AureliaClaresta’s Weblog

Tempat Makan di Jogja [2]

April 12, 2008 · 1 Komentar

Ngelanjutin bagi-bagi referensi tempat makan….

5. Bale Raos [Pasar Burung Ngasem, ke arah timur, deket Sarinah Gallery]

Aku suka bawa turis ke sini. Saudara-saudara atau tamu. Berhubung ini restorannya keraton, ya pantes dong, kalo sekali makan, seorang kira-kira habis Rp30.000-Rp40.000. Tapi baik aku dan mama (pecinta makanan juga) selalu oke kalau diajak ke sana. Ini dia yang aku suka:

  1. Steak Lidah (banyak yg suka)
  2. Nasi Langgi Rp23.000
  3. Oseng Daun Pepaya Rp6.000 (aku suka banget)
  4. Roti Jok (seperti di foto)
  5. Es Beras Kencur Rp5.000
  6. Es Secang Rp5.000

Trus, ini dia menu yang nggak akan aku pesan lagi (nggak istimewa alias agak mengecewakan):

  • Bebek Suwar Suwir Rp30.000

Yang biasa aja (nggak mengecewakan, tapi nggak ngangeni):

  • Gecok Ganem Rp14.000

Yang cenderung bikin bule penasaran (aku lebih suka secang, tapi bolehlah dicoba):

  • Bir Jawa Rp10.000 (di foto, bag tengah)

Nah, di sini makanannya khas. Jawa banget. Jadi sesekali ke sini oke kan….. Lagipula asyiknya di sini sepi. Entah kenapa. Mungkin banyak yang belum kenal ama tempat ini. Oya, spesialnya lagi kalo makan dipasangin gending jawa. Kalo dia lupa pasang, minta dipasangin aja. Suara gamelan itu, nambah seru suasana makan lho. Mantap! Kalo malem minggu, malah ada  live music lho… Lagu-lagu lama gitu. Keren & romantis :)

Oya, lupa… harga tadi belum termasuk 21% tax and service. (data harga belum diperbaharui, secepatnya akan di-update)

Kategori: kuliner
Ditandai: , , , , ,

Perumpamaan: Tangan yang Hilang Kini Telah Kembali

April 12, 2008 · & Komentar

Episode ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua pihak yang telah berjasa dalam ‘mengembalikan tangan saya’

Hahaha…. tapi tenang saja, saya ini masih berstatus ‘manusia’ kok. Jadi, tangan saya kemaren-kemaren itu bukannya ‘ketlingsut’ di bawah meja / kolong tempat tidur. Jadi begini ceritanya:

Rabu (26/03/08) pagi, saya bangun dengan pergelangan tangan kiri yang sakit. Seperti ’salah tidur’. Jadi, tidak bisa ditekuk ke dalam (lengan dalam) dan ke luar. Ga bisa ngawe-awe dengan maksimal. Hari itu saya kuliah Kewarganegaraan & pergi ke lokasi KKN. Malam hari, tangan semakin bengkak. Tapi seharian saya masih bisa naik motor sendiri. Yang agak susah dilakukan adalah menekuk tangan kiri untuk mengenakan tas sandang (ransel). Lalu saya tidur. Sepanjang malam tidurnya nggak tenang karena tangan tidak bisa diposisikan sembarangan.

Kamis (27/03) pagi, tangan saya bengkak banget. Genduth! Dan kaku…. Sesama jari tangan kiri tidak mampu saling menyentuh. Karena kebetulan hari Kamis tidak ada kuliah, maka saya tidak ngampus. Janji-janji dibatalkan. Saya dibawa ke tukang urut dekat rumah. Ibu ‘RT tetangga’. Diurut sambil mengaduh-aduh. Selepas diurut, sesama jari bisa bersentuhan. Lumayan deh. Terus sama ibu itu, dibekali ‘uleg-an dedaunan obat’. Sampai rumah saya tiduran sambil tangannya dikompres dengan ‘bobokan daun’. Obat ala film silat itu ditaruh di punggung & pergelangan tangan. trus dilapisi kasa steril, dan dibungkus dengan sapu tangan. Jadi, kaya tokoh kartun petarung gitu. Hehehe. Nah, seharian di rumah deh.

