baik. Saya masih ingat, karena membaca Bobo, saya terinspirasi untuk menjadi ilmuwan yang membuat alat untuk mengolah air ‘kotor’ menjadi bersih sehingga layak diminum. Saya membayangkan di tiap rumah ada alat yang bisa membuat air bekas cucian, air bekas mandi, dan air buangan lainnya dapat menjadi bersih lagi.

Sekarang, ketika harga minyak dunia sudah mencapai US$120 per barel, dan ditaksir pada 2010 harganya mencapai US$200, maka kepala saya ini penuh dengan angan-angan agar atap-atap mall, atap kampus, bahkan atap rumah pribadi bisa diganti dengan panel-panel surya tersebut. Ini menjadikan gedung-gedung besar yang memakan banyak listrik merasa bertanggung jawab untuk menyediakan listriknya dari energi alternatif. Lebih mudah mengatur yang besar-besar daripada yang kecil-kecil (rumah tangga), misalnya, dengan kartu pintar BBM. Itu sih menurut saya. Mungkin saja salah kalau dari sudut pandang lain.

Dari majalah tempo edisi ‘Luka Ahmadiyah’, saya membaca bahwa di Jerman ada kampung solar cell. Jadi, atap-atapnya adalah solar cell. Saya juga teringat, bahwa di beberapa bagian dunia ini (mungkin Amerika), ada ladang panel surya. Mengenai ladang solar cell, saya sih nggak tahu ya, apa bagus apa nggak, karena kan tanah yang luas itu harusnya bisa dipakai buat nanem bahan pangan ya? Kan bahan pangan juga kurang. Tapi nggak tau juga sih, keadaan sebenarnya gimana.

Tapi sekali lagi, panel surya itu mahal. Yang punya kuasa, yang punya uang yang bisa memutuskan, apakah panel surya bisa diterapkan di gedung-gedung besar, di mall-mall, di universitas, dan di perkantoran. Saya sih, nggak punya apapun yang bisa merealisasikan hal itu. :)

Oya, saya jadi teringat baru saja membaca mengenai rumah termahal milik Mukesh Ambani, orang India. Menurut saya, akan lebih bijak kalau orang yang punya uang berlimpah itu, melakukan sesuatu untuk perbaikan lingkungan. Termasuk mengenai penyediaan energi alternatif, apapun itu alatnya/sumber energinya. Uang memang punya kuasa :) Oleh karena itu yang punya uang haruslah menjadi lebih bijak dalam mengelola uangnya. Misalnya untuk mengentaskan kemiskinan, membangun bangsa, meningkatkan pendidikan, menyediakan pembangkit listrik tenaga ‘energi alternatif’. Huff… kalo nunggu pemerintah Indonesia yang notabene belum bisa dibilang sebagai pemerintahan yang kebanyakan duit, ya jalannya lambat. Harus ada yang membantu! Siapa? Hehehe…. tau sendiri kan, jawabannya.

Kabar Terbaru Amrozi

Rabu (30/04) malam, pukul 19:37 saya terpaku pada tulisan kecil di bagian bawah televisi.

Global Info: Menjelang eksekusi Amrozi akan menikah lagi di LP Batu

Pikir saya: “Ya ampun…. Ngapain nikah sama orang yang mau dieksekusi. Mending kalo cinta sejati. Ini udah punya istri…. Nggak abis pikir, deh!

Ternyata, setelah saya cek di internet, Amrozi nikahnya sama mantan istri pertamanya. “Ini lagi, ngapain juga nikah lagi sama mantan istri pertama? Cari sensasi aja. Toh selama masih jadi terpidana, dia nggak bisa memberi nafkah batin. Apa dia mau memberi nafkah yang laen? Wong masih dipenjara, terpidana mati pula. Ada-ada aja… Nggak tau deh maksudnya apa tu orang.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 497 pengikut lainnya.