Jumat (28/03) saya berangkat ke kampus karena ada ujian Metopen & Makro. Juga ada kuliah Agama. Tangan saya bengkak lagi di ujian pertama. Semakin lama, semakin sakit. Waduh! Gara-gara naik motor nih! Apes!

Nah, berhubung kuliah Agama itu bukan di kampus, maka saya pun memohon belas kasihan Dheiya. Akhirnya diboncengin deh, ke wisma. Itu tangannya udah nyut-nyutan selama kuliah. Ga konsen. Agak berkurang setelah dikasi counterpain oleh Dika. Anget-anget mengurangi nyut-nyutan. Setelah itu kembali lagi ke kampus. Nunggu ujian Makro jam 14.00. Ampun deh sakitnya. Ujian Makro pun dilewati dengan perasaan ‘ingin ngibrit secepat-cepatnya & ingin ngeluh’.

Pulangnya gimana? Karena nggak bisa bawa motor, maka mama njemput dengan membawa Cik Nia. Saya diboncengin Cik Nia. Tangan kesenggol dikit aja sakit. Bengkaknya menjadi-jadi. Nah, malem itu supaya tangan nggak tambah bengkak, mama bikinin ‘gendongan tangan’. Jari-jari masih bisa saling bersentuhan, tidak seperti Kamis pagi. Tapi sakit. Pergelangan tangannya kaya mau lepas. Oglek-oglek, nyut-nyutan.

Begitulah sampai malam. Pergelangan tangan nggak boleh bengkok. Ketika gendongan tangan tidak banyak membantu mengurangi rasa sakit, maka mama membuatkan gulungan karton susu yang dibungkus kain, sebagai pengganti kayu untuk nyangga supaya pergelangan tangan tidak tertekuk. Di bagian punggung lengan (kira-kira di posisi letak jam tangan-kalau orang pakai jam tangan) itu kaya ketusuk-tusuk. Sakiiit banget. Sampe nggak bisa tidur. Hiks… Nangis deh!

Akhirnya saya minta minum ponstan. Mama juga nelpon temennya di BSD yang bisa bantu nyerap energi (penyembuhan alternatif) untuk bantuin aku. Saya pun nelpon Pak Agus yang ada di Solo untuk ketemu Sabtu pagi. Pak Agus bisa mbantu urut juga. Kenapa di Solo? Karena nggak punya kenalan tukang pijet di Jogja. Saya nggak berani kembali ke ibu RT itu karena di lenganku ada merah-merah gitu. Takutnya salah pijet. Jadi dicoba untuk minta tolong orang lain. Akhirnya…. saya bisa tidur! Tadinya kalo posisi tidur tangan saya sakiiiiittt bgt. Ga brenti2 nangisnya. Itu kayanya setelah dibantuin ama Tante Vero.

Besoknya saya ke Solo, diterapi sama Pak Agus di Wisma Mahasiswa. Pagi sekali, malam sekali. Dan saya pulang ke Jogja. Perlahan, tangan ini sembuh. Cuma kadang-kadang masih suka agak kerasa aneh aja waktu dingin. Hmm… sarannya tante Vero, disuruh cek asam urat. (Whattt?)  Sama… mungkin rematik katanya. Whew… Whatdayathink?

Pokoknya saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua yang sudah membantu saya untuk mengembalikan tangan saya ini: Mama, Tante Vero, Pak Agus, Bu RT, Widy, Dheiya, Dika, semua…. Terimakasih ya :) Dengan sepenuh hati, saya berterima kasih.

Kategori: new experience
Ditandai: